Oleh: Ari J. Palawi
SPS Fellow – Lingkar Wali Sustainable Platform for Society; MACS Team, Sekolah Pascasarjana USK
Lebih dari 60 orang mengikuti lokakarya seni bersama Sainab Hayejeehdoloh dari Thailand pada 7 Oktober 2026. Di salah satu studio Gedung Arsitektur Universitas Syiah Kuala (USK), mereka menyimak penjelasan, mengikuti instruksi, lalu berkarya bersama. Dua hari kemudian, saya mendengarkan Eva Bonneville, fotografer Prancis yang berulang kali menyebut follow my heart ketika menjelaskan pendekatannya terhadap fotografi. Dua pengalaman ini membuat saya memikirkan kembali arti sebuah pameran internasional bagi Aceh.
Aceh International Collaborative Art Exhibition 2026: Cultural Nuances mempertemukan seniman dari 13 negara. Inisiatif Restu Wardhana melalui Sanggar Seni Rupa Trimatra, dengan dukungan USK dan berbagai pihak, patut diapresiasi. Namun, keberhasilan menghadirkan seniman dari berbagai negara bukanlah akhir pekerjaan. Pertanyaan yang lebih penting ialah apa yang dapat dipelajari dan dilanjutkan setelah pameran berakhir.
Sainab merupakan seniman visual Thailand dengan pendidikan seni rupa di Thaksin University dan gelar magister dari Silpakorn University. Pengalaman pamerannya mencakup sejumlah ruang seni di Thailand dan kegiatan internasional. Dalam lokakarya Art Making with Tie & Dye, peserta tidak hanya menyaksikan demonstrasi. Hampir seluruh peserta terlibat dalam proses berkarya. Menariknya, para seniman yang hadir dalam rangkaian pameran berinisiatif memilih karya terbaik dari hasil lokakarya mahasiswa Arsitektur. Proses belajar pun berlanjut menjadi pengalaman menerima apresiasi dari sesama pelaku seni.
Pada 9 Oktober, Eva Bonneville menghadirkan cara pandang berbeda. Berlatar pendidikan Media and Cultural Studies di University of the Arts London dan pendidikan seni di Dunkerque, Prancis, ia memiliki pengalaman pameran di berbagai tempat, termasuk London, Kathmandu, Taiwan, Kuala Lumpur, dan Aceh.
Eva menyebut pendekatan fotografi seninya sebagai simbiosis. Ia tidak sekadar memotret alam sebagai objek, tetapi berusaha mengalami tempat yang didatanginya. Ia mengamati, merasakan, dan membangun hubungan dengan lingkungan. Dalam sejumlah karya, kehadiran dirinya muncul melalui gestur atau bagian tubuh di antara lanskap. Ungkapannya, follow my heart, menegaskan peran intuisi dalam proses kreatifnya.
Perjalanan Eva juga dibentuk oleh pengalaman tari kontemporer, renang indah, pergaulan dengan seniman, perjalanan lintas negara, apresiasi terhadap karya, dan keterlibatan sosial. Pengalaman hidup tidak otomatis menghasilkan karya bermutu, tetapi dapat memperluas kepekaan dan cara seseorang membaca dunia. Di sini, fotografi bukan sekadar urusan teknik atau hasil visual. Ada tubuh, pengalaman, lingkungan, dan hubungan yang ikut membentuk karya.
Cara membaca seni seperti ini dekat dengan perhatian etnomusikologi terhadap praktik budaya: bukan hanya apa yang dihasilkan, melainkan bagaimana praktik itu berlangsung, pengetahuan ditransmisikan, dan hubungan manusia dengan lingkungannya terbentuk. Perspektif tersebut relevan untuk seni rupa maupun fotografi. Karya perlu dibaca bersama proses dan konteks yang melahirkannya.
Cultural Nuances mempertemukan seniman dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina, Jepang, India, Pakistan, Sri Lanka, Tiongkok, Myanmar, Tajikistan, Prancis, dan Indonesia. Seniman Indonesia datang dari sejumlah wilayah, termasuk Aceh, Papua Selatan, Kalimantan Timur, dan Sumatera Barat. Selama kegiatan, interaksi berlangsung melalui percakapan, pertukaran kartu nama, dan pembicaraan tentang kemungkinan hubungan lanjutan. Semua ini merupakan awal yang baik, tetapi jejaring hanya berarti jika dipelihara.
Aceh membutuhkan pameran internasional. Namun, kita juga membutuhkan ruang diskusi, dokumentasi, pendidikan seni yang terbuka, kesempatan berkarya, serta tradisi apresiasi yang lebih matang. Karya dari luar negeri tidak harus dianggap lebih unggul daripada karya lokal. Perjumpaan internasional semestinya memperluas referensi dan membantu kita menilai praktik sendiri dengan lebih jernih.
Dalam konteks ini, Sustainable Platform for Society (SPS) relevan dengan upaya membangun jejaring dan kolaborasi bersama masyarakat. Pengembangan Master of Arts in Creative Arts and Cultural Studies (MACS) di Sekolah Pascasarjana (SPs) USK juga membuka ruang akademik untuk mengkaji hubungan seni, kebudayaan, penelitian, dan praktik kreatif. Ketiganya bukan satu penyelenggara, tetapi memiliki titik temu pada pengembangan pengetahuan dan kehidupan kreatif.
Bagi saya, keberhasilan Cultural Nuances tidak cukup diukur dari jumlah negara peserta. Ukuran yang lebih bermakna ialah apakah perjumpaan ini membuat kita lebih mampu membaca karya, menghargai perbedaan, membangun hubungan, dan memberi ruang bagi seniman untuk berkembang.
Menghadirkan seniman internasional adalah pekerjaan penting. Melanjutkan pembelajaran setelah mereka pulang tidak kalah penting. Setelah dunia datang ke Aceh, apa yang sungguh-sungguh berubah dalam kehidupan seni kita? Pertanyaan itulah yang perlu dijawab melalui kerja bersama, jauh setelah pameran selesai.




















