• Tentang Kami
Monday, October 19, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Dari Meja yang Sama

SAGOE TV by SAGOE TV
June 3, 2026
in SENI
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Ari J. Palawi

Ari J. Palawi. Foto: Arsip Pribadi

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi
Praktisi dan Akdemisi Seni Universitas Syiah Kuala

Aceh tidak kekurangan ide.

Saya semakin percaya pada kalimat itu. Bukan karena sering mendengarnya di seminar atau forum resmi, melainkan karena berulang kali menemukannya dalam percakapan-percakapan sederhana yang berlangsung tanpa banyak protokol.

BACA JUGA

Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

Pameran Seni Internasional di USK Hadirkan Karya Seniman dari Belasan Negara

Seseorang memulai pembicaraan tentang musik. Yang lain menyambung dengan film. Obrolan bergeser ke puisi, kecerdasan buatan, industri kreatif, gambut, pendidikan seni, lalu berlabuh pada pertanyaan yang selalu menarik untuk dibahas: bagaimana sebuah masyarakat mengolah pengalaman, pengetahuan, dan imajinasinya menjadi sesuatu yang bernilai bagi masa depan.

Sekilas topik-topik itu tampak berjauhan. Setelah didengarkan lebih lama, semuanya ternyata saling terhubung.

Hubungan-hubungan semacam itu justru sering luput dari perhatian.

Kita hidup pada masa ketika informasi tersedia hampir tanpa batas. Pengetahuan bergerak melintasi wilayah dan disiplin ilmu dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Orang dapat mempelajari musik dari belahan dunia lain, mengakses arsip budaya, membaca hasil penelitian, hingga berdiskusi dengan siapa saja tanpa harus meninggalkan tempat duduknya.

Akses semakin terbuka.

Percakapan justru menjadi semakin penting.

Pengetahuan yang berjalan sendiri-sendiri jarang menghasilkan perubahan berarti. Pengetahuan mulai bernilai ketika bertemu pengalaman, ketika diuji dalam praktik, ketika bersentuhan dengan kenyataan hidup, lalu menemukan bentuk baru melalui dialog dengan orang lain.

Barangkali karena itulah saya tidak pernah terlalu tertarik pada perdebatan antara tradisi dan modernitas.

Kehidupan sehari-hari menunjukkan kenyataan yang jauh lebih menarik.

Anak-anak muda menggunakan teknologi untuk mempelajari budaya. Komunitas tradisi memanfaatkan media digital untuk memperluas jangkauan pengetahuan mereka. Musisi berbicara dengan pembuat film. Peneliti lingkungan berdiskusi dengan seniman. Batas-batas yang dulu terasa tegas perlahan menjadi lebih cair.

Tradisi tidak sedang berhadapan dengan masa depan.

Tradisi sedang mencari cara baru untuk ikut berbicara di dalamnya.

Nama Marzuki Hasan selalu hadir ketika saya memikirkan persoalan tersebut.

Banyak orang mengenalnya sebagai maestro seni pertunjukan Aceh. Sebutan itu tentu layak. Selama puluhan tahun ia menjaga, mengembangkan, sekaligus mengajarkan seni pertunjukan Aceh kepada berbagai generasi. Akan tetapi, hal paling berharga dari perjalanan panjangnya bukan semata karya yang pernah dipentaskan atau penghargaan yang pernah diterima.

Perhatian saya justru tertuju pada kerja yang berlangsung jauh dari sorotan.

Ia menunjukkan bahwa pengetahuan budaya tidak bertahan karena disimpan.

Pengetahuan budaya bertahan karena dipraktikkan.

Karena diajarkan.

Karena diwariskan.

Karena terus dipertemukan dengan generasi yang berbeda.

Kita lebih mudah mengingat sebuah pertunjukan daripada proses latihan yang berlangsung berbulan-bulan. Kita lebih cepat mengenali hasil dibanding perjalanan yang melahirkannya. Kebiasaan ini tidak hanya terjadi dalam dunia seni. Ia hadir hampir di semua bidang kehidupan.

Kita mengagumi pencapaian.

Kita sering melewatkan fase pertumbuhan.

Padahal banyak hal penting lahir dari proses yang pada awalnya tampak biasa-biasa saja.

Sebuah lagu berawal dari gagasan yang masih mentah.

Sebuah komunitas tumbuh dari pertemuan beberapa orang yang memiliki kegelisahan serupa.

Sebuah tradisi bertahan karena ada orang-orang yang terus mengulang, mengajarkan, dan merawatnya meski tidak selalu mendapat perhatian.

Gambut memberikan gambaran yang menarik tentang hal tersebut.

Orang biasanya membicarakan gambut melalui data lingkungan, konservasi, atau perubahan iklim. Semua itu penting. Namun bentang gambut juga memperlihatkan bahwa banyak proses menentukan berlangsung jauh dari permukaan. Tidak mencolok. Tidak ramai. Tidak selalu terlihat. Meski demikian, lapisan-lapisan itulah yang menopang kehidupan di atasnya.

Kerja kebudayaan sering bergerak dengan logika yang sama.

Yang terlihat biasanya pertunjukan, festival, atau karya yang sudah selesai. Yang jarang terlihat adalah jaringan pengetahuan, hubungan antargenerasi, proses belajar, percobaan kreatif, dan percakapan panjang yang membuat semua itu mungkin terjadi.

Di situlah saya melihat salah satu kekuatan terbesar yang dimiliki Aceh.

Bukan semata pada warisan budayanya.

Bukan pula pada kekayaan sumber dayanya.

Kekuatan itu terletak pada banyaknya ruang perjumpaan yang masih hidup.

Ruang latihan.

Komunitas.

Sanggar.

Kampus.

Forum kreatif.

Warung kopi.

Lingkar diskusi kecil yang sering tidak tercatat dalam laporan apa pun.

Di tempat-tempat seperti itulah gagasan bergerak dari satu orang ke orang lain. Pengalaman bertemu pengetahuan. Tradisi bertemu teknologi. Seni bertemu lingkungan. Berbagai kemungkinan menemukan jalannya sendiri.

Kemajuan jarang lahir dari keunggulan yang berdiri sendirian.

Kemajuan tumbuh dari kemampuan menghubungkan banyak hal yang sebelumnya tampak terpisah.

Mungkin itulah alasan saya selalu menyukai percakapan yang belum selesai.

Percakapan semacam itu tidak terburu-buru mencari kesimpulan. Ia memberi ruang bagi pertanyaan baru, membuka hubungan yang sebelumnya tidak terlihat, lalu menghadirkan kemungkinan yang belum sempat diberi nama.

Kebudayaan tumbuh dari proses seperti itu.

Begitu pula masa depan.

Selama masih ada orang-orang yang bersedia duduk di meja yang sama, saling mendengar, berbagi pengalaman, dan merawat rasa ingin tahu, selalu ada alasan untuk percaya bahwa hal-hal baik masih sedang tumbuh di antara kita.

Tags: AcehAri J. PalawiArtikelopiniSeni
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances
SENI

Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

by SAGOE TV
October 11, 2026
Pameran Seni Internasional di USK Hadirkan Karya Seniman dari Belasan Negara
SENI

Pameran Seni Internasional di USK Hadirkan Karya Seniman dari Belasan Negara

by SAGOE TV
October 10, 2026
Kenduri Sastra Aceh 2026 Hidupkan Kembali Karya Maestro hingga Ali Hasjmy untuk Generasi Muda
SENI

Kenduri Sastra Aceh 2026 Hidupkan Kembali Karya Maestro hingga Ali Hasjmy untuk Generasi Muda

by SAGOE TV
September 28, 2026
SPS Revival Perkuat Jejaring Kreatif Aceh, Jajaki Kolaborasi dengan Yayasan AMANAH
SENI

SPS Revival Perkuat Jejaring Kreatif Aceh, Jajaki Kolaborasi dengan Yayasan AMANAH

by SAGOE TV
September 22, 2026
Festival Nipah 2026 Digelar di Suak Timah, Angkat Budaya dan Ekonomi Warga
SENI

Festival Nipah 2026 Digelar di Suak Timah, Angkat Budaya dan Ekonomi Warga

by SAGOE TV
September 11, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Sagoetv.com Diduga Diretas Usai Terbitkan Berita Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran

Sagoetv.com Diduga Diretas Usai Terbitkan Berita Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran

October 13, 2026
Arsip tabloid asAsi

asAsi: Nyawöung dalam Wujud Lain

October 16, 2026
Luna Maya Kunjungi MIN 4 Aceh Besar, Beri Pesan untuk Siswa dan Guru

Luna Maya Kunjungi MIN 4 Aceh Besar, Beri Pesan untuk Siswa dan Guru

October 16, 2026
MACS Membuka Pintu, Membangun Jalan

MACS: Membuka Pintu, Membangun Jalan

October 14, 2026
Nama Punggung Ilham Udin Tak Sesuai Registrasi, Persiraja Didenda Rp20 Juta

Nama Punggung Ilham Udin Tak Sesuai Registrasi, Persiraja Didenda Rp20 Juta

October 15, 2026
Persiraja vs Semen Padang Nama Besar Kabau Sirah Tak Bikin Laskar Rencong Gentar

Total Denda Rp100 Juta, Persiraja dan Faris Adit Disanksi Usai Laga Kontra Sumsel United

October 14, 2026
Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

October 11, 2026
Baun Thoib Soaloon Kepala Kantor Bahasa Kepri

Mendikdasmen Lantik 162 Pejabat, Baun Thoib Soaloon Jabat Kepala Kantor Bahasa Kepri

October 18, 2026
Dek Fadh Sambut Pangdam Iskandar Muda yang Baru, Brigjen TNI Mahesa Fitriadi

Dek Fadh Sambut Pangdam Iskandar Muda yang Baru, Brigjen TNI Mahesa Fitriadi

October 18, 2026

EDITOR'S PICK

Belajar Sebulan di Malaysia, 4 Mahasiswa Teknik Industri USK Ikuti Program Pertukaran

Belajar Sebulan di Malaysia, 4 Mahasiswa Teknik Industri USK Ikuti Program Pertukaran

September 4, 2026
Posyandu Ujung Tombak Kesehatan Ibu dan Anak

Posyandu Ujung Tombak Kesehatan Ibu dan Anak

February 6, 2025
Musriadi Aswad

Musriadi Aswad Terpilih sebagai Koordinator Presidium MD KAHMI Aceh Besar

April 19, 2026
Mendagri Tito Karnavian Tiba di Aceh, Disambut Wagub Fadhlullah untuk Terima Anugerah Adat Wali Nanggroe

Mendagri Tito Karnavian Tiba di Aceh, Disambut Wagub Fadhlullah untuk Terima Anugerah Adat Wali Nanggroe

November 11, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.