• Tentang Kami
Friday, November 6, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Prang Hana, Damee Pih Tan

Sahlan Hanafiah by Sahlan Hanafiah
May 17, 2025
in Artikel
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Sahlan Hanafiah

Sahlan Hanafiah. Foto: dok. SagoeTV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Sahlan Hanafiah.
Staf Pengajar Program Studi Sosiologi Agama UIN Ar Raniry, Banda Aceh.

Istilah “prang hana, damee pih tan” dimunculkan oleh Roger Mac Ginty dalam tulisannya yang berjudul “No war, now peace: Why so many peace processes fail to deliver peace?” Tulisan Ginty dimuat di jurnal International Politics, 2010.

BACA JUGA

Whales: Giants of the Ocean

Whales: Giants of the Ocean

Ginty mengamati, banyak daerah paska perjanjian damai mengalami situasi yang ia sebut “prang hana, damee pih tan.” Situasi ini menggambarkan, meski perang telah usai, senjata telah dimusnahkan, bantuan telah dibagikan, LSM dan pekerja asing telah angkat koper balik ke negara asal, kombatan telah menjadi elit baru, tapi akar konflik belum benar-benar hilang.

Masyarakat masih hidup dalam suasana kesusahan ekonomi dan kemiskinan akut. Pembangunan berjalan sangat lamban. Peluang kerja terbatas. Pengangguran dimana-mana. Penegakan hukum lemah. Di sisi lain, praktek korupsi semakin menggurita, kualitas infrastruktur yang dibangun keropos.

Politisi yang lahir di era damai setali tiga uang dengan politisi era konflik. Mereka hanya pandai memberi harapan palsu setelah menyuap rakyat dengan uang receh pada saat pemilu. Setelah itu mereka duduk manis di kursi empuk parlemen sambil menikmati fasilitas negara.

Demokrasi hanya sekedar slogan dan rutinitas belaka. Tidak ada perubahan bermakna setelah damai disepakati. Pada saat yang sama, tidak ada pula letupan senjata seperti dulu, kala konflik.

Situasi tersebut menurut Ginty sebenarnya rawan, meski di atas permukaan kelihatan baik-baik saja. Ginty tentu tidak sedang berusaha menakut-nakuti. Menurutnya beberapa studi menunjukkan, daerah yang pernah mengalami konflik, biasanya memiliki resiko lebih besar untuk kambuh kembali.

Sama seperti orang sakit, jika pernah punya sejarah sakit, misal asam lambung, maka peluang kembali kambuh lebih besar dibandingkan orang yang belum pernah sakit sama sekali.

Ginty, dalam tulisannya menyebut beberapa contoh kasus daerah yang pernah mengalami suasana ”prang hana, damee pih tan,” seperti Kosovo, Lebanon, Irlandia Utara, dan Sri Lanka.

Semasa masih menjadi provinsi di bawah kekuasaan Serbia, Kosovo sempat selama empat tahun merasakan suasana ”prang hana, damee pih tan.” Namun, disebabkan satu insiden kecil tenggelamnya tiga anak di sungai Ibar dekat kota Mitrovica tahun 2004, perang SARA di Kosovo kembali pecah.

Waktu itu rumor dengan cepat menyebar, menuding anak-anak itu tenggelam karena ketakutan dikejar orang-orang dari etnik Serbia. Setelah itu, etnik Albania langsung menyerang minoritas Serbia. Dua hari setelah peristiwa tersebut, dilaporkan terjadi 33 insiden kerusuhan yang menyebabkan 550 rumah rusak, 27 gereja dibakar, 1000 orang terluka, 9 meninggal dunia dan 4100 orang harus mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

Hasil investigasi PBB tidak menemukan bukti keterlibatan etnik Serbia dalam kasus tenggelamnya anak-anak etnik Albania. Kesimpulan PBB, kasus tersebut murni kecelakaan tunggal.

Peristiwa tersebut menurut Ginty menunjukkan bahwa perdamaian di Kosovo pada saat itu masih sangat rapuh, meski PBB sempat berkantor disana selama empat tahun dalam rangka mengawal proses transisi.

Tidak hanya itu, sebelum PBB angkat koper dari Kosovo, semua tahapan proses damai telah dilakukan, mulai dari perjanjian damai, pelucutan dan pemusnahan senjata, pengembalian tentara ke barak, pengadilan pelaku kejahatan perang dan pemilihan umum.

Contoh lain yang disebut Ginty dalam tulisannya adalah Lebanon.
Rekonstruksi paska perang di Lebanon diacungi jempol oleh banyak pihak. Paska perjanjian damai Ta’if 1989, Lebanon berhasil membentuk parlemen baru melalui proses demokrasi yang di dalamnya berisi para pihak yang dulunya saling bermusuhan.  Proses power sharing ini dianggap sebagai salah satu contoh terbaik penyelesaian konflik sektarian.

Namun setelah beberapa tahun Lebanon hidup dalam suasan “prang hana, damee pih tan,”tiba-tiba kedaulatan Lebanon diganggu oleh hadirnya tentara Syiria dan invasi Israel ke wilayah berdaulat Lebanon.

Sementara itu, kemampuan Lebanon mempertahankan wilayahnya lemah karena beberapa persoalan domestik mulai muncuk, seperti ketimpangan distribusi ekonomi, korupsi dan buruknya kualitas pelayanan publik. Akhirnya, kepercayaan masyarakat terhadap elit politik menurun yang berujung pada munculnya gelombang demontrasi jalanan.

Mengapa kebanyakan proses damai di beberapa daerah gagal menghasilkan perdamaian yang sebenarnya atau bahkan ambruk kedalam konflik lama? Menurut Ginty karena pendekatan damai yang dipakai seringkali datang dari luar, dari negara atau lembaga kuat seperti PBB, NATO, Uni Eropa, Amerika dan Norwegia.

Model pendekatan yang dipakai acapkali formal, tidak fleksibel, ekslusif dan elitis. Kasus penyelesaian konflik etnik di Kosovo (sebelum Kosovo independen) misalnya hanya melibatkan beberapa elit dari pihak bertikai. Setelah melakukan perundingan damai beberapa putaran, pihak bertikai yang difasilitasi oleh pihak ketiga menandatangani nota kesepakatan yang didalamnya berisi tahapan proses damai seperti pelucutan dan pemusnahan senjata, penarikan tentara ke barak, penyaluran bantuan, dan pelaksanaan pemilu.

Setelah pesta demokrasi digelar, pemimpin baru terpilih, konflik seakan-akan telah usai. Padahal menurut Ginty yang terjadi hanyalah proses pergantian elit politik, sementara perilaku aktor konflik tidak berubah, akar konflik tidak tercabut.

Elit politik baru yang mengisi kekuasaan paska damai tetap dengan perilaku lamanya, memburu kekuasaan, mengumpulkan pundi-pundi uang dan hidup dalam kemewahan. Sementara nasib korban terabaikan, masyarakat terpuruk dalam kemiskinan.

Strategi keluar dari masalah kemiskinan tidak pernah dipikirkan secara serius. Begitu pula strategi yang mendorong pertumbuhan ekonomi dan tersedianya lapangan pekerjaan tidak pernah dibahas secara mendalam di parlemen maupun di pemerintah.

Sikap anti korupsi dan pemerasan hanya menjadi slogan, sementara cara menanganinya tidak benar-benar dirumuskan dan diimplementasikan di lapangan. Luka lama, kekerasan dan penderitaan yang dialami korban konflik tidak lagi menjadi tema penting untuk diperjuangkan karena tujuan mendapatkan kekuasaan telah tercapai.

Menurut Ginty, kondisi Kosovo dipermukaan waktu itu kelihatan memang seperti baik-baik saja (damai), tapi di dalam sebenarnya keropos (berpotensi konflik). Ini dibuktikan dari kasus tenggelamnya tiga anak kecil ke sungai yang kemudian memicu kekerasan baru antara etnik Albania dan Serbia.

Ginty, dalam tulisannya memang tidak memasukkan Aceh sebagai salah satu contoh daerah dengan situasi “prang hana, damee pih tan”. Tapi kita semua dapat merasakan suasana ”prang hana, damee pih tan” saat ini di Aceh.[]

Tags: AcehArtikelDamee Pih TankonflikPrang Hana
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Sahlan Hanafiah

Sahlan Hanafiah

Sahlan Hanafiah adalah Penggerak "Rumoh NekNyah" di Ulee Glee Pidie Jaya, Aceh.

Related Posts

Artikel

Whales: Giants of the Ocean

by SAGOE TV
October 27, 2026
Artikel

Whales: Giants of the Ocean

by SAGOE TV
October 27, 2026
Sulaiman Tripa
Artikel

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

by SAGOE TV
March 31, 2026
Dongeng Kampus dan Kampus Merdeka Nadiem
Artikel

Aceh dan ISIS, Berkongsi Imajinasi Politik?

by Affan Ramli
February 5, 2026
Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?
Artikel

Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?

by SAGOE TV
July 19, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

Komite MIN 13 Aceh Besar Diminta Hadirkan Generasi Sehat

Komite MIN 13 Aceh Besar Diminta Hadirkan Generasi Sehat

November 4, 2026
Bandar Publishing-IKAPI Aceh Gelar Diskusi Buku Dr Baun, Sekaligus Lepas Tugas ke Kepri

Bandar Publishing-IKAPI Aceh Gelar Diskusi Buku Dr Baun, Sekaligus Lepas Tugas ke Kepri

November 3, 2026
Tgk Faisal Ali Anggota Majelis Masyayikh

Tgk Faisal Ali Dikukuhkan Jadi Anggota Majelis Masyayikh

November 3, 2026
Kendaraan Listrik Makin Diminati

Kendaraan Listrik Makin Diminati

October 31, 2026
Melihat Indigenous Knowledge Menjelajah Jejak Keuneunong Aceh dan Kalender Aborigin Australia

Melihat Indigenous Knowledge: Menjelajah Jejak Keuneunong Aceh dan Kalender Aborigin Australia

November 4, 2026
Sebelum Punya Gedung, Fakultas Ini Sudah Punya Grup Percakapan

Sebelum Punya Gedung, Fakultas Ini Sudah Punya Grup Percakapan

November 2, 2026
Mualem Temui Prabowo, Dana Otsus hingga Persoalan Bendera Aceh Dibahas

Mualem Temui Prabowo, Dana Otsus hingga Persoalan Bendera Aceh Dibahas

November 4, 2026
Pihak Swasta Ditantang Membangun SPKLU

Pihak Swasta Ditantang Membangun SPKLU

November 2, 2026
Seungue Lam Kayee, Film Sineas Aceh tentang Ingatan dan Kehilangan Pascabanjir

Seungue Lam Kayee, Film Sineas Aceh tentang Ingatan dan Kehilangan Pascabanjir

November 5, 2026

EDITOR'S PICK

Rektor Lepas Kontingen UIN Ar-Raniry ke SeIBa Internasional Festival 2024 di Padang

Rektor Lepas Kontingen UIN Ar-Raniry ke SeIBa Internasional Festival 2024 di Padang

September 20, 2024
Aceh Tenggara Targetkan Penyerapan TKD 100 Persen

Aceh Tenggara Targetkan Penyerapan TKD 100 Persen

October 10, 2026
Seni sebagai Fondasi Peradaban Mengapa Pendidikan Seni Sama Pentingnya dengan Kedokteran dan Teknik

Seni sebagai Fondasi Peradaban: Mengapa Pendidikan Seni Sama Pentingnya dengan Kedokteran dan Teknik

May 28, 2025
Kemenag Aceh Besar Gandeng Densus 88, Sasar Madrasah dan KUA Cegah Radikalisme dan Terorisme

Kemenag Aceh Besar Gandeng Densus 88, Sasar Madrasah dan KUA Cegah Radikalisme dan Terorisme

April 15, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.