• Tentang Kami
Tuesday, June 16, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Dari Meja yang Sama

SAGOE TV by SAGOE TV
June 3, 2026
in SENI
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Dari Meja yang Sama

Ari J. Palawi. Foto: Arsip Pribadi

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi
Praktisi dan Akdemisi Seni Universitas Syiah Kuala

Aceh tidak kekurangan ide.

Saya semakin percaya pada kalimat itu. Bukan karena sering mendengarnya di seminar atau forum resmi, melainkan karena berulang kali menemukannya dalam percakapan-percakapan sederhana yang berlangsung tanpa banyak protokol.

BACA JUGA

Mungkin Yang Kurang Bukan Acara

Skate Park Stage Volume 1-8: Tentang Kampus, Seni, dan Ruang Bertemu

Seseorang memulai pembicaraan tentang musik. Yang lain menyambung dengan film. Obrolan bergeser ke puisi, kecerdasan buatan, industri kreatif, gambut, pendidikan seni, lalu berlabuh pada pertanyaan yang selalu menarik untuk dibahas: bagaimana sebuah masyarakat mengolah pengalaman, pengetahuan, dan imajinasinya menjadi sesuatu yang bernilai bagi masa depan.

Sekilas topik-topik itu tampak berjauhan. Setelah didengarkan lebih lama, semuanya ternyata saling terhubung.

Hubungan-hubungan semacam itu justru sering luput dari perhatian.

Kita hidup pada masa ketika informasi tersedia hampir tanpa batas. Pengetahuan bergerak melintasi wilayah dan disiplin ilmu dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Orang dapat mempelajari musik dari belahan dunia lain, mengakses arsip budaya, membaca hasil penelitian, hingga berdiskusi dengan siapa saja tanpa harus meninggalkan tempat duduknya.

Akses semakin terbuka.

Percakapan justru menjadi semakin penting.

Pengetahuan yang berjalan sendiri-sendiri jarang menghasilkan perubahan berarti. Pengetahuan mulai bernilai ketika bertemu pengalaman, ketika diuji dalam praktik, ketika bersentuhan dengan kenyataan hidup, lalu menemukan bentuk baru melalui dialog dengan orang lain.

Barangkali karena itulah saya tidak pernah terlalu tertarik pada perdebatan antara tradisi dan modernitas.

Kehidupan sehari-hari menunjukkan kenyataan yang jauh lebih menarik.

Anak-anak muda menggunakan teknologi untuk mempelajari budaya. Komunitas tradisi memanfaatkan media digital untuk memperluas jangkauan pengetahuan mereka. Musisi berbicara dengan pembuat film. Peneliti lingkungan berdiskusi dengan seniman. Batas-batas yang dulu terasa tegas perlahan menjadi lebih cair.

Tradisi tidak sedang berhadapan dengan masa depan.

Tradisi sedang mencari cara baru untuk ikut berbicara di dalamnya.

Nama Marzuki Hasan selalu hadir ketika saya memikirkan persoalan tersebut.

Banyak orang mengenalnya sebagai maestro seni pertunjukan Aceh. Sebutan itu tentu layak. Selama puluhan tahun ia menjaga, mengembangkan, sekaligus mengajarkan seni pertunjukan Aceh kepada berbagai generasi. Akan tetapi, hal paling berharga dari perjalanan panjangnya bukan semata karya yang pernah dipentaskan atau penghargaan yang pernah diterima.

Perhatian saya justru tertuju pada kerja yang berlangsung jauh dari sorotan.

Ia menunjukkan bahwa pengetahuan budaya tidak bertahan karena disimpan.

Pengetahuan budaya bertahan karena dipraktikkan.

Karena diajarkan.

Karena diwariskan.

Karena terus dipertemukan dengan generasi yang berbeda.

Kita lebih mudah mengingat sebuah pertunjukan daripada proses latihan yang berlangsung berbulan-bulan. Kita lebih cepat mengenali hasil dibanding perjalanan yang melahirkannya. Kebiasaan ini tidak hanya terjadi dalam dunia seni. Ia hadir hampir di semua bidang kehidupan.

Kita mengagumi pencapaian.

Kita sering melewatkan fase pertumbuhan.

Padahal banyak hal penting lahir dari proses yang pada awalnya tampak biasa-biasa saja.

Sebuah lagu berawal dari gagasan yang masih mentah.

Sebuah komunitas tumbuh dari pertemuan beberapa orang yang memiliki kegelisahan serupa.

Sebuah tradisi bertahan karena ada orang-orang yang terus mengulang, mengajarkan, dan merawatnya meski tidak selalu mendapat perhatian.

Gambut memberikan gambaran yang menarik tentang hal tersebut.

Orang biasanya membicarakan gambut melalui data lingkungan, konservasi, atau perubahan iklim. Semua itu penting. Namun bentang gambut juga memperlihatkan bahwa banyak proses menentukan berlangsung jauh dari permukaan. Tidak mencolok. Tidak ramai. Tidak selalu terlihat. Meski demikian, lapisan-lapisan itulah yang menopang kehidupan di atasnya.

Kerja kebudayaan sering bergerak dengan logika yang sama.

Yang terlihat biasanya pertunjukan, festival, atau karya yang sudah selesai. Yang jarang terlihat adalah jaringan pengetahuan, hubungan antargenerasi, proses belajar, percobaan kreatif, dan percakapan panjang yang membuat semua itu mungkin terjadi.

Di situlah saya melihat salah satu kekuatan terbesar yang dimiliki Aceh.

Bukan semata pada warisan budayanya.

Bukan pula pada kekayaan sumber dayanya.

Kekuatan itu terletak pada banyaknya ruang perjumpaan yang masih hidup.

Ruang latihan.

Komunitas.

Sanggar.

Kampus.

Forum kreatif.

Warung kopi.

Lingkar diskusi kecil yang sering tidak tercatat dalam laporan apa pun.

Di tempat-tempat seperti itulah gagasan bergerak dari satu orang ke orang lain. Pengalaman bertemu pengetahuan. Tradisi bertemu teknologi. Seni bertemu lingkungan. Berbagai kemungkinan menemukan jalannya sendiri.

Kemajuan jarang lahir dari keunggulan yang berdiri sendirian.

Kemajuan tumbuh dari kemampuan menghubungkan banyak hal yang sebelumnya tampak terpisah.

Mungkin itulah alasan saya selalu menyukai percakapan yang belum selesai.

Percakapan semacam itu tidak terburu-buru mencari kesimpulan. Ia memberi ruang bagi pertanyaan baru, membuka hubungan yang sebelumnya tidak terlihat, lalu menghadirkan kemungkinan yang belum sempat diberi nama.

Kebudayaan tumbuh dari proses seperti itu.

Begitu pula masa depan.

Selama masih ada orang-orang yang bersedia duduk di meja yang sama, saling mendengar, berbagi pengalaman, dan merawat rasa ingin tahu, selalu ada alasan untuk percaya bahwa hal-hal baik masih sedang tumbuh di antara kita.

Tags: acehAri J. PalawiArtikelopiniSeni
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Mungkin yang kurang bukan acara Catatan tentang Banda Aceh, ruang perjumpaan, dan hal-hal yang terus dimulai dari awal
SENI

Mungkin Yang Kurang Bukan Acara

by SAGOE TV
June 10, 2026
Skate Park Stage Volume 1-8 Tentang Kampus, Seni, dan Ruang Bertemu
SENI

Skate Park Stage Volume 1-8: Tentang Kampus, Seni, dan Ruang Bertemu

by SAGOE TV
May 25, 2026
Tribute to Nyawöung Penghormatan untuk Legenda Musik Aceh Setelah 26 Tahun
SENI

Tribute to Nyawöung: Penghormatan untuk Legenda Musik Aceh Setelah 26 Tahun

by SAGOE TV
May 21, 2026
Apakah Seni Harus Dibisniskan? Dari Inkubator Seni USK, Kampus Mulai Membaca Kreativitas Secara Lebih Serius
SENI

Apakah Seni Harus Dibisniskan? Dari Inkubator Seni USK, Kampus Mulai Membaca Kreativitas Secara Lebih Serius

by Anna Rizatil
May 21, 2026
Menggunting dalam Lipatan
SENI

Menggunting dalam Lipatan

by Anna Rizatil
May 16, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Aceh Butuh Tata Kelola, Bukan Sekadar Razia Kesenjangan Regulasi Hotel Syariah dan Jalan Keluarnya

Aceh Butuh Tata Kelola, Bukan Sekadar Razia: Kesenjangan Regulasi Hotel Syariah dan Jalan Keluarnya

June 10, 2026
Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh: Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

June 7, 2026
Asrama Haji Aceh Siap Sambut Kepulangan Jemaah, Kloter Pertama Tiba 15 Juni 2026

Asrama Haji Aceh Siap Sambut Kepulangan Jemaah, Kloter Pertama Tiba 15 Juni 2026

June 15, 2026
Banda Aceh Kota Kolaborasi Menyatukan Nilai Syariah, Inovasi, dan Keberlanjutan untuk Masa Depan

Banda Aceh Kota Kolaborasi: Menyatukan Nilai Syariah, Inovasi, dan Keberlanjutan untuk Masa Depan

June 13, 2026
Dari Meja yang Sama

Ketika Darussalam Kehilangan Keberanian Mencari yang Terbaik

June 13, 2026
Mungkin yang kurang bukan acara Catatan tentang Banda Aceh, ruang perjumpaan, dan hal-hal yang terus dimulai dari awal

Mungkin Yang Kurang Bukan Acara

June 10, 2026
Pelantikan PWNU Aceh 2026-2031 Akan Dihadiri Rais 'Aam dan Ketua Umum PBNU

Pelantikan PWNU Aceh 2026-2031 Akan Dihadiri Rais ‘Aam dan Ketua Umum PBNU

June 9, 2026
Menyelamatkan Masa Depan LKMS: Membangun Kepercayaan dan Menguatkan Ekonomi Umat

Menyelamatkan Masa Depan LKMS: Membangun Kepercayaan dan Menguatkan Ekonomi Umat

June 8, 2026
Mantan Gubernur Aceh Zaini Abdullah Meninggal Dunia, Dishalatkan di Masjid Raya Baiturrahman

Mantan Gubernur Aceh Zaini Abdullah Meninggal Dunia, Dishalatkan di Masjid Raya Baiturrahman

June 15, 2026

EDITOR'S PICK

Ramadhan Bulan Istimewa: Saatnya Tingkatkan Taqwa dan Produktivitas

Recovery Pendidikan Pascabencana Hidrometeorologi Aceh

February 1, 2026
Pj Gubernur Aceh Lantik 3 Pejabat Eselon II, ingatkan pentingnya koordinasi dengan gubernur terpilih

Pj Gubernur Aceh Lantik 3 Pejabat Eselon II, Tekankan Pentingnya Koordinasi dengan Gubernur Terpilih

February 5, 2025
UNISAI Tingkatkan Mutu Jurnal Ilmiah Lewat Workshop

UNISAI Tingkatkan Mutu Jurnal Ilmiah Lewat Workshop

May 20, 2025
Persiraja Lolos ke Babak 8 Besar Liga 2

Persiraja Tetap Serius Jalani Dua Laga Sisa Meski Sudah Lolos Babak 8 Besar

December 30, 2024
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.