Oleh: Ari J. Palawi
MACS’ Team; Akademisi Seni USK
Saman membutuhkan lebih dari panggung untuk tetap hidup. Ia membutuhkan ruang belajar, proses pewarisan, generasi muda yang terlibat, dan masyarakat yang menjadi rumahnya. Persoalan ini memperlihatkan untuk apa ruang akademik lintas disiplin seperti Program Magister Seni Kreatif dan Studi Kebudayaan (MACS) di USK dapat bekerja. Salah satu ruang itu ada di Gayo Lues melalui kemungkinan menjadikan PSDKU Blang Nangka sebagai Laboratorium Hidup Saman.
Gagasan tersebut sudah dibicarakan dalam audiensi dengan pimpinan Sekolah Pascasarjana (SPs) USK. PSDKU memiliki peluang menjadi ruang yang mempertemukan pendidikan, penelitian, praktik seni, dan pengetahuan masyarakat Gayo Lues. Diskusi daring tentang Saman Gayo Lues pada 3 Oktober 2026 mempertemukan Dr. Monalisa, SP., M.Si., Dr. Ir. Ar. Elysa Wulandari, M.T., IAI, saya, serta sekitar belasan anak muda Gayo Lues dan mahasiswa.
Di antara anak muda yang hadir ada Indra Syahputra, Ketua BEM PSDKU Gayo Lues, Fachrezi Syafa Cane, Ketua HIPEMAGAS, dan Galuh Tirta Juan Parera, mahasiswa Sendratasik USK. Para partisipan sekaligus narasumber membawa pengalaman dan pandangan yang beragam. Percakapan berkembang pada persoalan regenerasi Saman, mobilitas anak muda, proses belajar, dokumentasi, dan hubungan mereka dengan daerah asal.
Salah satu persoalan yang mengemuka adalah mobilitas anak muda Gayo Lues untuk menempuh pendidikan di luar daerah. Dalam diskusi muncul perkiraan sekitar 1.300 mahasiswa Gayo Lues berada di Banda Aceh. Angka ini masih perlu diverifikasi. Namun, persoalannya penting. Ketika anak muda pergi untuk belajar, bagaimana hubungan mereka dengan pengetahuan Saman tetap berlangsung? Bagaimana ruang belajar dan pewarisan dapat tetap terhubung dengan mereka?
Persoalan itu sejalan dengan catatan UNESCO. Pada 2011, Saman masuk dalam List of Intangible Cultural Heritage in Need of Urgent Safeguarding. Status ini bukan tanda bahwa Saman telah aman. UNESCO justru mencatat menurunnya frekuensi pertunjukan dan transmisi, menuanya para pemimpin yang memiliki pengetahuan Saman tanpa penerus yang memadai, berkurangnya ruang budaya, serta migrasi anak muda untuk pendidikan. UNESCO juga mendorong penguatan pendidikan tradisional di mersah dan keterlibatan sektor akademik dalam upaya safeguarding.
Karena itu, Laboratorium Hidup Saman tidak perlu dimulai dengan gedung. Yang lebih penting adalah membangun ruang kerja. Pelaku, masyarakat, mahasiswa, dosen, dan peneliti dapat bertemu untuk belajar dan bekerja bersama. Mahasiswa belajar dari praktik. Peneliti membaca perubahan dari pengalaman masyarakat. Dokumentasi tumbuh dari proses yang dijalani bersama.
Kerja tersebut dapat dimulai dari ruang latihan dan kehidupan para pelaku. Mahasiswa dapat mempelajari repertoar, istilah, cara belajar, cerita, dan perubahan dalam proses pewarisan. Dokumentasi dapat berkembang menjadi arsip hidup. Bukan hanya rekaman, tetapi juga konteks, sumber pengetahuan, dan aturan penggunaannya. Pertemuan antargenerasi seperti Bejamu Saman juga dapat dikaji dan dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat.
Ruang ini juga perlu memberi tempat bagi cara belajar generasi sekarang. Anak muda dapat belajar Saman sambil membuat catatan, merekam proses, meneliti, mengelola arsip digital, dan mengembangkan kreativitas. Teknologi dapat membantu. Namun, teknologi tidak boleh mengambil alih hubungan dengan pelaku dan komunitas.
Saman juga tidak berhenti di Gayo Lues. Margaret Kartomi (2025) mencatat bahwa sejak sekitar 1980-an, Saman ikut dibawa masyarakat Gayo ke ruang diaspora di Medan, Jakarta, dan Yogyakarta. Fakta ini membuka pertanyaan lain. Bagaimana Saman ditransmisikan di luar daerah asal? Apa yang bertahan dan apa yang berubah? Bagaimana hubungan pelaku di perantauan dengan komunitas di Gayo Lues? Pertanyaan itu membuat kajian Saman lebih luas tanpa memutus hubungan dengan akar sosialnya.
Kerja seperti ini membutuhkan banyak disiplin. Seni dapat bertemu antropologi, pendidikan, teknologi, komunikasi, desain, pengembangan masyarakat, ekonomi, dan kebijakan. Perguruan tinggi dapat membawa metode, pengetahuan, dan jejaring. Masyarakat tetap menentukan arah. Mereka perlu terlibat dalam menentukan pengetahuan yang dapat direkam, akses terhadap arsip, serta penggunaan dan manfaat hasil kerja.
Prinsip ini penting agar Saman tidak berubah menjadi objek akademik yang hanya dipelajari dari luar. Tidak semua pengetahuan harus dibuka. Tidak semua rekaman harus dipublikasikan. Hak masyarakat dan penghargaan kepada pelaku harus berjalan bersama dengan kegiatan penelitian dan pendidikan.
Menghidupkan Saman juga berarti memperkuat hubungan antara alam jagat dan manusia Negeri Seribu Bukit. Saman tumbuh dari kehidupan masyarakat dan lingkungan yang membentuk pengetahuannya. Karena itu, keberlanjutan tidak cukup dihitung dari jumlah pertunjukan atau dokumentasi. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah anak muda masih punya ruang untuk belajar? Apakah pelaku masih punya ruang untuk mewariskan pengetahuan? Apakah masyarakat tetap punya kuasa atas perkembangan Saman?
Manfaatnya harus terasa di sana. Pendidikan, keterampilan, kerja kreatif, dokumentasi, dan peluang ekonomi dapat tumbuh dari ekosistem Saman. Masyarakat tidak hanya menjaga warisan. Mereka juga perlu memperoleh manfaat nyata dari kebudayaan yang mereka rawat.
PSDKU Blang Nangka dapat menjadi ruang untuk memulai kerja itu. MACSÂ dapat menyediakan kerangka akademik lintas disiplin. Masyarakat Gayo Lues menentukan arah dan batasnya. Dengan begitu, Saman tidak berhenti sebagai sesuatu yang dipentaskan ketika dibutuhkan. Saman tetap hidup di tengah masyarakatnya, tumbuh bersama generasi baru, berakar pada Negeri Seribu Bukit, dan ikut menghidupi masyarakat yang menjaganya.




















