• Tentang Kami
Wednesday, September 23, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Industri Kreatif Aceh: Panggung Kosong, Sistem Palsu

Naskah Polemik Terbuka

SAGOE TV by SAGOE TV
May 27, 2025
in Analisis
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Industri Kreatif Aceh Panggung Kosong, Sistem Palsu

Ilustrasi. (AI)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi

Kita tak butuh lagi seremoni yang disusun untuk dokumentasi SPJ. Kita butuh sistem. Kita butuh keberpihakan. Kita butuh keberanian untuk berkata bahwa budaya bukan sekadar konten, tapi martabat.

Isyarat Awal: Mari berhenti berpura-pura

Mari kita buka kedok panggung yang selama ini kita tepuk-tepuki dengan bangga. Sebab yang tampak megah itu, bila ditelanjangi, hanya menyisakan satu hal: kekosongan sistemik yang memalukan.

BACA JUGA

Kedermawanan di Atas Tanah Rebutan: Ketika Oligarki Berjubah Welas Asih

Membongkar Utang Indonesia dan Ilusi “Masih Aman”

Apa yang selama ini disebut sebagai “industri kreatif Aceh” sejatinya hanyalah operasi simbolik. Dibangun di atas logika proyek, dibungkus dengan retorika branding, dan dijalankan oleh aparatur yang lebih mahir menciptakan seremoni daripada membangun ekosistem. Kita menyebutnya sebagai lompatan budaya. Padahal yang terjadi hanyalah rotasi tahunan kegiatan berulang yang miskin refleksi dan nihil keberlanjutan.

Retorika Kreatif, Realitas Eksploitatif

Kita diminta berbangga dengan ribuan peserta Pekan Kebudayaan Aceh, dengan kehadiran delegasi asing, dengan panggung yang gemerlap. Tapi adakah data evaluatif yang menjelaskan bagaimana acara semegah itu meningkatkan kesejahteraan pelaku budaya? Adakah laporan akuntabel yang menunjukkan berapa komunitas lokal yang mendapatkan ruang bertumbuh setelahnya?

Yang ada hanyalah citra. Dan industri kreatif yang dibangun di atas citra adalah ilusi kolektif yang dilanggengkan dengan anggaran negara. Kita memamerkan tarian tradisi di panggung utama, tapi tak pernah menanyakan apakah penarinya dibayar layak. Kita mencetak motif Pinto Aceh di kaos dan suvenir dinas, tapi tak pernah bertanya pada komunitas pemiliknya apakah mereka dilibatkan atau sekadar dipinjamkan nama. Kita menyuruh Pelaku Industri “Rumah Berkarya” kuliner (kita ganti istilah UMKM yang terasa seperti “label administratif”dan kurang mengangkat marwah dan kualitas produk rakyat) jualan di festival, tapi tak menyediakan ruang produksi yang bersih dan legal untuk mereka berproduksi setelahnya.

Apakah ini industri? Ataukah ini sandiwara dengan anggaran APBD/N?

Institusi Budaya yang Takut Membela Pencipta

Masalah paling parah dari industri kreatif Aceh adalah ketidakberanian struktur resmi untuk berpihak. Lembaga-lembaga kebudayaan, dinas terkait, bahkan beberapa universitas lebih sibuk menjadi kurator birokratis daripada pembela nilai. Tak satu pun lembaga melangkah membangun mekanisme pelindung hak budaya komunitas secara serius. Tak ada rumah kurasi etnografi. Tak ada sistem konsultasi terbuka yang melibatkan seniman akar rumput dalam perencanaan kebijakan.

Mengapa? Karena kreativitas telah dibajak menjadi “komoditas manajemen proyek”. Bukan ruang keberanian berpikir, tapi perpanjangan tangan dari kalender seremonial tahunan.

Kreator Jalan Sendiri, Negara Hanya Datang Saat Viral

Sementara itu, para kreator muda bergerak di jalur yang negara tak pernah mau sentuh: jalur eksperimentasi digital, konten visual sejarah, desain yang mengolah warisan simbolik. Mereka bekerja tanpa fasilitas, tanpa pelatihan, dan tanpa perlindungan hukum.

Ironisnya, ketika satu konten menjadi viral, negara tiba-tiba datang—bukan memberi dukungan, melainkan mengklaimnya sebagai bukti keberhasilan promosi budaya. Tanpa merasa perlu meminta izin. Tanpa pernah menginvestasikan apa pun ke dalam proses kreatifnya.

Ini bukan sekadar ketimpangan. Ini adalah penunggang simbolisme yang kejam dan oportunistik.

Glokalisasi yang Tak Pernah Dimulai

Kita bicara soal go digital, go global, glokalisasi. Tapi konsep-konsep itu hanya dipakai dalam presentasi. Di lapangan, tak ada rumah produksi yang siap ekspor. Tak ada pelatihan naratif lintas budaya. Tak ada kebijakan untuk melindungi nilai lokal dari komodifikasi vulgar oleh pasar digital.

Digitalisasi di Aceh hanyalah jargon login dan unggah produk. Bukan pembangunan narasi. Bukan diplomasi budaya. Bukan penyadaran kolektif.

Lalu kita heran mengapa tak satu pun produk kreatif kita dikenal di luar negeri secara utuh? Karena kita tidak membangun sistem. Kita hanya memanen simbol.

Daya Hidup Budaya Dikorbankan demi Kepentingan Proyek

Kita harus berani menyebut ini sebagai bentuk pengkhianatan terhadap nilai: Ketika budaya dijadikan alat legitimasi kekuasaan, bukan sebagai ruang hidup masyarakat. Ketika kreativitas dikelola sebagai proyek birokrasi, bukan sebagai proses partisipatif. Ketika identitas lokal diringkas dalam katalog visual yang dipamerkan untuk kunjungan tamu, tapi ditinggalkan setelah lampu panggung padam.

Industri kreatif semestinya adalah tentang pencipta, nilai, dan proses. Tapi di tangan aparatur yang tidak memahami esensi budaya, semua itu direduksi menjadi “indikator sukses acara”.

Pernyataan Terbuka: Ini Saatnya Kita Melawan Ilusi

Saya menulis ini bukan sebagai pengamat netral. Saya bagian dari mereka yang muak. Muak pada klaim-klaim kosong yang menepuk-nepuk kreativitas sambil memangkas akarnya. Muak pada panggung yang dibangun mahal, tapi tak pernah menyisakan ruang untuk pembelajaran, distribusi nilai, atau keberlanjutan.

Ini saatnya kita mengakhiri hipokrisi kolektif ini. Kita tak butuh lagi seremoni yang disusun untuk dokumentasi SPJ. Kita butuh sistem. Kita butuh keberpihakan. Kita butuh keberanian untuk berkata bahwa budaya bukan sekadar konten, tapi martabat.

Lonceng Akhir: Kepada Para Pengelola, Dengarlah Ini

Bukan jumlah peserta yang akan menyelamatkan kebudayaan kita. Bukan jumlah event. Bukan banyaknya tamu dari luar negeri. Yang menyelamatkan budaya adalah keberanian untuk membangun dari bawah: mendengar komunitas, membela pencipta, dan menghapus logika proyek dari tubuh seni.

Kalau Anda tak sanggup melakukannya, maka mohon turun dari panggung itu. Karena semakin lama Anda berdiri di sana, semakin keropos akar yang menopang kita semua. []

Penulis adalah Pendiri Geunta Seni Jauhari. Pengampu Perkuliahan Tata Kelola Seni; Artisitik dan Teknologi Produksi Sen; dan Industri Ekonomi Kreatif Seni di Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Ia menulis, meneliti, dan mencipta karya yang menghubungkan penciptaan artistik, pengabdian budaya, dan kebijakan publik. Fokusnya banyak pada wilayah-wilayah non-sentral dan suara komunitas.

Tags: AcehAnalisisArtikelIndustriKreatifKuratorSeni BudayaSeniman
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Kedermawanan di Atas Tanah Rebutan: Ketika Oligarki Berjubah Welas Asih
Analisis

Kedermawanan di Atas Tanah Rebutan: Ketika Oligarki Berjubah Welas Asih

by SAGOE TV
September 9, 2026
Calvin Ho
Analisis

Membongkar Utang Indonesia dan Ilusi “Masih Aman”

by SAGOE TV
August 16, 2026
Calvin Ho
Analisis

Paradoks Aceh: Mengapa Kekayaan Alam Tidak Menjadi Kemakmuran?

by SAGOE TV
August 7, 2026
Calvin Ho
Analisis

Pariwisata Tanpa Kedaulatan: Skandal Struktural dari Bali dan Pelajaran bagi Aceh

by SAGOE TV
July 30, 2026
Hasan Tiro: Islam sebagai Identitas Perlawanan Bangsa
Analisis

Soekarno, Hasan Tiro, Ayatullah Khamenei, dan Islam Perlawanan

by SAGOE TV
March 8, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

UIN Ar-Raniry Kukuhkan 9 Guru Besar, Jumlah Profesor Kini 65 Orang

UIN Ar-Raniry Kukuhkan 9 Guru Besar, Jumlah Profesor Kini 65 Orang

September 22, 2026
3 Santriwati Insan Qurani Bawa Aceh Juara 1 Fahmil Qur’an MTQ Nasional 2026

3 Santriwati Insan Qurani Bawa Aceh Juara 1 Fahmil Qur’an MTQ Nasional 2026

September 18, 2026
Ratusan Warga Aceh Besar Antusias Berobat Gigi Gratis di Aksi Kaninus 16 FKG USK

Ratusan Warga Aceh Besar Antusias Berobat Gigi Gratis di Aksi Kaninus 16 FKG USK

September 19, 2026
Kenapa Tol Padang Tiji-Seulimeum Ditutup Sementara Ini Alasan dan Jadwal Dibuka Kembali

Tol Sibanceh 74 Km Segera Tersambung Penuh, Ruas Padang Tiji-Seulimeum Masuk Tahap Akhir

September 17, 2026
AISZAWA 2026 di UIN Ar-Raniry, Rektor: Zakat dan Wakaf Harus Berdampak pada Masyarakat

AISZAWA 2026 di UIN Ar-Raniry, Rektor: Zakat dan Wakaf Harus Berdampak pada Masyarakat

September 17, 2026
Warga Abdya di Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang Kumpul di Maulid Akbar, Perkuat Silaturahmi

Warga Abdya di Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang Kumpul di Maulid Akbar, Perkuat Silaturahmi

September 20, 2026
Menteri ESDM Setujui Kerja Sama Sumur Minyak Masyarakat di Aceh Timur dan Aceh Utara

Menteri ESDM Setujui Kerja Sama Sumur Minyak Masyarakat di Aceh Timur dan Aceh Utara

September 20, 2026
Syariat Islam Aceh Dibahas di Australia, Reza Idria Jadi Pembicara Indonesia Update 2026

Syariat Islam Aceh Dibahas di Australia, Reza Idria Jadi Pembicara Indonesia Update 2026

September 18, 2026
Baitul Mal Aceh Dorong Zakat dan Wakaf Jadi Penggerak Ekonomi Syariah

Baitul Mal Aceh Dorong Zakat dan Wakaf Jadi Penggerak Ekonomi Syariah

September 17, 2026

EDITOR'S PICK

BWI Aceh Rumuskan Strategi Kemajuan Perwakafan pada Rakorwil dan Pelantikan Pengurus Abdya

BWI Aceh Rumuskan Strategi Kemajuan Perwakafan pada Rakorwil dan Pelantikan Pengurus Abdya

October 2, 2025
Bek Asing Persiraja Diragukan Tampil Lawan PSKC Cimahi

Persiraja Banda Aceh Banjir Sanksi dari Komdis PSSI

March 20, 2025
Persiraja Launching Tim 6 September, Ada Laga Kontra RANS FC dan Raffi Ahmad

Persiraja vs RANS FC Malam Ini, Jaya Hartono: Kami Akan Bermain Fight dan Habis-habisan

September 6, 2026
BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II Rp4,1 Triliun Segera Cair, Catat Jadwal Pengajuannya

BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II Rp4,1 Triliun Segera Cair, Catat Jadwal Pengajuannya

August 9, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.