BANDA ACEH | SAGOE TV — Tidak ada penandatanganan dokumen. Tidak ada pula seremoni yang biasanya menyertai pertemuan antara komunitas dan pemerintah. Namun selama hampir dua jam, Kamis (25/6/2026), percakapan di Warung Kopi Cut Nun, seberang Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, menyentuh sesuatu yang lebih mendasar: bagaimana membangun ruang yang memungkinkan komunitas, lembaga, pemerintah, pelaku kreatif, dan generasi muda kembali saling terhubung.
Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari berbagai ruang perjumpaan yang tumbuh dalam beberapa bulan terakhir. Mulai dari silaturahmi Alumni Kreatif SMAN 3 Banda Aceh Angkatan 1993, SPS Revival di Sophie’s Sunset Library, hingga majelis gagasan kreatif Irama Aceh PUNGO di Halaman JEDA Rafly Kande.
Jika sebelumnya percakapan lebih banyak berlangsung di antara komunitas dan warga kota, kali ini dialog diperluas dengan melibatkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh sebagai salah satu mitra strategis. Dari pihak Disbudpar Aceh hadir Evi Mayasari, A.K.S., M.Si. (Kepala Bidang Sejarah dan Nilai Budaya), Nurlaila Hamjah, S.Sos., M.M. (Kepala Bidang Bahasa dan Seni), Ismail, S.Pd. (Kepala Bidang Pengembangan Usaha Pariwisata dan Kelembagaan), Cut Rita Mutia, S.Sos., M.M. (Kepala UPTD Taman Seni dan Budaya Aceh), serta sejumlah staf lainnya.
Sementara itu, SPS Revival dan Darud Dunia diwakili Ari J. Palawi, Rudi Asman dari Sanggar Rampoe Banda Aceh, Fachroza dari Komunitas Radio Siaran Kota Banda Aceh, Galuh Tirta Juan Farera, Muhrain dari Jambo Budaya, Mussanurvan dari Rumoh Ummy, Coach Sandy Islamanda, serta Taufik Mroe dan Danil Abdi dari Radio Kontiki Banda Aceh.
Sejak awal, suasana berlangsung cair. Pertemuan ini lebih terasa sebagai ruang berbagi pengalaman dibandingkan audiensi formal. Semua pihak hadir dengan tujuan yang sama: mencari cara agar potensi Aceh dapat tumbuh lebih terhubung dan berkelanjutan.
Dari Kampus ke Kota
Dalam pemaparannya, Ari J. Palawi menjelaskan bahwa SPS Revival dan Darud Dunia tidak lahir dari sebuah proyek besar.
Gagasan ini berangkat dari pengalaman membangun Inkubator Seni Berbasis Riset di Universitas Syiah Kuala. Melalui berbagai pendekatan seperti living lab, digital lab, dokumentasi pengetahuan, dan pemetaan aktivitas seni-budaya, inisiatif tersebut berupaya mempertemukan pelaku kreatif dalam ruang belajar bersama.
Perjalanannya kemudian melampaui kampus. Sanggar, komunitas, media, seniman, akademisi, mahasiswa, hingga pelaku usaha kreatif mulai terhubung dalam percakapan yang sama.
Dari situ muncul satu kesadaran sederhana: Aceh tidak kekurangan talenta.
Seniman ada. Musisi ada. Fotografer, penulis, pegiat komunitas, akademisi, dan generasi muda kreatif juga terus bermunculan.
Yang sering belum tersedia adalah ruang yang memungkinkan mereka saling bertemu, saling belajar, terdokumentasi dengan baik, dan berkembang menjadi kekuatan bersama.
“Masalah kita bukan kekurangan orang hebat. Persoalannya adalah bagaimana orang-orang hebat itu tidak terus bergerak sendiri-sendiri,” menjadi salah satu benang merah yang mengemuka dalam pertemuan tersebut.
Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Acara
Karena itu, SPS Revival tidak diposisikan sebagai sebuah kegiatan semata. Panggung hanyalah alat. Acara hanyalah medium. Yang ingin dibangun adalah ekosistem.
Ekosistem yang memungkinkan perjumpaan melahirkan kepercayaan, kepercayaan melahirkan kolaborasi, kolaborasi menghasilkan karya, dan karya menciptakan nilai sosial maupun ekonomi.
Diskusi berkembang ke berbagai isu. Mulai dari dokumentasi pengetahuan masyarakat, penguatan ruang publik, literasi budaya, peningkatan kapasitas generasi muda, hingga peluang membangun model ekonomi kreatif yang lebih berkelanjutan.
Percakapan pun bergerak pada pertanyaan yang lebih besar. Bagaimana Banda Aceh menjadi kota yang lebih ramah bagi kreativitas? Bagaimana pengetahuan yang lahir dari masyarakat tidak hilang begitu saja? Bagaimana pengalaman komunitas dapat diwariskan kepada generasi berikutnya? Dan bagaimana ruang publik kembali menjadi tempat belajar, berkarya, dan membangun masa depan bersama?
Dari Lamprit ke Masa Depan Kota
Salah satu gagasan yang mendapat perhatian adalah pentingnya menghidupkan kembali ruang-ruang publik sebagai infrastruktur sosial kota.
Dalam konteks ini, kawasan Lamprit dipandang memiliki posisi yang strategis. Bukan semata karena fasilitasnya, tetapi karena selama bertahun-tahun telah menjadi titik temu berbagai kelompok masyarakat.
Di sana hadir pelajar, mahasiswa, komunitas olahraga, seniman, pelaku UMKM, pekerja kreatif, hingga warga kota yang datang tanpa sekat-sekat formal.
Karena itu, SPS Revival Episode 9 yang direncanakan berkolaborasi dengan KARDO National Qualification pada 18 Juli 2026 dipandang lebih dari sekadar kegiatan komunitas.
Kompetisi breakdance, BMX, dan skateboarding yang akan berlangsung di Skatepark Lamprit berpotensi menjadi ruang perjumpaan baru antara olahraga urban, seni, kreativitas, media, dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Informasi yang berkembang menyebutkan bahwa para juara utama nantinya berpeluang melanjutkan kompetisi ke tingkat internasional di Rusia.
Momentum seperti ini menunjukkan bahwa kekuatan terbesar Aceh tidak hanya berada pada sumber daya alamnya, tetapi juga pada kualitas generasi mudanya.
Melalui ruang-ruang kreatif akar rumput, mereka menunjukkan kemampuan untuk menghubungkan pengalaman lokal dengan peluang global tanpa kehilangan identitasnya sebagai orang Aceh.
Dalam diskusi juga mengemuka gagasan pemanfaatan kawasan Taman Ratu Safiatuddin sebagai ruang kreatif yang lebih aktif.
Beberapa ide yang muncul antara lain pengembangan pasar seni, ruang pamer, laboratorium budaya, hingga visi jangka panjang menghadirkan Aceh Cultural Center yang menghubungkan seni, pendidikan, dokumentasi, teknologi, kewirausahaan, dan kebudayaan dalam satu kawasan yang terintegrasi.
Gagasan tersebut masih berada pada tahap awal. Namun yang menarik, ia lahir dari keinginan mengoptimalkan aset dan ruang publik yang telah dimiliki masyarakat Aceh.
Ketika Komunitas dan Pemerintah Duduk di Meja yang Sama
Salah satu hal yang paling terasa dari pertemuan ini adalah kesadaran bahwa pembangunan kebudayaan tidak mungkin berjalan sendiri.
Pemerintah memiliki peran. Komunitas memiliki peran. Kampus, media, dunia usaha, dan generasi muda juga memiliki peran yang sama pentingnya.
Karena itu, dukungan yang diharapkan dari Disbudpar Aceh tidak semata berbentuk program atau anggaran.
Yang tidak kalah penting adalah terbukanya jalur komunikasi, pertukaran informasi, fasilitasi jejaring, dan peluang kolaborasi lintas sektor.
Di sisi lain, komunitas juga menyadari bahwa keberlanjutan tidak bisa terus bergantung pada bantuan.
Yang ingin dibangun adalah kapasitas.
Kemampuan untuk mencipta, berkolaborasi, menghasilkan nilai, dan mengelola masa depan secara lebih mandiri.
Membuka Kemungkinan Baru
Pertemuan sore itu memang tidak menghasilkan keputusan besar. Namun ia membuka sesuatu yang mungkin lebih penting: kemungkinan.
Kemungkinan bahwa ruang-ruang yang selama ini berjalan sendiri dapat mulai terhubung. Kemungkinan bahwa komunitas tidak hanya menjadi pelaksana kegiatan, tetapi juga mitra pembangunan. Kemungkinan bahwa ruang publik kembali berfungsi sebagai tempat belajar dan bertumbuh. Kemungkinan bahwa kebudayaan tidak hanya dipandang sebagai warisan yang dilestarikan, tetapi juga sebagai sumber energi sosial yang terus menggerakkan masyarakat.
Aceh tidak kekurangan orang baik. Tidak kekurangan orang kreatif. Tidak kekurangan orang yang peduli. Yang masih perlu dibangun adalah jembatan agar semua energi itu tidak terus berjalan sendiri-sendiri. Barangkali SPS Revival dan Darud Dunia tidak akan menyelesaikan semuanya.
Namun perubahan besar selalu berawal dari sesuatu yang sederhana: orang-orang yang bersedia duduk bersama, mendengar satu sama lain, lalu mulai mengerjakan apa yang mungkin dilakukan.
Di sebuah warung kopi sederhana di Banda Aceh, percakapan tentang kemungkinan-kemungkinan itu kembali dimulai.[]




















