Oleh: Fajri
Kepala Sekolah dan Pegiat Literasi
Air memang telah lama surut. Sungai kembali mengalir seperti sediakala. Jalan-jalan yang dahulu berubah menjadi arus kini kembali dipenuhi kendaraan. Dari kejauhan, seolah-olah Aceh telah selesai dengan bencana. Namun luka tidak pernah mengikuti arus air. Ia tinggal di halaman rumah yang masih menyisakan lumpur. Ia menetap di sawah yang belum sepenuhnya kembali produktif. Ia menunggu di jalan-jalan yang belum pulih. Ia ikut mengular dalam antrean panjang kendaraan di Jembatan Bailey Kutablang.
Libur sekolah mestinya menjadi perjalanan yang menyenangkan. Seperti banyak perantau asal Bireuen yang bekerja di Banda Aceh, saya pulang dengan harapan sederhana: bertemu keluarga. Namun perjalanan itu berhenti hampir tiga jam di depan sebuah jembatan darurat. Mesin kendaraan dimatikan. Anak-anak mulai gelisah. Orang-orang turun dari mobil, bukan karena telah sampai di tujuan, tetapi karena mereka sadar antrean belum akan segera bergerak.
Di atas jembatan itulah saya memahami bahwa bencana ternyata memiliki dua babak. Babak pertama ditulis oleh alam. Babak kedua ditulis oleh manusia. Babak pertama selesai ketika hujan berhenti dan air kembali ke sungai. Babak kedua baru selesai ketika masyarakat kembali hidup sebagaimana mestinya.
Dan delapan bulan setelah banjir, babak kedua itu masih terus berlangsung. Di berbagai sudut Aceh, bekas bencana masih dapat dibaca. Lumpur belum sepenuhnya hilang. Infrastruktur belum seluruhnya pulih. Sebagian warga masih menunggu kepastian. Aktivitas ekonomi masih tersendat di beberapa kawasan. Bencana memang telah lewat, tetapi pemulihan belum sepenuhnya menyusul.
Bukankah negara hadir agar rakyat tidak memikul musibah sendirian? Pertanyaan itu terus mengganggu saya sepanjang perjalanan pulang. Negara memang hadir. Upaya pemulihan berjalan. Infrastruktur sementara dibangun. Berbagai pekerjaan dilakukan. Namun bagi masyarakat, kehadiran negara tidak diukur dari dimulainya proyek, melainkan dari kapan proyek itu benar-benar mengembalikan kehidupan mereka.
Bagi petani, negara hadir ketika sawah kembali dapat ditanami. Bagi pedagang, negara hadir ketika distribusi kembali lancar. Bagi pelajar, negara hadir ketika perjalanan menuju sekolah tidak lagi dipenuhi hambatan. Bagi keluarga korban, negara hadir ketika mereka tidak lagi hidup dalam ketidakpastian.
Sayangnya, waktu yang terus berjalan juga mengubah cara masyarakat berbicara. Hari-hari ini media sosial dipenuhi foto-foto antrean panjang di Jembatan Bailey Kutablang. Di bawahnya muncul komentar, humor, dan sindiran. Ada yang mengaitkannya dengan berbagai keputusan pemerintah, termasuk perdebatan mengenai bantuan dari luar negeri. Terlepas dari benar atau tidaknya setiap narasi yang beredar, satu kenyataan sulit dibantah: ketika pemulihan terasa lambat, ruang publik mudah dipenuhi spekulasi dan satire.
Humor politik sering kali lahir bukan karena masyarakat kehilangan akal sehat. Ia lahir ketika masyarakat merasa bahasa yang biasa tidak lagi cukup untuk menggambarkan kenyataan yang mereka alami. Dalam suasana seperti itu, setiap ucapan pejabat memiliki bobot yang jauh lebih besar. Dugaan yang belum terverifikasi atau pernyataan yang tidak sejalan dengan fakta yang kemudian berkembang di lapangan dapat memperlebar jarak antara pemerintah dan masyarakat. Di saat rakyat sedang berusaha memulihkan hidupnya, kepercayaan menjadi modal yang sama pentingnya dengan alat berat dan anggaran.
Di sinilah kualitas kepemimpinan diuji. Bencana tidak hanya menguji kekuatan jembatan, tetapi juga kekuatan tata kelola. Ia menguji apakah pemerintah mampu bergerak secepat kebutuhan masyarakat. Ia menguji apakah komunikasi publik mampu menenangkan, bukan menambah kegelisahan. Ia juga menguji apakah lembaga perwakilan menjalankan fungsi pengawasannya secara efektif, bukan sekadar hadir membawa bantuan, tetapi memastikan setiap hambatan pemulihan dijelaskan dan setiap janji benar-benar ditepati.
Rakyat tentu menghargai setiap uluran tangan. Namun yang tidak dapat digantikan oleh siapa pun adalah fungsi negara. Negara dibentuk bukan hanya untuk hadir pada hari pertama bencana. Negara dibentuk untuk memastikan hari ke-30, hari ke-100, bahkan bulan ke-8 setelah bencana membawa masyarakat semakin dekat kepada kehidupan yang normal.
Sebab rakyat tidak hidup di dalam laporan kemajuan. Mereka hidup di jalan yang mereka lintasi setiap hari. Mereka hidup di sawah yang mereka garap setiap musim. Mereka hidup di rumah yang mereka tempati setiap malam. Dan mereka mengukur kehadiran negara dari pengalaman itu.
Air memang telah lama surut. Tetapi luka tidak pernah hanyut bersama arus sungai. Selama masyarakat masih mengantre berjam-jam untuk melintasi satu jembatan, selama sebagian lahan belum kembali produktif, selama keluarga korban masih menunggu kepastian, dan selama kepercayaan publik masih harus dipulihkan, sesungguhnya yang belum selesai bukan hanya pemulihan pascabencana. Yang sedang diuji adalah kemampuan negara memenuhi janji paling mendasarnya: hadir ketika rakyat paling membutuhkan.




















