• Tentang Kami
Sunday, July 12, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

SAGOE TV by SAGOE TV
July 12, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

Sufri Eka Bhakti, M.A., PhD. Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe dan Alumnus S3, University of Kent, Inggris. Foto for Sagoetv

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Sufri Eka Bhakti, M.A., PhD.
Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe dan Alumnus S3, University of Kent, Inggris.

Beberapa waktu yang lalu, saya mencoba mengajukan pertanyaan sederhana kepada sejumlah generasi muda Aceh:

“Apa yang pertama kali terlintas ketika mendengar nama Kota Lhokseumawe?”

BACA JUGA

Pemerintah Sedang Rebus Batu, Rakyat Menunggu Makan Enak

Yang Belum Dibawa Arus: Catatan Delapan Bulan Pascabanjir Aceh

Jawabannya hampir selalu sama.

“Kota petrodollar”

Saya kemudian melanjutkan pertanyaan berikutnya:

“Selain petrodollar, apa lagi yang melekat pada Kota Lhokseumawe?”

Tidak banyak yang menyebut Samudera Pasai. Tidak banyak pula yang menghubungkan Lhokseumawe dengan sejarah perdagangan internasional atau peradaban maritim terbesar di Asia Tenggara.

Mengapa identitas kota Lhokseumawe begitu lekat dengan istilah “petrodollar”, sementara sejarah yang jauh lebih tua dan panjang perlahan-lahan semakin pudar dari ingatan kolektif masyarakat Aceh?

Padahal jauh sebelum LNG Arun ditemukan pada tahun 1971, wilayah ini telah menjadi bagian penting dari peradaban besar di Nusantara, yaitu Samudera Pasai.

Berabad-abad sebelum kapal-kapal tanker LNG berlayar dari Arun menuju Singapura, Jepang, dan Korea Selatan, kapal-kapal dagang dari Arab, Persia, India, dan Tiongkok telah lebih dulu singgah di wilayah ini. Jauh sebelum kota Lhokseumawe menjadi kota energi, kawasan ini telah menjadi simpul perdagangan dunia, pusat intelektual Islam, serta pintu masuk peradaban dunia ke Nusantara.

Jika Arun menghubungkan Lhokseumawe dengan ekonomi global abad ke-20, maka Samudera Pasai telah menghubungkannya dengan dunia internasional sejak abad ke-13.

Hari ini, ketika generasi muda Aceh menyebut kota Lhokseumawe, yang pertama kali muncul adalah kilang gas dan kejayaan petrodollar pada masa lalu. Kota ini seolah direduksi menjadi fungsi tunggal, kota penghasil gas.

Di sinilah saya mulai melihat bahwa istilah “petrodollar” mungkin tidak sesederhana yang selama ini kita bayangkan.

Istilah tersebut memang terdengar positif. Istilah petrodollar menghadirkan gambaran tentang kemakmuran, pembangunan, dan modernisasi. Namun pada saat yang sama, ia juga menyederhanakan identitas sebuah kota menjadi sekadar fungsi ekonominya saja karena dalam narasi petrodollar, kota Lhokseumawe difahami terutama sebagai ruang ekstraksi.

Nilai sebuah kota akhirnya hanya diukur dari apa yang dapat diambil dari tanahnya, bukan dari sejarahnya, manusianya, atau pengetahuan yang lahir darinya.

Fenomena ini mengingatkan kita pada pola kolonial di mana wilayah pinggiran dihargai bukan karena tamadun dan sejarahnya, tetapi karena komoditas yang dimilikinya.

Dahulu Aceh dipandang penting karena lada, rempah-rempah, dan posisinya di jalur perdagangan dunia. Hari ini komoditas itu berubah menjadi minyak dan gas. Yang berubah hanyalah barang yang diekstraksi; logika kolonial yang mendasarinya sering kali tetap sama.

Dalam kajian dekolonial, kondisi ini disebut sebagai coloniality of power, ketika pola relasi kolonial terus bertahan meskipun kolonialisme formal telah lama berakhir. Sebuah wilayah tetap ditempatkan sebagai periferi ekonomi, di mana nilainya lebih banyak ditentukan oleh sumber daya alamnya, daripada oleh sejarah, masyarakat atau pengetahuan yang lahir darinya.

Dalam konteks inilah istilah “petrodollar Aceh” menjadi problematis dan semakin tidak relevan.

Dalam ilmu komunikasi, bahasa memang tidak pernah netral. Setiap istilah membawa perspektif, kepentingan, dan relasi kekuasaan. Ketika institusi, akademisi dan masyarakat terus-menerus memproduksi istilah tersebut tanpa refleksi kritis, maka secara tidak langsung telah ikut mempertahankan cara pandang bahwa nilai utama Kota Lhokseumawe terletak pada kemampuannya menghasilkan sumber daya alam.

Edward Said mengingatkan bahwa kekuasaan tidak hanya bekerja melalui dominasi ekonomi dan politik, tetapi juga melalui representasi. Ketika Lhokseumawe berulang kali direpresentasikan sebagai “kota petrodollar”, sejarah, kebudayaan, dan masyarakatnya berisiko tersisihkan oleh identitas ekonomi yang lebih sempit.

Padahal sebuah kota tidak pernah dibangun hanya oleh sumber daya alamnya. Kota Lhokseumawe dibangun oleh manusianya, oleh sejarahnya, oleh memori kolektifnya, dan oleh pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Apakah kota Lhokseumawe akan terus mendefinisikan dirinya melalui sumber daya alam yang telah habis, atau melalui warisan peradaban yang telah bertahan selama berabad-abad?

Dalam perspektif dekolonial, tantangannya bukan sekadar mengganti istilah, melainkan mengubah cara kita memproduksi pengetahuan dan merepresentasikan sebuah kota. Dekolonialisasi berarti memindahkan pusat narasi dari industri dan pasar ke sejarah dan kebudayaan lokal itu sendiri.

Barangkali, sudah saatnya kita mengingat kembali bahwa sebelum menjadi kota gas, Lhokseumawe terlebih dahulu merupakan bagian dari peradaban Samudera Pasai.

Dan mungkin, masa depan kota ini akan lebih kokoh jika dibangun di atas ingatan sejarah tersebut, bukan semata-mata di atas euforia kejayaan gas yang suatu hari memang ditakdirkan untuk habis, tetapi juga di atas warisan peradaban yang telah bertahan selama berabad-abad.[]

Tags: acehDekolonialKota LhokseumaweKota PetrodollarLGN ArunM.A.MIGAS AcehPhD. Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI)Sufri Eka Bhakti
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Pemerintah Sedang Rebus Batu, Rakyat Menunggu Makan Enak Analisis Postur Anggaran Terhadap Janji Visi & Program Muzakir Manaf-Fadhlullah
Opini

Pemerintah Sedang Rebus Batu, Rakyat Menunggu Makan Enak

by SAGOE TV
July 11, 2026
Yang Belum Dibawa Arus: Catatan Delapan Bulan Pascabanjir Aceh
Opini

Yang Belum Dibawa Arus: Catatan Delapan Bulan Pascabanjir Aceh

by SAGOE TV
July 8, 2026
Dari Medan Menuju Banda Aceh Mendunia: Saatnya Kolaborasi Menjadi Jalan Baru Membangun Kota
Opini

Dari Medan Menuju Banda Aceh Mendunia: Saatnya Kolaborasi Menjadi Jalan Baru Membangun Kota

by SAGOE TV
July 6, 2026
Calvin Ho
Opini

Paradoks Negara Kepulauan: Aceh dalam Visi Maritim Nasional Indonesia

by SAGOE TV
July 5, 2026
Jejak Pusaka (Heritage Trail) Sebagai Media Membaca Kembali Cita-Cita Darussalam
Opini

Jejak Pusaka (Heritage Trail) Sebagai Media Membaca Kembali Cita-Cita Darussalam

by SAGOE TV
July 8, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Jejak Pusaka (Heritage Trail) Sebagai Media Membaca Kembali Cita-Cita Darussalam

Jejak Pusaka (Heritage Trail) Sebagai Media Membaca Kembali Cita-Cita Darussalam

July 8, 2026
Pemerintah Sedang Rebus Batu, Rakyat Menunggu Makan Enak Analisis Postur Anggaran Terhadap Janji Visi & Program Muzakir Manaf-Fadhlullah

Pemerintah Sedang Rebus Batu, Rakyat Menunggu Makan Enak

July 11, 2026
Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

July 12, 2026
Dari Medan Menuju Banda Aceh Mendunia: Saatnya Kolaborasi Menjadi Jalan Baru Membangun Kota

Dari Medan Menuju Banda Aceh Mendunia: Saatnya Kolaborasi Menjadi Jalan Baru Membangun Kota

July 6, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Yang Belum Dibawa Arus: Catatan Delapan Bulan Pascabanjir Aceh

Yang Belum Dibawa Arus: Catatan Delapan Bulan Pascabanjir Aceh

July 8, 2026
Horor Perjalanan Belum Berakhir

Horor Perjalanan Belum Berakhir

July 10, 2026
BPMA dan Polda Aceh Perkuat Pengamanan Blok A Medco E&P Malaka

BPMA dan Polda Aceh Perkuat Pengamanan Blok A Medco E&P Malaka

July 10, 2026
Doa dan Kebersamaan dalam Kepemimpinan Baru USK 2026-2031

Ketika Sebuah Peradaban Kehilangan Cara Mewariskan Dirinya

July 8, 2026

EDITOR'S PICK

Tito Karnavian Resmi Sandang Gelar Adat Petua Panglima Hukom Nanggroe dari Wali Nanggroe Aceh

Tito Karnavian Resmi Sandang Gelar Adat Petua Panglima Hukom Nanggroe dari Wali Nanggroe Aceh

November 12, 2025
Bunda PAUD Aceh Berbaur dengan Anak-anak di Posko Pengungsian Banjir Bireuen

Bunda PAUD Aceh Berbaur dengan Anak-anak di Posko Pengungsian Banjir Bireuen

December 15, 2025
RS Regional Meulaboh Mangkrak, Wali Nanggroe Siap Temui Presiden Perjuangkan Kelanjutannya

RS Regional Meulaboh Mangkrak, Wali Nanggroe Siap Temui Presiden Perjuangkan Kelanjutannya

May 18, 2026
Waled Landeng: Prioritaskan Non-ASN R2 dan R3 Jadi PPPK Penuh Waktu

Waled Landeng: Prioritaskan Non-ASN R2 dan R3 Jadi PPPK Penuh Waktu

February 21, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.