BANDA ACEH | SAGOE TV – Film Hikayatussistance kembali melanjutkan rangkaian pemutaran dengan tampil dalam program CineDocx di Yogyakarta serta Bakaba Sinema di Sumatra Barat. Setelah sebelumnya diputar di berbagai forum dunia, film yang diproduksi Aceh Menonton Films ini terus menarik perhatian lewat pendekatan dokumenter yang mengangkat tradisi tutur sebagai medium ekspresi sosial dan perlawanan.
Muhammad Hendri, sutradara asal Aceh menyampaikan bahwa film Hikayatussistance akan diputar dalam program CineDocx, forum pemutaran dokumenter dan film eksperimental dunia yang diselenggarakan oleh KDM Cinema, JFA Cinema Hub, dan Jogja Film Academy, pada 12, 18, dan 23 April 2026 di Gedung JFA Cinema Hub, Yogyakarta. Program tersebut berfokus pada praktik sinema nonfiksi, isu sosial-budaya, dan keberagaman bentuk dokumenter kontemporer.
Dalam program itu, kata Hendri, Hikayatussistance dipresentasikan bersama sejumlah karya sineas internasional lainnya, yakni film asal Spanyol This is Raquel’s Not-So-Secret Diary, film asal Myanmar Comrade Poopy, serta film kolaborasi Prancis–Swiss–Thailand Au Revoir Siam. Kehadiran film-film tersebut menempatkan Hikayatussistance dalam lanskap dialog sinema global yang menyoroti keberagaman pendekatan dokumenter kontemporer.
Selanjutnya, pada 30 Mei 2026, Hikayatussistance juga akan hadir dalam program Bakaba Sinema, sebuah inisiatif bioskop keliling yang diadakan oleh Bioskop Taman di Nagari Koto Gadang, Sumatra Barat. Program ini mengusung tema yang terinspirasi dari bakaba, tradisi tutur masyarakat Minangkabau yang memiliki kedekatan konseptual dengan gagasan utama film.
“Hikayatussistance, saya pikir, relevan hadir dan terkurasi di CineDocx dan Bakaba Sinema pada 2026 ini karena semangat kedua forum pemutaran ini dekat dengan cara film ini diciptakan: sama-sama percaya bahwa dokumenter bukan hanya medium merekam kenyataan, tetapi juga ruang eksplorasi bentuk, tafsir, estetika, dan pencarian bahasa sinema kontemporer,” ujar Hendri dalam keterangan tertulis yang diterima Sagoe TV di Banda Aceh, Senin (13/4).
“Selain itu, film ini berangkat dari tradisi oral atau seni tutur yang sejalan dengan semangat Bakaba dalam merawat praktik bertutur sebagai ingatan kolektif dan budaya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Hikayatussistance lahir dari ketertarikannya menonton dan menyelami seni tutur hikayat Fuadi Kelayu, bukan hanya sebagai tradisi seni-budaya, melainkan sebagai medium ekspresi sosial-politik dan spirit terhadap term dan ideologi perlawanan.
“Bagi Fuadi, hikayat memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar seni pertunjukan. Baginya, hikayat adalah cara kita berbicara kepada kekuasaan ketika kita tidak punya podium, dan itu merupakan salah satu bentuk perlawanan,” jelas Sutradara Film Hikayatussistance itu.
Film berdurasi 18 menit 52 detik ini menceritakan dalam sebuah ruangan merah, seorang seniman tutur Aceh, Fuadi Klayu, yang melantunkan Dongeng Sebelum Gulita; dan hikayat tentang negeri subur yang berada di ambang kehancuran.
Film ini merekam sekaligus merekonstruksi pertunjukan hikayat Dongeng sebelum Gulita. Melalui perpaduan performatif, arsip, dan konstruksi visual artistik dalam pendekatan hybrid documentary, film ini menelaah praktik penciptaan seni hikayat Fuadi dan tradisi lisan sebagai bentuk ingatan hidup sekaligus ekspresi sosial-politik dan ideologi perlawanan.
Film ini awalnya dikembangkan sebagai karya tesis penciptaan seni dalam studi pascasarjana di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pertengahan 2024 hingga awal 2025, sebelum kemudian beredar di berbagai forum, antara lain Lift-Off Global Sessions 2025 (Inggris Raya), International Folklore Film Festival 2026 (India), VisiOn Festival 2026 (Italia), dan Association for Asian Studies Film Expo 2026, di mana film ini terpilih sebagai satu dari 24 film pilihan dari ratusan karya internasional.
Hikayatussistance meraih Best Mathilda Award – Best Short Documentary di Balikpapan Film Festival 2025, Honorable Mention di Films That Move 2025 (Jamaika), dan masuk nominasi Best Documentary dalam Sumedang Short Film Festival 2025, serta menjadi film pembuka Mantara Film Festival 2025 (Sulawesi).
“Melalui perjalanan tersebut, Hikayatussistance tidak hanya menempatkan hikayat sebagai seni pertunjukan tutur atau seni teater monolog, tetapi juga sebagai praktik hidup, seni yang terus menemukan bentuk baru di tengah perkembangan zaman dalam sinema dunia kontemporer,” ujar Hendri.
Informasi Pemutaran
CineDocx – JFA Cinema Hub, Yogyakarta
12 April 2026 – 15.00 WIB
18 April 2026 – 15.00 WIB
23 April 2026 – 19.00 WIB
Bakaba Sinema – Nagari Koto Gadang, Sumatra Barat
30 Mei 2026 – 20.00 WIB. []




















