• Tentang Kami
Tuesday, July 21, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Demokrasi Mati Karena Mahasiswa?

Rahmat Fahlevi by Rahmat Fahlevi
March 20, 2025
in Artikel
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Demokrasi Mati Karena Mahasiswa?
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Rahmat Fahlevi.
Mahasiswa FISIP, Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh.

Salah satu literatur plat merah tentang demokrasi adalah karya Steven levittsky & Daniel Ziblat yang berjudul “How democracies die” atau bagaimana demokrasi mati yang menceritakan proses matinya demokrasi dibeberapa negara  seperti Peru yang di tunggangi Alberto fujimori, Italia di masa Musollini, Jerman di era Hitler. Bahkan Amerika sendiri dibawah demagog terburuk sepanjang sejarah Amerika yaitu Donald trump.

Demokrasi akan mati apabila diberikan kepada orang-orang yang tidak paham akan substansial demokrasi sendiri. Demokrasi tidak hanya berbicara soal formalitas, meminjam adagium dari Affan Gaffar yaitu demokrasi prosedural yang hanya bertengger pada persoalan legal formal administratif saja.

BACA JUGA

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

Itu hanya beberapa ungkapan saja sebagai tulisan ini. Namun terdapat secuil kisah cerpen dalam buku How democracies die yang membuat saya sedikit terperangah. yaitu tentang cerita seekor kuda yang memiliki musuh yaitu seekor kijang, singa dan beberapa hewan lain. Namun sayangnya si kuda tidak mampu mengalahkan para musuh-musuhnya sendirian melainkan harus mencari bala bantuan.

Kuda tersebut meminta bantuan kepada seorang pemburu untuk mengalahkan musuhnya. Akan tetapi si pemburu mengajukan beberapa syarat agar ia bisa membantu kuda tersebut mulai dari memberi pelana pada punggung kuda, sepatu besi, tali dan beberapa aksesoris lainnya.

Kemudian sesudah logistik lengkap, maka si pemburu dan kuda mulai membunuh musuh-musuhnya dengan menembak. Di akhir cerita di kuda meminta kepada pemburu agar sepatu besi, pelana yang ada dipunggung beserta tali yang terikat di hidungnya agar dilepaskan karena mengingat misi sudah selesai. Akan tetapi pemburu menolak untuk melakukan itu dan terus menunggangi si kuda.

Dari “How democracies die” di atas, dapat menggambarkan sebuah metafora realitas Mahasiswa sekarang. Mereka yang dengan gagah membusungkan dada, foto kesana kemari, duduk bersama tokoh ini itu, mendirikan organisasi dengan headline “Kami dari organisasi fulan siap mendukung program pemerintah” dengan stimulan dana milyaran, membuat acara hedon yang tiada guna namun tidak disangka ada hal yang ingin diraih politisi yaitu pembungkaman dan berkah elektoral untuk pilkada mendatang.

Melihat realitas sekarang saya jadi teringat pula dengan ungkap Fromm, yang mengatakan bahwa manusia kehilangan kebebasan atau ketidakpatuhan saat ia menjelma sebagai individu yang berkumpul. Manusia terperangkap oleh meminjam adagium terkenal Weber yaitu “penjara besi” yang dibuatnya sendiri yaitu peraturan.

Sangat sedikit orang yang berani melawan jika sudah terkena stimulus rupiah namun inilah yang terjadi sekarang kepada Mahasiswa. Beberapa organisasi yang menghimpun seluruh Mahasiswa paguyuban, menyatakan sikap untuk mendukung program pemerintah yang sebenarnya mereka tidak paham sedang berada dibawah kontrol dan dipersiapkan sebagai underboew pemerintah untuk mengekploitasi margin elektabilitas di dalam kampus.

Mereka dalam ilusi menganggap diri sebagai tokoh, orang berpengaruh, berjalan dengan jemawa namun tak sadar hanya sekedar kuda troya politisi dalam kampus yang hubungannya bersifat temporal atas dasar politic interest. Sesudah manis sepah dibuang dan begitulah nasib mereka kedepan.
Untuk politisi dalam konteks Indonesia bahkan Aceh sendiri tidak perlu berharap hubungan yang bersifat lama seperti halnya partai demokrat dan republik di Amerika yang merangkul core voters model dengan baik.

Para mahasiswa tidak perlu terlalu bangga jika dirangkul para politisi, karena itu hanya hubungan bersifat temporal dan transaksional bukan berdasarkan solidaritas yang dibangun untuk selamanya.

Pun Mahasiswa yang sudah berkolaborasi dengan politisi atau pemerintah juga akan berakhir seperti apa yang disebut Jurgen Habermas dalam teorinya yang berjudul “System is colonization the life world”.

Dalam teori tersebut terjadinya kolonisasi terhadap kehidupan dikarenakan oleh kolaborasi korporat dan pemerintah. Lain halnya dalam konteks sekarang terjadinya kolaborasi antara Mahasiswa dan pemerintah sekarang berakibat kepada mandulnya gerakan Mahasiswa dalam mengkritik pemerintah karena sudah disumbar oleh pundi-pundi rupiah.

Mahasiswa adalah ujung tombak terakhir yang menjadi devils advocate terhadap kebijakan pemerintah kala DPR sebagai watchdog telah dilumuri kepentingan oligarki.

Mahasiswa yang kerjaannya hanya melakukan rilis konyol dengan headline “Siap mendukung program pemerintah” itu adalah mahasiswa bermentalitas nggih nggih mboten kepangkeh, tandai mukanya dan jangan pernah pilih ia sebagai pemimpin kedepan karena itulah mahasiswa bibit oligarkh. Itulah tanda-tanda demokrasi telah mati karena mahasiswa?[]

Tags: acehMahasiswaMatinya DemokrasiUniversitas Syiah Kuala
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Rahmat Fahlevi

Rahmat Fahlevi

Rahmat Fahlevi Mahasiswa Ilmu Politik Fisip Universitas Syiah Kuala”

Related Posts

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO
Artikel

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO

by SAGOE TV
June 11, 2026
Sulaiman Tripa
Artikel

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

by SAGOE TV
March 31, 2026
Dongeng Kampus dan Kampus Merdeka Nadiem
Artikel

Aceh dan ISIS, Berkongsi Imajinasi Politik?

by Affan Ramli
February 5, 2026
Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?
Artikel

Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?

by SAGOE TV
July 19, 2025
Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?
Artikel

Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?

by SAGOE TV
July 5, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

IPI Aceh Resmi Terima SK Kepengurusan Baru, Ini Agenda yang Akan Dilaksanakan Selanjutnya

IPI Aceh Resmi Terima SK Kepengurusan Baru, Ini Agenda yang Akan Dilaksanakan Selanjutnya

July 21, 2026
Ruang Perjumpaan #001 SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

Ruang Perjumpaan #001: SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

July 15, 2026
Ramadhan Bulan Istimewa: Saatnya Tingkatkan Taqwa dan Produktivitas

Ketika Meu-en Batee menjadi Olahraga

February 6, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

July 16, 2026
Merajut Persaudaraan Kutaraja Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

July 18, 2026
Dari Meja yang Sama. Ari Palawi

Tentang Media dan Perhatian Publik

July 14, 2026
Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial oleh Sufri Eka Bhakti

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

July 13, 2026
ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

July 20, 2026

EDITOR'S PICK

Mahasiswa KPM-PKM FDK UIN Ar-Raniry Gelar Kenduri dan Ramah Mesra di Derang, Malaysia

Mahasiswa KPM-PKM FDK UIN Ar-Raniry Gelar Kenduri dan Ramah Mesra di Derang, Malaysia

April 27, 2025
Progres Huntara Aceh Tembus 6.211 Unit, Safrizal ZA: Pengungsi Terus Berkurang

Progres Huntara Aceh Tembus 6.211 Unit, Safrizal ZA: Pengungsi Terus Berkurang

February 15, 2026
Pemain Timnas Jebolan Piala Dunia U-17 Perkuat Persiraja di Liga 2 2024/25

Pemain Timnas Jebolan Piala Dunia U-17 Perkuat Persiraja di Liga 2 2024/25

September 11, 2024
Diundang Dubes Rusia, Wali Nanggroe Hadiri Peringatan Hari Nasional Rusia di Jakarta

Diundang Dubes Rusia, Wali Nanggroe Hadiri Peringatan Hari Nasional Rusia di Jakarta

June 18, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.