Oleh: Ari J. Palawi
Praktisi/Akademisi dan Relawan Penggerak SPS Revival, Aneuk Mukim Kayee Adang Banda Aceh
Setiap Sabtu sore, SPS Revival selalu berakhir dengan pemandangan yang hampir sama. Musik berhenti. Kabel digulung. Peralatan dipindahkan. Lampu dimatikan. Satu per satu orang meninggalkan Skatepark Gerbang Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh.
Namun sesungguhnya, pekerjaan yang paling penting baru dimulai setelah itu.
Bukan lagi menilai apakah acaranya berjalan lancar atau berapa banyak orang yang hadir, melainkan menanyakan satu hal yang lebih mendasar: apa yang benar-benar tersisa setelah sebuah kegiatan selesai?
Pertanyaan ini muncul bukan tanpa alasan. Banyak ruang kreatif lahir dengan semangat yang besar, tetapi tidak sedikit yang berhenti setelah beberapa waktu. Bukan karena kehilangan orang-orang kreatif, melainkan karena setiap kegiatan selalu dimulai dari titik yang sama. Peralatan kembali dipinjam. Dokumentasi tercecer. Pengalaman menguap. Jejaring yang telah terbentuk tidak sempat dirawat. Energi habis untuk mengulang pekerjaan yang sama.
SPS Revival tidak ingin terjebak dalam siklus tersebut.
Karena itu, beberapa bulan terakhir, cara memandang setiap Sabtu sore mulai berubah. Sebuah kegiatan tidak lagi diperlakukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai bagian dari proses yang lebih panjang. Setiap penyelenggaraan harus meninggalkan sesuatu yang membuat penyelenggaraan berikutnya menjadi lebih mudah, lebih baik, dan lebih bermakna.
Yang ingin dikumpulkan bukan hanya foto-foto kegiatan. Tetapi juga pengetahuan. Cara kerja. Dokumentasi yang dapat dipelajari kembali. Arsip digital yang tertata. Data komunitas yang terus berkembang. Peralatan bersama yang dapat digunakan lintas generasi.
Seluruhnya merupakan bagian dari infrastruktur sosial, budaya, dan pengetahuan yang sedang dibangun secara bertahap agar SPS Revival tidak bergantung pada dukungan sesaat, tetapi memiliki fondasi yang semakin kuat dari waktu ke waktu. Arah pengembangan ini juga menjadi dasar penyusunan Master Plan Infrastruktur SPS Revival yang menempatkan dokumentasi, arsip, website, basis data, tata kelola, dan fasilitas bersama sebagai aset publik jangka panjang.
Perubahan cara pandang itu juga mulai memengaruhi bagaimana SPS Revival mengundang keterlibatan masyarakat.
Jika sebelumnya banyak orang mengenal SPS Revival sebagai ruang pertunjukan mingguan, kini ruang tersebut mulai membuka kesempatan yang lebih luas. Bukan hanya bagi mereka yang ingin tampil di atas panggung, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin berkontribusi melalui pengetahuan, dokumentasi, riset, fotografi, film, seni rupa, literasi, lokakarya, Rumah Berkarya (UMKM kreatif), permainan tradisional, pengelolaan kegiatan, maupun berbagai bentuk praktik kreatif lainnya.
Mulai pekan ini, SPS Revival juga membuka Formulir Kontributor Karya Kreatif. Melalui formulir tersebut, para seniman, kreator, komunitas, peneliti, pelajar, mahasiswa, relawan, dan masyarakat umum dapat memperkenalkan karya, gagasan, maupun bentuk kontribusi yang ingin dibagikan pada pertemuan-pertemuan SPS Revival berikutnya. Langkah ini bukan sekadar untuk menyusun jadwal penampil, melainkan membangun basis data kontributor dan memperluas kemungkinan kolaborasi yang dapat tumbuh dari waktu ke waktu.
Dengan demikian, setiap Sabtu tidak lagi hanya menghasilkan sebuah pertunjukan.
Ia juga memperkaya arsip. Memperluas jejaring. Menambah pengetahuan. Menghadirkan kontributor baru. Dan memperkuat fondasi bagi pertemuan-pertemuan berikutnya.
Dari kebutuhan yang sama pula lahir gagasan membangun Dana Abadi Ekosistem Kreatif Aceh (DAEKA). Tujuannya bukan sekadar menghadirkan sumber pembiayaan, tetapi menjaga agar nilai yang telah dihasilkan setiap kegiatan dapat terus dipelihara dan dikembangkan menjadi aset bersama. Dokumentasi tidak berhenti sebagai arsip. Arsip berkembang menjadi pengetahuan. Pengetahuan melahirkan karya. Karya membuka peluang baru. Nilai yang dihasilkan kemudian kembali memperkuat ekosistem.
Barangkali, di situlah letak transisi yang sedang dijalani SPS Revival. Bukan sekadar menyelenggarakan acara setiap Sabtu sore.
Melainkan perlahan membangun sebuah sistem yang memungkinkan kreativitas terus bertumbuh, siapa pun orang yang datang, siapa pun yang berkarya, dan siapa pun yang kelak melanjutkannya.
Sebab panggung memang akan selalu dibongkar pada penghujung hari.
Tetapi jejak yang ditinggalkannya dapat terus hidup, apabila sejak awal ia dipersiapkan bukan sekadar sebagai sebuah kegiatan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan panjang membangun ekosistem kreatif yang berkelanjutan.
Informasi bagi Calon Kontributor Karya Kreatif SPS Revival
SPS Revival membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin menjadi bagian dari ruang perjumpaan kreatif yang diselenggarakan setiap Sabtu sore di Skatepark Gerbang Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh.
Melalui formulir ini, calon kontributor dapat memperkenalkan karya, gagasan, maupun bentuk kontribusi yang ingin dibagikan dalam berbagai bidang seni, budaya, komunitas, literasi, dan industri kreatif.
Formulir pendaftaran dapat diakses melalui: https://forms.gle/aAKdSMNa493Ng63z8




















