• Tentang Kami
Thursday, August 20, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Menjaga Jiwa Kota: Dilema Tata Ruang Banda Aceh, Gampong Kopelma Darussalam, dan Bayang-Bayang Proyek Strategis Nasional

SAGOE TV by SAGOE TV
August 20, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Menjaga Jiwa Kota Dilema Tata Ruang Banda Aceh, Gampong Kopelma Darussalam, dan Bayang-Bayang Proyek Strategis Nasional_Dek Din Syamsuddin

Dek Din Syamsuddin. Foto: Dokpri

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dek Din Syamsuddin
Pemerhati Sosial

 

BACA JUGA

Sesudah Damai, Apa Lagi? Pelajaran Ibnu Khaldun untuk Aceh

Glorifikasi Munafik Ini Dibangun dengan Sengaja: Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan

Banda Aceh bukan sekadar ibu kota provinsi

Kota ini adalah sebuah monumen hidup yang menyimpan lapisan sejarah, peradaban, dan memori kolektif masyarakat Aceh. Sebagai kota tua yang pernah menjadi pusat imperium Islam serta saksi bisu berbagai peristiwa besar mulai dari kejayaan masa lalu hingga musibah gempa dan tsunami 2004 setiap jengkal tanah di Banda Aceh memiliki nilai kultural yang mendalam.

Namun, dinamika pembangunan modern sering kali menghadirkan dilema pelik. Di satu sisi, negara membutuhkan percepatan infrastruktur melalui Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, proses tersebut kerap berbenturan dengan perlindungan situs cagar budaya dan ruang hidup masyarakat adat, seperti yang terjadi dalam polemik penataan ruang yang melibatkan wilayah Gampong Kopelma Darussalam.

Kopelma Darussalam: Lebih dari Sekadar Ruang Akademik

Gampong Kota Pelajar Mahasiswa (Kopelma) Darussalam memiliki tempat istimewa dalam sejarah modern Aceh. Kawasan ini didirikan atas gagasan visioner para founding fathers bangsa dan tokoh Aceh sebagai simbol kebangkitan intelektual, pusat pendidikan tinggi (rumah bagi Universitas Syiah Kuala dan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry), serta pusat peradaban kaum terpelajar.

Secara historis dan kultural, kawasan ini terintegrasi erat dengan identitas Banda Aceh sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman dan keilmuan. Ketika wilayah yang sarat dengan nilai sejarah dan karakter kultural ini terancam status pelindungnya atau bahkan dihilangkan dari peta situs cagar budaya demi mengakomodasi PSN maka yang dikorbankan bukan sekadar batas administratif, melainkan akar identitas kultural kota itu sendiri.

Dilema Pembangunan: Antara PSN dan Pelestarian Cagar Budaya

Proyek Strategis Nasional dirancang untuk memberikan dampak ekonomi yang luas secara makro. Akan tetapi, pendekatan pembangunan yang bersifat top-down sering kali mengabaikan kearifan lokal dan regulasi pelestarian cagar budaya yang telah ditetapkan melalui undang-undang.

Penghilangan atau pergeseran status Gampong Kopelma Darussalam dari situs cagar budaya demi pembangunan infrastruktur menimbulkan beberapa persoalan mendasar:

Ancaman terhadap Memori Kolektif: Cagar budaya berfungsi sebagai jangkar sejarah. Ketika situs-situs penting dikorbankan untuk beton dan aspal, generasi mendatang kehilangan hubungan fisik dengan sejarah masa lalu mereka.

Keterlibatan Publik yang Minim: Perubahan tata ruang yang drastis sering kali minim partisipasi bermakna (meaningful participation) dari masyarakat lokal, akademisi, dan tetua adat yang paling memahami nilai historis kawasan tersebut.

Erosi Karakter Khas Kota: Banda Aceh memiliki keunikan urban yang lahir dari perpaduan nilai sejarah, religiusitas, dan tradisi lokal. Pembangunan yang mengabaikan aspek penataan ruang berbasis warisan budaya (heritage-based spatial planning) berisiko mengubah Banda Aceh menjadi kota modern generik yang kehilangan jiwanya.

Menuju Solusi Berkelanjutan: Pembangunan yang Berakar pada Budaya

Pembangunan dan pelestarian bukanlah dua hal yang harus saling meniadakan. Prinsip pembangunan berkelanjutan justru menuntut adanya keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian identitas budaya.

Pemerintah pusat maupun daerah perlu mengambil langkah-langkah korektif, di antaranya:

  • Evaluasi Tata Ruang Partisipatif: Melibatkan para ahli sejarah, akademisi Darussalam, dan tokoh masyarakat dalam merumuskan ulang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) agar selaras dengan status historis kawasan.
  • Mitigasi Dampak Kultural: Jika PSN harus berjalan di sekitar wilayah tersebut, harus ada desain rekayasa tata ruang yang ramah warisan budaya (heritage-friendly design) tanpa harus menghapus status atau esensi cagar budayanya.
  • Penguatan Regulasi Lokal: Menegakkan aturan Qanun Aceh tentang Rencana Tata Ruang Wilayah dan cagar budaya sebagai benteng perlindungan hukum bagi identitas daerah.

Penutup

Tata ruang Kota Banda Aceh bukan sekadar urusan zonasi ekonomi dan efisiensi infrastruktur. Ia adalah cerminan dari martabat, sejarah, dan jati diri masyarakatnya. Menghilangkan Gampong Kopelma Darussalam dari status cagar budaya demi ambisi pembangunan sesaat sama artinya dengan merobek halaman penting dari buku sejarah Aceh.

Sudah saatnya para pengambil kebijakan mendengar aspirasi akar rumput, menempatkan warisan budaya sebagai aset strategis non-material, dan membuktikan bahwa kemajuan zaman dapat berjalan seiring dengan penghormatan terhadap marwah sejarah bangsa.

Tags: Banda AcehDarussalamGampongKopelma DarussalamKotaopiniProyek Strategis NasionalPSNTata Ruang
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Sesudah Damai, Apa Lagi Pelajaran Ibnu Khaldun untuk Aceh_Muhammad Akmal
Opini

Sesudah Damai, Apa Lagi? Pelajaran Ibnu Khaldun untuk Aceh

by SAGOE TV
August 18, 2026
21 Tahun Damai Refleksi dan Koreksi untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Opini

Glorifikasi Munafik Ini Dibangun dengan Sengaja: Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan

by SAGOE TV
August 17, 2026
Rita Khathir
Opini

Arti Kemerdekaan

by SAGOE TV
August 18, 2026
Ari J. Palawi Praktisi dan Akademisi Seni, Aneuk Mukim Kayee Adang, Banda Aceh
Opini

Setelah Damai, Siapa yang Membentuk Kita?

by SAGOE TV
August 17, 2026
Siapa yang Kenyang, Siapa yang Masih Lapar? Refleksi 21 Tahun Perdamaian Aceh
Opini

Siapa yang Kenyang, Siapa yang Masih Lapar? Refleksi 21 Tahun Perdamaian Aceh

by SAGOE TV
August 15, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Cek Kesehatan Gratis Andalan Menjaga Raga

Cek Kesehatan Gratis Andalan Menjaga Raga

August 17, 2026
21 Tahun Damai Refleksi dan Koreksi untuk Masa Depan yang Lebih Baik

21 Tahun Damai: Refleksi dan Koreksi untuk Masa Depan yang Lebih Baik

August 15, 2026
Rita Khathir

Arti Kemerdekaan

August 18, 2026
Sesudah Damai, Apa Lagi Pelajaran Ibnu Khaldun untuk Aceh_Muhammad Akmal

Sesudah Damai, Apa Lagi? Pelajaran Ibnu Khaldun untuk Aceh

August 18, 2026
21 Tahun Damai Refleksi dan Koreksi untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Glorifikasi Munafik Ini Dibangun dengan Sengaja: Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan

August 17, 2026
Ari J. Palawi Praktisi dan Akademisi Seni, Aneuk Mukim Kayee Adang, Banda Aceh

Setelah Damai, Siapa yang Membentuk Kita?

August 17, 2026
Siapa yang Kenyang, Siapa yang Masih Lapar? Refleksi 21 Tahun Perdamaian Aceh

Siapa yang Kenyang, Siapa yang Masih Lapar? Refleksi 21 Tahun Perdamaian Aceh

August 15, 2026
SPS Revival: Ketika Praktik Kreatif Mulai Menemukan Bentuknya

SPS Revival: Ketika Praktik Kreatif Mulai Menemukan Bentuknya

August 18, 2026
Kericuhan Hari Damai Aceh Dibahas Forkopimda, Persoalan Bendera Bintang Bulan Dibawa ke Mendagri

Kericuhan Hari Damai Aceh Dibahas Forkopimda, Persoalan Bendera Bintang Bulan Dibawa ke Mendagri

August 16, 2026

EDITOR'S PICK

Terkait Penceramah ‘Radikal’

Terkait Penceramah ‘Radikal’

March 20, 2025
BPMA dan TNI AD Perkuat Sinergi, Gelar Monitoring Kinerja Bina Teritorial di Blok B PGE

BPMA dan TNI AD Perkuat Sinergi, Gelar Monitoring Kinerja Bina Teritorial di Blok B PGE

July 26, 2026
Banjir Susulan di Masa Transisi, Aceh Utara Kembali Tetapkan Status Tanggap Darurat

Banjir Susulan di Masa Transisi, Aceh Utara Kembali Tetapkan Status Tanggap Darurat

January 12, 2026
Harapan Kesetaraan di Keluarga Gen Z

Revolusi ‘Mas Menteri’ dan PTS Aceh

March 24, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.