Oleh: Ari J. Palawi
Praktisi dan Akdemisi Seni Universitas Syiah Kuala
Aceh tidak kekurangan ide.
Saya semakin percaya pada kalimat itu. Bukan karena sering mendengarnya di seminar atau forum resmi, melainkan karena berulang kali menemukannya dalam percakapan-percakapan sederhana yang berlangsung tanpa banyak protokol.
Seseorang memulai pembicaraan tentang musik. Yang lain menyambung dengan film. Obrolan bergeser ke puisi, kecerdasan buatan, industri kreatif, gambut, pendidikan seni, lalu berlabuh pada pertanyaan yang selalu menarik untuk dibahas: bagaimana sebuah masyarakat mengolah pengalaman, pengetahuan, dan imajinasinya menjadi sesuatu yang bernilai bagi masa depan.
Sekilas topik-topik itu tampak berjauhan. Setelah didengarkan lebih lama, semuanya ternyata saling terhubung.
Hubungan-hubungan semacam itu justru sering luput dari perhatian.
Kita hidup pada masa ketika informasi tersedia hampir tanpa batas. Pengetahuan bergerak melintasi wilayah dan disiplin ilmu dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Orang dapat mempelajari musik dari belahan dunia lain, mengakses arsip budaya, membaca hasil penelitian, hingga berdiskusi dengan siapa saja tanpa harus meninggalkan tempat duduknya.
Akses semakin terbuka.
Percakapan justru menjadi semakin penting.
Pengetahuan yang berjalan sendiri-sendiri jarang menghasilkan perubahan berarti. Pengetahuan mulai bernilai ketika bertemu pengalaman, ketika diuji dalam praktik, ketika bersentuhan dengan kenyataan hidup, lalu menemukan bentuk baru melalui dialog dengan orang lain.
Barangkali karena itulah saya tidak pernah terlalu tertarik pada perdebatan antara tradisi dan modernitas.
Kehidupan sehari-hari menunjukkan kenyataan yang jauh lebih menarik.
Anak-anak muda menggunakan teknologi untuk mempelajari budaya. Komunitas tradisi memanfaatkan media digital untuk memperluas jangkauan pengetahuan mereka. Musisi berbicara dengan pembuat film. Peneliti lingkungan berdiskusi dengan seniman. Batas-batas yang dulu terasa tegas perlahan menjadi lebih cair.
Tradisi tidak sedang berhadapan dengan masa depan.
Tradisi sedang mencari cara baru untuk ikut berbicara di dalamnya.
Nama Marzuki Hasan selalu hadir ketika saya memikirkan persoalan tersebut.
Banyak orang mengenalnya sebagai maestro seni pertunjukan Aceh. Sebutan itu tentu layak. Selama puluhan tahun ia menjaga, mengembangkan, sekaligus mengajarkan seni pertunjukan Aceh kepada berbagai generasi. Akan tetapi, hal paling berharga dari perjalanan panjangnya bukan semata karya yang pernah dipentaskan atau penghargaan yang pernah diterima.
Perhatian saya justru tertuju pada kerja yang berlangsung jauh dari sorotan.
Ia menunjukkan bahwa pengetahuan budaya tidak bertahan karena disimpan.
Pengetahuan budaya bertahan karena dipraktikkan.
Karena diajarkan.
Karena diwariskan.
Karena terus dipertemukan dengan generasi yang berbeda.
Kita lebih mudah mengingat sebuah pertunjukan daripada proses latihan yang berlangsung berbulan-bulan. Kita lebih cepat mengenali hasil dibanding perjalanan yang melahirkannya. Kebiasaan ini tidak hanya terjadi dalam dunia seni. Ia hadir hampir di semua bidang kehidupan.
Kita mengagumi pencapaian.
Kita sering melewatkan fase pertumbuhan.
Padahal banyak hal penting lahir dari proses yang pada awalnya tampak biasa-biasa saja.
Sebuah lagu berawal dari gagasan yang masih mentah.
Sebuah komunitas tumbuh dari pertemuan beberapa orang yang memiliki kegelisahan serupa.
Sebuah tradisi bertahan karena ada orang-orang yang terus mengulang, mengajarkan, dan merawatnya meski tidak selalu mendapat perhatian.
Gambut memberikan gambaran yang menarik tentang hal tersebut.
Orang biasanya membicarakan gambut melalui data lingkungan, konservasi, atau perubahan iklim. Semua itu penting. Namun bentang gambut juga memperlihatkan bahwa banyak proses menentukan berlangsung jauh dari permukaan. Tidak mencolok. Tidak ramai. Tidak selalu terlihat. Meski demikian, lapisan-lapisan itulah yang menopang kehidupan di atasnya.
Kerja kebudayaan sering bergerak dengan logika yang sama.
Yang terlihat biasanya pertunjukan, festival, atau karya yang sudah selesai. Yang jarang terlihat adalah jaringan pengetahuan, hubungan antargenerasi, proses belajar, percobaan kreatif, dan percakapan panjang yang membuat semua itu mungkin terjadi.
Di situlah saya melihat salah satu kekuatan terbesar yang dimiliki Aceh.
Bukan semata pada warisan budayanya.
Bukan pula pada kekayaan sumber dayanya.
Kekuatan itu terletak pada banyaknya ruang perjumpaan yang masih hidup.
Ruang latihan.
Komunitas.
Sanggar.
Kampus.
Forum kreatif.
Warung kopi.
Lingkar diskusi kecil yang sering tidak tercatat dalam laporan apa pun.
Di tempat-tempat seperti itulah gagasan bergerak dari satu orang ke orang lain. Pengalaman bertemu pengetahuan. Tradisi bertemu teknologi. Seni bertemu lingkungan. Berbagai kemungkinan menemukan jalannya sendiri.
Kemajuan jarang lahir dari keunggulan yang berdiri sendirian.
Kemajuan tumbuh dari kemampuan menghubungkan banyak hal yang sebelumnya tampak terpisah.
Mungkin itulah alasan saya selalu menyukai percakapan yang belum selesai.
Percakapan semacam itu tidak terburu-buru mencari kesimpulan. Ia memberi ruang bagi pertanyaan baru, membuka hubungan yang sebelumnya tidak terlihat, lalu menghadirkan kemungkinan yang belum sempat diberi nama.
Kebudayaan tumbuh dari proses seperti itu.
Begitu pula masa depan.
Selama masih ada orang-orang yang bersedia duduk di meja yang sama, saling mendengar, berbagi pengalaman, dan merawat rasa ingin tahu, selalu ada alasan untuk percaya bahwa hal-hal baik masih sedang tumbuh di antara kita.




















