• Tentang Kami
Tuesday, April 21, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Rumah Ayah Melawan Banjir, Kini Menyerah pada Lumpur

SAGOE TV by SAGOE TV
February 1, 2026
in Citizen Report
Reading Time: 5 mins read
A A
0
Rumah Ayah Melawan Banjir, Kini Menyerah pada Lumpur

Rumah Alm Teungku Ilyas di Lueng Keubeu, Samalanga Kabupaten Bireun terdampak bencana banjir lumpur. Sedang dibersihkan dengan eskavator sewaan. Foto: Faudhiatul Halim.

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Mukhlisuddin Ilyas
Dosen Pascasarjana Universitas Almuslim dan Founder Bandar Publishing.

Ayah saya seorang petani. Ia meninggal ketika saya masih duduk di kelas enam sekolah dasar, usia ketika seorang anak belum benar-benar paham apa arti kehilangan, tapi mulai belajar tentang tanggungjawab sebagai anak tertua.

BACA JUGA

Kisah Haru di Panggung MTQ

Cerita dari Konferensi Perdamaian Perempuan Internasional 2025

Ibu seorang guru SD. Ketika diangkat menjadi PNS di Banda Aceh, ayah ikut mendampingi. Tahun 1981 saya lahir di kota itu, dari cinta dua orang insan yang tak pernah bermimpi besar, kecuali ingin hidup layak dan saling menjaga.

Beberapa tahun kemudian, ayah mulai merayu ibu, sekali, dua kali, hingga berkali-kali, agar bersedia pindah ke kampung, agar ayah bisa menjadi petani, penggarap sawah dan tambak keluarganya. Ibu akhirnya mengalah. Belakangan, ketika kami berkeliling tempat-tempat lama di Banda Aceh, ibu bercerita, almarhum ayah sesungguhnya sangat menikmati hidup sebagai petani dan petambak.

Ketika pindah dari Banda Aceh ke Samalanga, Bireun, Aceh. Mereka belum punya rumah. Kami tinggal di rumah orang tua ibu, rumah Abusyik. Sebuah rumah Aceh yang artistik, kayunya didatangkan dari Padang Tiji, Pidie, dari murid-murid Abusyik di Gogo. Rumah itu indah, penuh ukiran dan sejarah. Tapi bagi ayah, hidup menumpang, walau di rumah mertuanya selalu menyisakan perasaan kecil yang tak pernah ia ucapkan.

Karena itu, kami sempat pindah ke rumah dinas sekolah dasar, tinggal disana beberapa tahun. Dua bangunan sederhana yang khusus disediakan untuk guru. Saya masih ingat betul masa itu. Setiap akhir bulan, ayah membonceng ibu dengan kereta merahnya, mengambil beras catu. Beras catu adalah dimana beras tersebut memiliki kualitas yang tidak terlalu bagus dari produk beras lainnya. Saya duduk di rumah menunggu, menghitung waktu dengan perut lapar dan hati yang entah kenapa selalu tenang.

Waktu berjalan lambat. Terlalu lama rasanya kami tinggal di rumah orang tua dan di mes sekolah. Baru ketika saya kelas lima SD, ayah mulai membangun rumah sendiri. Tanahnya dibeli dari orang tua ibu, Abu Syik yang namanya sama dengan ayah, Ilyas, letak tanahnya masih satu kampung, hanya berbeda lorong.

Baca Juga:  Dari Aceh Menuju Mekkah: Ibadah Haji yang Mengajarkan Kita Arti Keluarga

Ayah adalah laki-laki pekerja keras. Saya tak pernah mendengar cerita ia bermalasan atau duduk santai. Hidupnya hanya kerja, kerja, kerja di sawah dan tambak.

Ia juga memelihara kerbau untuk membajak sawahnya. Sejak kelas tiga hingga kelas enam SD, saya menjadi tangan kecil yang membantu ayah, memberi makan kerbau, menjaga, dan menjemputnya setiap sore ketika dilepas ke hamparan sawah pascapanen. Ketika kelas satu hingga kelas dua sekolah dasar, saya tumbuh bersama syik, ibunya ayah.

Kerbau itu binatang jinak, patuh dan asyik. Kadang saya naik di punggungnya saat pulang ke kandang. Ayah mengurus potong rumput hingga ke gung glee meudong. Saya mengurus teknis. Kini, jika dikenang, semuanya terasa indah, seperti lukisan masa kecil yang damai. Tapi saat itu, rasanya berat, lelah, kadang pesimis memaknai hidup masa depan. Terlalu dini bagi seorang anak untuk memahami kerja dan lelah.

Ayah punya obsesi, membangun rumah sendiri. Bukan rumah mewah, tapi rumah yang “keren” menurut ukurannya. Ia dibantu seorang kerabat, Cek Sob, seorang guru yang jago desain dan sering menjadi kepala tukang. Rumah beton itu dirancang 4 kamar, dengan gaya sederhana yang kini saya tahu mirip Skandinavia, bersih, tegas, dan bertumbuh.

Di sela bekerja di sawah dan tambak, ayah ikut mengaduk semen, mengangkat bata. Tak pernah saya melihatnya mengeluh. Ketika dinding rumah impiannya mulai berdiri, setiap malam setelah magrib dan mengaji, ayah sering mengajak saya melihat progres rumah itu. Sambil bercerita apa saja.

Mengaji setelah magrib selalu menjadi ritual wajib. Ayah mengajarkan dengan suara keras. Salah saya baca sedikit, bentakan datang. Jurus terakhir saya hanya satu, menangis. Tangisan adalah tanda mengaji selesai.

Ayah perokok berat, merek rokonya ardath. Hampir setiap malam ia duduk di rumah setengah jadi itu, merokok, menatap dinding bata yang belum diplester. Seperti sedang berbincang diam-diam dengan dinding tentang masa depan istri dan anak-anaknya.

Baca Juga:  Wagub Aceh Fadhlullah Pimpin Ziarah Hari Pahlawan di TMP: Teladani Semangat Juang Para Pejuang Bangsa

Pondasi rumah itu dibuat tinggi, sekitar satu setengah meter dari jalan desa. Bertahun kemudian ibu bercerita, ayah sengaja membuatnya demikian agar rumah itu selamat dari banjir. Warga kampung ikut heran ketika itu, kenapa Teungku Ilyas membuat pondasi rumahnya terlalu tinggi.

Ketika atap selesai, dinding diplester, dan lantai disemen, ayah memaksa Ibu dan anak-anaknya segera pindah. Ibu sangat patuh dengan Ayah, apalagi kalau nada suara ayah meninggi. Suara ayah memang besar, ciri petani yang hidup di sawah dan tambak, dekat laut.

Ayah bahkan menginap sendirian hampir sebulan di rumah itu. Jendelanya ditutup triplek, lampunya redup. Ia seperti tak sabar hidup di rumah yang ia bangun dengan seluruh hidupnya.

Tahun 1993, rumah itu resmi menjadi milik kami, bertumbuh. Rumah dengan dilengakpi televisi bewarna. Rumah yang setiap malam didatangi warga untuk menonton sinetron dan siaran dunia dalam berita. Rumah yang hidup dan selalu ramai dari warga beragam usia.

Setahun kemudian, tahun 1994, saya pulang sekitar jam 11.30 selesai mengikuti hari kedua EBTANAS dengan sepeda. Orang-orang ramai di rumah. Ayah terbaring di ruang tamu. Untuk selamanya.

Ia meninggal mendadak. Tidak sakit. Pergi untuk selamanya, meninggalkan seorang istri yang setia hingga tuanya tak meninggalkan rumah lama-lama, kecuali berhaji dan umrah. Ayah meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil, meninggalkan ibunya dan adik-adiknya. Karena ia laki-laki pertama dari keluarganya. Ayah meninggal, tak memberi tanda-tanda kepada mereka. Walau Ayah sudah tiada, keluarga ayah selalu memperhatikan saya dan adik-adik. Setiap hari meugang dan lebaran mereka gantian mengirim daging dan sembako. Setiap selesai panen di sawah, mereka selalu menitip jajan ke rumah yang dibuat Ayah.

Bagi kami anak-anaknya, dan rumah yang di bangun Ayah sebagai warisan paling nyata dari cintanya kepada Ibu dan anaknya. Rumah yang hanya ditempait tak lebih dari dua tahun.

Baca Juga:  Kemenhaj RI dan UIN Ar-Raniry Aceh Teken MoU Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umrah

Puluhan tahun berlalu. Rumah itu tak pernah banjir, meski hanya berjarak sekitar 50 meter dari aliran Sungai Batee Iliek Samalanga. Setiap kali kampung dilanda banjir, ibu selalu tenang. Rumah yang dibuat ayah terlalu tangguh dan tinggi untuk ditaklukkan air.

Hingga 26 November 2025. Saat ibu sudah pensiun. Saat anak-anaknya telah berkeluarga. Saat delapan cucu memanggilnya “Nyak Syik”. Banjir akhirnya masuk ke rumah itu. Air membawa lumpur, dan lumpur merayap hingga ke kamar almarhum ayah.

Ibu adalah orang terakhir yang keluar mengungsi di kampung itu. Ia baru pergi setelah dibujuk anak ketiga dan adik bungsunya. Rumah ayah, untuk pertama kalinya dalam sejarah, tak lagi aman. Takluk dari air banjir dan lumpur.

Makam ayah, hanya lima meter dari rumah, ikut tenggelam lumpur. Hanya tanda  dengan rangkaian ujung bunga yang masih terlihat.

Sebulan pascabencana, rumah itu mulai dibersihkan. Anak-anaknya datang silih berganti. Tak ada yang menunggu diminta. Puluhan juta dikeluarkan, membersihkan lumpur, menyewa ekskavator. Mandiri tanpa berharap kemana-mana. Walau rumah itu tak akan pernah kembali seperti dulu. Namun ibu selalu tegar, bahwa ini musibah. Ditempat orang lebih parah, kita harus bersyukur katanya.

Saya sedikit emosi, ketika mendengar cerita adik, di hulu Sungai Batee Iliek sedang ada pembukaan lahan sawit dan eksplorasi SDA yang dimiliki oleh seorang politisi partai lokal dan pejabat DPR Aceh dan beberapa birokrat.

Ibu mengingatkan, ini musibah, dan ibu tetap tak mau jauh dari rumah itu, saya mengajaknya ke Banda Aceh, dengan alasan untuk berobat mata sekalipun, hanya bertahan 3 malam. Setelah itu, kami dibuat kalah oleh alasannya.

Barangkali Ibu tak mau jauh dengan rumah dan makam ayah. Rumah itu adalah kebaikan seorang suami dan ayah yang tak pernah sempat mengajarkan banyak hal, kecuali satu: bekerja, belajar, bertahan, dan mencintai sesama. Dan lumpur, betapapun tebalnya, tak akan pernah bisa mengubur itu semua.[]

Tags: acehbencanaIndonesiaSamalangaSumatra
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Kisah Haru di Panggung MTQ
Citizen Report

Kisah Haru di Panggung MTQ

by SAGOE TV
November 2, 2025
Cerita dari Konferensi Perdamaian Perempuan Internasional 2025
Citizen Report

Cerita dari Konferensi Perdamaian Perempuan Internasional 2025

by SAGOE TV
September 24, 2025
Baca Yasin Berjamaah di MIN 29 Aceh Besar, Bentuk Karakter Religius dan Disiplin Siswa
Citizen Report

Baca Yasin Berjamaah di MIN 29 Aceh Besar, Bentuk Karakter Religius dan Disiplin Siswa

by SAGOE TV
August 11, 2025
Qalbī Fīl Madīnah, Hari-Hari Terakhir Jamaah Haji Aceh di Tanah Suci
Citizen Report

Qalbī Fīl Madīnah, Hari-Hari Terakhir Jamaah Haji Aceh di Tanah Suci

by SAGOE TV
July 9, 2025
Muhajirul Fadhli Petugas Haji Daerah (PHD) Aceh 2025
Citizen Report

Dari Aceh Menuju Mekkah: Ibadah Haji yang Mengajarkan Kita Arti Keluarga

by SAGOE TV
February 8, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

April 16, 2026
Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan

Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan

April 18, 2026
UIN Ar-Raniry Peringkat 1 Nasional Scimago 2026, Lampaui UI dan UGM di Bidang Riset

UIN Ar-Raniry Peringkat 1 Nasional Scimago 2026, Lampaui UI dan UGM di Bidang Riset

April 20, 2026
MagangHub Kemnaker Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku

MagangHub Kemnaker Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku

April 19, 2026
Imeum Mukim Tungkop Peusijuek 48 Calon Jamaah Haji

Imeum Mukim Tungkop Peusijuek 48 Calon Jamaah Haji

April 20, 2026
Prof Eka Srimulyani kuliah tamu di Seoul National University, Korea Selatan, membahas riset generasi muda Muslim dan pengaruh budaya K-Pop.

Prof Eka Srimulyani Kuliah Tamu di Seoul National University, Bahas Generasi Muda Muslim dan K-Pop

April 18, 2026
Berhitung Ulang Manuver Prabowo di Kancah Global

Berhitung Ulang Manuver Prabowo di Kancah Global

April 17, 2026
Pemain Persiraja Banda Aceh

Persiraja vs Garudayaksa FC Malam Ini: Dek Gam Tekankan Harga Diri, Pemain Wajib Fight

April 19, 2026
6 Universitas Sepakat Kembangkan Riset Konservasi Gajah Sumatra di Lansekap Peusangan

6 Universitas Sepakat Kembangkan Riset Konservasi Gajah Sumatra di Lansekap Peusangan

April 17, 2026

EDITOR'S PICK

Transisi Pandemi-Endemi Covid-19, Psikologis Siswa, dan Pemanfaatan Microsoft Teams

January 12, 2023
Buka Puasa di Huntara Pidie Jaya, Wagub Aceh Dengarkan Keluhan Warga Korban Bencana

Buka Puasa di Huntara Pidie Jaya, Wagub Aceh Dengarkan Keluhan Warga Korban Bencana

March 13, 2026
Almuniza saat menerima audiensi perwakilan pegawai kontrak yang belum mendapatkan kuota formasi dalam seleksi kompetensi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tahap satu (kode R3), di ruang rapat Wali Kota Banda Aceh, Selasa (14/1/2025).

Almuniza Bentuk Tim Khusus Perjuangkan PPPK R3 ke BKN Pusat

January 14, 2025
Masjid Kok Begitu

Masjid Kok Begitu

March 24, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.