Oleh: Amrina Habibi
Presidium Balai Syura Ureung Inong Aceh (BSUIA). Melaporkan dari Korea Selatan.
Kali ini, saya ikut menghadiri acara International Women’s Peace Conference 2025 (Konferensi Perdamaian Perempuan Internasional 2025) yang diselenggarakan di Korea Selatan, mulai tanggal 18-20 Sepetember 2025. Setelah acara, pada tanggal 21 September 2025, seluruh delegasi dari berbagai negara diajak tour ke Kawasan DMZ.
Jam menunjukkan pukul 10.00 waktu Korea Selatan. Saat saya dan kawan-kawan dari delegasi Indonesia bergerak menaiki Bus menuju DMZ, singkatan dari Demilitarized Zone atau Zona Demiliterisasi. DMZ adalah sebuah jalur tanah selebar sekitar 4 km dan panjang 250 km yang membentang melintasi semenanjung Korea, memisahkan Korea Selatan dan Korea Utara. DMZ dibentuk berdasarkan Perjanjian Gencatan Senjata Korea tahun 1953 setelah berakhirnya Perang Korea (1950–1953). DMZ menjadi zona penyangga untuk mencegah bentrokan langsung militer antar kedua negara.
Disekitiar DMZ terdapat Joint Security Area (JSA) di Panmunjom, tempat militer kedua negara kadang bertemu untuk negosiasi. Selain simbol pemisahan, DMZ juga menjadi simbol harapan perdamaian, karena banyak pertemuan diplomatik Korea Utara–Selatan dilakukan di wilayah Panmunjom dalam DMZ.
Dalam bus yang saya tumpangi terdapat delegasi dari Filipina, saya terlibat diskusi mendalam dengan beliau. Namanya Ibu Maria Timbol bersama dengan timnya. Suasana perjalanan terasa ibarat piknik, selain konferensi yang diselenggaran oleh IWPG Korea Selatan. Juga perjalanan ke DMZ begitu elegan.
Kesan yang diciptakan okeh teman teman pengurus IWPG Korea Selatan dan belum lama berjalan bus berhenti dan kita diminta turun diarahkan ke taman dengan rumah ciri khas Korea Selatan dekat dengan terowongan dan gedung besar tempat salah syuting film Korea yang berjudul 2521 yang cukup terkenal di Indonesia.
Latar Film itu mengenai krisis sosialdan krisis ekonomi Asia 1997 yang sangat berpengaruh di Korea. Drama film “Twenty-Five Twenty-One”, Cerita utama film tersbeut merujuk pada dua tokohnya, yaitu Na Hee-do (diperankan Kim Tae-ri), sebagai seorang siswi SMA yang bercita-cita menjadi atlet anggar profesional. Ia berjuang keras meski banyak hambatan, termasuk pengaruh krisis ekonomi yang membuat klub anggar di sekolahnya ditutup. Dan cerita Baek Yi-jin (diperankan Nam Joo-hyuk), seorang putra dari keluarga kaya yang bangkrut karena krisis finansial. Ia terpaksa bekerja keras, dari loper koran hingga reporter olahraga, untuk membangun kembali hidupnya.
Para pemandu tour mengarahkan kita peserta tour dengan ramah. Kita mengambil beberapa photo dan sekaligus menuju toilet. Pperjalanan menuju perbatasan memakan waktu tempuh yang lumayan lama.
Sepanjang jalan menuju perbatasan kami menikmati pemandangan sawah yang padinya mulai mengguning dan ditengah sawah ada semacam bangunan dan ternyata itu adalah salah satu strategi untuk menyelamatkan tanaman dimusim dingin. Korea menunjukkan diri bahwa teknologi dipersiapkan untuk menghadapi semua musim sehingga tidak mempengaruhi kualitas produksi. Pengelolaan pangan dan pertanian khususnya sudah sangat modern.
Akhirnya sampailah kami diwilayah perbatasan dan seorang tentara masih muda wajah kingclon menaiki bus dan berbicara dengan pimpinan regional IWPG dan kami diminta menyerahkan paspor dan tidak berapa kemudian setelah dilakukan akurasi bus kembali bergerak menuju restoran tempat kami akan dijamu dan ternyata disana sudah sudah duluan ada Kim Simplis Barrow Farmer First Lady of Belize dan temannya dari Belize sedang menikmati hidangan yang terlihat sangat menggoda dan oh ternyata itu sayuran semuanya dengan makanan orang korea utara sangat sederhana tapi cukup sehat. Bayangkan dengan makanan orang Aceh penuh dengan lemak dan minyak. Namun begitu, makanan Aceh tetap tidak ada lawan.
Perang memang sangat mengerikan dan menyedihkan dan itu dimemorilakan dalam Tugu di Kawasan TMZ. Berbagai pajangan photo dan tempat pertemuan antara Korea Utara dan Korea Selatan juga dapat dilihat. Dimana negosiasi berlangsung juga terawat dengan baik.
Dorasan Park
Dekat dengan Zona Demiliterisasi (DMZ), terdapat Dorasan Park. Dorasan Park adalah sebuah taman yang berada di wilayah paling utara Korea Selatan, dekat Zona Demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan Korea Selatan dan Korea Utara. Terletak di Paju, Provinsi Gyeonggi, sekitar 56 km dari Seoul dan hanya beberapa kilometer dari perbatasan Korea Utara.
Dari tuturan pemandu, menyebutkan bahwa Dorasan Park adalah taman symbol damai. Dibangun untuk menjadi pengingat bahwa meskipun kedua Korea masih terpisah, ada harapan reunifikasi. Biasanya tempat ini menjadi tempat singgah wisatawan sebelum atau sesudah mengunjungi Dorasan Station (stasiun kereta paling utara Korea Selatan yang masih terhubung dengan rel menuju Korea Utara, meski saat ini tidak beroperasi lintas negara). Di dalamnya terdapat monumen, ruang peringatan, dan fasilitas bagi wisatawan.
Menurut saya, Dorasan Park, bagai dua sisi mata uang yang menguntungkan, terekamnya jejak rekaman sejarah kedua korea, dan satu lagi menurutnya adalah membawa keberkahan ekonomi dari wisatawan. Singkatnya, Sejarah mereka tak bakal hilang dan uang masuk.
Berbeda dengan Aceh, objek wisata Sejarah, wisata konflik, wisata damai dan wisata relegius nyaris akan menjadi dogeng suatu waktu, karena tidak dirawat dengan baik. Apalgi berifkir untuk dapat membawa uang. Padahal, parawista dengan latar apapun saat ini menjadi pendapatan daerah.
Satu tempat lagi yang saya dan teman teman kunjungi adalah Observatorium Dora yang menawarkan pemandangan langsung ke Korea Utara dan memiliki teropong untuk melihat lebih dekat.
Observatorium Dora (Dora Observatory) adalah salah satu tempat wisata paling terkenal di Korea Selatan, terletak di dekat Zona Demiliterisasi (DMZ) antara Korea Selatan dan Korea Utara, tepatnya di Paju, Provinsi Gyeonggi. Berada di atas bukit, sehingga pengunjung bisa melihat wilayah Korea Utara secara langsung.
Di Dora Observatory ini terdapat fasilitas teropong raksasa untuk sisa melihat desa-desa, ladang, bahkan bendera besar di Korea Utara. Terdapat juga papan informasi yang dapat kita baca tentang sejarah DMZ, lokasi desa, dan kota di sisi utara. Tempatnya benar-benar edukatif dan memanjakan kita untuk membacanya. Setiap pengunjung dapat belajar tentang sejarah konflik Korea, Perang Korea, dan upaya perdamaian.
Menurut keterangan salah satu teman delegasi dari Afrika. Tempat ini dibangun juga sebagai bentuk untuk mengobati rasa rindu orang Korea Utara yang belum bisa Kembali ke negaranya. Mereka melepas rasa rindu dengan menggunakan teropong untuk melihat Korea Utara dari jauh.
Untuk menjadi wisatawan dapay mengunjungn DMZ, kita harus harus mengikuti aturan pemandu tour yang telah disetujui oleh pemerintah Korea Selatan. Khusus bagi wisatawan seluruh dokumen harus dipersiapkan dan diperlihakan. Paspor wajib dibawa setiap saat, dan ada aturan berpakaian yang ketat.
DMZ masih merupakan zona militer yangmasih berfungsi, sehingga keamanan sangat ketat dan saya menjadi orang yang beruntung karena bisa hadir dari dekat yang difasilitasi oleh teman teman IWPG.
Korea Selatan memang benar-benar telah belajar tentang perang. Keterlibatan Masyarakat sipil untuk memjaga damai sangat luar biasa dan sepertinya kebijakan negarapun selaras dengan apa yg diperjuangkan.
Semoga suatu saat, kampung halaman saya, nanggroe Aceh yang memiliki seribu kisah konflik dan damai dari ratusan tahun lalu hinggai MoU Helsinki dapat menjadi pembelajaran yang berdampak bagi ekosistem parawista. Tentu pengeloaan objek wisata sebuah keharusan untuk perekonomian Aceh.[]




















