Oleh: Ari J. Palawi
SPS Fellow – Lingkar Wali Sustainable Platform for Society; MACS Team, Sekolah Pascasarjana USK
Sebagai bagian dari tim persiapan pembukaan Program Magister Seni Kreatif dan Studi Kebudayaan (MACS) di Universitas Syiah Kuala, saya melihat gagasan ini bukan sekadar rencana menambah program magister. Ada peluang untuk mempertemukan seni kreatif, penelitian, dan berbagai disiplin ilmu guna menjawab persoalan nyata masyarakat. Seni dan kebudayaan tidak berdiri sendiri. Keduanya berhubungan dengan pendidikan, ekonomi, lingkungan, teknologi, sejarah, dan perubahan kehidupan manusia.
Kekuatan MACS justru terletak pada kemampuannya mempertemukan berbagai latar belakang keilmuan. Calon mahasiswa tidak harus berasal dari pendidikan seni. Seniman, antropolog, sejarawan, pendidik, teknolog, pekerja kreatif, dan profesional dapat bertemu melalui persoalan yang ingin mereka teliti atau kerjakan. Perbedaan latar belakang menjadi sumber pertukaran pengetahuan, tetapi tetap menuntut kesungguhan belajar, ketelitian metode, dan tanggung jawab akademik. Membuka pintu lebih lebar tidak berarti menurunkan standar.
Dalam pembicaraan tentang MACS, satu hal yang menurut saya perlu dirancang sejak awal ialah hubungan antara pendidikan dan kebutuhan hidup mahasiswa. Biaya hidup, perangkat kerja, bahan penciptaan, dan penelitian bukan perkara kecil. Agar tidak juga harus bersandar pada beasiswa semata, ekosistem “kerja-kreasi” justru patut dipertimbangkan sebagai bagian dari model keberlanjutan program. Penelitian, dokumentasi kebudayaan, pengarsipan digital, produksi kreatif, kurasi, dan layanan profesional dapat membuka peluang kerja sekaligus memperkuat kompetensi mahasiswa. Keahlian dosen, fasilitas USK, kemitraan, dan hibah dapat mendukung kegiatan tersebut melalui tata kelola yang sesuai dengan ketentuan universitas setingkat PTN-BH.
Pastinya, mahasiswa bukan tenaga operasional murah bagi program studi. Pekerjaan harus dibayar secara wajar, relevan dengan pengembangan kompetensi, dan tidak mengambil alih waktu kuliah, penelitian, serta penciptaan. MACS juga tidak boleh menggantungkan operasionalnya pada tenaga mahasiswa. Model bisnis harus menopang pendidikan, bukan menjadikan pendidikan sebagai alasan untuk memperoleh tenaga kerja murah.
Prinsip yang sama berlaku bagi mahasiswa yang telah mapan, memiliki jabatan, reputasi, atau jaringan profesional luas. Pengalaman mereka dapat memperkaya pembelajaran dan membuka peluang kolaborasi, tetapi kesibukan pribadi tidak boleh terus-menerus menentukan jadwal akademik. Pembelajaran hybrid merupakan pilihan metode, bukan pembebasan dari kewajiban belajar. Pengalaman profesional pun tidak otomatis menggantikan capaian akademik.
Peluang MACS dapat dilihat dari persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat Aceh. Kajian tentang Saman di Gayo Lues, misalnya, dapat mencakup regenerasi, pewarisan pengetahuan, dokumentasi, perubahan ruang hidup, dan penghidupan masyarakat. Pengalaman Cultural Nuances dapat dikembangkan menjadi penelitian, pertukaran pengetahuan, kolaborasi, dan kesempatan berkarya. Pendekatan lintas disiplin memungkinkan kegiatan semacam ini berkembang menjadi penelitian berkelanjutan, bahan pembelajaran, kemitraan, dan karya yang manfaatnya melampaui lingkungan kampus.
Dalam tim persiapan, tentu ada beragam pemikiran, kontribusi, dan tanggung jawab. Saya menghargai mereka yang telah memberikan waktu, membuka ruang diskusi, dan ikut mendorong gagasan ini. Sebagai anggota tim, saya juga merasa perlu menyampaikan bahwa dukungan dan kerja nyata harus dibedakan. Persetujuan terhadap gagasan belum menghasilkan kurikulum; komitmen belum otomatis memenuhi kebutuhan dosen dan homebase; sambutan positif belum menuntaskan persyaratan pembukaan. Yang menyenangkan tentu seketika setiap dukungan menjadi jelas pekerjaan dan pertanggung-jawabannya.
Dari keterlibatan dalam proses ini, ada satu kegelisahan yang menurut saya perlu kita hadapi bersama: jangan sampai kelanjutan MACS lebih ditentukan oleh preferensi atau kebiasaan kelembagaan selama ini diresahkan banyak pakar, melainkan murni atas penilaian atas kebutuhan dan kelayakannya. Pembukaan program memang harus melalui pemeriksaan akademik, administratif, dan finansial. Afdalnya, setiap kekurangan perlu dijelaskan bersama langkah untuk mengatasinya. Kehati-hatian semestinyalah membantu mematangkan keputusan, bukan menjadi pembiaran rencana yang seterusnya beku tanpa kepastian.
MACS tidak perlu diterima hanya karena diusulkan oleh tim. Sebaliknya, gagasan ini juga tidak semestinya diabaikan hanya karena menawarkan pendekatan yang belum lazim. Yang perlu diperiksa ialah kebutuhan yang hendak dijawab, sumber daya yang tersedia, pekerjaan yang harus diselesaikan, dan manfaat yang dapat diukur.
Sebagai bagian dari tim, saya ingin melihat ikhtiar ini bergerak dari percakapan menuju pekerjaan yang terukur, dari komitmen menuju tanggung jawab, dan dari rancangan menuju keputusan. MACS hanya dapat terwujud melalui kerja bersama yang nyata, dukungan kelembagaan yang jelas, dan keberanian menilai gagasan berdasarkan alasan akademik serta kebutuhan masyarakat.




















