Oleh: Maulia Diah Pitaloka
Mahasiswi Prodi Sosiologi Agama UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Seluruh belahan dunia sedang berjuang keras untuk menghadapi Pandemi Covid-19 yang sudah menghantui semenjak penghujung tahun 2019 lalu. Ia pertama kalinya muncul diKota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Kemudian virus tersebut menyebar keseluruh dunia dengan sangat cepat, termasuk di Indonesia. Di Benua Asia Indonesia masuk dalam 10 besar negara terbanyak kasus Corona.
Sekarang Indonesia harus berjuang keras menghadapi pandemi corona. Sejak Juli lalu, semua wilayah Indonesia sudah terjangkit virus. Aceh yang dulunya tidak seberapa dan mendapat pujian dari berbagai pihak sekarang menjadi salah satu daerah dengan perkembangan virus cepat bahkan terus bertambah disetiap hari nya. Sebagaimana laporan harian ini per akhir Oktober lalu (Serambi Indonesia, 1.492 dalam perawatan, 5.641 sembuh dan 272 orang meninggal dunia. 4/11/2020).
Pemerintah sudah melakukan berbagai upaya untuk memutuskan mata rantai dari penyebaran Corona ini. Sayang nya banyak orang, bersikap acuh tak acuh terhadap kebijakan tersebut. Mereka menganggap Corona hanya sebuah konspirasi global demi kepentingan ekonomi dan politik negara tertentu, dalam hal ini China dan Amerika. Lantas, apakah corona benar-benar sebuah konspirasi ataukah kenyataan? Bagaimana kita sebagai umat Islam bersikap?
Argumen Konspirasi
Banyak masyarakat yang memandang Corona sebagai sebuah konspirasi semata. Setidaknya ada dua alasan yang sudah berkembang selama ini. Pertama, adanya sikap saling tuduh menudu antara China dan Amerika terhadap tempat pertama kali muncul nya virus Corona. China menudu Amerika yang membawa virus kenegaranya untuk menjatuhkan perekonomian di sana. Namun Amerika Serikat membantah akan hal ini, dan dengan tegas Presiden Donald Trump mengatakan bahwa Corona itu adalah virus dari China.
Spekulasi saling tuduh menuduh tanpa bukti ini lah yang membuat masyarakat merasa tidak yakin akan keberaaan virus Corona, dimana mereka hanya berpikir bahwa ini hanya lah konspirasi antara negara Maju saja yakni China dan Amerika yang sudah lama bermusuhan untuk saling menjatuhkan.
Kedua, berlanjut dari spekulasi itu masyarakat juga berpikir bahwa sebenarnya virus Corona ini tidak ada, dan hanya lah akalan-akalan dari pemerintah untuk mencari keuntungan dengan dalih Corona. Apalagi banyak-banyak pelayanan yang dilakukan rumah sakit justru memperkuat spekulasi tersebut. Misalnya sikap inskonsistensi dalam pelayanan yang diberikan. Ada beberapa kasus yang berkembang selama ini dimana rumah sakit yang telah memvonis seseorang positif covid, kemudian berubah kembali menjadi negatif. Hal ini memunculnya dugaan kalau rumah sakit sengaja “membuat” pasien di nyatakan positif corona demi mendapatkan kucuran anggaran insentif dari pemerintah.
Sangat disayangkan hal-hal seperti ini sudah terlanjur berkembang di masyarakat kita rasa curiga masyarakat mengakibatkan mereka bersikap acuh akan ancaman virus Corona. Kondisi ini telah membuat pemerintah semakin kewalahan lantaran banyak masyarakat yang tidak menjalankan protokol kesehatan dan menganggap remeh bahanya virus Corona. Lebih buruk lagi sebagaian masyarakat enggan membawa keluarga yang sakit berobat kerumah sakit lantaran takut akan dikatakan positif Corona dan memilih obat di apotek atau klinik. Bahkan tidak jarang yang berobat kepada pengobatan alternatif dan dukun.
Sebagian masyarakat yang lain tidak peduli akan bahaya nya virus ini dan berdalih “tawakal saja kepada Allah.” Mereka berpendapat rejeki, jodoh, dan maut itu Allah yang tentukan, pandangan ini sebenarnya bukan muncul saat ini saja, tetapi bagian dari ajaran Islam. Hanya saja dalam konteks penyebaran virus ini telah menyebabkan kurang pedulinya mereka pada bahaya yang ditimbulkan covid-19.
Realitas
Di sisi lain masih banyak masyarakat yang menyakini pandemi ini adalah sebuah kenyataan dan itu tidak dapat dielakkan. Ada banyak sekali argumen yang menguatkan ini. Arab Saudi misalnya membatasi quota Haji karena berpikir besarnya dampak dari virus Corona kalau terjadi perkumpulan manusia dalam jumlah besar.
Demikian juga dengan negara maju seperti China dan Amerika Serikat yang sudah mulai merasakan dampak buruk perekonomian mereka karena penyebaran virus ini. Oleh sebab itu kalau kita mau lebih arif dari sisi mana pandemi tersebut sebuah konspirasi, sementara negara yang dituduh melakukan konspirasi saja sudah mulai merasakan dampak besar pandemi. Munculnya virus corona benar-benar sebuah petaka yang merugikan ekonomi negara dalam jumlah yang cukup besar.
Kasus di Indonsia dan Aceh juga menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan sebuah realitas. Korban semakin banyak berjatuhan, rumah sakit semakin penuh, jumlah orang yang tertular semakin banyak. Bahkan dokter dan tenaga kesehatanpun saat ini tidak luput dari penularan virus. kondisi ini telah mendorong semua pihak untuk berkampanye agar masyarakat menjaga diri dari kemungkinan tertular.
Tawakal
Jalan terbaik yang dapat kita lakukan saat ini sebagai orang beragama adalah bertawakal. Bertawakal bukan lah menyerahkan diri sepenuhnya sebelum berusaha. Usaha pun harus dilakukan bersama-sama. Kepada pihak yang saat ini menjadi tempat kecurigaan masyarakat, mari bekerja lebih keras dan lebih terbuka, sehingga meminimalisir kemungkinan munculnya spekulasi ada keganjalan dalam kinerja menghadapi corona.
Sehingga tidak muncul isu dan kecurigaan mengenai adanya pihak yang mencari keuntungan dibalik pandemi. Demikian juga pada masyarakat, disaat seperti ini jangan mudah sekali kita untuk termakan isu-isu yang tidak jelas asal usul nya. Jangan mudah terpedaya dengan hoax, dan alangkah baiknya untuk membaca kembali kebenaran dari berita tersebut.
Asumsi bahwa corona adalah konspirasi cukup berkembang dalam masyarakat kita saat ini. Padahal menganggap remeh virus ini adalah suatu kesalahan yang sangat fatal. Sebab jika ada satu orang terinfeksi maka dalam satu jam dia bisa menyebar ke 50 orang, sehingga dalam satu hari bisa menyebar ke lebih seratus orang. Jangan sampai cara pandang kita pada virus menyebabkan seluruh keluarga anda celaka.
Tawakal dalam menghadapi Corona adalah keharusan. Tetapi sebelum itu kita harus berusaha sedemikian rupa agar tidak terjangkit virus ini. Dalam Islam diajarkan sebelum tawakal kita terlebih dahulu berusaha atau ikhtiyar akan sesuatu hal, setelah itu baru kita menunggu hasil dari pekerjaan yang kita lakukan tersebut. Menunggu hasil itulah yang dikatakan dengan bertawakal kepada Allah SWT.
Ikhtiar menghadapi Corona usaha menjaga jarak, pakai masker, dan menjaga kebersihan diri dan lingkungan kita. Kita perlu mematuhi peraturan pemerintah tentang protokol kesehatan disaat pandemi seperti sekarang ini. Ketahui lah sesungguh nya Allah SWT menciptakan sesuatu makhluk itu pasti memiliki hikmahnya, dan virus Corona ini mengajarkan kita untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan terus mendalami ilmu pengetahuan utuk mendapatkan alternatif pengobatan melawan pandemi.[]