BANDA ACEH | SAGOE TV — Tujuh relawan kesehatan Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh langsung bergerak setibanya di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk mendukung penanganan dampak gempa di Kabupaten Manggarai Barat.
Tim yang dipimpin Ketua Tim Penanggulangan Pascabencana NTT Fakultas Kedokteran USK, T. Maulana, tiba di Labuan Bajo pada Senin, 24 Agustus 2026, sekitar pukul 18.00 WITA. Pada hari pertama penugasan, mereka langsung berkoordinasi dengan otoritas kesehatan setempat.
Malam harinya, tim mengikuti koordinasi strategis di Health Emergency Operations Center (HEOC) atau Pusat Operasi Kedaruratan Kesehatan yang dipimpin Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat.
“Begitu tiba di Labuan Bajo pada pukul 18.00 waktu setempat, kami langsung bergerak menuju HEOC untuk berkoordinasi langsung dengan Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Barat. Langkah awal ini krusial agar seluruh dukungan medis dan surveilans yang kami bawa benar-benar tepat sasaran dan selaras dengan prioritas penanganan di lapangan,” ujar T. Maulana dalam keterangannya kepada Sagoe TV di Banda Aceh, Selasa, 25 Agustus 2026.
Koordinasi tersebut menjadi langkah awal untuk memetakan kondisi di lapangan sekaligus mengidentifikasi kebutuhan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa secara terpadu.
Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Barat dalam arahannya menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, rumah sakit, puskesmas, dan tim kesehatan dari luar daerah.
Seluruh bantuan kesehatan diharapkan disalurkan melalui satu pintu koordinasi agar sesuai dengan kebutuhan di lapangan, efektif, dan tidak tumpang tindih. Penguatan layanan pascabencana juga diarahkan pada pemulihan fasilitas kesehatan yang terdampak, ketersediaan tenaga medis, sarana dan prasarana, serta pemenuhan obat-obatan dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) sesuai kebutuhan aktual.
Fokus pada Pelayanan dan Pencegahan Penyakit
Penanganan tim kesehatan USK tidak hanya berfokus pada pelayanan kuratif atau pengobatan. Aspek kesehatan masyarakat dan pencegahan penyakit juga menjadi perhatian, terutama karena perubahan lingkungan, keterbatasan air bersih, dan kondisi pengungsian dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit.
Karena itu, Tim Kesehatan USK bersama Dinas Kesehatan setempat memperkuat surveilans epidemiologi, memantau faktor risiko penyakit menular, serta melakukan deteksi dini untuk mengantisipasi potensi Kejadian Luar Biasa (KLB).
Melalui koordinasi di HEOC, dukungan Tim Kesehatan USK selanjutnya diarahkan untuk memperkuat kapasitas tenaga medis dan keperawatan, pelaksanaan surveilans, serta dukungan teknis lainnya di RSUD Komodo sesuai prioritas daerah.
Seluruh rangkaian kegiatan operasional akan mengedepankan efektivitas, keselamatan pasien dan petugas, serta pelaporan berkala. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan masyarakat terdampak memperoleh pelayanan kesehatan yang cepat, tepat, dan tuntas.
Tujuh Relawan Bertugas 14 Hari
Tujuh personel yang ditugaskan USK terdiri atas T. Maulana, selaku dosen Fakultas Kedokteran sekaligus ketua tim; T. Nanta Aulia, tenaga pengajar Fakultas Kedokteran; serta Marlina, Guru Besar Fakultas Keperawatan.
Tim juga diperkuat Abul A’la Tarigan, dosen Fakultas Keperawatan; Ikhsanuddin Basili dan Alfisyahrin Kamil dari Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) masing-masing bidang Bedah serta Ortopedi dan Traumatologi; serta Shahibul Mighvar, tenaga teknisi laboratorium.
Diberitakan sebelumnya, USK memberangkatkan tujuh relawan kesehatan ke Kabupaten Manggarai Barat untuk membantu penanganan korban gempa NTT.
Berdasarkan jadwal penugasan, tim akan menjalankan misi kemanusiaan selama 14 hari untuk memperkuat pelayanan medis di RSUD Komodo, Labuan Bajo.



















