“Maka tunggulah pada hari ketika langit membawa kabut (asap) yang jelas, yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih.” (QS. Ad-Dukhan: 10-11)
Ayat tersebut mengingatkan kita pada gambaran kabut yang menyelimuti manusia dan menghadirkan penderitaan. Ketika langit yang biasanya biru berubah menjadi kelabu, jarak pandang berkurang, dan udara yang kita hirup terasa berbeda, muncul pertanyaan yang patut kita renungkan: apakah kita hanya akan mengeluh ketika bencana datang, atau mulai belajar melakukan sesuatu sebelum keadaan menjadi lebih buruk?
Dalam beberapa hari terakhir, kabut asap dilaporkan telah mencapai Aceh, yang dikaitkan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa dampak bencana tidak selalu berhenti di wilayah tempat kejadian. Asap dapat terbawa angin melintasi jarak yang jauh, mengganggu aktivitas masyarakat, menurunkan kualitas udara, dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan.
Peristiwa ini sekaligus memperlihatkan bahwa manusia hidup dalam satu ekosistem yang saling terhubung. Kebakaran yang terjadi jauh dari tempat tinggal kita dapat menghadirkan persoalan di halaman rumah sendiri. Karena itu, bencana tidak cukup dipahami sebagai kejadian yang menimpa orang lain. Bencana adalah urusan bersama yang menuntut kepedulian, pengetahuan, dan tindakan nyata.
Karhutla yang sedang terjadi memperlihatkan bahwa unsur-unsur tersebut dapat saling berkaitan. Cuaca panas dan kekeringan dapat meningkatkan kerentanan suatu wilayah terhadap kebakaran. Namun, kebakaran juga dapat dipicu oleh aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan dengan membakar, kelalaian, atau tindakan sengaja yang mengabaikan keselamatan lingkungan. Ketika api meluas di kawasan gambut atau hutan yang kering, pemadaman menjadi semakin sulit dan dampaknya menjalar ke berbagai sektor.
Data Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) memperlihatkan bahwa Aceh menghadapi ancaman bencana yang berulang, mulai dari kebakaran permukiman, banjir, karhutla, angin puting beliung, hingga tanah longsor. Pada akhir November hingga Desember 2025, banjir besar dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah Aceh, seperti Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Utara, Pidie Jaya, dan Bireuen. Kerusakan jalan dan jembatan, permukiman terendam, serta desa-desa yang terisolasi memperlihatkan betapa besar dampak bencana terhadap kehidupan dan akses bantuan masyarakat.
Angka-angka yang lahir dalam statistik laporan tahunan bukanlah sekedar bilangan. Di balik setiap kejadian, ada keluarga yang rumahnya rusak, anak yang kehilangan kesempatan belajar, warga yang harus mengungsi, serta masyarakat yang berjuang memulihkan kehidupannya. Bencana juga mengajarkan bahwa kerentanan tidak hanya ditentukan oleh besarnya ancaman, tetapi oleh seberapa siap manusia menghadapinya.
Mitigasi bencana harus dimulai jauh sebelum bencana terjadi. Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko, baik melalui pembangunan fisik maupun peningkatan kesadaran dan kemampuan menghadapi ancaman. Namun, pengetahuan tidak akan banyak berarti jika hanya disimpan oleh segelintir orang. Masyarakat perlu memperoleh edukasi yang mudah dipahami dan dapat dipraktikkan. Keluarga, pemerintah, sekolah, komunitas, serta relawan kebencanaan memiliki peran untuk membangun budaya sadar bencana. Kita tidak bisa memilih kapan bencana datang, tetapi kita dapat mempersiapkan diri agar dampaknya tidak semakin besar.
Sudah waktunya bagi semua pihak untuk mengambil peran konkret dalam melakukan mitigasi bencana. Mitigasi bencana bukanlah tanggung jawab pemerintah saja, sebagai masyarakat, kita mempunyai kewajiban yang sama besar. Dibutuhkan sebuah upaya untuk membawa edukasi kebencanaan langsung ke lingkungan paling dekat, seperti anak-anak di sekitar kita.
Beberapa waktu yang lalu, saya ikut terlibat dalam kegiatan mitigasi bencana. Kegiatan ini merupakan kolaborasi pemerintah daerah dengan relawan sosial kebencanaan, lebih dikenal dengan TAGANA atau Taruna Siaga Bencana. Mereka adalah kelompok relawan sosial atau Tenaga Kesejahteraan Sosial yang dibentuk oleh pemerintah melalui Kementerian Sosial RI untuk membantu penanggulangan bencana dan perlindungan sosial. Kegiatan kami bertajuk Tagana Masuk sekolah, dimana kami memberikan edukasi dan simulasi tentang kebencanaan di lingkup satuan pendidikan atau sekolah.
Mengapa edukasi kebencanaan perlu diberikan sejak usia sekolah? Jawabannya sederhana: anak-anak bukan hanya kelompok yang perlu dilindungi ketika bencana terjadi, tetapi juga calon penggerak budaya sadar bencana di masa depan. Anak-anak yang memahami cara menyelamatkan diri akan memiliki bekal untuk mengambil keputusan ketika menghadapi situasi darurat. Mereka belajar mengenali tanda bahaya, mengikuti arahan evakuasi, membantu teman secara aman, dan tidak mudah panik. Pengetahuan tersebut juga dapat dibawa pulang, diceritakan kepada orang tua, lalu menjadi bahan pembicaraan bersama keluarga.
Tentu, edukasi harus disesuaikan dengan usia anak. Materi untuk siswa sekolah dasar perlu menggunakan bahasa sederhana, permainan, gambar, dan praktik yang menyenangkan. Sementara itu, siswa sekolah menengah dapat diajak memahami penyebab bencana, membaca informasi peringatan, mengenali risiko di lingkungan, dan berlatih mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Tujuannya bukan membuat anak-anak takut terhadap bencana. Sebaliknya, mereka perlu memahami bahwa bahaya dapat dihadapi dengan pengetahuan, ketenangan, dan kerja sama. Apalagi mereka lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah.
Bayangkan suasana ketika anak-anak diajak mengikuti simulasi bencana. Ada yang tampak bersemangat, ada yang awalnya ragu, dan ada pula yang sibuk memperhatikan arahan petugas. Ketika instruksi diberikan, mereka belajar bahwa dalam keadaan darurat, keselamatan tidak ditentukan oleh siapa yang paling cepat berlari, melainkan oleh kemampuan memahami situasi dan mengikuti prosedur yang benar.
Dan kelemahan utama bagi anak-anak kita adalah belum adanya ketenangan saat terjadi perubahan keadaan yang mengakibatkan chaos di sekitar mereka. Pengalaman simulasi seperti ini memberikan pelajaran penting: ketika keadaan berubah secara tiba-tiba, kepanikan dapat memperbesar risiko. Karena itu, latihan berulang diperlukan agar tindakan keselamatan menjadi kebiasaan.
Dalam situasi saat ini, pengetahuan tentang bencana asap akibat karhutla menjadi prioritas kita dalam memberikan edukasi kepada mereka saat ini. Anak-anak perlu memahami pentingnya mengikuti informasi kualitas udara, membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk, menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai dengan arahan kesehatan, dan segera memberi tahu orang dewasa apabila mengalami sesak napas atau keluhan lainnya.
Dari kegiatan tersebut, kita dapat melihat bahwa edukasi kebencanaan bukan semata-mata tentang mengajarkan cara menyelamatkan diri. Lebih jauh, kegiatan ini menanamkan nilai kepedulian, kedisiplinan, tanggung jawab, dan gotong royong. Anak-anak belajar bahwa keselamatan diri penting, tetapi keselamatan bersama juga harus diperhatikan. Sekolah-sekolah tersebut menjadi ruang belajar bagi para siswa sekaligus pengingat bagi kita bahwa kesiapsiagaan tidak cukup dibebankan kepada petugas dan relawan. Pemerintah, sekolah, orang tua, masyarakat, dan dunia usaha perlu membangun kerja sama agar pengetahuan yang diperoleh siswa tidak berhenti setelah kegiatan berakhir.
Ada sebuah kisah yang kerap diceritakan untuk menggambarkan arti keberpihakan dan ikhtiar. Ketika Nabi Ibrahim a.s. dilemparkan ke dalam api besar oleh Raja Namrud, seekor semut dikisahkan berulang kali membawa setetes air untuk mencoba memadamkan api tersebut. Apa artinya setetes air di tengah kobaran api yang begitu besar? Semut itu memahami bahwa air yang dibawanya tidak akan cukup untuk memadamkan api. Namun, ia tetap berusaha karena ingin menunjukkan di pihak mana ia berpihak: ia tidak rela berdiam diri ketika kekasih Allah menghadapi bahaya.
Dalam kisah yang sama, cicak digambarkan meniup api agar kobarannya semakin besar. Kontras antara semut dan cicak menjadi pengingat tentang pilihan sikap: ikut berusaha mengurangi bahaya atau justru memperburuk keadaan. Kisah ini merupakan cerita yang populer disampaikan sebagai nasihat moral. Pesan reflektifnya tetap relevan untuk direnungkan.
Ketika kabut asap mencapai Aceh, kita mungkin merasa tidak mampu berbuat banyak karena kebakaran terjadi jauh di Kalimantan. Ketika banjir melanda daerah lain, kita mungkin menganggapnya bukan urusan kita. Ketika anak-anak belum memahami cara menyelamatkan diri, kita bisa saja berpikir bahwa tugas itu sepenuhnya milik sekolah atau pemerintah.
Padahal, selalu ada setetes air yang dapat kita bawa. Kita dapat mulai dengan tidak membakar sampah sembarangan, menjaga lingkungan, menyebarkan informasi kebencanaan yang benar, membantu kelompok rentan, serta mendukung edukasi dan latihan kesiapsiagaan. Jangan sampai ketika kabut menyelimuti langit, kita baru sibuk mencari jalan keluar. Jangan pula menunggu api membesar untuk mulai belajar tentang keselamatan.
Sebab, yang akan menentukan masa depan bukan hanya seberapa besar bencana yang datang, melainkan juga seberapa sungguh-sungguh manusia menggunakan akalnya, menjaga amanah terhadap alam, dan menolong sesamanya. Jadilah seperti semut yang tetap berikhtiar, bukan seperti cicak yang memperbesar kobaran. Sebab, di tengah ancaman bencana, sekecil apa pun usaha untuk melindungi kehidupan tetap memiliki arti.




















