BANDA ACEH | SAGOETV – Hujan yang turun sejak sore tidak menghalangi sejumlah orang-orang kreatif Aceh, akademisi, mahasiswa, pekerja media kreatif, pegiat komunitas, dan pelaku budaya berkumpul di Halaman JEDA Rafly Kande, Banda Aceh.
Pertemuan bertajuk Irama Aceh PUNGO ini menjadi ruang dialog lintas generasi untuk membicarakan masa depan Aceh melalui seni, budaya, pendidikan, kreativitas, hingga pembangunan ekonomi.
Berbeda dari forum formal, PUNGO berlangsung dalam suasana terbuka tanpa jarak antara penggagas, sukarelawan dan partisipan. Setiap orang hadir sebagai bagian dari percakapan.
Salah satu isu utama yang muncul adalah keberlanjutan kerja kreatif di Aceh. Partisipan menilai seni dan budaya tidak hanya berkaitan dengan pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang pengetahuan, identitas, dan proses pewarisan nilai antargenerasi.
Pembahasan juga menyoroti pentingnya literasi seni dan budaya. Bukan hanya tentang memahami karya, tetapi juga membaca sejarah, adat, perubahan sosial, serta hubungan kebudayaan dengan kehidupan masyarakat.
Dalam suasana tersebut, Rafly Kande turut menyampaikan refleksi melalui lagu Puleh. Lagu yang dibawakan tanpa konsep panggung khusus itu menjadi bagian dari diskusi mengenai hubungan generasi, pengalaman hidup, dan bagaimana nilai diwariskan melalui karya.
Pembicaraan kemudian berkembang pada pentingnya ruang kreatif di Aceh. Tuanku Radiyan Narukaya, seorang creative producer,observer, dan curator Aceh yang berdomisili di Jakarta, mengangkat pengalaman Skate Park Stage (SPS) sebagai salah satu contoh ruang perjumpaan yang mempertemukan komunitas seni, musik, media, dan anak muda.
Gagasan SPS Revival dan berbagai upaya membangun ruang kolaborasi seperti Darud Dunia juga menjadi bagian dari pembahasan mengenai bagaimana ekosistem kreatif dapat dirawat bersama.
Forum kemudian bergerak pada isu yang lebih luas, yaitu potensi energi Andaman.
Partisipan melihat energi sebagai peluang besar bagi pembangunan Aceh, namun pengalaman sejarah industri energi di Aceh menjadi pengingat bahwa sumber daya alam harus dikelola dengan tata kelola yang kuat dan manfaat yang dirasakan masyarakat.
Dalam diskusi tersebut muncul pandangan bahwa energi dan budaya tidak seharusnya dipertentangkan. Energi dapat menjadi fondasi ekonomi, sementara seni, adat, ilmu pengetahuan, dan kreativitas menjadi penjaga arah pembangunan.
Pertemuan ini kemudian melahirkan gagasan yang dirangkum dalam Manifesto Arah Irama Aceh PUNGO. Tiga prinsip utama yang mengemuka adalah kerja yang artistik, edukatif, dan bernilai ekonomi tinggi. Artistik berarti menjaga kualitas dan kreativitas. Edukatif berarti memperkuat pengetahuan dan cara berpikir. Bernilai ekonomi tinggi berarti menciptakan manfaat yang berkelanjutan, bukan sekadar mengejar hasil sesaat.
Irama Aceh PUNGO tidak membentuk organisasi baru maupun menghasilkan keputusan formal. Namun forum ini menjadi ruang awal untuk mempertemukan berbagai unsur masyarakat dalam membicarakan bagaimana Aceh menghadapi masa depannya.
Sebab tantangan ke depan bukan hanya tentang seberapa besar sumber daya yang dimiliki Aceh, tetapi bagaimana generasi Aceh mampu mengelola, menjaga, dan mengarahkannya untuk kepentingan bersama.[]




















