• Tentang Kami
Wednesday, April 15, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Dengan Siapa Berunding? Tiga Pelajaran Aceh untuk Jalan Damai Iran-Amerika

SAGOE TV by SAGOE TV
March 31, 2026
in Opini
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Risman Rachman.

Risman Rachman. Foto: dokumen pribadi

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Risman Rachman
CEO aceHBaru Consulting

PAKISTAN menawarkan diri sebagai tuan rumah perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran. China mengirim sinyal bahwa “berdialog selalu lebih baik daripada terus berperang.” Prancis mendesak Teheran agar mau duduk di meja perundingan. Dunia bergerak — seolah-olah jalan damai tinggal selangkah lagi.

Namun ada pertanyaan mendasar yang belum terjawab, dan sering kali justru diabaikan di tengah hiruk-pikuk diplomasi: sebelum meja perundingan bisa didirikan, apakah kedua pihak sudah benar-benar siap untuk duduk di sana? Dan kalau pun siap — dengan siapa, sesungguhnya, mereka harus berunding?

BACA JUGA

Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz

Bagaimana Memahami Kemenangan Iran?

Bagi orang Aceh, pertanyaan ini bukan hal baru. Selama bertahun-tahun, pertanyaan itulah yang membekukan setiap upaya damai — jauh sebelum Helsinki membuka jawabannya.

Pelajaran Pertama: Ketika Biaya Perang Lebih Mahal dari Manfaatnya
Ada sebuah kebenaran sederhana yang sering terlupakan dalam analisis konflik bersenjata: perang jarang berakhir karena satu pihak berhasil menghancurkan yang lain. Lebih sering, perang berakhir karena kedua pihak akhirnya sampai pada kesimpulan yang sama — bahwa melanjutkan pertempuran sudah terlalu mahal untuk ditanggung.

Konflik Aceh adalah bukti nyatanya. Selama hampir tiga dekade, operasi militer silih berganti — DOM, darurat militer, darurat sipil — namun tidak satu pun yang mampu mengakhiri perlawanan GAM secara tuntas. Di sisi lain, GAM dengan segala kapasitasnya juga tidak pernah mampu memaksakan kemerdekaannya. Dua pihak yang sama-sama berjuang, sama-sama bertahan, namun sama-sama terkuras.

Pakar resolusi konflik William Zartman menyebut kondisi ini sebagai hurting stalemate — titik di mana melanjutkan konflik lebih menyakitkan daripada berkompromi. Aceh sampai di titik itu. MoU Helsinki lahir.

Kini, tanda-tanda serupa mulai terlihat dalam konflik Iran-Amerika. Iran menanggung kehancuran infrastruktur, ribuan korban jiwa, dan tekanan ekonomi yang semakin mencekik. Amerika, di sisi lain, menghadapi lonjakan harga energi global, sekutu-sekutu yang mulai menjauh, dan tekanan domestik yang terus menguat. Biaya perang sudah mulai terasa oleh keduanya. Tapi apakah itu cukup?

Baca Juga:  Rektor Dukung Instruksi Gubernur Aceh soal Shalat Berjamaah dan Pengajian di Sekolah

Belum tentu. Karena ada syarat kedua yang harus dipenuhi.
Pelajaran Kedua: Selama Masih Yakin Bisa Menang, Perang Berlanjut
Biaya yang tinggi saja tidak cukup untuk menghentikan perang. Syarat kedua — dan ini yang sering luput dari perhatian — adalah bahwa kedua pihak harus sampai pada kesimpulan bahwa kemenangan sudah tidak lagi bisa diraih. Selama salah satu pihak masih meyakini bahwa ia bisa menang, maka perang akan terus berlangsung, berapapun harga yang harus dibayar.

Di sinilah letak kompleksitas konflik Iran-Amerika yang membuatnya berbeda dari banyak konflik lain: kedua pihak mendefinisikan “kemenangan” secara asimetris.

Bagi Amerika, menang berarti melumpuhkan program nuklir dan kapasitas rudal Iran secara permanen. Bagi Iran, menang cukup berarti satu hal: bertahan hidup sebagai negara berdaulat yang tidak digulingkan. Definisi yang berbeda ini menciptakan situasi paradoks — di mana kedua pihak secara bersamaan bisa merasa “belum kalah”, sehingga masing-masing masih punya alasan untuk melanjutkan pertempuran.

Aceh pernah terjebak dalam dinamika yang sama. Jakarta mendefinisikan menang sebagai GAM menyerah total dan mengakui kedaulatan NKRI tanpa syarat. GAM mendefinisikan menang sebagai kemerdekaan penuh. Selama definisi itu tidak bergerak, tidak ada ruang untuk bertemu.

Yang mengubah segalanya bukan sekadar tsunami 2004 — meski itu mempercepat segalanya. Yang mengubahnya adalah keberanian kedua pihak untuk mendefinisikan ulang arti kemenangan. GAM menerima otonomi khusus sebagai bentuk kemenangan yang realistis. Jakarta menerima bahwa integrasi damai lebih bernilai dari dominasi militer. Keduanya “menang” — tapi dengan definisi yang baru.

Itulah seni diplomatik yang sesungguhnya — bukan memaksa satu pihak mengakui kalah, tapi membantu keduanya menemukan narasi kemenangan yang bisa mereka terima dan pertanggungjawabkan kepada rakyatnya masing-masing.

Baca Juga:  USK Beri Pendampingan Pendidikan Anak Pengungsi Bencana, Prioritaskan Pemulihan Psikososial

Pelajaran Ketiga: Salah Memilih Lawan Bicara, Damai Pun Gagal
Andaikan kedua syarat di atas sudah terpenuhi — biaya perang sudah terasa, keyakinan menang sudah memudar — masih ada satu pertanyaan terakhir yang harus dijawab dengan tepat: dengan siapa harus berunding?

Indonesia pernah membuat kesalahan klasik ini selama bertahun-tahun. Pemerintah RI berunding dengan tokoh-tokoh lokal Aceh yang tidak memiliki mandat dari GAM. Perundingan dilakukan dengan kalangan masyarakat sipil yang tidak bisa mewakili kombatan. Pemerintah bahkan mencoba memecah GAM dengan merangkul faksi-faksi kecil. Hasilnya, setiap kesepakatan yang ditandatangani tidak pernah dipatuhi di lapangan — karena yang menandatangani bukan pihak yang mengendalikan senjata.

Titik balik terjadi ketika Indonesia akhirnya berani mengambil keputusan yang secara politis tidak menyenangkan: mengakui bahwa Hasan Tiro dan Malik Mahmud di Stockholm — meski berada di pengasingan, meski secara formal dianggap separatis — adalah otoritas sah yang bisa berbicara atas nama GAM dan memastikan kesepakatannya dipatuhi di lapangan.

Amerika Serikat hari ini menghadapi dilema yang sama. Trump mengklaim sudah berbicara dengan “orang-orang yang tepat” di Iran. Namun Iran membantahnya. Dan memang persoalannya bukan sekadar soal klaim — persoalannya adalah bahwa struktur kekuasaan Iran jauh lebih berlapis dari GAM dulu.

Iran bukan organisasi dengan satu kepala. Ada Presiden yang punya akses terbatas pada keputusan strategis. Ada Pemimpin Tertinggi yang baru, yang belum memiliki legitimasi penuh seperti Khamenei di masa jayanya. Ada IRGC yang punya agenda dan kepentingannya sendiri, dan tidak selalu bergerak sejalan dengan pemerintah.

Pertanyaannya bukan hanya “siapa yang mau bicara” — tapi “siapa yang, ketika menandatangani sebuah kesepakatan, bisa memastikan bahwa ia akan dipatuhi oleh seluruh aparatus kekuasaan Iran?”

Inilah yang membuat peran Pakistan sebagai fasilitator menjadi menarik sekaligus penuh tantangan. Pakistan memiliki modal yang mirip dengan Crisis Management Initiative (CMI) pimpinan Martti Ahtisaari di Helsinki dulu — hubungan yang baik dengan kedua pihak, tidak dianggap memihak, dan cukup dipercaya untuk menjadi pintu belakang yang terhormat.

Baca Juga:  Aceh dan Ujian Kepercayaan Negara: Di Awal Era Prabowo

Namun satu hal yang membedakan: CMI adalah aktor non-negara yang murni humanitarian, tanpa kepentingan geopolitik. Pakistan adalah negara dengan kalkulasinya sendiri. Ini bukan hambatan yang tidak bisa diatasi — tapi ini adalah variabel yang harus dikelola dengan cermat agar perannya tidak berubah dari fasilitator menjadi pemain.

Tiga Syarat yang Harus Bertemu
Aceh mengajarkan bahwa perdamaian bukan sebuah peristiwa — ia adalah sebuah proses yang membutuhkan tiga kondisi untuk bertemu pada saat yang bersamaan.

Pertama, kedua pihak harus sudah merasakan bahwa biaya perang lebih besar dari manfaatnya. Kedua, keduanya harus sampai pada titik di mana keyakinan untuk menang secara penuh sudah mulai memudar — dan pada saat yang sama, bersedia mendefinisikan ulang arti kemenangan itu sendiri. Ketiga, harus ada keberanian — yang sering kali menyakitkan secara politik — untuk mengakui siapa lawan bicara yang sesungguhnya memiliki otoritas dan kapasitas untuk berkomitmen.

Konflik Iran-Amerika hari ini sedang bergerak menuju kondisi pertama.
Tanda-tanda kondisi kedua mulai terlihat dari sinyal-sinyal yang — meski masih simpang siur — menunjukkan adanya kelelahan di kedua sisi. Namun kondisi ketiga — menentukan dengan siapa harus berunding, dan mengakuinya secara tegas — belum juga terpenuhi.

Dua dekade lalu, Indonesia butuh waktu bertahun-tahun untuk sampai pada keberanian itu. Hasilnya, MoU Helsinki — sebuah perdamaian yang bertahan hingga hari ini.

Dunia kini menunggu apakah Amerika dan Iran bisa menemukan Helsinki mereka sendiri. Bukan karena mereka mau. Tapi karena ketiga syarat itu — cepat atau lambat — akan memaksa mereka untuk tidak punya pilihan lain.[]

Tags: acehAmerika SerikatIranIran-AmerikaopiniPelajaranpelajaran dari acehPerdamaian
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz
Opini

Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz

by Anna Rizatil
April 10, 2026
Bagaimana Memahami Kemenangan Iran
Opini

Bagaimana Memahami Kemenangan Iran?

by Anna Rizatil
April 8, 2026
Zaman Batu dalam Perang Narasi AS-Iran
Opini

Zaman Batu dalam Perang Narasi AS-Iran

by SAGOE TV
April 5, 2026
Spiritualitas Iran Membentuk Masa Depan Dunia
Opini

Spiritualitas Iran Membentuk Masa Depan Dunia

by Anna Rizatil
April 4, 2026
Dari Killing Menjadi Death, Diplomasi Paranoid Menlu Sugiono
Opini

Dari Killing Menjadi Death, Diplomasi Paranoid Menlu Sugiono

by Anna Rizatil
April 1, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz

Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz

April 10, 2026
Mualem Lantik 3 Kepala SKPA, Gamal Abdul Nasir Jabat Kepala Biro Umum Setda Aceh

Mualem Lantik 3 Kepala SKPA, Gamal Abdul Nasir Jabat Kepala Biro Umum Setda Aceh

April 10, 2026
Skate Park Stage Vol. 2: Ketika Ruang Diuji, Bukan Hanya Diisi

Skate Park Stage Vol. 2: Ketika Ruang Diuji, Bukan Hanya Diisi

April 11, 2026
USK Gelar Skate Park Stage Vol. 2, Laboratorium Kreatif Seni Terbuka untuk Publik

USK Gelar Skate Park Stage Vol. 2, Laboratorium Kreatif Seni Terbuka untuk Publik

April 10, 2026
Film Hikayatussistance Tayang di CineDocx dan Bakaba Sinema, Ini Jadwal Lengkapnya

Film Hikayatussistance Tayang di CineDocx dan Bakaba Sinema, Ini Jadwal Lengkapnya

April 13, 2026
BMKG Surati Gubernur Aceh, Seluruh Wilayah Siaga Banjir dan Tanah Longsor

BMKG Surati Gubernur Aceh, Seluruh Wilayah Siaga Banjir dan Tanah Longsor

April 10, 2026
Krisis Air Bersih di Sekumur Ditangani Cepat, Satgas PRR Bangun Dua Sumur Bor

Krisis Air Bersih di Sekumur Ditangani Cepat, Satgas PRR Bangun Dua Sumur Bor

April 6, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

May 27, 2025
Safrizal Klarifikasi Isu Penanganan Lumpur, 39 Lokasi di Aceh Masih Dikerjakan

Safrizal Klarifikasi Isu Penanganan Lumpur, 39 Lokasi di Aceh Masih Dikerjakan

April 10, 2026

EDITOR'S PICK

Relasi Pertahanan Semesta (Cosmic Defense) dengan ‘Gerobak Pengetahuan’ Lokal di Nusantara

Konsep Bisnis Cina: Guanxi

March 24, 2025
Gubernur Aceh Mualem Bahas Rancangan APBA 2026 Bersama DPRA

Gubernur Aceh Mualem Bahas Rancangan APBA 2026 Bersama DPRA

November 3, 2025
ASN Pemerintah Aceh Diingatkan Jaga Netralitas di Pilkada 2024

ASN Pemerintah Aceh Diingatkan Jaga Netralitas di Pilkada 2024

November 21, 2024
USK Beri Gelar Doktor Honoris Causa ke Prof Abdul Khalil Shawkataly

USK Beri Gelar Doktor Honoris Causa ke Prof Abdul Khalil Shawkataly

March 14, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.