BANDA ACEH | SAGOE TV – MTsN 2 Banda Aceh kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya literasi dengan meluncurkan tujuh buku karya siswa dan guru. Terdiri atas lima buku karya siswa dan dua buku karya guru, peluncuran ini menjadi bukti bahwa madrasah tidak hanya berfokus melahirkan generasi yang unggul dalam bidang akademik, tetapi juga mampu mencetak penulis-penulis muda yang kreatif dan produktif.
Capaian tersebut melanjutkan keberhasilan tahun sebelumnya. Pada 2025 lalu, MTsN 2 Banda Aceh berhasil mendampingi para siswanya menerbitkan delapan judul buku. Konsistensi ini menjadikan madrasah tersebut sebagai salah satu sekolah yang serius mengembangkan ekosistem literasi di Aceh.
Ketua panitia, Teuku Rizal Fahmi, M.Pd, mengatakan bahwa kemampuan menulis merupakan salah satu kompetensi yang sangat dibutuhkan di era digital. Karena itu, sekolah berupaya memberikan ruang kepada siswa untuk menuangkan gagasan, imajinasi, dan pengalaman mereka dalam bentuk karya yang dapat dibaca masyarakat.
“Kemampuan menulis adalah kompetensi penting di era digital. Alhamdulillah, selama dua tahun terakhir kami mampu mendampingi siswa kami menghasilkan buku. Capaian ini tentu tidak terlepas dari dukungan Kepala Madrasah, Kementerian Agama Kota Banda Aceh, Universitas Syiah Kuala, serta Bandar Publishing yang terus membersamai proses ini hinga penerbitan bukunya,” ujar Teuku Rizal Fahmi, Jumat, 7 Agustus 2026.
Menurutnya, menerbitkan buku sejak usia sekolah bukan hanya tentang menghasilkan sebuah karya, tetapi juga membangun rasa percaya diri, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan keberanian menyampaikan gagasan kepada publik.
Peluncuran buku tersebut dirangkaikan dengan bedah buku yang menghadirkan Prof. Dr. Sulaiman Tripa dari Universitas Syiah Kuala dan Dr. Mukhlisuddin Ilyas, M.Pd, Ketua IKAPI Aceh, sebagai pembedah.
Plt Kepala MTsN 2 Banda Aceh, Erma Suryani, M.Pd, menyampaikan apresiasi kepada seluruh siswa dan guru yang telah berhasil menerbitkan karya mereka.
“Kami sangat bangga karena selama dua tahun berturut-turut siswa MTsN 2 Banda Aceh mampu melahirkan buku-buku fiksi, komik, cerita pendek, hingga karya inspiratif lainnya. Ini merupakan pencapaian luar biasa yang harus terus dijaga. Kami berharap tahun depan semakin banyak siswa yang berani menulis dan menerbitkan buku,” ujarnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Sariati, S.E., perwakilan Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Banda Aceh.
Sementara itu, Ketua IKAPI Aceh Dr. Mukhlisuddin Ilyas menilai gerakan literasi yang dilakukan MTsN 2 Banda Aceh merupakan contoh baik yang patut ditiru sekolah dan madrasah lain di Aceh.
Menurutnya, budaya menulis harus mulai ditanamkan sejak usia sekolah agar lahir generasi yang tidak hanya gemar membaca, tetapi juga mampu menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Menerbitkan buku di usia sekolah adalah investasi intelektual jangka panjang. Anak-anak ini sedang belajar berpikir sistematis, menyampaikan gagasan, dan meninggalkan jejak pengetahuan. Mereka bukan sekadar siswa, tetapi calon penulis, akademisi, pemimpin, dan penggerak perubahan di masa depan,” ujarnya.
Pandangan senada disampaikan Prof. Dr. Sulaiman Tripa. Ia menekankan bahwa setiap buku merupakan warisan ilmu yang akan terus hidup melampaui usia penulisnya.
“Kita berharap tradisi menulis terus tumbuh di sekolah-sekolah. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga membentuk karakter, nalar kritis, serta kemampuan menghadapi tantangan zaman,” katanya.
Adapun tujuh buku yang diluncurkan dalam kegiatan yang digelar pada Selasa, 4 Agustus 2026, adalah:
- Harsa – Putri Prameswari
- Kenzo – Mulizar
- Kucing yang Berbicara dengan Bintang – Almira Kayana
- Bangkit dari Kehancuran – Tania
- Bagaimana Cintanya Ibu – Anisah Sabirah
- Duhai Allahku – Olivia Phonna (Guru)
- Literasi Moderasi Beragama – Fauziah (Guru)
Program literasi MTsN 2 Banda Aceh menunjukkan bahwa dengan pendampingan yang tepat, kolaborasi antarlembaga, dan komitmen yang kuat, sekolah mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga penulis. Gerakan ini diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak sekolah dan madrasah di Aceh untuk membangun budaya literasi sebagai fondasi lahirnya generasi yang cerdas, kreatif, dan berkarakter.[]




















