LHOKSEUMAWE | SAGOE TV – Kapan kapal roll on-roll off (roro) rute Krueng Geukueh, Aceh, menuju Penang, Malaysia, mulai berlayar? Pemerintah Aceh terus mendorong realisasi jalur penyeberangan internasional tersebut. Salah satu langkah terbaru dilakukan melalui peninjauan kesiapan Pelabuhan Krueng Geukueh oleh Atase Perhubungan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur, Sindu Rahayu, bersama Dinas Perhubungan Aceh, Jumat, 9 Oktober 2026.
Peninjauan lapangan itu didahului rapat koordinasi di Kantor PT Pelindo Multi Terminal Lhokseumawe. Kegiatan tersebut bertujuan melihat secara langsung kesiapan sarana dan prasarana pelabuhan untuk mendukung percepatan pembukaan rute pelayaran langsung Aceh-Penang.
Rapat koordinasi dihadiri Sindu Rahayu, Kepala Dinas Perhubungan Aceh Teuku Faisal, Staf Khusus Gubernur Aceh Amni bin Ahmad Marzuki, serta sejumlah pemangku kepentingan lintas sektor.
Mereka antara lain berasal dari instansi Customs, Immigration, Quarantine, and Security (CIQS), yang meliputi Bea Cukai, Imigrasi, Karantina, dan Syahbandar, unit kerja Kementerian Perhubungan, PT Pembangunan Aceh (PEMA), PT Pelindo Multi Terminal, serta satuan kerja perangkat Aceh (SKPA) terkait.
KBRI Kuala Lumpur Dukung Rute Roro Aceh-Penang
Sindu mengatakan KBRI Kuala Lumpur menyambut baik dan mendukung inisiatif Pemerintah Aceh untuk membuka konektivitas langsung antara Indonesia dan Malaysia.
Menurutnya, konektivitas antarnegara menjadi salah satu program prioritas utama Duta Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur. Karena itu, rencana pembukaan rute Roro Krueng Geukueh-Penang sejalan dengan program Gubernur Aceh Muzakir Manaf.
“Kami prinsipnya menyambut baik semua inisiatif konektivitas, pembukaan rute Indonesia dan Malaysia, begitu juga sebaliknya. Namun, di dalam pelaksanaannya tentunya harus mengacu pada peraturan-peraturan yang terkait, tidak hanya isu transportasi, tetapi terkait dengan hal-hal lain seperti kepabeanan, imigrasi, kemudian perdagangan,” ujar Sindu, dikutip dari akun Instagram resmi Dishub Aceh.
Ia juga mengapresiasi langkah awal Pemerintah Aceh, khususnya Dinas Perhubungan Aceh, yang telah berupaya mempersiapkan pembukaan jalur penyeberangan tersebut.
Menurut Sindu, sejumlah langkah persiapan di tingkat pemerintah pusat dan Pemerintah Aceh telah dilakukan. Ia menilai hal itu sebagai awal yang baik untuk mewujudkan konektivitas langsung Aceh-Penang.
Keberlanjutan dan Aturan Lintas Negara Jadi Perhatian
Meski mendukung rencana tersebut, Sindu mengingatkan bahwa pembukaan rute roro tidak cukup hanya dengan membangun sarana dan prasarana pelabuhan. Keberlanjutan operasional menjadi salah satu hal penting yang harus dipastikan.
“Kita tentu tidak ingin setelah semua sarana dan prasarana dibangun, programnya berhenti setelah sekali berlayar,” tegasnya.
Selain keberlanjutan, pembukaan rute ini membutuhkan keterlibatan berbagai pemangku kebijakan lintas sektor. Hal itu karena kapal roro tidak hanya mengangkut penumpang, tetapi juga barang dan kendaraan.
Oleh sebab itu, Indonesia dan Malaysia perlu menyepakati aturan teknis yang menjadi dasar pelaksanaan layanan penyeberangan internasional tersebut.
Sindu menyebut perjanjian bilateral untuk mendukung pembukaan rute itu memungkinkan untuk dilakukan. Hasil pembahasan dalam rapat koordinasi perlu dituangkan dalam dokumen bersama dan Standard Operating Procedure (SOP) yang dapat diterapkan di kedua negara, kemudian diajukan sesuai mekanisme yang berlaku.
Selain rute Krueng Geukueh-Penang, Sindu mengungkapkan bahwa terdapat dua rute roro lain yang sedang dibahas antara Indonesia dan Malaysia, yakni Melaka-Dumai serta Johor-Batam.
Dishub Aceh Minta Dukungan Diplomasi Indonesia-Malaysia
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Aceh Teuku Faisal menyampaikan apresiasi atas kehadiran langsung Atase Perhubungan KBRI Kuala Lumpur dalam peninjauan Pelabuhan Krueng Geukueh.
Menurut Faisal, kunjungan tersebut menjadi langkah maju bagi upaya Pemerintah Aceh membuka konektivitas langsung melalui jalur roro Krueng Geukueh-Penang.
Ia mengatakan berbagai evaluasi, saran, masukan, dan rekomendasi yang disampaikan dalam pertemuan itu menjadi bahan bagi Pemerintah Aceh untuk mematangkan persiapan.
Faisal juga menilai KBRI Kuala Lumpur memiliki peran penting dalam diplomasi Indonesia di Malaysia. Karena itu, Pemerintah Aceh mengharapkan dukungan lebih kuat dalam forum diplomasi bilateral kedua negara agar rencana pelayaran tersebut dapat segera direalisasikan.
“Kami atas nama Pemerintah Aceh mengucapkan terima kasih atas dukungan Kementerian Perhubungan, Kementerian Luar Negeri, dan KBRI di Kuala Lumpur yang telah bekerja keras mendukung visi dan misi Gubernur Aceh,” ujar Faisal.
Ia berharap dukungan Menteri Perhubungan dan Duta Besar RI di Kuala Lumpur terus menguat sehingga pelayaran roro Aceh-Penang dapat segera terwujud.
Menurutnya, konektivitas langsung tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menggairahkan sektor perdagangan dan pariwisata di Aceh.
Meski persiapan dan koordinasi terus berjalan, dalam keterangan yang disampaikan belum disebutkan jadwal pasti dimulainya pelayaran kapal roro Krueng Geukueh-Penang. Realisasinya masih memerlukan pematangan aspek teknis, regulasi, koordinasi lintas sektor, serta kesepakatan antara Indonesia dan Malaysia.




















