Oleh: Prof. Dr. Rita Khathir, S.TP., M.Sc
Profesor bidang teknologi pascapanen, Dosen Prodi Teknik Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala. Email: rkhathir79@gmail.com
Tsunami darat yang menerjang 18 Kabupaten Kota di Provinsi Aceh turut menghancurkan fasilitas pendidikan seperti sekolah dan dayah (pesantren). Menurut Dashboard Data Bencana Banjir Aceh 2025 per 25/12/2025, data sekolah yang terdampak mencapai 549 unit, dan data pesantren yang terdampak ada 669 unit (https://banjiraceh.acehstudies.org/).
Skala kerusakan bervariasi dari sedang ke berat. Selain itu, anak-anak yang terdampak banjir longsor juga kehilangan seluruh sarana dan prasarana sekolahnya seperti baju, buku, tas, sepatu dan lain sebagainya. Bahkan sebagian anak-anak masih tinggal di tenda-tenda pengungsian bersama orang tua mereka.
Menghadapi suatu bencana (musibah), kita akan mengalami 3 fase yaitu shock (kejutan), recovery (pemulihan), dan adjustment (penyesuaian). Selama masa tanggap darurat, kita akan mengalami tahap recovery yang dapat berupa upaya untuk menerima kesulitan pascabencana dan berusaha mendapatkan rasa aman dan nyaman. Sedangkan selanjutnya kita akan masuk ke dalam tahap adjustment, yaitu melakukan berbagai upaya penyesuaian diri dengan berjuang semampu kita untuk melanjutkan kehidupan meniti masa depan yang cerah.
Recovery pendidikan yang dimaksudkan dengan judul di atas adalah akumulasi tahapan recovery dan adjustment (penyesuaian) aspek pendidikan. Proses pendidikan harus berlanjut walau kondisi kita serba kesulitan dan kekurangan. Pendidikan adalah kebutuhan pokok Rohani setelah kebutuhan pokok jasmani meliputi pangan, sandang dan papan terpenuhi.
Aset utama pendidikan adalah sumber daya guru, sehingga langkah awal recovery pendidikan adalah memastikan jumlah guru yang tersedia pascabencana. Adanya guru berkualitas seperti pelita, guru dapat membuat kegelapan menjadi terang benderang. Kehadiran guru akan membangun rasa kuat dan optimis para siswanya untuk terus berjuang menyelesaikan ujian kehidupan meningkatkan kompetensinya di masa depan.
Pendidikan adalah hal baik, maka harus dilakukan dengan niat baik dan upaya-upaya yang baik. Pendidikan dapat mengambil peran layanan psikososial yang sangat penting untuk mencegah terjadinya frustasi atau kesehatan bipolar (mental). Pendidikan kita yang terintegrasi dengan pendidikan agama, bermuatan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT., adalah strategi jitu untuk pemulihan trauma siswa dan masyarakat pascabencana.
Dengan adanya guru dan murid, maka pendidikan dapat dijalankan kembali. Bila tidak ada bangunan kelas, dapat dilaksanakan di dalam tenda darurat, atau bahkan di bawah pohon. Sambil bersabar menunggu bantuan datang dari Pemerintah dan berbagai pihak lainnya, seyogyanya pendidikan di Aceh pascabencana tetap berjalan dengan keunikan dan keistimewaannya. Boleh jadi momen pendidikan dalam keterbatasan ini akan menghasilkan generasi yang luar biasa di masa yang akan datang.
Dalam literatur Islam, pendidikan adalah kewajiban setiap individu baik laki-laki maupun perempuan, dari ayunan sampai ke liang lahat, dan harus ditempuh walau jauh ke negeri Cina. Orang-orang yang bersusah payah ke luar rumahnya dengan tujuan menuntut ilmu (mendapatkan pendidikan) maka Allah akan memudahkan jalan menuju surga baginya. Bahkan orang yang meninggal dalam keadaan sedang menuntut ilmu akan mendapatkan anugerah mati syahid dari Allah SWT. Lalu Allah menyatakan bahwa derajat orang yang beriman dan berilmu pengetahuan akan ditinggikan (QS. Al Mujadalah: 11).
Kita patut memberikan apresiasi atas usaha Pemerintah, melalui Kementerian terkait. Misalnya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) misalnya telah menyalurkan bantuan untuk 28 unit satuan pendidikan di Kota Subulussalam dan Kabupaten Aceh Singkil. Kemendikdasmen juga mengalokasikan dana tunjangan sebesar 35M untuk 16.500 guru ASN dan non ASN di wilayah terdampak. Bantuan awal yang telah diberikan adalah bantuan untuk pembersihan sekolah, penyediaan buku dan peralatan belajar, serta pendataan menyeluruh atas kerusakan sarana dan prasarana. Untuk pembelajaran di masa darurat dapat dilaksanakan dengan kombinasi luring dan daring, atau bergiliran untuk sesi pagi dan siang, atau menggunakan tenda darurat.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) juga telah menginisiasikan program pengabdian kepada masyarakat (PKM) periode 3-30 Desember 2025 senilai 46,5M dengan penugasan kepada 28 Perguruan Tinggi (PT) posko di wilayah terdampak dan 10 PT pendukung di luar Pulau Sumatera. Selain itu Kemdiktisaintek juga telah menggalang dana kemanusiaan senilai 6,8M dan menyalurkannya, serta mengalokasikan biaya hidup bagi mahasiswa terdampak senilai 71M, di mana mahasiswa akan menerima 1.250.000 per bulan selama 3 bulan. Semua PT posko di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat menjalankan fungsi pemetaan kebutuhan mendesak, distribusi logistik, layanan kesehatan dan psikososial, penyediaan prasarana (perahu karet, genset, alat penyedot air dan lumpur), dan mobilisasi relawan mahasiswa. Koordinasi kegiatan dilakukan dengan BNPB, Pemerintah Daerah dan TNI/POLRI.
Sebuah lesson learned dapat kita ambil dari Jepang. Di sana, sekolah merupakan institusi yang memegang 2 peranan utama dalam menghadapi dan mengatasi kebencanaan. Pertama bangunan sekolah sendiri dijadikan sebagai tempat evakuasi untuk melindungi masyarakat ketika tsunami menerjang. Hal ini didukung dengan design dan pembangunan bangunan sekolah yang memenuhi syarat sebagai tempat evakuasi (evacuation shelter). Kedua, kurikulum sekolah mengajarkan mitigasi kebencanaan (disaster risk management) kepada siswa dan masyarakat, sehingga ketika bencana terjadi, siswa dan masyarakat sudah mengetahui apa yang harus dilakukan dengan cepat dan tepat.
Sebagai bahan perbandingan, negara Jepang sudah mengalami sebanyak 143 tsunami dengan total korban 130.000 jiwa sejak tahun 684M. Sedangkan kita, telah mengalami 1x mega- tsunami 2004 yang menelan korban sehingga 170.000 jiwa. Dapat kita katakan bahwa orang Jepang sudah tangguh menghadapi bencana tsunami karena mereka mau belajar, memperbaiki keadaan, dan melakukan mitigasi bencana secara serius.
Recovery pendidikan pascabencana harus bisa kita wujudkan dalam bentuk yang lebih sempurna (syumul). Bahwa pendidikan adalah media transfer ilmu pengetahuan kepada siswa dan masyarakat yang meliputi ilmu agama, ilmu kebencanaan, dan ilmu teknologi lainnya. Pendidikan dapat dilakukan dalam keadaan terbatas, konvensional, dan institusional. Pendidikan non formal konvensional telah menghasilkan generasi-generasi luar biasa di masa lalu. Di masa kini kita hidup dalam sistem pendidikan institusional dengan berbagai fasilitas modern. Oleh karena itu, menyikapi kondisi kehancuran infrastruktur pendidikan pascabencana, kita harus berpikir paling optimis untuk melanjutkan pendidikan generasi. Pendidikan tidak boleh terhenti atau mati selagi nyawa kita masih dikandung badan. Selagi ada guru dan murid, pendidikan dapat dilangsungkan secara konvensional dan bahkan khas (unik). Pendidikan harus mampu kita laksanakan dalam kondisi keterbatasan dengan kesabaran (bayangkan bahwa kita hanya kembali ke masa lalu selama beberapa waktu). Guru juga harus mampu beradaptasi menyelesaikan segala urusan administratifnya di tengah keterbatasan fasilitas.
Pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur pendidikan, semoga kita dapat meneladani Jepang, di mana bangunan pendidikan didesign untuk dapat difungsikan sebagai bangunan evakuasi pascabencana, dan mitigasi kebencanaan menjadi kurikulum regular yang diajarkan kepada generasi. Insya Allah badai pasti berlalu dan dan kita dapat kembali belajar dengan sistem pendidikan yang lebih baik.
Disampaikan pada Diskusi Publik by Komunitas Ummat Terupdate (Kudet) 25/12/2025 di Banda Aceh.[]




















