• Tentang Kami
Friday, September 4, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Bukan Tentang SK

SAGOE TV by SAGOE TV
June 6, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Bukan Tentang SK
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi

Beberapa hari terakhir saya membaca ulang banyak percakapan yang muncul setelah sebuah ikhtiar yang kami jalani bersama akhirnya berhenti pada titik yang tidak pernah benar-benar kami rencanakan.

Menariknya, hampir tidak ada yang bertanya tentang struktur.
Tidak banyak yang memperdebatkan bentuk organisasi.
Tidak pula banyak yang membicarakan soal kedudukan, nomenklatur, atau status kelembagaan.

BACA JUGA

Sekolah Gratis, Bersekolah Tidak: Refleksi Hardikda 2026

Setelah Dislokasi Epistemik: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK?

Yang muncul justru cerita-cerita manusia.

Ada yang merasa menemukan teman baru.
Ada yang merasa mendapatkan energi baru.
Ada yang mengenang masa kecilnya.
Ada yang teringat orang tuanya yang pernah hidup dalam dunia seni.
Ada yang bercerita bagaimana melukis pernah menolongnya melewati masa-masa sulit.

Ada yang mengatakan bahwa yang terpenting bukanlah SK, melainkan kesempatan untuk bertemu orang-orang baik dan kreatif yang membuat hidup terasa lebih hidup.

Di situlah saya mulai menyadari sesuatu.

Mungkin selama ini kita terlalu sering mengira bahwa yang sedang dibangun adalah sebuah organisasi. Sementara, yang sesungguhnya tumbuh adalah sesuatu yang jauh lebih sederhana sekaligus jauh lebih penting: rasa terhubung.

Sebab jika dipikir-pikir, Aceh sebenarnya tidak kekurangan orang-orang yang bekerja dengan tulus di bidangnya masing-masing.

Ada seniman.
Ada musisi.
Ada penulis.
Ada fotografer.
Ada videografer.
Ada skater.
Ada pegiat budaya.
Ada aktivis lingkungan.
Ada pelaku industri rumah kreatif.
Ada pekerja kemanusiaan.
Ada anak-anak muda yang terus mencoba berkarya dengan segala keterbatasannya.

Mereka ada.
Mereka nyata.
Mereka bekerja setiap hari.
Tetapi sering kali berjalan sendiri-sendiri.

Sesekali bertemu.
Sesekali berkolaborasi.

Lalu kembali ke lingkarannya masing-masing.

Akibatnya, banyak energi baik yang sebenarnya besar menjadi cepat habis karena harus terus-menerus memikul beban yang sama secara sendiri.

Mencari ruang.
Mencari dukungan.
Mencari teman seperjalanan.
Mencari cara agar karya dan gagasan dapat bertahan lebih lama daripada semangat sesaat.

Karena itu, semakin hari saya justru semakin yakin bahwa yang paling dibutuhkan bukanlah bangunan kelembagaan yang megah.

Yang lebih mendesak adalah memperbanyak ruang perjumpaan yang jujur.
Ruang di mana orang bisa datang tanpa harus menjadi siapa-siapa.

Tanpa harus membawa jabatan.
Tanpa harus mewakili institusi.
Tanpa harus sedang mengajukan proposal apa pun.

Cukup datang.
Berkenalan.
Bercerita.
Berkarya.
Bermain musik.
Membaca puisi.
Melukis.
Membuat film.
Berdiskusi.

Atau sekadar duduk mendengarkan.
Karena dari perjumpaan-perjumpaan seperti itulah biasanya sesuatu yang lebih besar lahir.

Bukan karena direncanakan secara sempurna.
Tetapi karena manusia menemukan manusia lainnya.

Beberapa hari terakhir, misalnya, muncul obrolan spontan dengan teman-teman skater, pegiat hiphop, pekerja kreatif, dan aktivis budaya yang selama ini bergerak di ruangnya masing-masing.

Tidak ada rapat resmi.
Tidak ada struktur.
Tidak ada target besar.
Tetapi justru di sana terasa sesuatu yang segar.

Ada kemungkinan-kemungkinan baru.
Ada kebebasan untuk mencoba.
Ada ruang yang terasa lebih cair.

Lebih organik.
Lebih dekat dengan kenyataan hidup sehari-hari.

Dan mungkin memang begitulah cara banyak hal baik tumbuh.
Tidak selalu dari meja rapat.

Kadang dari trotoar.
Kadang dari taman kota.
Kadang dari skate park.
Kadang dari secangkir kopi.
Kadang dari percakapan yang tidak direncanakan.

Saya juga sampai pada satu kesimpulan yang mungkin sederhana.

Tidak semua hal harus diperjuangkan melalui jalur yang sama.
Ada gagasan yang memang lebih sehat ketika tumbuh dari bawah.

Dari kebutuhan nyata.
Dari hubungan antarmanusia.
Dari kepercayaan yang dibangun perlahan.

Bukan dari keputusan administratif.
Karena keputusan dapat berubah.
Kebijakan dapat berganti.
Struktur dapat dibentuk lalu dibubarkan.

Tetapi persahabatan, pengetahuan, pengalaman, dan semangat berkarya memiliki cara hidupnya sendiri.
Ia sering kali menemukan jalan bahkan ketika tidak ada yang menyediakannya.
Mungkin karena itu saya tidak melihat beberapa bulan terakhir sebagai sesuatu yang gagal.

Justru sebaliknya.

Saya melihatnya sebagai cara hidup memperlihatkan sesuatu yang sebelumnya tidak terlalu terlihat.

Bahwa yang paling berharga ternyata bukan tujuan akhirnya.
Melainkan orang-orang yang ditemukan sepanjang perjalanan.

Bahwa yang paling penting bukanlah nama sebuah wadah.
Melainkan kehidupan yang tumbuh di dalamnya.

Dan bahwa kreativitas, seni, pengetahuan, olahraga, budaya, serta berbagai bentuk ekspresi manusia lainnya sesungguhnya selalu mencari hal yang sama: ruang untuk bertemu.
Ruang untuk tumbuh.
Ruang untuk merasa bahwa apa yang mereka kerjakan tidak sendirian.

Karena itu, mungkin untuk sementara kita tidak perlu terlalu sibuk memikirkan bentuk akhirnya.
Tidak perlu tergesa-gesa membangun sesuatu yang besar.

Tidak perlu pula merasa harus segera mengganti apa yang telah berakhir.
Mungkin cukup dengan menjaga agar perjumpaan tetap terjadi.

Agar percakapan tetap hidup.
Agar karya tetap lahir.
Agar semakin banyak orang menemukan alasan untuk kembali datang.
Sisanya, biarlah waktu yang bekerja.

Sebab sering kali masa depan tidak lahir dari rencana yang paling sempurna.
Ia lahir dari orang-orang yang tetap memilih hadir, bahkan ketika tidak ada lagi alasan formal yang mengharuskan mereka hadir.

Dan bagi saya, itu lebih dari cukup untuk membuat optimisme tetap menyala.

Dari Banda Aceh.

Untuk siapa saja yang masih percaya bahwa perjumpaan adalah awal dari banyak kemungkinan baik.

Tags: Ari J. PalawiopiniSeni
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Sekolah Gratis, Bersekolah Tidak: Refleksi Hardikda 2026
Opini

Sekolah Gratis, Bersekolah Tidak: Refleksi Hardikda 2026

by SAGOE TV
September 2, 2026
Setelah Dislokasi Epistemik Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK
Opini

Setelah Dislokasi Epistemik: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK?

by SAGOE TV
August 31, 2026
Dek Din Syamsuddin
Opini

Menyoroti Site Plan PSN yang Mengabaikan Aspel Sosial Masyarakat di Kawasan Kopelma Darussalam Banda Aceh

by SAGOE TV
August 23, 2026
Remaja Aceh di Persimpangan NKRI, Merdeka, dan Ruang Kosong Tokoh Idola_Irwandi
Opini

Remaja Aceh di Persimpangan: NKRI, “Merdeka”, dan Ruang Kosong Tokoh Idola

by SAGOE TV
August 21, 2026
Dek Din Syamsuddin
Opini

Menjaga Jiwa Kota: Dilema Tata Ruang Banda Aceh, Gampong Kopelma Darussalam, dan Bayang-Bayang Proyek Strategis Nasional

by SAGOE TV
August 20, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

August 28, 2026
Kabar Baru untuk Calon Dokter di Aceh, UIN Ar-Raniry Resmi Buka Prodi Kedokteran

Kabar Baru untuk Calon Dokter di Aceh, UIN Ar-Raniry Resmi Buka Prodi Kedokteran

September 2, 2026
Bank Aceh Syariah Rombak Direksi, Syahrul Diberhentikan dari Jabatan Direktur Operasional

Bank Aceh Syariah Rombak Direksi, Syahrul Diberhentikan dari Jabatan Direktur Operasional

September 3, 2026
Haji Uma Minta RUU Migas Tak Geser Kewenangan Aceh dalam Pengelolaan Migas

Haji Uma Minta RUU Migas Tak Geser Kewenangan Aceh dalam Pengelolaan Migas

August 31, 2026
9 Ulama Terpilih Jadi AHWA Muktamar ke-35 NU, Ada Rais Syuriyah PWNU Aceh

9 Ulama Terpilih Jadi AHWA Muktamar ke-35 NU, Ada Rais Syuriyah PWNU Aceh

August 31, 2026
Merdeka Versi Wirausaha Muda, Hubbika House Creative Ajak Pelajar Banda Aceh Belajar Bisnis

Merdeka Versi Wirausaha Muda, Hubbika House Creative Ajak Pelajar Banda Aceh Belajar Bisnis

August 31, 2026
SPS Revival Usung Meutaloe Ketika Bunyi, Manusia, dan Gagasan Saling Menaut

SPS Revival Diversifikasi Program lewat SPS Talk #1: Membaca Seni di Ruang Publik

August 31, 2026
Bahasa Aceh Terancam Kehilangan Ruang di Kalangan Generasi Muda, Pemerintah Aceh Perkuat Pelestarian

Bahasa Aceh Terancam Kehilangan Ruang di Kalangan Generasi Muda, Pemerintah Aceh Perkuat Pelestarian

August 12, 2026
Setelah Dislokasi Epistemik Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK

Setelah Dislokasi Epistemik: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK?

August 31, 2026

EDITOR'S PICK

Belajar Strategi Lobi dari Papua

Belajar Strategi Lobi dari Papua

March 10, 2025
Pengajuan Bantuan untuk Masjid dan Musala 2025 Dibuka, Begini Caranya

Pengajuan Bantuan untuk Masjid dan Musala 2025 Dibuka, Begini Caranya

March 7, 2025

Muswil III DMI Aceh Bahas Peran Masjid dan Perbankan Syariah

January 13, 2025
Gubernur Aceh Terbitkan SK Reparasi 557 Korban Pelanggaran HAM, KKR Minta Tim PPHAM Diaktifkan Kembali

Gubernur Aceh Terbitkan SK Reparasi 557 Korban Pelanggaran HAM, KKR Minta Tim PPHAM Diaktifkan Kembali

July 19, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.