• Tentang Kami
Monday, August 31, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Setelah Dislokasi Epistemik: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK?

SAGOE TV by SAGOE TV
August 31, 2026
in Opini
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Setelah Dislokasi Epistemik Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK

Ilustrasi. (AI)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari Palawi, S.Sn., M.A., Ph.D
Penata Tk.I-USK, Lektor Gol IIId, bertugas sejak 2003

Artikel sebelumnya, Dislokasi Epistemik: Ke Mana Arah Pendidikan Seni di Universitas Syiah Kuala, mengangkat satu kegelisahan mendasar: perubahan kurikulum tidak pernah sekadar soal menambah, mengurangi, atau memindahkan mata kuliah. Di dalamnya selalu berlangsung pertarungan tentang pengetahuan apa yang dianggap penting, manusia seperti apa yang hendak dibentuk, dan masa depan apa yang sedang disiapkan.

BACA JUGA

Menyoroti Site Plan PSN yang Mengabaikan Aspel Sosial Masyarakat di Kawasan Kopelma Darussalam Banda Aceh

Remaja Aceh di Persimpangan: NKRI, “Merdeka”, dan Ruang Kosong Tokoh Idola

Kegelisahan itu kini perlu ditarik lebih jauh.

Pendidikan Seni atau Sendratasik Universitas Syiah Kuala tidak berdiri sendiri. Program studi ini bernaung di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Maka perubahan di dalamnya tidak dapat dibaca hanya sebagai urusan internal program studi. Pendidikan Seni berada di persimpangan dua mandat besar: menjaga keilmuan seni sekaligus menjalankan tanggung jawab pendidikan.

Pada persimpangan itulah kritik terhadap Pendidikan Seni USK harus menjadi lebih keras, tetapi juga lebih adil.

Keras, karena penyelenggara pendidikan tidak boleh memperlakukan perubahan kurikulum sebagai urusan administratif yang selesai setelah dokumen disahkan. Adil, karena persoalan ini tidak dapat dibebankan kepada satu orang, satu pimpinan, atau satu periode. Rantai tanggung jawabnya bergerak dari program studi, departemen, fakultas, hingga universitas sebagai institusi induknya.

Masalah Pendidikan Seni bukan sekadar berkurangnya mata kuliah tertentu. Yang lebih serius adalah kemungkinan terputusnya hubungan antara teori, praktik, riset, penciptaan, pendidikan, dan kebudayaan. Ketika hubungan itu tidak lagi terbaca dalam perjalanan mahasiswa, kurikulum mudah berubah menjadi kumpulan kompetensi. Mahasiswa menyelesaikan mata kuliah, tetapi belum tentu membangun peta pengetahuan.

Persoalan epistemik, pada tahap ini, berubah menjadi persoalan kelembagaan.

Namun Pendidikan Seni juga tidak boleh menjawab kritik tersebut dengan romantisme masa lalu. Kurikulum lama bukan kitab suci. Tidak semua yang lama harus dipertahankan, sebagaimana tidak semua yang baru otomatis lebih maju. Yang diperlukan adalah keberanian mengambil prinsip terbaik dari pengalaman sebelumnya, lalu mengujinya terhadap kebutuhan masa kini.

Konteks FKIP membuat persoalan ini semakin rumit sekaligus penting. Artikel FKIP di Titik Kritis: Antara Warisan Sejarah dan Tuntutan Transformasi mengingatkan bahwa pendidikan guru tidak lagi dapat bekerja dengan logika lama. Produksi lulusan kependidikan tidak selalu sejalan dengan penyerapan tenaga kerja. Sekolah dan masyarakat membutuhkan kemampuan yang semakin spesifik dan kontekstual. Ada daerah yang kelebihan lulusan, sementara wilayah lain masih kekurangan guru. Ada pula lulusan yang memegang ijazah, tetapi belum tentu cukup siap menghadapi kompleksitas ruang belajar.

FKIP memang dituntut berubah. Namun perubahan tidak boleh berujung pada penyeragaman semua bidang ilmu.

Pendidikan Seni tidak boleh menjadi program keguruan yang kebetulan mengajarkan tari, musik, teater, atau seni rupa. Sebaliknya, program ini juga tidak cukup menjadi ruang latihan kesenian yang sesekali berbicara tentang pedagogi. Pendidikan Seni memiliki wilayah akademiknya sendiri: mempertemukan keilmuan seni, penciptaan, penelitian, kebudayaan, dan pendidikan.

Jika simpul pertemuan itu hilang, Sendratasik kehilangan alasan akademiknya.

Sebaliknya, jika diperkuat, Pendidikan Seni dapat menjadi salah satu laboratorium penting bagi transformasi FKIP. Ketika FKIP membutuhkan pembelajaran yang lebih kontekstual, Pendidikan Seni memiliki pengalaman praktik. Ketika FKIP membutuhkan kreativitas, seni bekerja melalui eksplorasi. Ketika pendidikan membutuhkan hubungan dengan masyarakat, seni memiliki jalur langsung melalui komunitas dan kebudayaan. Ketika kurikulum membutuhkan praktik lapangan yang nyata, Pendidikan Seni dapat menghubungkan sekolah, sanggar, komunitas, ruang publik, dan kehidupan sosial.

Inilah yang harus dipahami seluruh penyelenggara pendidikan, dari tingkat paling bawah hingga tingkat tertinggi universitas.

Program studi harus berhenti melihat kurikulum sebagai daftar kewajiban. Yang perlu diperiksa adalah perjalanan intelektual mahasiswa dari semester pertama hingga tugas akhir. Apa yang dipelajari? Mengapa dipelajari? Pengetahuan apa yang dibangun sebelum praktik? Bagaimana praktik melahirkan pertanyaan? Bagaimana riset memengaruhi penciptaan? Bagaimana penciptaan kembali menghasilkan pengetahuan?

Fakultas harus memastikan kekhasan disiplin tidak hilang akibat keseragaman kebijakan. Tanggung jawab FKIP lebih besar daripada mengawasi pemenuhan administrasi akademik. Fakultas harus menjamin setiap program studi memiliki ruang untuk mengembangkan bentuk pedagogi dan keilmuannya secara serius.

Universitas memikul tanggung jawab yang lebih besar. Otonomi akademik tidak boleh berhenti sebagai slogan. Universitas harus menjadi ruang tempat berbagai disiplin mempertahankan logika keilmuannya sambil memenuhi standar mutu bersama. Standar memang diperlukan. Penyeragaman belum tentu.

Tanggung jawab berikutnya berada pada dosen. Kurikulum tidak akan hidup hanya karena dokumennya baik. Pendidikan Seni kehilangan arah ketika dosen berhenti meneliti, berhenti mencipta, berhenti membaca perubahan kebudayaan, dan berhenti memperdebatkan gagasan. Dosen tidak cukup menjadi pelaksana silabus. Mereka harus menjadi bagian dari kehidupan pengetahuan.

Mahasiswa dan alumni pun tidak boleh hanya menjadi penonton. Mereka memiliki pengalaman langsung tentang apa yang bekerja dan apa yang gagal dalam pendidikan yang dijalani. Suara mereka harus masuk ke dalam evaluasi, bukan hanya muncul ketika akreditasi atau survei membutuhkan data.

Masyarakat dan komunitas seni juga harus berhenti ditempatkan sebagai pelengkap acara kampus. Mereka bagian dari ekosistem pengetahuan. Kampus dapat mengajarkan teori, tetapi masyarakat menyimpan pengalaman, praktik, dan persoalan yang tidak pernah selesai dibaca dari ruang kuliah.

Langkah yang dibutuhkan sekarang bukan seminar tambahan atau revisi kosmetik. Pendidikan Seni USK memerlukan pemeriksaan akademik terbuka terhadap struktur kurikulumnya. Kurikulum lama dan baru harus dibaca sebagai peta pengetahuan, bukan sekadar dibandingkan berdasarkan jumlah SKS. Mahasiswa, alumni, praktisi, dan pakar eksternal harus dilibatkan. Hubungan antara riset, penciptaan, pedagogi, dan kebudayaan perlu diuji kembali.

Pemulihan epistemik tidak berarti kembali ke belakang.

Pemulihan berarti mendapatkan kembali kemampuan menentukan arah.

Pendidikan Seni USK tidak membutuhkan perang nostalgia melawan perubahan. Yang dibutuhkan adalah keberanian memastikan setiap perubahan memiliki dasar keilmuan yang jelas. FKIP memang harus bertransformasi. Pendidikan Seni juga harus berubah. Tetapi perubahan yang menghapus alasan keberadaan sebuah disiplin bukan transformasi. Itu hanya perpindahan bentuk.

Yang kini patut diuji bukan lagi semata ke mana Pendidikan Seni USK akan diarahkan, melainkan apakah seluruh pihak yang memegang kewenangan bersedia memeriksa arah tersebut dengan jujur.

Pendidikan tidak rusak hanya oleh kebijakan yang keliru. Kerusakan juga tumbuh ketika terlalu banyak orang mengetahui masalahnya, tetapi memilih diam karena jabatan, kenyamanan, relasi, atau kelelahan.

Sendratasik USK terlalu penting untuk dikelola dengan kebiasaan seperti itu. Program ini memikul tanggung jawab moral terhadap mahasiswa, tanggung jawab keilmuan terhadap seni dan pendidikan, serta tanggung jawab sosial terhadap Aceh dan masyarakat yang kebudayaannya menjadi salah satu sumber hidup pengetahuan itu sendiri.

Kritik ini tidak meminta semua orang kembali ke masa lalu. Kritik ini meminta seluruh pemangku kepentingan berhenti berjalan tanpa peta.

Memulihkan identitas keilmuan bukan berarti menolak transformasi. Justru identitas yang kuat merupakan syarat agar transformasi tidak kehilangan arah.

Tags: Ari J. Palawimasa depanopinipendidikanSeniUniversitas Syiah KualaUSK
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Dek Din Syamsuddin
Opini

Menyoroti Site Plan PSN yang Mengabaikan Aspel Sosial Masyarakat di Kawasan Kopelma Darussalam Banda Aceh

by SAGOE TV
August 23, 2026
Remaja Aceh di Persimpangan NKRI, Merdeka, dan Ruang Kosong Tokoh Idola_Irwandi
Opini

Remaja Aceh di Persimpangan: NKRI, “Merdeka”, dan Ruang Kosong Tokoh Idola

by SAGOE TV
August 21, 2026
Dek Din Syamsuddin
Opini

Menjaga Jiwa Kota: Dilema Tata Ruang Banda Aceh, Gampong Kopelma Darussalam, dan Bayang-Bayang Proyek Strategis Nasional

by SAGOE TV
August 20, 2026
Sesudah Damai, Apa Lagi Pelajaran Ibnu Khaldun untuk Aceh_Muhammad Akmal
Opini

Sesudah Damai, Apa Lagi? Pelajaran Ibnu Khaldun untuk Aceh

by SAGOE TV
August 18, 2026
21 Tahun Damai Refleksi dan Koreksi untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Opini

Glorifikasi Munafik Ini Dibangun dengan Sengaja: Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan

by SAGOE TV
August 17, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

August 28, 2026
Piasan Budaya Barat Selatan Aceh 2026 Berakhir, Pesan untuk Generasi Muda: Kenali Sejarah

Piasan Budaya Barat Selatan Aceh 2026 Berakhir, Pesan untuk Generasi Muda: Kenali Sejarah

August 25, 2026
Tabina Tour Travel Kembali Memberangkatkan Dua Kloter Jamaah Umrah

Tabina Tour Travel Kembali Memberangkatkan Dua Kloter Jamaah Umrah

August 27, 2026
9 Ulama Terpilih Jadi AHWA Muktamar ke-35 NU, Ada Rais Syuriyah PWNU Aceh

9 Ulama Terpilih Jadi AHWA Muktamar ke-35 NU, Ada Rais Syuriyah PWNU Aceh

August 31, 2026
MEUGOE Ketika Sebuah Skatepark Menjadi Sekolah Kehidupan

MEUGOE: Ketika Sebuah Skatepark Menjadi Sekolah Kehidupan

August 27, 2026
Bahasa Aceh Terancam Kehilangan Ruang di Kalangan Generasi Muda, Pemerintah Aceh Perkuat Pelestarian

Bahasa Aceh Terancam Kehilangan Ruang di Kalangan Generasi Muda, Pemerintah Aceh Perkuat Pelestarian

August 12, 2026
Merdeka Versi Wirausaha Muda, Hubbika House Creative Ajak Pelajar Banda Aceh Belajar Bisnis

Merdeka Versi Wirausaha Muda, Hubbika House Creative Ajak Pelajar Banda Aceh Belajar Bisnis

August 31, 2026
Jalur RoRo Aceh-Penang Dipercepat, PT PEMA Disiapkan Jadi Operator

Jalur RoRo Aceh-Penang Dipercepat, PT PEMA Disiapkan Jadi Operator

August 28, 2026
Remaja Aceh di Persimpangan NKRI, Merdeka, dan Ruang Kosong Tokoh Idola_Irwandi

Remaja Aceh di Persimpangan: NKRI, “Merdeka”, dan Ruang Kosong Tokoh Idola

August 21, 2026

EDITOR'S PICK

Aceh Paska Era Jusuf Kalla

Aceh Paska Era Jusuf Kalla

May 17, 2025
Sakit di Tengah Pelayaran, WN Singapura ABK Kapal Tanker Dievakuasi ke Aceh

Sakit di Tengah Pelayaran, WN Singapura ABK Kapal Tanker Dievakuasi ke Aceh

March 7, 2025
Bank Aceh Syariah Raih Penghargaan UIN Ar-Raniry Award

Bank Aceh Syariah Raih Penghargaan UIN Ar-Raniry Award

March 20, 2025
Ari J. Palawi Praktisi dan Akademisi Seni, Aneuk Mukim Kayee Adang, Banda Aceh

Setelah Damai, Siapa yang Membentuk Kita?

August 17, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.