Suasana penuh emosional sangat kentara saat jembatan Enang-Enang di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, diresmikan. Peresmian penuh semangat dan haru menyatu bersama suasana pada Kamis, 2 Juli 2026, lalu. Jembatan hasil swadaya masyarakat ini merupakan sarana vital yang sudah lama ditunggu-tunggu. Proses pembangunannya pun penuh dinamika dan hambatan akibat berbagai kondisi dan kebijakan.
Ide membangun jembatan secara swadaya tercetus dari beberapa warga yang prihatin dan gerah dengan progres pemerintah. Bahkan pihak Badan Pengelola Jalan Nasional (BPJN) Kementerian PU sempat menutup akses hingga memicu kemarahan warga. Akibatnya pihak BPJN merevisi larangan seraya meminta maaf.
Pembangunan jembatan Enang-Enang berjalan selama lebih dari dua bulan. Langkah ini sebagai respons atas rasa jenuh, kecewa dan marah terhadap gerak cepat pemerintah memperbaiki akses utama Bener Meriah dengan Kabupaten Aceh Tengah. Apalagi selama ini warga dataran tinggi Gayo dan tamu yang akan menuju daerah itu harus memutar jauh melalui jalan alternatif yang berbahaya dan melelahkan serta menjengkelkan.
Inisiatif membangun jembatan disambut luar biasa warga. Mereka menyumbang dengan segala kemampuan hingga terkumpul dana Rp 1 miliar. Kendati masih terbatas, paling tidak kendaraan ringan tidak mesti menempuh jarak yang jauh dan membutuhkan waktu yang sangat lama. Pembangunan hingga peresmian jembatan Enang-Enang pun bikin viral hingga menarik perhatian pemerintah pusat sampai mengirimkan Mendagri dan Menteri PU. Hasilnya, pemerintah berjanji akan membangun dua jembatan lain yang bisa menahan beban berat dan layak dilintasi kendaraan bertonase tinggi.
Namun, horor perjalanan belum berakhir. Masih ada sejumlah jembatan yang belum tersambung secara permanen. Jembatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen sangat fenomenal. Sejak putus diterjang banjir bandang pada akhir November 2025 lalu, jembatan Bailey atau jembatan darurat masih menjadi andalan pengendara. Jembatan berkonstruksi baja yang menghubungkan jalan Lintas Sumatra satu-satunya pilihan pengendara khususnya mobil berbadan besar. Lebar badan jembatan yang hanya bisa dilalui satu mobil dengan beban maksimal 30 ton ini menyebabkan lintasan silih berganti. Akibatnya, antrean panjang hingga beberapa kilometer dari dua arah tak terhindarkan.
Bagi pengendara yang ingin masuk hingga waktu lebih dari dua jam bisa memilih jalur alternatif melalui Awe Geutah, Peusangan Selatan. Namun, jalan alternatif pedalaman membutuhkan waktu tempuh lama dan kondisi jalan yang tidak mulus. Akibatnya, pengendara dan penumpangnya harus menggerutu dan butuh fisik yang prima tidak ingin sampai tujuan.
Kondisi ini memaksa para pengendara masuk dalam barisan antrean. Antrean panjang dan nyaris permanen telah terjadi sejak jembatan Kuta Blang penghubung Krueng Peusangan putus. Lantaran jembatan darurat hanya mampu menampung satu arah dan bobot maksimal 30 ton menyebabkan arus lintas dibuka secara bergiliran. Kendaraan dari dua arah diberi kesempatan setiap satu jam. Namun Langkah ini tidak menelurkan solusi lantaran jumlah kenderaan yang sangat padat khususnya saat akhir pekan. Belum lagi kendaraan angkutan barang dari Sumatra Utara.
Lintas timur Sumatra khususnya kawasan Kuta Blang memang satu yang menjadi momok bagi pengendara termasuk musafir. Perjalanan seakan menjadi horor karena membayangkan antrean dan jarak tempuh perjalanan. Namun, warga tidak bisa berbuat banyak dengan kondisi keterbatasan dana dan tenaga. Mereka hanya bisa berharap pemerintah tidak menambah penderitaan para korban banjir bandang dengan mempercepat perbaikan infrastruktur agar mereka bisa melanjutkan hidupnya untuk masa depan palin tidak untuk asa atau harapan.
Mukhtaruddin Yacob

















