PIDIE JAYA | SAGOE TV – Kondisi Desa Dayah Usen, Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya (Pijay), masih jauh dari kata pulih. Sudah 49 hari pascabecana, pemukiman dan rumah-rumah warga belum bersih dari sisa lumpur banjir bandang yang menerjang akhir November 2025 lalu.
Keuchik (Kepala Desa) Dayah Usen, Zulbahri, mengungkapkan kondisi desanya sangat memprihatinkan. Warga belum bisa kembali ke rumah dan akses jalan menuju ke desa masih sulit dilalui.
“Kondisi masih mencekam sekali. orang tidak bisa kembali ke rumah dan akses jalan juga belum bagus,” kata Zulbahri saat dihubungi, Rabu (14/1/2026).
Zulbahri mengatakan, warga tidak mampu melakukan pembersihan secara mandiri karena posisi lumpur di luar ruangan lebih tinggi dibandingkan dalam rumah.
“Masih berlumpur, warga mau membersihkan tidak bisa dibersihkan karena lumpur di luar lebih tinggi,” ujarnya.
Akibatnya, sebagian besar warga masih bertahan di pengungsian. Mereka yang memilih pulang terpaksa harus tidur dalam kondisi rumah masih berlumpur.
“Masyarakat masih di pengungsian. Sebagian ada yang kembali pulang, tapi secara terpaksa membentangkan tikar di atas tanah dalam rumah,” sebutnya.
Zulbahri menyayangkan masih minimnya bantuan alat berat yang difokuskan untuk pembersihan area pemukiman dan rumah warga. Menurutnya, selama ini alat berat hanya beroperasi membersihkan kayu dari dalam sungai kawasan Desa Dayan Usen.
“Di Dayah Usen jangan lihat alat yang ada di sungai. Kalau di sungai memang banyak, orang mungkin berfikir banyak alat berat masuk ke desa kami, memang banyak tapi mereka kerja di sungai,” ungkapnya.
Menurut Zulbahri, Adapun bantuan alat berat yang pernah masuk ke pemukiman warga selama ini hanya bertahan sebentar, sehingga pembersihan tidak berjalan sebagaimana diharapkan.
“Alat berat ada masuk dua hari, habis itu hilang lagi. Ada juga yang satu hari setengah, setelah itu enggak kembali lagi,” katanya.
Khususnya di Desa Dayah Usen, sebut Zulbahri, saat ini aliran listrik sudah pulih sekitar 95 persen meski instalasi dalam rumah warga rusak. Namun, mereka menyediakan satu stopkontak untuk lampu darurat pada masing-masing rumah.
“Sekarang kami terkendala MCK tidak cukup, kalau air bersih sudah hidup. Kami minta MCK aja, yang sudah ada empat, itu antrean panjang setiap hari,” pungkasnya. []




















