ACEH TAMIANG | SAGOE TV – Lorong Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muda Sedia, Aceh Tamiang, masih menyisakan trauma banjir besar yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025. Di beberapa sudut, bau lembab belum sepenuhnya hilang. Namun, di balik keterbatasan itu, denyut kemanusiaan tetap dijaga.
Elly tak pernah membayangkan banjir akan datang sedahsyat itu. Air bah setinggi hingga tiga meter merendam seluruh bangunan rumah sakit dan melumpuhkan hampir seluruh layanan. Alat kesehatan rusak, ranjang pasien tak lagi bisa digunakan, bahkan ambulans sempat tak dapat beroperasi. Di tengah kondisi tersebut, Elly memilih tetap bertahan.
Di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) yang masih dapat difungsikan secara terbatas, ia merawat seorang bayi berusia 16 hari. Bayi tersebut masih bergantung pada alat bantu oksigen dan membutuhkan pengawasan intensif setiap waktu.
“Ini satu-satunya rumah sakit di Aceh Tamiang, kami berharap bantuan bisa segera datang agar rumah sakit dapat kembali beroperasi normal.” ujar Elly seperti dilansir Infopublik, Rabu (14/1/2026).
Meski dalam kondisi darurat, RSUD Muda Sedia tetap membuka layanan sebisanya. Sejak 9 Desember 2025, rumah sakit mulai kembali melayani masyarakat dengan kapasitas terbatas serta sejumlah penyesuaian ruang.
Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang sebelumnya menjadi pusat layanan emergensi kini juga difungsikan sebagai ruang rawat inap sementara. Dua ruangan di bagian belakang IGD dialihfungsikan untuk menampung pasien, karena sebagian besar bangsal utama belum dapat digunakan.
“Dalam sehari, pasien yang datang ke IGD bisa mencapai 50 orang,” kata seorang perawat. Pasien berasal dari berbagai wilayah di Kabupaten Aceh Tamiang yang tidak memiliki alternatif rumah sakit lain dalam kondisi darurat.
Di koridor IGD, ranjang-ranjang pasien tampak terisi penuh. Ruang yang sempit dan keterbatasan peralatan tak menyurutkan pelayanan. Para tenaga kesehatan terus bekerja dengan sumber daya yang ada dan semangat yang tak pernah surut.
Nurhayati, salah seorang tenaga kesehatan, menunjukkan sejumlah obat-obatan yang berhasil diselamatkan dari terjangan banjir, termasuk obat khusus untuk bayi. Namun, sebagian besar lainnya hanyut terbawa air bercampur lumpur.
“Kami berharap ada bantuan dari daerah lain, bahkan dari luar negeri, untuk membantu pengadaan kembali alat-alat kesehatan,” ujarnya.
Upaya pemulihan terus dilakukan secara bertahap. Pemerintah bersama lintas sektor memaksimalkan rehabilitasi sarana dan prasarana rumah sakit. Saat ini, satu ruangan telah difungsikan untuk layanan bedah minor dan persalinan, sementara ruangan lainnya diperbaiki seiring ketersediaan alat dan logistik.
Pemulihan RSUD Muda Sedia bukan sekadar membangun kembali bangunan yang rusak, melainkan juga mengembalikan rasa aman masyarakat Aceh Tamiang, bahwa di tengah bencana, masih ada tempat untuk berobat dan tenaga kesehatan yang setia berjaga.
Di NICU yang sunyi, Elly kembali memeriksa bayi kecil itu. Di tengah segala keterbatasan, ia memegang satu keyakinan: selama masih ada nyawa yang harus dijaga, harapan tak boleh ikut tenggelam bersama banjir. []




















