• Tentang Kami
Sunday, October 18, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Sesudah Damai, Apa Lagi? Pelajaran Ibnu Khaldun untuk Aceh

SAGOE TV by SAGOE TV
August 18, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Sesudah Damai, Apa Lagi Pelajaran Ibnu Khaldun untuk Aceh_Muhammad Akmal

Muhammad Akmal. Foto: Dokpri

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Muhammad Akmal
Mahasiswa Program Studi Magister Damai dan Resolusi Konflik Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra’d [13]: 11).

Dua puluh tahun lalu, dunia menyaksikan sebuah peristiwa yang mengubah sejarah Aceh. Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki pada 15 Agustus 2005 mengakhiri konflik bersenjata yang berlangsung hampir tiga dekade antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Kesepakatan yang membuka jalan bagi lahirnya ruang politik baru, reintegrasi mantan kombatan, serta pembangunan kembali Aceh yang porak-poranda akibat konflik dan tsunami 2004. Banyak studi menilai proses damai Aceh sebagai salah satu penyelesaian konflik paling berhasil di Asia Tenggara.

BACA JUGA

MACS: Membuka Pintu, Membangun Jalan

Bukan Antisains, Prabowo Justru Antisaintis

Namun, setelah dua puluh tahun, pertanyaan yang patut diajukan adalah apa yang sedang dibangun oleh perdamaian itu sendiri?

Di sinilah pemikiran Ibnu Khaldun dalam karyanya Muqaddimah menawarkan cara pandang yang menarik. Berabad-abad sebelum lahirnya teori peacebuilding modern, Ibn Khaldun telah mengingatkan bahwa kekuatan suatu masyarakat ditentukan oleh kokohnya ’ashabiyyah (solidaritas sosial) yang mengikat masyarakat dalam tujuan bersama. Sebuah negara dapat bertahan bukan semata karena kekuatan hukumnya, melainkan karena warganya masih memiliki rasa kebersamaan, kepercayaan, dan tanggung jawab kolektif.

Selama ini, ’ashabiyyah sering diterjemahkan sebagai solidaritas kelompok. Padahal, dalam konteks negara modern, konsep tersebut dapat dipahami sebagai modal sosial yang mempersatukan masyarakat di tengah keberagaman kepentingan. Konflik sering kali melahirkan solidaritas karena masyarakat menghadapi musuh yang sama. Akan tetapi, menjaga solidaritas pada masa damai jauh lebih sulit. Ketika ancaman eksternal menghilang, yang muncul justru kompetisi politik, perebutan sumber daya, dan kepentingan kelompok.

Aceh tampaknya sedang menghadapi fase tersebut.

Perdamaian memang berhasil menciptakan stabilitas keamanan. Mantan kombatan bertransformasi menjadi aktor politik, pemilihan kepala daerah berlangsung relatif damai, dan masyarakat tidak lagi hidup dalam bayang-bayang operasi militer. Namun, berbagai kajian menunjukkan bahwa pekerjaan rumah terbesar Aceh kini berada pada ranah transformasi sosial dan keadilan transisi. Implementasi rekomendasi Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh, pemulihan korban pelanggaran HAM, serta penguatan kepercayaan publik terhadap institusi masih menjadi agenda yang belum sepenuhnya selesai.

Dalam bahasa Ibnu Khaldun, sebuah peradaban (al-’umrān) tidak diukur dari berhentinya peperangan, melainkan dari kemampuannya melahirkan kehidupan sosial yang adil, produktif, dan bermartabat. Perdamaian hanyalah pintu masuk menuju pembangunan peradaban, bukan tujuan akhirnya.

Karena itu, mengukur keberhasilan perdamaian Aceh hanya dari absennya konflik bersenjata adalah ukuran yang terlalu sederhana. Perdamaian yang sejati harus tercermin dalam meningkatnya kualitas pendidikan, tumbuhnya ekonomi yang inklusif, menguatnya kepercayaan terhadap hukum, serta hadirnya ruang politik yang mampu merangkul seluruh lapisan masyarakat, termasuk korban konflik, perempuan, dan generasi muda.

Dalam perspektif Islam, gagasan ini sejalan dengan firman Allah, “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya…” (QS. al-Anfāl [8]: 61). Akan tetapi, Al-Qur’an tidak pernah memisahkan perdamaian dari keadilan. Bahkan, Allah memerintahkan, “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. al-Mā’idah [5]: 8). Dengan demikian, perdamaian dinilai sebagai upaya menghadirkan keadilan sebagai fondasi kehidupan bersama.

Di sinilah letak tantangan Aceh memasuki dua dekade kedua pasca-Helsinki. Generasi yang lahir setelah 2005 tidak lagi mengenal suara tembakan, pos pemeriksaan militer, atau ketakutan akibat konflik. Ini adalah berkah yang patut disyukuri. Namun, generasi yang sama juga berisiko memandang perdamaian sebagai sesuatu yang otomatis, bukan hasil dari perjuangan panjang, dialog, dan pengorbanan banyak pihak.

Ibnu Khaldun juga mengingatkan bahwa setiap peradaban memiliki siklus. Ketika generasi penerus mulai melupakan nilai-nilai yang melahirkan sebuah peradaban, maka kemunduran perlahan akan datang, bukan karena serangan dari luar, melainkan karena melemahnya solidaritas dari dalam. Peringatan ini terasa relevan bagi Aceh hari ini. Ancaman terbesar yang sedang dihadapi Aceh adalah pudarnya kesadaran kolektif untuk merawat perdamaian.

Karena itu, refleksi dua puluh tahun perdamaian tidak semestinya berhenti pada seremoni dan nostalgia. Yang lebih penting adalah menumbuhkan kembali ’ashabiyyah dalam makna yang lebih luas: solidaritas antara pemerintah dan rakyat, antara mantan kombatan dan korban, antara ulama, akademisi, pemuda, serta seluruh elemen masyarakat. Perdamaian harus menjadi proyek bersama yang terus diperbarui oleh setiap generasi.

Dalam tradisi Islam, manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi untuk membangun kemaslahatan. Maka, ukuran keberhasilan Aceh bukan hanya karena ia berhasil keluar dari perang, melainkan karena ia mampu menghadirkan masyarakat yang adil, berilmu, sejahtera, dan saling percaya.

Sesudah damai, memang apa lagi?

Jawabannya sederhana, tetapi tidak mudah: membangun peradaban. Sebab, sebagaimana diajarkan Ibnu Khaldun, perang mungkin berakhir dengan sebuah perjanjian, tetapi peradaban hanya dapat bertahan apabila ’ashabiyyah tetap hidup di dalam hati masyarakatnya. Itulah pekerjaan besar Aceh pada dua puluh tahun berikutnya. Bukan lagi mengakhiri konflik, melainkan memastikan bahwa perdamaian benar-benar menjadi jalan menuju kemajuan dan kemaslahatan bersama.

Tags: AcehDamaidamai acehIbnu KhaldunopiniPelajaranPerdamaian
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

MACS Membuka Pintu, Membangun Jalan
Opini

MACS: Membuka Pintu, Membangun Jalan

by SAGOE TV
October 14, 2026
Publik dalam Bayang Militerisme Urban
Opini

Bukan Antisains, Prabowo Justru Antisaintis

by SAGOE TV
October 5, 2026
Saman dan Ruang Hidup Negeri Seribu Bukit
Opini

Saman dan Ruang Hidup Negeri Seribu Bukit

by SAGOE TV
October 4, 2026
Hari Pancasila dan Harapan Rakyat
Opini

Hari Pancasila dan Harapan Rakyat

by SAGOE TV
October 1, 2026
Dari Percakapan, Respons, ke Ujian Kelembagaan Langkah Berikutnya bagi MACS di USK
Opini

Dari Percakapan, Respons, ke Ujian Kelembagaan: Langkah Berikutnya bagi MACS di USK

by SAGOE TV
September 30, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Sagoetv.com Diduga Diretas Usai Terbitkan Berita Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran

Sagoetv.com Diduga Diretas Usai Terbitkan Berita Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran

October 13, 2026
Luna Maya Kunjungi MIN 4 Aceh Besar, Beri Pesan untuk Siswa dan Guru

Luna Maya Kunjungi MIN 4 Aceh Besar, Beri Pesan untuk Siswa dan Guru

October 16, 2026
Arsip tabloid asAsi

asAsi: Nyawöung dalam Wujud Lain

October 16, 2026
MACS Membuka Pintu, Membangun Jalan

MACS: Membuka Pintu, Membangun Jalan

October 14, 2026
Nama Punggung Ilham Udin Tak Sesuai Registrasi, Persiraja Didenda Rp20 Juta

Nama Punggung Ilham Udin Tak Sesuai Registrasi, Persiraja Didenda Rp20 Juta

October 15, 2026
Persiraja vs Semen Padang Nama Besar Kabau Sirah Tak Bikin Laskar Rencong Gentar

Total Denda Rp100 Juta, Persiraja dan Faris Adit Disanksi Usai Laga Kontra Sumsel United

October 14, 2026
Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

October 11, 2026
Dek Fadh Hadiri Peusijuek 3 Putra Aceh yang Mengemban Amanah di Tingkat Nasional

Dek Fadh Hadiri Peusijuek 3 Putra Aceh yang Mengemban Amanah di Tingkat Nasional

October 11, 2026
Baun Thoib Soaloon Kepala Kantor Bahasa Kepri

Mendikdasmen Lantik 162 Pejabat, Baun Thoib Soaloon Jabat Kepala Kantor Bahasa Kepri

October 17, 2026

EDITOR'S PICK

Penyuluh Agama KUA Darussalam Masuk Nominasi Penyuluh Agama Islam Award 2024

Penyuluh Agama KUA Darussalam Masuk Nominasi Penyuluh Agama Islam Award 2024

February 8, 2026
Pelantikan PWNU Aceh 2026-2031 Akan Dihadiri Rais 'Aam dan Ketua Umum PBNU

Pelantikan PWNU Aceh 2026-2031 Akan Dihadiri Rais ‘Aam dan Ketua Umum PBNU

June 9, 2026
SagoeTV Lolos Verifikasi Faktual Dewan Pers

Sagoe TV Terpilih Mengikuti Program Independent Media Accelerator 2.0

May 11, 2025
Abu Vulkanik Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, Garuda Jeddah-Jakarta Dialihkan ke Bandara SIM

Erupsi Anak Krakatau Ganggu Penerbangan Banda Aceh-Jakarta, Penumpang Diminta Jangan ke Bandara Dulu

September 7, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.