SAGOETV | ACEH BESAR – Kabar duka menyelimuti keluarga besar Palang Merah Indonesia (PMI) Aceh Besar. Seorang relawan tangguh yang telah mendedikasikan hidupnya untuk kemanusiaan, Ichsan H. Azis—lebih dikenal dengan panggilan Cek San—telah berpulang ke Rahmatullah. Namanya harum dalam catatan sejarah kemanusiaan Aceh, dari masa konflik hingga bencana tsunami. Ia adalah sosok yang bekerja dalam senyap, tanpa pamrih, tanpa keluh, tetapi jejaknya abadi dalam ingatan mereka yang pernah disentuh oleh kebaikannya.
Cek San lahir di Peukan Tuha Lampakuk, Aceh Besar. Ia adalah putra dari almarhum H. Azis, seorang tokoh terpandang di Kuta Cot Glie. Sejak usia muda, ia telah menunjukkan kepedulian mendalam terhadap sesama. Bergabung dengan Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Indrapuri (IPPEMINDRA) serta menjadi pelatih Palang Merah Remaja (PMR), ia menempa diri dalam dunia kemanusiaan. Dari organisasi ini pula, ia bertemu Milsa Ananda, sesama anggota PMR yang kelak menjadi pendamping hidupnya.
Saat konflik bersenjata melanda Aceh, Cek San tetap teguh berdiri. Setiap kabar tentang korban terdengar, ia dan timnya segera turun ke lapangan, menembus risiko dan bahaya hanya demi satu tujuan: menyelamatkan nyawa. Baginya, kemanusiaan adalah panggilan yang lebih tinggi dari ketakutan.
Misi Berbahaya di Panca
Salah satu peristiwa yang membuktikan keteguhan hatinya terjadi di Panca, Aceh Besar. Dalam sebuah operasi kemanusiaan, timnya mendapat perlakuan kasar dari aparat keamanan yang menghendaki surat izin dari Kodam Iskandar Muda, meskipun mereka telah mengantongi izin dari Kodim 0101. Situasi semakin menegang saat komunikasi radio tim terlacak, menyebabkan mereka menghadapi kesalahpahaman yang menghambat misi penyelamatan.
Namun, ketulusan dan tekad Cek San serta timnya tak tergoyahkan. Setelah izin diperbarui, mereka kembali ke lokasi meskipun pengalaman pahit sempat menyergap mereka. Sebagai koordinator lapangan, Demikian kisah seorang teman Relawan, Riya Ison, kepada SagoeTv saat takziyah ke rumah duka, Jum’at, (4/04/2025). saat itu merasa salut. Betapa tidak, setelah melalui tekanan yang begitu berat, mereka tetap bersedia kembali bertugas, seakan-akan tak pernah terjadi apa pun sebelumnya.
Tsunami dan Pengabdian Tanpa Batas
Begitu pula, ketika gelombang tsunami menerjang Aceh pada 26 Desember 2004, Cek San kembali menunjukkan keberanian dan ketulusannya. Tak terhitung berapa jenazah yang ia evakuasi, dari yang masih utuh hingga yang hanya tersisa tulang belulang. Berapa ratus nyawa yang ia antar ke rumah sakit, berapa keluarga yang ia bantu mencari sanak saudara mereka—tak ada yang bisa benar-benar menghitung. Namun satu hal yang pasti, ia melakukan semuanya dengan hati yang tulus.
Di Markas PMI Aceh Besar, Lambaro, pada hari kedua setelah tsunami, saya masih ingat wajahnya yang letih, suaranya yang serak saat bertanya, “Bang, bagaimana ini? Wajah korban sudah menghitam, tak bisa dikenali keluarga lagi.” Ia menangis kisah Ison yang juga katif di PMI Aceh ini
Saya mencoba menenangkannya, “Bagaimana pun ini kehendak Allah.”
Kami berdua sama-sama tahu, banyak dari jenazah itu akan dikuburkan sebagai orang tak dikenal. Laut yang panas dan mengandung belerang telah mengubah tubuh-tubuh tak berdaya itu, membuat identifikasi menjadi hampir mustahil. Namun, Cek San tetap menjalankan tugasnya, tanpa mengeluh, tanpa menuntut imbalan.
Seiring waktu, Aceh memasuki masa damai. Namun, Cek San tidak pernah berhenti mengabdi. Ia menetap di Kota Jantho dan mengemban amanah sebagai Sekretaris Desa (Sekdes) Jantho Makmur, sambil tetap aktif dalam berbagai misi kemanusiaan.
Kamis malam, 3 April 2025, di RS Meuraxa, Banda Aceh, Cek San menghembuskan napas terakhir akibat gangguan jantung. Kabar itu menyebar cepat, membawa kesedihan mendalam bagi mereka yang mengenalnya. Khalid Wardana, salah satu rekan seperjuangannya, menuliskan pesan yang menggugah di media sosial:
“Pantang bagi Cek San mendengar ada korban tanpa turun tangan. Dia tak kenal lelah, tak berharap balasan. Semuanya semata-mata atas panggilan kemanusiaan.”
Kini, sosoknya telah tiada, tetapi teladan yang ia tinggalkan tetap menyala. Pengorbanan, keberanian, dan keikhlasannya telah menjadi warisan yang tak akan pudar. Aceh kehilangan seorang relawan sejati, tetapi semangatnya akan selalu hidup dalam diri mereka yang pernah berjuang bersamanya.
Selamat jalan, Cek San. Kebaikan dan dedikasimu akan selalu dikenang. Semoga amal baktimu mendapatkan ganjaran terbaik di sisi-Nya.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. []