ABDYA | SAGOE TV — Piasan Budaya Barat Selatan Aceh 2026 resmi berakhir di Museum Susoh, Gampong Padang Hilir, Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Selasa, 25 Agustus 2026.
Kegiatan yang digagas Aceh Culture and Education (ACTION) itu meninggalkan pesan penting bagi generasi muda: mengenali sejarah, memahami perjalanan daerah, dan menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Penutupan Piasan Budaya dirangkaikan dengan Adat Khanduri Maulid Nabi Muhammad SAW. Acara tersebut dihadiri Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya yang diwakili Staf Ahli Bidang Keistimewaan Aceh, Sumber Daya Manusia, dan Kerja Sama, Nazaruddin.
Hadir pula unsur pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh adat, budayawan, akademisi, pelaku UMKM, insan pers, serta masyarakat.
Piasan Budaya berlangsung pada 21-24 Agustus 2026 dalam bentuk pameran terbuka. Sementara acara penutupan dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW digelar pada 25 Agustus 2026.
Dalam sambutan Bupati Aceh Barat Daya yang dibacakan pada acara penutupan, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya menyampaikan apresiasi kepada ACTION dan seluruh pihak yang telah menggagas serta menyelenggarakan Piasan Budaya Barat Selatan Aceh 2026.
Pemkab Abdya menilai kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ruang pameran, tetapi juga sarana untuk membuka kembali perjalanan sejarah sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya kepada generasi muda.
“Ketika kita menampilkan benda-benda bersejarah, kain tradisional, peninggalan arkeologi, karya filologi maupun berbagai produk budaya masyarakat, sesungguhnya kita sedang membuka kembali lembaran perjalanan daerah kita,” demikian disampaikan dalam sambutan tersebut.
Pemerintah daerah menegaskan museum tidak seharusnya hanya dipandang sebagai tempat menyimpan benda-benda lama. Museum harus menjadi ruang pembelajaran agar generasi muda dapat mengenal sejarah, memahami perjalanan daerah, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap warisan budaya.
Aceh Barat Daya memiliki kekayaan budaya yang besar, mulai dari tradisi, bahasa, kesenian, adat, peninggalan sejarah hingga berbagai kearifan lokal yang masih hidup di tengah masyarakat.
Karena itu, tantangan pelestarian budaya bukan hanya mempertahankan keberadaannya. Lebih dari itu, budaya harus tetap dikenal, dipahami, dicintai, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pemkab Abdya menyatakan siap bersinergi dengan berbagai pihak untuk menjaga dan mengembangkan kebudayaan daerah. Upaya tersebut membutuhkan keterlibatan pemerintah, tokoh adat, ulama, budayawan, akademisi, seniman, guru, generasi muda, komunitas, dunia usaha, serta masyarakat luas.
Pemerintah juga berharap Museum Susoh dan ruang-ruang kebudayaan lainnya dapat berkembang menjadi tempat pembelajaran, kreativitas, promosi budaya, sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Piasan Budaya Rekam Kekayaan Barat Selatan Aceh
Ketua Panitia Piasan Budaya Barat Selatan Aceh 2026, Rozal Nawafil, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari kepedulian terhadap sejarah dan kebudayaan kawasan Barat Selatan Aceh.
Piasan Budaya menghadirkan sejumlah ruang pameran yang merekam perjalanan masyarakat dan kebudayaan kawasan tersebut. Di antaranya pameran arkeologi, etnografi, wastra, filologi, historika, serta berbagai produk UMKM desa budaya.
Pameran arkeologi menampilkan berbagai temuan lepas hasil penelitian ACTION di kawasan Pantai Barat Selatan Aceh.
Artefak tersebut tidak hanya dipamerkan sebagai benda lama, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan mengenai kehidupan manusia, perdagangan, teknologi, dan peradaban pada masa lalu.
Sementara pameran etnografi menghadirkan gambaran kehidupan masyarakat Pantai Barat Aceh, lengkap dengan nilai sosial, filosofis, adat, dan tradisi yang menyertainya.
Piasan Budaya juga menghadirkan Desa Budaya Seuneulop, Kecamatan Manggeng, Aceh Barat Daya, dan Desa Budaya Suak Timah, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat.
Kehadiran dua desa budaya tersebut menjadi bagian dari upaya memperlihatkan bagaimana pengetahuan, keterampilan, tradisi, dan nilai budaya tetap dipertahankan di tengah perubahan zaman.
Piasan Budaya turut memberikan Anugerah Kebudayaan kepada pelestari dan pelaku budaya yang dinilai berkontribusi dalam menjaga warisan kebudayaan Aceh Barat Daya.
Anugerah tersebut diberikan kepada Usmadi, sebagai Pelestari dan Penggerak Kebudayaan, serta Lasmawati sebagai Pelestari Pengetahuan Tradisional dan Adat Budaya.
Usmadi dinilai memiliki kontribusi dalam bidang kebudayaan selama pengabdiannya sebagai aparatur pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Barat Daya. Ia antara lain terlibat dalam proses penetapan 11 situs cagar budaya di Abdya serta pengusulan Teuku Ben Mahmud sebagai calon Pahlawan Nasional dari Aceh Barat Daya.
Sementara Lasmawati mendapat apresiasi atas konsistensinya menjaga pengetahuan tradisional, tradisi lisan, dan adat masyarakat Aneuk Jamee.
Ia juga berkontribusi dalam proses pengusulan Langgolek yang kemudian ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2025.
Ketua ACTION Soroti Perjalanan dan Agenda Muktamar 2026
Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Aceh Culture and Education (ACTION), Aris Faisal, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya dan seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan Piasan Budaya.
Aris menyoroti perjalanan ACTION dalam menjalankan agenda pelestarian kebudayaan, penelitian, serta pengenalan sejarah kepada masyarakat.
Menurutnya, Piasan Budaya menjadi momentum untuk mempertemukan hasil kerja kebudayaan dengan masyarakat secara langsung.
Ia mengatakan pelaksanaan kegiatan tersebut tidak terlepas dari dukungan pemerintah, lembaga kebudayaan, masyarakat, komunitas, pelaku budaya, dan berbagai pihak lainnya.
Aris juga menyampaikan agenda ACTION ke depan, termasuk persiapan Muktamar ACTION 2026. Agenda tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kelembagaan sekaligus menentukan arah gerak organisasi dalam bidang kebudayaan.
Menurutnya, penguatan organisasi diperlukan agar kerja kebudayaan dapat dilakukan secara lebih terarah, berkelanjutan, dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
“Perjalanan ACTION tidak berhenti pada satu kegiatan. Piasan Budaya ini adalah bagian dari proses panjang untuk membangun kesadaran bahwa sejarah dan kebudayaan harus dirawat bersama,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan dalam sambutannya.
Budaya dan Maulid Nabi
Penutupan Piasan Budaya tahun ini dirangkaikan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kegiatan diawali dengan syair Dalail Khairat oleh santri Dayah Babul Istiqamah, Gampong Padang Hilir, Susoh.
Perpaduan agenda kebudayaan dan keagamaan tersebut dinilai memiliki pesan penting bagi masyarakat Aceh.
Dalam sambutan Bupati Abdya disampaikan bahwa budaya memberikan identitas, sejarah memberikan pelajaran, sedangkan agama memberikan pedoman dalam menjalani kehidupan.
Pesan tersebut sejalan dengan pandangan Ketua Panitia mengenai hubungan erat antara Islam, adat, dan kebudayaan dalam perjalanan masyarakat Aceh.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menghadirkan Ustadz Fauzan Basri sebagai penceramah.
Rangkaian penutupan juga diisi dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan doa, sambutan, pemberian Anugerah Kebudayaan, serta makan bersama.
Ketua Panitia Piasan Budaya Rozal Nawafil menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh atas dukungan Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026.
Apresiasi juga disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, Museum Susoh, Yayasan Cut Hasnah Oemar, desa budaya, para ulama, tokoh adat, akademisi, budayawan, komunitas, UMKM, sponsor, dan insan pers.
Rozal berharap Piasan Budaya tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi awal dari kerja kebudayaan yang lebih luas.
Kerja tersebut mencakup pendokumentasian sejarah, perlindungan situs cagar budaya, perawatan manuskrip, penghormatan terhadap para pelaku budaya, serta pelibatan generasi muda.
“Kenali sejarah, agar tidak salah melangkah,” menjadi pesan yang ditekankan dalam penutupan Piasan Budaya Barat Selatan Aceh 2026 di Museum Susoh.
Dengan berakhirnya rangkaian kegiatan tersebut, penyelenggara berharap semangat pelestarian sejarah dan kebudayaan di kawasan Barat Selatan Aceh terus tumbuh dan menjadi bagian penting dalam pembangunan masyarakat yang berakar pada identitas serta nilai-nilai budaya daerah.



















