Oleh: Hera Susanti
Mahasiswi S3 Jurusan Hukum Internasional di Zhongnan University of Economics and Law, Wuhan-China. Dosen LB Fakultas Syariah dan Hukum Prodi Ilmu Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. Alumnus Sekolah Muda, Toleran Angkatan 2020.
Sepanjang tahun 2020, Wuhan menjadi daerah yang paling banyak diberitakan oleh masyarakat dunia. Virus Korona yang saat ini menjadi pandemik global pertama kali muncul di salah satu kota terpenting negeri Tirai Bambu. Rakyat Tiongkok dengan mudah menjadi sasaran kemarahan dunia dan rasisme terkait virus Korona.
Secara pribadi saya ikut terpukul, masyarakat Wuhan tidak hanya merasakan suramnya hidup dibawah ketakutan terhadap virus. Tetapi juga rasisme yang dibangun oleh masyarakat dunia. Pengalaman saya berinteraksi dengan masyarakat Wuhan dan menimba ilmu selama bertahun-tahun disana, terlihat masyarakat Wuhan dan Tiongkok umumnya sangat toleran dengan pendatang, termasuk penganut agama Islam seperti saya.
Wuhan yang Memberi Ketenangan bagi Muslimah
Wuhan merupakan kota dengan kehidupan yang harmoni terutama dalam beragama. Ideologi negaranya tidak serta merta meniadakan agama dalam kehidupan sosial bangsanya. Walaupun pada prakteknya warga tidak seleluasa menjalankan peribadatan seperti halnya di negara demokrasi. Namun setidaknya keberadaan masjid, gereja dan vihara di Wuhan itu cukuplah menjadi bukti bahwa masih ada tanda-tanda kehidupan beragama di negara komunis tersebut.
Wuhan memiliki jumlah penduduk sekitar 11 juta jiwa, dimana menurut hasil survey yang dirilis pada tahun 2017, di mana 1,6 persen dari total populasi tersebut adalah pemeluk agama Islam yang hidup berdampingan dengan penduduk lainnya yang mayoritas bukan beragama Islam. Pertama kali sampai kota ini saya terkejut bukan main, rasa bahagia tiba-tiba menyelusup masuk ke dada ketika melihat keramah tamahan penduduk Wuhan yang terbuka dengan kedatangan saya dan teman-teman lainnya ke kota tersebut.
Awalnya saya menduga kalau China tidak ramah terhadap kaum minoritas, hal tersebut membuat saya awalnya khawatir tentang bagaimana saya akan hidup dan diperlakukan di sana. Saya sempat membayangkan diri ada dilingkaran minoritas besar kemungkinan bisa saja saya dan teman-teman lainnya diperlakukan secara diskriminatif. Namun, selama dua tahun di sana, kekhawatiran saya itu pupus.
China dikenal sebagai negara yang berideologi komunis, jarang sekali saya melihat orang muslim disekeliling saya karena sulit mengidentifikasi keberadaan mereka kecuali daerah-daerah muslim yang memang mayoritas muslim di sana, seperti Ningxia (宁夏), Qinghai (青海), Xian (西安市), Xin jiang (新疆) dan sebagainya. Kita bisa dengan mudah menemukan Muslim di daerah-daerah tersebut karena identitas mereka mudah kita kenali layaknya Muslim di seluruh belahan dunia lainnya, hal-hal yang mencirikan mereka sebagai muslim seperti memakai khimar atau penutup kepala bagi kaum hawanya dan peci putih bagi kaum adamnya, keberadaan masjidnya, makanan halalnya yang berjejer di sepanjang jalan juga sangat banyak ditemui di sana, toko-toko halal yang menyediakan kebutuhan mulai dari eskrim sampai permen yang ber-logo 清真 (Qīngzhēn, Halal) tersedia di daerah-daerah yang notabenenya mayoritas muslim yang ada di China. Lantas bagaimana dengan Wuhan?
Wuhan dan Ragam Komunitas Agama
Dari segi populasi keberadaan Muslim di Wuhan memang tidak terlalu banyak jika dibandingkan dengan daerah-daerah yang telah saya sebutkan di atas. Namun eksistensi umat Islam di sana ada dan terasa. Dugaan saya terbantahkan dengan melihat dan merasakan kedamaian tinggal di negara Xi Jinping tersebut.
Toleransi beragama sangat terasa, hal itu saya rasakan ketika pertama sekali menginjakan kaki di Asrama kampus sekaligus rumah saya selama di Wuhan, saya diberikan fasilitas kamar dan isinya. Saya menyusuri lorong asrama yang terdiri atas 8 lantai. Saya melihat berbagai macam tempelan yang menghiasi setiap pintu kamar. Ada yang menempekan tulisan welcome, hiasan-hiasan natal bertulisan merry Christmas, bahkan ada tempelan tanda salib. Hal ini menunjukan keberagaman agama dalam satu atap.
Selain hidup rukun dengan teman beda agama, sebagai Muslim saya merasakan wujud toleransi China terhadap kebebasan beragama dengan keberadaan 4 mesjidnya di Wuhan. Pertama Masjid Jiang An, Masjid Hankou, Masjid Min Quan Lu dan Masjid Qiyi yang terletak di distrik Wuchang. Mesjid ini selalu ramai dikunjungi baik oleh orang china muslim dan juga umat Islam dari seluruh penjuru dunia yang mayoritas dari mereka adalah pelajar yang sedang belajar di kota Wuhan.
Biasanya Mesjid ini penuh pada saat sholat jumat dan sholat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Begitu juga dengan tempat peribadatan lainnya. Selain itu, cukup mudah mencari warung halal di kota Wuhan. Ada sekitar 10 warung halal yang ditemukan di antara tempat tinggal saya dan kampus saya yang kebanyakan warung tersebut dimiliki oleh suku Hui Muslim. Pihak kampus pun juga menyediakan kantin halal bagi mahasiswa muslim di ZUEL yang merupakan singkatan dari Zhongnan University of Economics and Law.
Wuhan dan Ruang bagi Pemeluk Islam
Dalam rangka memenuhi nutrisi ruhiniyah saya sebagai muslimah di negeri minoritas, saya beserta teman-teman muslimah Indonesia yang terdiri dari pelajar dan sebagian lain adalah para istri yang ikut suami tercinta menimba ilmu, yang kemudian berinisiatif membentuk KAMUS – Wuhan (Kajian Muslimah – Wuhan). Kita tersebar dibeberapa universitas yang ada di Wuhan seperti China Central Normal University, Zhongnan University of Economics and Law, Huazhong University of Science and Technology, Wuhan University of Technology, Wuhan University, Huazhong Agricultural University dan Hubei University, yang berjumlah sekitar 30-40 Muslimah yang berasal dari Indonesia asli.
Kajian ini dirasa bermanfaat untuk mempertebal keimanan dengan berkumpul, saling menasehati dan saling silahturahim. Meski berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang berbeda, sejenak kita melupakan perbedaan suku, ras, agama, budaya, bahasa di antara kita dan mencoba berbaur dalam ikatan persaudaraan sesama muslimah dan warga negara Indonesia. Tak ada pembeda antara yang masih sarjana, Master, maupun Doktoralnya, tak ada kasta darah biru maupun rakyat jelata, kami Indonesia, kami Islam, maka kami menghormati yang tua dan mencintai yang muda. Begitu mengalir dari gerasi ke generasi.
Selain itu perkumpulan ini juga menjadi wadah untuk saling bersilahturahmi, berbagi kerindunan pada negeri. Kegiatan kajian ini rutin dilakukan seminggu sekali dengan tema usung dan tempat yang berbeda setiap Minggunya. Biasanya kita mengilir asrama siapa yang akan dikunjungi setiap Minggunya, selain indoor kita juga sekali-kali outdoor di publik. Sampai saat ini meskipun member kamus berhijab selalu, takjub, alih-alih melarang perkumpulan kajian kami dibubarkan, mereka malah bersikap tidak memperdulikannya, jadi selama saya di sana anggapan saya meleset mengenai diskriminasi agama, atau beribadah secara sembunyi-sembunyi ketika di China.
Dukungan kebebasan beragama juga terdapat dalam Konstitusi Republik Rakyat China yang memberikan kebebasan kepada rakyatnya untuk menjalankan kehidupan beragama dan melarang segala bentuk diskriminasi berdasarkan keagamaan. Konstitusi tersebut memberikan jaminan kepada warganya untuk memeluk agama dan kepercayaannya, termasuk kebebasan tidak beragama dan membebaskan masyarakat yang beragam agama hidup berdampingan, mereka bebas menjalankan agama atau aliran kepercayaan tanpa ada unsur pemaksaan.
Selain itu, China juga salah-satu negara anggota dari United Nations (UN) yang telah meratifikasi dan menandatangani isi treaty yang mendukung kebebasan dalam beragama, sehingga China merupakan negara yang aman, hal tersebut bisa kita lihat dari keakraban yang terjadi dengan warga muslim China. Harmonisasi ini memberikan dukungan moril bagi kelompok minoritas, sehingga tidak perlu khawatir hidup di tengah kelompok mayoritas. Sebaliknya, kelompok mayoritas bisa selalu menghormati dan menghargai perbedaan yang ada di sekitarnya.
Begitulah kondisi muslim dan toleransi beragama di kota Wuhan. Isu intoleransi sangat jarang kita temukan. Ternyata China yang dianggap negara pembawa masalah ini memiliki pemahaman yang cukup mendalam tentang toleransi. Hidup di China tidak mengerikan seperti yang selama ini kita lihat dan dengar dari banyak media.[]