• Tentang Kami
Thursday, September 24, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

SPS Revival dan Darud Dunia Jajaki Kemitraan Bersama Disbudpar Aceh

SAGOE TV by SAGOE TV
June 26, 2026
in SENI
Reading Time: 4 mins read
A A
0
SPS Revival dan Darud Dunia Jajaki Kemitraan Bersama Disbudpar Aceh
Share on FacebookShare on Twitter

BANDA ACEH | SAGOE TV — Tidak ada penandatanganan dokumen. Tidak ada pula seremoni yang biasanya menyertai pertemuan antara komunitas dan pemerintah. Namun selama hampir dua jam, Kamis (25/6/2026), percakapan di Warung Kopi Cut Nun, seberang Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, menyentuh sesuatu yang lebih mendasar: bagaimana membangun ruang yang memungkinkan komunitas, lembaga, pemerintah, pelaku kreatif, dan generasi muda kembali saling terhubung.

Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari berbagai ruang perjumpaan yang tumbuh dalam beberapa bulan terakhir. Mulai dari silaturahmi Alumni Kreatif SMAN 3 Banda Aceh Angkatan 1993, SPS Revival di Sophie’s Sunset Library, hingga majelis gagasan kreatif Irama Aceh PUNGO di Halaman JEDA Rafly Kande.

BACA JUGA

SPS Revival Perkuat Jejaring Kreatif Aceh, Jajaki Kolaborasi dengan Yayasan AMANAH

Festival Nipah 2026 Digelar di Suak Timah, Angkat Budaya dan Ekonomi Warga

Jika sebelumnya percakapan lebih banyak berlangsung di antara komunitas dan warga kota, kali ini dialog diperluas dengan melibatkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh sebagai salah satu mitra strategis. Dari pihak Disbudpar Aceh hadir Evi Mayasari, A.K.S., M.Si. (Kepala Bidang Sejarah dan Nilai Budaya), Nurlaila Hamjah, S.Sos., M.M. (Kepala Bidang Bahasa dan Seni), Ismail, S.Pd. (Kepala Bidang Pengembangan Usaha Pariwisata dan Kelembagaan), Cut Rita Mutia, S.Sos., M.M. (Kepala UPTD Taman Seni dan Budaya Aceh), serta sejumlah staf lainnya.

Sementara itu, SPS Revival dan Darud Dunia diwakili Ari J. Palawi, Rudi Asman dari Sanggar Rampoe Banda Aceh, Fachroza dari Komunitas Radio Siaran Kota Banda Aceh, Galuh Tirta Juan Farera, Muhrain dari Jambo Budaya, Mussanurvan dari Rumoh Ummy, Coach Sandy Islamanda, serta Taufik Mroe dan Danil Abdi dari Radio Kontiki Banda Aceh.

Sejak awal, suasana berlangsung cair. Pertemuan ini lebih terasa sebagai ruang berbagi pengalaman dibandingkan audiensi formal. Semua pihak hadir dengan tujuan yang sama: mencari cara agar potensi Aceh dapat tumbuh lebih terhubung dan berkelanjutan.

Dari Kampus ke Kota

Dalam pemaparannya, Ari J. Palawi menjelaskan bahwa SPS Revival dan Darud Dunia tidak lahir dari sebuah proyek besar.

Gagasan ini berangkat dari pengalaman membangun Inkubator Seni Berbasis Riset di Universitas Syiah Kuala. Melalui berbagai pendekatan seperti living lab, digital lab, dokumentasi pengetahuan, dan pemetaan aktivitas seni-budaya, inisiatif tersebut berupaya mempertemukan pelaku kreatif dalam ruang belajar bersama.

Perjalanannya kemudian melampaui kampus. Sanggar, komunitas, media, seniman, akademisi, mahasiswa, hingga pelaku usaha kreatif mulai terhubung dalam percakapan yang sama.

Dari situ muncul satu kesadaran sederhana: Aceh tidak kekurangan talenta.

Seniman ada. Musisi ada. Fotografer, penulis, pegiat komunitas, akademisi, dan generasi muda kreatif juga terus bermunculan.

Yang sering belum tersedia adalah ruang yang memungkinkan mereka saling bertemu, saling belajar, terdokumentasi dengan baik, dan berkembang menjadi kekuatan bersama.

“Masalah kita bukan kekurangan orang hebat. Persoalannya adalah bagaimana orang-orang hebat itu tidak terus bergerak sendiri-sendiri,” menjadi salah satu benang merah yang mengemuka dalam pertemuan tersebut.

Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Acara

Karena itu, SPS Revival tidak diposisikan sebagai sebuah kegiatan semata. Panggung hanyalah alat. Acara hanyalah medium. Yang ingin dibangun adalah ekosistem.

Ekosistem yang memungkinkan perjumpaan melahirkan kepercayaan, kepercayaan melahirkan kolaborasi, kolaborasi menghasilkan karya, dan karya menciptakan nilai sosial maupun ekonomi.

Diskusi berkembang ke berbagai isu. Mulai dari dokumentasi pengetahuan masyarakat, penguatan ruang publik, literasi budaya, peningkatan kapasitas generasi muda, hingga peluang membangun model ekonomi kreatif yang lebih berkelanjutan.

Percakapan pun bergerak pada pertanyaan yang lebih besar. Bagaimana Banda Aceh menjadi kota yang lebih ramah bagi kreativitas? Bagaimana pengetahuan yang lahir dari masyarakat tidak hilang begitu saja? Bagaimana pengalaman komunitas dapat diwariskan kepada generasi berikutnya? Dan bagaimana ruang publik kembali menjadi tempat belajar, berkarya, dan membangun masa depan bersama?

Dari Lamprit ke Masa Depan Kota

Salah satu gagasan yang mendapat perhatian adalah pentingnya menghidupkan kembali ruang-ruang publik sebagai infrastruktur sosial kota.

Dalam konteks ini, kawasan Lamprit dipandang memiliki posisi yang strategis. Bukan semata karena fasilitasnya, tetapi karena selama bertahun-tahun telah menjadi titik temu berbagai kelompok masyarakat.

Di sana hadir pelajar, mahasiswa, komunitas olahraga, seniman, pelaku UMKM, pekerja kreatif, hingga warga kota yang datang tanpa sekat-sekat formal.

Karena itu, SPS Revival Episode 9 yang direncanakan berkolaborasi dengan KARDO National Qualification pada 18 Juli 2026 dipandang lebih dari sekadar kegiatan komunitas.

Kompetisi breakdance, BMX, dan skateboarding yang akan berlangsung di Skatepark Lamprit berpotensi menjadi ruang perjumpaan baru antara olahraga urban, seni, kreativitas, media, dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Informasi yang berkembang menyebutkan bahwa para juara utama nantinya berpeluang melanjutkan kompetisi ke tingkat internasional di Rusia.

Momentum seperti ini menunjukkan bahwa kekuatan terbesar Aceh tidak hanya berada pada sumber daya alamnya, tetapi juga pada kualitas generasi mudanya.

Melalui ruang-ruang kreatif akar rumput, mereka menunjukkan kemampuan untuk menghubungkan pengalaman lokal dengan peluang global tanpa kehilangan identitasnya sebagai orang Aceh.

Dalam diskusi juga mengemuka gagasan pemanfaatan kawasan Taman Ratu Safiatuddin sebagai ruang kreatif yang lebih aktif.

Beberapa ide yang muncul antara lain pengembangan pasar seni, ruang pamer, laboratorium budaya, hingga visi jangka panjang menghadirkan Aceh Cultural Center yang menghubungkan seni, pendidikan, dokumentasi, teknologi, kewirausahaan, dan kebudayaan dalam satu kawasan yang terintegrasi.

Gagasan tersebut masih berada pada tahap awal. Namun yang menarik, ia lahir dari keinginan mengoptimalkan aset dan ruang publik yang telah dimiliki masyarakat Aceh.

Ketika Komunitas dan Pemerintah Duduk di Meja yang Sama

Salah satu hal yang paling terasa dari pertemuan ini adalah kesadaran bahwa pembangunan kebudayaan tidak mungkin berjalan sendiri.

Pemerintah memiliki peran. Komunitas memiliki peran. Kampus, media, dunia usaha, dan generasi muda juga memiliki peran yang sama pentingnya.

Karena itu, dukungan yang diharapkan dari Disbudpar Aceh tidak semata berbentuk program atau anggaran.
Yang tidak kalah penting adalah terbukanya jalur komunikasi, pertukaran informasi, fasilitasi jejaring, dan peluang kolaborasi lintas sektor.

Di sisi lain, komunitas juga menyadari bahwa keberlanjutan tidak bisa terus bergantung pada bantuan.
Yang ingin dibangun adalah kapasitas.

Kemampuan untuk mencipta, berkolaborasi, menghasilkan nilai, dan mengelola masa depan secara lebih mandiri.

Membuka Kemungkinan Baru

Pertemuan sore itu memang tidak menghasilkan keputusan besar. Namun ia membuka sesuatu yang mungkin lebih penting: kemungkinan.

Kemungkinan bahwa ruang-ruang yang selama ini berjalan sendiri dapat mulai terhubung. Kemungkinan bahwa komunitas tidak hanya menjadi pelaksana kegiatan, tetapi juga mitra pembangunan. Kemungkinan bahwa ruang publik kembali berfungsi sebagai tempat belajar dan bertumbuh. Kemungkinan bahwa kebudayaan tidak hanya dipandang sebagai warisan yang dilestarikan, tetapi juga sebagai sumber energi sosial yang terus menggerakkan masyarakat.

Aceh tidak kekurangan orang baik. Tidak kekurangan orang kreatif. Tidak kekurangan orang yang peduli. Yang masih perlu dibangun adalah jembatan agar semua energi itu tidak terus berjalan sendiri-sendiri. Barangkali SPS Revival dan Darud Dunia tidak akan menyelesaikan semuanya.

Namun perubahan besar selalu berawal dari sesuatu yang sederhana: orang-orang yang bersedia duduk bersama, mendengar satu sama lain, lalu mulai mengerjakan apa yang mungkin dilakukan.

Di sebuah warung kopi sederhana di Banda Aceh, percakapan tentang kemungkinan-kemungkinan itu kembali dimulai.[]

Tags: AcehBanda AcehDarud DuniaDisbudpar AcehSPS Revival
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

SPS Revival Perkuat Jejaring Kreatif Aceh, Jajaki Kolaborasi dengan Yayasan AMANAH
SENI

SPS Revival Perkuat Jejaring Kreatif Aceh, Jajaki Kolaborasi dengan Yayasan AMANAH

by SAGOE TV
September 22, 2026
Festival Nipah 2026 Digelar di Suak Timah, Angkat Budaya dan Ekonomi Warga
SENI

Festival Nipah 2026 Digelar di Suak Timah, Angkat Budaya dan Ekonomi Warga

by SAGOE TV
September 11, 2026
SPS Revival Memperkuat Praktik Kreatif sebagai Bagian dari Kehidupan Masyarakat
SENI

SPS Revival: Memperkuat Praktik Kreatif sebagai Bagian dari Kehidupan Masyarakat

by SAGOE TV
September 9, 2026
Refleksi Vol. 18 Kru Semangat dan Perjalanan Para Artis Muda
SENI

Refleksi Vol. 18 Kru Semangat dan Perjalanan Para Artis Muda

by SAGOE TV
September 7, 2026
Refleksi SPS Vol. 17 Bijèh & Pertunjukan Musik Para Tamu
SENI

Refleksi SPS Vol. 17 Bijèh & Pertunjukan Musik Para Tamu

by SAGOE TV
September 4, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

UIN Ar-Raniry Kukuhkan 9 Guru Besar, Jumlah Profesor Kini 65 Orang

UIN Ar-Raniry Kukuhkan 9 Guru Besar, Jumlah Profesor Kini 65 Orang

September 23, 2026
3 Santriwati Insan Qurani Bawa Aceh Juara 1 Fahmil Qur’an MTQ Nasional 2026

3 Santriwati Insan Qurani Bawa Aceh Juara 1 Fahmil Qur’an MTQ Nasional 2026

September 23, 2026
Momentum Baru bagi Universitas Syiah Kuala: Menata Kembali Tempat Seni dalam Ekosistem Akademik

Literasi dan Apresiasi Seni: Menghidupkan yang Nyaris Terbiasa Dilupakan

March 27, 2026
150 Peserta Ikuti Bimtek Literasi Informasi di Aceh Singkil, Ini Kemampuan yang Dilatih

150 Peserta Ikuti Bimtek Literasi Informasi di Aceh Singkil, Ini Kemampuan yang Dilatih

September 23, 2026
Ratusan Warga Aceh Besar Antusias Berobat Gigi Gratis di Aksi Kaninus 16 FKG USK

Ratusan Warga Aceh Besar Antusias Berobat Gigi Gratis di Aksi Kaninus 16 FKG USK

September 19, 2026
Aceh dan Krisis Jarak; Ketika Nilai Besar Semakin Jauh dari Kehidupan Sehari-hari

Aceh dan Krisis Jarak; Ketika Nilai Besar Semakin Jauh dari Kehidupan Sehari-hari

September 15, 2026
Sjamsul Kahar Berpulang, Pendiri Serambi Indonesia dan Tokoh Pers Aceh Tutup Usia 80 Tahun

Sjamsul Kahar Berpulang, Pendiri Serambi Indonesia dan Tokoh Pers Aceh Tutup Usia 80 Tahun

September 24, 2026
Kenapa Tol Padang Tiji-Seulimeum Ditutup Sementara Ini Alasan dan Jadwal Dibuka Kembali

Tol Sibanceh 74 Km Segera Tersambung Penuh, Ruas Padang Tiji-Seulimeum Masuk Tahap Akhir

September 17, 2026
Aceh Raih Peringkat Keempat MTQ Nasional 2026, Dek Fadh Beri Bonus Rp200 Juta untuk Kafilah

Aceh Tembus 4 Besar MTQ Nasional 2026, Ini Daftar Lengkap Para Juara

September 23, 2026

EDITOR'S PICK

Gubernur Aceh Muzakir Manaf Perdana Pimpin Upacara HUT RI, Ingatkan Pentingnya Persatuan

Gubernur Aceh Muzakir Manaf Perdana Pimpin Upacara HUT RI, Ingatkan Pentingnya Persatuan

August 17, 2025
Dongeng Kampus dan Kampus Merdeka Nadiem

NKRI Bersyariah, FPI dan Islamisme Palsu

March 24, 2025
ASN Kemenag Aceh Diajak Tanam Satu Pohon di Lahan Wakaf

ASN Kemenag Aceh Diajak Tanam Satu Pohon di Lahan Wakaf

November 9, 2024
Sektor Film, Gim hingga AI Jadi Fokus Kemnaker-Kemenekraf Ciptakan Peluang Kerja

Sektor Film, Gim hingga AI Jadi Fokus Kemnaker-Kemenekraf Ciptakan Peluang Kerja

June 7, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.