BANDA ACEH | SAGOE TV – Balai Bahasa Provinsi Aceh mengambil langkah inspiratif dalam memperkuat budaya literasi dengan menghadirkan Pojok Buku Prof. Sulaiman Tripa, sebuah rak khusus yang menampilkan karya-karya Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Prof. Sulaiman Tripa, di perpustakaan Balai Bahasa Aceh, Kamis (30/7).
Pada kesempatan tersebut, Prof. Sulaiman menyerahkan ratusan judul buku, baik karya yang ditulis maupun yang disuntingnya, sebagai hibah untuk memperkaya koleksi perpustakaan. Inisiatif ini menjadi contoh nyata bagaimana karya intelektual tidak hanya dipublikasikan, tetapi juga diwariskan agar terus memberi manfaat bagi masyarakat dan generasi mendatang.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, Muhammad Irsan, didampingi Kepala Subbagian Umum Dr. Baun Thoib Soaloon SGR, serta Kepala Perpustakaan Helmi Fuad, S.S., menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan Prof. Sulaiman kepada Balai Bahasa.
“Kami mengucapkan terima kasih atas sumbangan buku dari Prof. Sulaiman Tripa. Koleksi ini akan kami tempatkan secara khusus dalam Pojok Buku Profesor Sulaiman Tripa sebagai bagian dari upaya memperkaya khazanah literasi dan memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses karya-karya beliau,” ujar Muhammad Irsan.
Ia juga mengungkapkan bahwa Balai Bahasa Aceh berencana memindahkan ruang perpustakaan ke lokasi yang lebih mudah dijangkau sehingga dapat menjadi ruang baca yang semakin terbuka bagi masyarakat. Menurutnya, dukungan para penulis dan akademisi sangat penting dalam membangun perpustakaan sebagai pusat pengetahuan dan pembelajaran.
Sementara itu, Sulaiman menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas penghargaan yang diberikan Balai Bahasa melalui penyediaan rak khusus bagi karya-karyanya.
“Saya berharap buku-buku ini tidak hanya menjadi koleksi, tetapi benar-benar dibaca, dikaji, dan menginspirasi lahirnya penulis-penulis baru di Aceh,” ujarnya yang didampingi Ketua IKAPI Aceh, Dr Mukhlisuddin Ilyas.
Sulaiman juga mengajak seluruh ekosistem literasi di Aceh untuk memperkuat kolaborasi. Menurutnya, penulis, penerbit, perpustakaan pemerintah, perpustakaan komunitas, perguruan tinggi, dan pegiat literasi harus bersinergi agar buku semakin dekat dengan masyarakat.
Baginya, membangun peradaban tidak cukup hanya dengan menghasilkan karya, tetapi juga memastikan karya tersebut dapat diakses, dibaca, dan dimanfaatkan oleh publik. Kehadiran Pojok Buku Profesor Sulaiman Tripa menjadi simbol bahwa pelestarian karya adalah investasi intelektual yang akan terus menyalakan semangat membaca, memperkuat budaya literasi, dan menginspirasi lahirnya kolaborasi baru demi kemajuan Aceh.[]




















