• Tentang Kami
Thursday, April 30, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Bencana yang Berulang: Saatnya Aceh dan Sumatra Memutus Lingkaran Lama

SAGOE TV by SAGOE TV
December 3, 2025
in BENCANA SUMATERA 2025, Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Bencana yang Berulang Saatnya Aceh dan Sumatra Memutus Lingkaran Lama

Bencana banjir dan longsor di Aceh akhir November 2025. Foto: dok. Adi G

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Ari J. Palawi
Penyintas Tsunami Aceh 2004

Banjir bandang dan longsor besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada penghujung 2025 seakan membuka kembali bab lama yang belum pernah benar-benar kita selesaikan. Dalam hitungan hari, desa-desa terendam, jembatan terputus, rumah hanyut, dan ratusan nyawa melayang. Ribuan keluarga kini tinggal di tenda darurat, menunggu cuaca membaik, sembari bertanya-tanya: mengapa ini terus terjadi?

BACA JUGA

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh?

Ini bukan sekadar karena hujan ekstrem. Ini soal bagaimana kita memperlakukan tanah ini, hutan ini, sungai ini, dan ingatan kita sendiri. Bencana kali ini menunjukkan bahwa persoalan kita bukan hanya alam yang berubah, tetapi juga cara kita memahami dan merawat ruang hidup.

Dua Puluh Tahun Setelah Tsunami—Pelajaran Itu Masih Tertinggal
Sebagai penyintas tsunami 2004, saya merasakan langsung bagaimana suara gemuruh laut bisa mengubah seluruh hidup dalam sekejap. Pengalaman itu saya tulis dalam “The 2004 Tsunami: A Survivor’s Story”—sebuah pengingat bahwa bencana tak hanya merobohkan bangunan, tapi juga mengguncang rasa aman dan arah hidup.
Tsunami 2004 memberi kita pelajaran besar:
• bahwa manusia dan alam harus hidup berdampingan,
• bahwa solidaritas dan meuseuraya (gotong-royong) menyelamatkan lebih cepat daripada alat berat,
• bahwa memori kolektif adalah benteng pertama sebelum sirene peringatan dini berbunyi.

Namun kini, dua puluh tahun kemudian, ketika banjir dan longsor kembali menghantam Sumatra, kita melihat bahwa pelajaran itu belum menjadi bagian dari cara kita merancang pemukiman, membangun kota, atau mendidik generasi baru.

Terkadang, bencana bukan datang karena kita tidak tahu — tetapi karena kita lupa.

Baca Juga:  Ratusan Taller di Aceh Peringatan Hari Talasemia Sedunia 2025

Dua Persoalan Besar yang Muncul Bersamaan
1. Ruang Hidup Kita Terlalu Rapuh
Hutan digunduli, lereng curam dihuni, dan sungai diuruk demi lahan cepat guna. Banyak perumahan tumbuh di area yang bahkan oleh tanahnya sendiri tidak diizinkan untuk ditempati.

Ketika hujan ekstrem datang, tanah yang seharusnya menahan air justru ikut turun. Sungai yang dahulu lega berubah sempit. Dan air, seperti manusia yang kehilangan jalan pulang, mencari jalannya sendiri—menghancurkan apa pun yang dilewatinya.

2. Ingatan Kita Terkikis Pelan-Pelan
Generasi pasca-2005—yang kini sudah remaja dan dewasa—tidak mengalami langsung tsunami. Tanpa narasi yang kuat, tanpa pendidikan bencana yang memadai, tanpa warisan cerita tentang bagaimana alam bergerak dan bagaimana manusia seharusnya bersiap, kewaspadaan pun perlahan memudar.

Kita tidak bisa berharap masyarakat siap menghadapi bencana, jika pelajarannya tidak pernah sungguh-sungguh diwariskan.

Dari Luka ke Harapan: Apa yang Sebenarnya Bisa Kita Lakukan?
Peristiwa 2004 dan 2025 memberi kita satu pesan penting: kita tidak boleh memisahkan bencana dari cara kita hidup.

Jika ingin benar-benar berubah, ada tiga hal yang perlu kita bangun bersama:
1. Menghidupkan Kembali Memori sebagai Penjaga Masa Depan
• Memori bencana bukan untuk ditakuti—tetapi untuk dijadikan kompas.
• Cerita penyintas harus direkam dan dibagikan.
• Museum dan monumen harus menjadi ruang belajar, bukan tempat foto saja.
• Sekolah dan keluarga harus membicarakan bencana, bukan sekadar saat terjadi.
• Media lokal dan seniman harus terus menuturkan narasi yang memperkuat kesadaran risiko.

Memori adalah bentuk kesiapsiagaan yang paling jujur.

2. Membangun Tata Ruang yang Menghargai Alam dan Manusia
• Kita perlu pembangunan yang mengutamakan keselamatan:
• menghentikan pembangunan di zona rawan longsor,
• memulihkan hutan yang rusak,
• memperkuat drainase,
• merancang kota dan desa dengan peta risiko yang jelas,
• memastikan izin pembangunan tidak sekadar formalitas.

Baca Juga:  15 Santri Aceh Besar Lolos Seleksi Program Beasiswa Berprestasi Kemenag RI

Pembangunan yang bijak tidak hanya memikirkan hari ini, tetapi masa depan anak-anak kita.

3. Memperkuat Solidaritas dan Modal Sosial
Pada 2004, kami selamat karena saling menyelamatkan.
Pada 2025 pun, banyak nyawa tertolong karena gerak cepat warga.

Modal sosial ini perlu terus dirawat:
• komunitas harus dilibatkan dalam simulasi dan pendidikan bencana,
• lembaga adat dan tokoh lokal harus diberi ruang memimpin,
• bantuan dan pemulihan harus adil, transparan, dan tepat sasaran,
• relawan, pemuda, dan perempuan perlu diberdayakan dalam seluruh fase kebencanaan.

Ketangguhan bukan hanya soal struktur beton, tetapi tentang manusia yang saling menjaga.

Kenapa Kita Harus Bergerak Sekarang
Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk mengingatkan: kita tidak boleh terus menunggu bencana datang untuk belajar.

Banjir dan longsor 2025 adalah panggilan untuk berubah:
• bagi pemerintah: agar kebijakan lebih berpihak pada keselamatan dan keberlanjutan,
• bagi sekolah dan komunitas: agar pendidikan risiko menjadi budaya sehari-hari,
• bagi media dan pelaku seni: agar memori kolektif terus terjaga,
• bagi generasi muda: agar mereka menjadi pewaris yang lebih siap dan lebih bijak.

Bencana mungkin tidak bisa kita hentikan sepenuhnya, tetapi cara kita hidup bisa membuat dampaknya jauh lebih kecil.

Kini, saatnya Aceh dan Sumatra memutus lingkaran lama ini—dengan memori yang hidup, ruang hidup yang dijaga, dan komunitas yang bergerak bersama.

Karena tanah kita tidak hanya butuh pembangunan, tetapi juga kebijaksanaan. []

Tags: acehBanjirbencanaBencana Sumatera 2025LongsorSumatera
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?
Opini

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

by Anna Rizatil
April 29, 2026
Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh
Opini

Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh?

by SAGOE TV
April 26, 2026
Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan
Opini

Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan

by Anna Rizatil
April 25, 2026
Mahasiswa Baru dan Tupoksi yang Terlupakan
Opini

Mahasiswa Baru dan Tupoksi yang Terlupakan

by Anna Rizatil
April 20, 2026
Berhitung Ulang Manuver Prabowo di Kancah Global
Opini

Berhitung Ulang Manuver Prabowo di Kancah Global

by Anna Rizatil
April 17, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan

Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan

April 25, 2026
Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

April 29, 2026
Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh

Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh?

April 26, 2026
Pemerintah Aceh Gelar Pasar Murah di Enam Kabupaten Mulai 27 April

Pemerintah Aceh Gelar Pasar Murah di Enam Kabupaten Mulai 27 April

April 24, 2026
Bunyi Sederhana, Kerja yang Tidak Sederhana

Bunyi Sederhana, Kerja yang Tidak Sederhana

April 25, 2026
Mualem Pimpin Rapat Validasi Data JKA, Fokus Perbaiki Akses Layanan Kesehatan Aceh

Mualem Pimpin Rapat Validasi Data JKA, Fokus Perbaiki Akses Layanan Kesehatan Aceh

April 24, 2026
Festival Sinema Australia Indonesia 2026 Tayang di 11 Kota Mulai 8 Mei

Festival Sinema Australia Indonesia 2026 Tayang di 11 Kota Mulai 8 Mei

April 25, 2026
94 Anak TK/PAUD Ramaikan Lomba Mewarnai di MIN 29 Aceh Besar, Ajang Kreativitas Sejak Dini

94 Anak TK/PAUD Ramaikan Lomba Mewarnai di MIN 29 Aceh Besar, Ajang Kreativitas Sejak Dini

April 29, 2026
Bagaimana KUA Darul Makmur Akhirnya Berdiri Kisah Yusni dan Peran Warga yang Menginspirasi

Bagaimana KUA Darul Makmur Akhirnya Berdiri? Kisah Yusni dan Peran Warga yang Menginspirasi

April 24, 2026

EDITOR'S PICK

sulaiman tripa

Cerita tentang Pasal

March 20, 2025
Perkuat Komitmen Pendidikan Ramah Anak, Bunda Inklusi Kota Banda Aceh Kunjungi MIN 9

Perkuat Komitmen Pendidikan Ramah Anak, Bunda Inklusi Kota Banda Aceh Kunjungi MIN 9

February 2, 2025
Karisma Event Nusantara 2025, Aceh Sumbang Dua Event Unggulan

Karisma Event Nusantara 2025, Aceh Sumbang Dua Event Unggulan

February 24, 2025
Musriadi Aswad

Wakil Ketua DPRK Banda Aceh Dorong Pemerintah Tuntaskan Flyover Pango Raya

October 9, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.