• Tentang Kami
Friday, June 5, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Orkestra Republik Indonesia di Jalan Raya: Touring 3563 KM Bali-Banda Aceh (Bagian 4)

Kamaruzzaman Bustamam Ahmad by Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
March 20, 2025
in Reportase
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Orkestra Republik Indonesia di Jalan Raya: Touring 3563 KM Bali-Banda Aceh (Bagian 1)
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad.
Dosen Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Kopelma Darussalam, Banda Aceh.

Setelah pergantian dan perbaikan selesai, kami langsung menuju ke Jemabatan Suramadu.  Tujuan saya ke jembatan yang menghubungkan antara Surabaya dengan Madura ini adalah ingin makan siang di Bebek Sinjay, restoran yang sangat terkenal di Pulau Madura. Restoran ini pernah saya datangi 10 tahun yang lalu. Awalnya, saya agak khawatir ke restoran ini, karena terkadang harus mengantri yang agak cukup lama, hanya untuk sekedar satu piring nasi yang ditemani oleh bebek goreng.

BACA JUGA

63 Peneliti Bahas Masyarakat Hukum Adat di USK

Orkestra Republik Indonesia di Jalan Raya: Touring 3563 KM Bali-Banda Aceh (Bagian 3)

Ketika melewati jembatan Suramadu, saya lantas membayangkan bagaimana jika jembatan serupa ada di Aceh, yang menghubungkan Banda Aceh dengan Pulau Weh (Sabang).  Terlebih lagi, jika ada jembatan yang menghubungkan antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Jembatan Suramadu kami lewati secara lancar. Bagi saya Pulau Madura memiliki terkesan tersendiri, karena beberapa guru saya berasal dari pulau tersebut. Oleh sebab itu, saya memiliki hubungan emosional dengan Pulau Madura. Bahkan beberapa karib saya berasal dari Pulau Madura.

Diaspora Madura memang amat luar biasa. Di Surabaya ada tiga kelompok besar masyarakatnya, yakni Mataram, Arek, dan Madura. Begitulah dulu dikabari oleh seorang karib tentang pengelasan masyarakat di Madura. Ketika berjumpa mereka di bandara-bandara di Pulau Jawa, ciri khas orang Madura memang tidak dapat ditutupi, dimana mereka bersarung dan berpeci, serta memakai bahasa daerah mereka, ketika berkomunikasi antara satu sama lain. Karena itu, tidak sulit mengenali orang Madura. Setelah kami menikmati makan siang di Bebek Sinjay, perjalanan dilanjutkan menuju kota Yogyakarta. Tujuannya adalah untuk bersilaturrami dengan sahabat-sahabat di kota Gudeg tersebut.

Namun, siang itu  jalanan yang begitu padat. Truk yang menghadang kami pun, terkadang mencapai 3 atau 4 di hadapan. Terus terang, belum pernah pengalaman saya menyalip truk di jalanan dengan sepeda motor. Kehadiran truk di jalanan yang membuat jalanan banyak berlobang dan bergelombang mengindasikan bahwa di kawasan tersebut adalah daerah industri. Terlebih lagi, kota Surabaya menjadi hub untuk pengiriman barang-barang sembako ke wilayah timur Indonesia. Tidak mengejutkan jika mereka merajai jalanan di sekitar kota Surabaya.

Bagi pemotor yang sudah berpengalaman, mengendarai kendaraan di belakang truk adalah hal yang biasa. Salip menyalip adalah hal yang biasa. Tidak hanya truk, merayap di jalanan Pulau Jawa juga harus berhadapan dengan supir bus. Mereka benar-benar menguasai jalan raya. Tidak jarang, kami harus menepi di bahu jalan, jika bus yang mengambil secara paksa jalur kanan mereka. Di Pulau Jawa, bus-bus memang dikenal sebagai raja jalanan. Mereka melaju kencang, sambil membunyikan klakson.  Dalam satu kesempatan saya diberitahu alasan mengapa bus di pulau Jawa seperti preman jalanan. Di sini, supir dipaksa untuk mengejar waktu, supaya ketika sampai di terminal mereka bisa memiliki waktu yang agak lama untuk beristirahat. Semakin cepat mereka sampai di titik tertentu, maka akan semakin lama jatah mereka untuk beristirahat. Sebab, mereka terkadang mengendarai bus selama berjam-jam. Tentu saja, kelelahan melanda mereka. Belum lagi konsentrasi yang terkadang tidak bisa maksimal.

Tidak mengejutkan, selain kearena hobi mengendarai bus secara cepat dan tuntutan waktu istirahat, terkadang kecelakaan demi kecelakaan kerap terjadi. Bahkan di kalangan warga tempatan, beberapa merek bus menjadi “malaikat maut” bagi pengguna jalanan. Sebenarnya, tradisi bus yang ngebut memang bukan hanya monopoli bus di Pulau Jawa. Di Aceh pun tidak dapat dielakkan. Hanya saja, bus-bus di Aceh lebih banyak merajai jalanan pada malam hari. Walaupun kecelakaan juga sering terjadi, namun biasanya dikarenakan supir kelelahan atau mereka menabrak sesuatu saat di jalan raya Banda Aceh – Medan.

Bus, truk, dan sepeda motor memang menjadi bagian penting di dalam orkestra jalanan di Pulau Jawa. Lautan sepeda motor, dimana ada yang bekerja lintas kabupaten atau linta provinsi, menyebabkan kepadatan dan kemacetan yang amat luar biasa. Belum lagi kemunculan ojek online di pinggir jalan dan di jalanan, yang benar-benar menyebabkan muncul lautan sepeda motor. Namun demikian, ada lagi kelompok kendaraan yang begitu menakutkan yaitu angkutan kota (angkot). Mereka bebas parkir di bahu jalan, kapan mereka harus berhenti, baik menaikkan atau pun menurunkan penumpang. Kondisi ini dijumpai di beberapa kota besar, dimana terkadang angkot menjadi bagian memori yang menakutkan bagi saya yang mengendarai sepeda motor besar.  Hal ini sangat terasa ketika saya memasuki Kota Palembang dan Medan. Jadi, jalanan di Indonesia memang hampir mirip dengan jalanan di negara-negara berkembang lainnya. Jalanan menjadi etalase kehidupan rakyat Indonesia.  Pergerakan manusia cukup dinamis dan fantastis.

Hari itu, kami memutuskan untuk menginap di Kota Madiun.  Seperti biasa, kami mendapatkan penginapan yang murah meriah. Penginapan kami seperti kos-kosan yang ikut daftar di dalam aplikasi penginapan online. Karena kepenatan dengan jalanan yang cukup mengerikan selama dan dari kota Surabaya, kami memilih beristirahat lebih cepat.  Ketika sampai di penginapan saya lantas berpikir bagaimana situasi pulau Jawa jika saat mudik. Tentu perpindahan manusia akan terjadi secara besar-besaran. Istilah mudik menjadi begitu melekat di dalam setiap individu yang merantau di Indonesia. Saat menjelang lembaran, Indonesia memang memperlihatkan orkestra yang lebih dahsyat lagi.

Bagi mereka yang merantau, balik kampung adalah ritual yang tidak dapat diabaikan.  Merek a akan bersusah payah agar bisa mudik ke kampung halaman. Jika bulan puasa adalah bulan untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka di 10 akhir bulan suci ini menjadi semacam festival jalanan di seluruh Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Namun, selama Covid-19 fenomena mudik tidak begitu terasa, karena ada intervensi pemerintah melarang mudik.  Tidak mengejutkan jika kemudian ada anggapan mudik merupakan salah satu kebudayaan di Nusantara yang akan terus dipelihara oleh rakyat Indonesia sampai kapan pun.

Jalan raya menjadi semacam lanskap sosial untuk memahami bagaimana kondisi kekinian di Indonesia. Di situ bisa menujukkan hubungan sosial, kekuatan ekonomi, sosial-politik, dan sosial kebudayaan.  Di setiap gerakan putaran roda dan tangan yang meminta sumbangan atau uluran tangan, memiliki makna tersendiri terhadap perjalanan bangsa ini.  Dari jalan raya menghubungkan masyarakat Indonesia secara luas. Inilah satu lanskap kehidupan bangsa ini yang tidak begitu mudah untuk dipahami, jika tidak pernah menjalaninya sebagai musafir di jalan raya di republik ini.[]

Tags: acehKeliling NusantaraPengetahuanTouring 3563 KM Bali-Banda Aceh
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

Kamaruzzaman Bustamam Ahmad adalah Antropolog. Berdomisili di Aceh.

Related Posts

63 Peneliti Bahas Masyarakat Hukum Adat di USK
News

63 Peneliti Bahas Masyarakat Hukum Adat di USK

by SAGOE TV
August 24, 2022
Orkestra Republik Indonesia di Jalan Raya: Touring 3563 KM Bali-Banda Aceh (Bagian 1)
Reportase

Orkestra Republik Indonesia di Jalan Raya: Touring 3563 KM Bali-Banda Aceh (Bagian 3)

by Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
March 24, 2025
Kegilaan Orang Waras
Reportase

Agar Kopi Menginspirasi

by Zarkasyi Yusuf
March 24, 2025
Orkestra Republik Indonesia di Jalan Raya: Touring 3563 KM Bali-Banda Aceh (Bagian 1)
Reportase

Orkestra Republik Indonesia di Jalan Raya: Touring 3563 KM Bali-Banda Aceh (Bagian 2)

by Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
March 24, 2025
Orkestra Republik Indonesia di Jalan Raya: Touring 3563 KM Bali-Banda Aceh (Bagian 1)
Reportase

Orkestra Republik Indonesia di Jalan Raya: Touring 3563 KM Bali-Banda Aceh (Bagian 1)

by Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
March 20, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (1)

June 3, 2026
Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh: Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

June 3, 2026
IKAPI Aceh Tawarkan Aceh Book Fair di Konkernas

IKAPI Aceh Tawarkan Aceh Book Fair di Konkernas

June 4, 2026
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (2)

June 3, 2026
Dari Meja yang Sama

Dari Meja yang Sama

June 3, 2026
Muniru (Kehangatan dan Keakraban) Masyarakat Gayo

Muniru (Kehangatan dan Keakraban) Masyarakat Gayo

September 12, 2025
3.811 Peserta UTBK SNBT 2025 Lolos di USK, Jalur Mandiri Masih Dibuka

Jalur Mandiri USK 2026 Dibuka hingga 11 Juni, Ini Kesempatan Terakhir Masuk PTN

May 5, 2026
Skate Park Stage Volume 1-8 Tentang Kampus, Seni, dan Ruang Bertemu

Skate Park Stage Volume 1-8: Tentang Kampus, Seni, dan Ruang Bertemu

May 25, 2026
12.648 Peserta UTBK SNBT 2026 Ikuti Ujian di USK, Rektor Ingatkan Jangan Salah Lokasi

3.886 Peserta Lulus SNBT 2026 di USK, Ini Daftar Prodi Paling Diminati

May 26, 2026

EDITOR'S PICK

Swasembada Pangan Tercapai, Prabowo Soroti Ketahanan dan Kedaulatan Nasional

Swasembada Pangan Tercapai, Prabowo Soroti Ketahanan dan Kedaulatan Nasional

January 8, 2026
Sektor Informal Masih Dominan, Wamenaker Dorong Pemuda Ciptakan Lapangan Kerja Baru di Era Digital

Sektor Informal Masih Dominan, Wamenaker Dorong Pemuda Ciptakan Lapangan Kerja Baru di Era Digital

May 3, 2026
Ketamakan dan Cinta Dunia, Penyebab Utama Kehancuran Manusia

Ketamakan dan Cinta Dunia, Penyebab Utama Kehancuran Manusia

March 26, 2025
Skandal Ijazah di Panwaslih Aceh Barat, DKPP Resmi Copot Aidil Azhar dari Kursi Ketua

Skandal Ijazah di Panwaslih Aceh Barat, DKPP Resmi Copot Aidil Azhar dari Kursi Ketua

May 20, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.