MEULABOH | SAGOE TV — Nipah bukan sekadar tumbuhan yang tumbuh memenuhi rawa di tepian pesisir Gampong Suak Timah, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat. Bagi masyarakat setempat, nipah telah menjadi bagian dari kehidupan sekaligus sumber pengembangan produk budaya dan ekonomi warga.
Potensi tersebut kembali diangkat melalui Festival Nipah 2026 yang mengusung tema “Nipah Meubudaya, Masyarakat Seujahtera”. Festival ini akan digelar pada 11-15 September 2026 melalui kolaborasi masyarakat Gampong Suak Timah dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh.
Festival Nipah tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi menjadi ruang untuk melestarikan budaya, memperkenalkan potensi desa, sekaligus mendorong pengembangan ekonomi masyarakat melalui pendekatan kebudayaan.
Dari buah nipah, masyarakat Suak Timah telah mengembangkan berbagai produk seperti dodol, sirup, manisan hingga karamel. Potensi tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana sumber daya lokal dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Keuchik Suak Timah, Afdhal, berharap pelaksanaan Festival Nipah dapat semakin meningkatkan antusiasme masyarakat dalam mengembangkan ekonomi berbasis budaya.
Suak Timah merupakan gampong pesisir di Kecamatan Samatiga yang memiliki beragam potensi, mulai dari sawah, perkebunan, ladang, perikanan darat hingga kawasan rawa nipah.
Selain memiliki kekayaan alam, gampong ini juga dikenal dengan warisan seni dan budayanya. Suak Timah menjadi salah satu desa dalam Program Pemajuan Kebudayaan Desa sejak 2024. Pemerintah gampong, pemuda, pelaku budaya, komunitas dan masyarakat bersama-sama mengembangkan berbagai potensi tersebut.
Ketua Tuha Peut Suak Timah, Adriman, mengatakan keberlanjutan program menjadi bagian penting dalam pengembangan kebudayaan dan ekonomi desa.
“Bagi kami, keberlanjutan seperti ini sangat penting. Apa yang sudah dimulai pada 2024 tidak berhenti begitu saja, tetapi bisa diperkuat dan dikembangkan,” ujarnya.
Menurut dia, masyarakat kini mulai memasuki tahap penguatan ekonomi budaya. Pengembangan dilakukan melalui peningkatan kapasitas pelaku budaya dan UMKM, pendataan, pelestarian sejarah dan pengetahuan lokal, hingga pemanfaatan nipah dan kegiatan budaya sebagai sumber ekonomi.
Festival Jadi Ruang Bertemu dan Berusaha
Festival Nipah menjadi ruang pertemuan bagi masyarakat, pelaku usaha, pelaku budaya dan berbagai pihak untuk berkomunikasi, berekspresi, mempromosikan produk, bertukar gagasan sekaligus membuka peluang ekonomi.
Dampaknya mulai terlihat pada sejumlah usaha masyarakat. UMKM Cang Nipah, misalnya, mengembangkan dodol, manisan, karamel dan sirup berbahan nipah. Sementara UMKM Ummu Muttaqin memperluas produksi jamu herbal.
Pengrajin reungkan, yakni anyaman dari lidi nipah, juga mulai memperoleh pesanan setelah kegiatan festival. Berbagai usaha kecil tersebut terus dikembangkan dengan memanfaatkan festival sebagai ruang promosi dan pemasaran.
Tak hanya UMKM, Suak Timah juga mengembangkan potensi pariwisata melalui Paket Wisata Jelajah Rawa Nipah. Wisatawan dapat menikmati bentang alam rawa sekaligus mengenal pengetahuan, sejarah dan hubungan masyarakat dengan lingkungan sekitarnya.
Desa tersebut juga telah memiliki fasilitas kafetaria, suvenir berupa jus buah nipah dan homestay untuk mendukung aktivitas wisata.
Suak Timah tercatat dalam Jadesta Kementerian Pariwisata sebagai Desa Wisata kategori Rintisan. Desa ini juga menjadi salah satu penerima Apresiasi Desa Budaya 2025 dari Kementerian Kebudayaan RI.
Festival Nipah Diisi Workshop hingga Pameran
Rangkaian Festival Nipah 2026 tidak hanya berlangsung pada puncak acara. Pada 7-12 September 2026, masyarakat mengikuti berbagai kegiatan pra-festival, seperti workshop kuliner dan kriya nipah, lokakarya wisata, inovasi kasab serta manajemen UMKM.
Puncak Festival Nipah akan berlangsung pada 14-15 September 2026 dengan rangkaian kegiatan berupa pameran produk lokal, pertunjukan seni dan pelestarian tradisi yang berbasis pada ekosistem rawa nipah.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh juga mendorong kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, pemerintah gampong, komunitas, pelaku pariwisata serta ekonomi kreatif.
Kolaborasi tersebut diarahkan pada peningkatan kapasitas pengelola destinasi, pengembangan atraksi, peningkatan kualitas produk, pengemasan budaya sebagai daya tarik wisata, serta penguatan promosi dan pemasaran.
Daya Desa Suak Timah, Mukhsin, mengatakan pengembangan ekonomi budaya melalui Festival Nipah diharapkan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan pendapatan masyarakat sekaligus menjaga kebudayaan dan lingkungan yang telah menjadi bagian dari kehidupan warga.
Menurutnya, festival bukan menjadi tujuan akhir, melainkan sarana untuk memastikan masyarakat terus bergerak setelah kegiatan berakhir.
“Festival bukan tujuan utama. Festival adalah media. Yang lebih penting adalah bagaimana setelah festival selesai masyarakat tetap bergerak. Ada yang membuat produk, ada yang mendapatkan pesanan, ada yang mengembangkan usaha, ada yang mengelola wisata,” ujarnya.




















