Oleh: Muhammad Jais, S.E., M.Sc.IBF
Founder and Chairman International Research for Islamic Social Finance (IRISoF), Dosen FEB Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) dan Alumni IIiBF IIUM.
Di tengah arus urbanisasi global dan kompetisi antarkota yang semakin dinamis, Banda Aceh memiliki modal yang tidak dimiliki banyak kota lain: sejarah ketangguhan, identitas keislaman yang kuat, serta pengalaman panjang dalam membangun kolaborasi lintas sektor. Modal sosial dan spiritual inilah yang menjadi fondasi penting bagi visi pembangunan Banda Aceh sebagai Kota Kolaborasi, sebagaimana diusung oleh Wali Kota Illiza Sa’aduddin Djamal dan Wakil Wali Kota Afdhal Khalilullah.
Konsep kolaborasi yang dimaksud tidak hanya sebatas kerja sama antarinstansi, melainkan sebuah paradigma pembangunan yang menyatukan pemerintah, dunia usaha, akademisi, ulama, komunitas, dan masyarakat dalam mencapai tujuan bersama. Dalam konteks Banda Aceh, kolaborasi memiliki makna yang lebih mendalam karena bertemu dengan nilai-nilai syariah yang telah menjadi identitas kota selama berabad-abad.
Dari Kota Syariah Menuju Kota Islami yang Berkemajuan
Sering kali pembangunan kota syariah dipahami secara sempit hanya pada aspek regulasi keagamaan. Padahal, dalam perspektif Islam, pembangunan kota harus mencerminkan tujuan utama syariat atau maqashid Syariah, yaitu menjaga agama (hifz ad-din), menjaga jiwa (hifz an-nafs), menjaga akal (hifz al-aql), menjaga keturunan (hifz an-nasl), dan menjaga harta (hifz al-mal). Prinsip-prinsip inilah yang kemudian menjadi dasar penyusunan Indeks Kota Islami (IKI). Melalui indikator keagamaan, tata kelola pemerintahan, peradaban, kemakmuran, dan keunggulan, IKI mengukur sejauh mana sebuah kota mampu menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakatnya.
Menariknya, nilai-nilai yang terkandung dalam IKI memiliki irisan yang sangat kuat dengan agenda pembangunan global melalui Sustainable Development Goals (SDGs). Keadilan sosial, pendidikan berkualitas, kesehatan masyarakat, pertumbuhan ekonomi inklusif, kota berkelanjutan, hingga tata kelola pemerintahan yang baik merupakan tujuan yang selaras dengan maqashid syariah. Dengan demikian, Banda Aceh tidak perlu memilih antara menjadi kota modern atau kota syariah. Justru keduanya dapat berjalan beriringan. Modernitas menjadi instrumen, sedangkan syariah menjadi arah dan nilai yang membimbing pembangunan.
Modal Besar Banda Aceh: SDM Unggul dan Sejarah Kolaborasi
Banda Aceh memasuki fase pembangunan baru dengan sejumlah keunggulan yang sangat kompetitif. Salah satunya adalah capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 89,55, yang termasuk tertinggi di Indonesia. Angka ini menunjukkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat yang menjadi fondasi utama pembangunan kota berbasis pengetahuan.
Selain itu, Banda Aceh memiliki pengalaman historis yang luar biasa. Pascatsunami 2004, kota ini menjadi contoh dunia tentang bagaimana kolaborasi mampu mengubah tragedi menjadi momentum kebangkitan. Puluhan negara, lembaga internasional, organisasi kemanusiaan, dan komunitas lokal bekerja bersama membangun kembali kota ini. Pengalaman tersebut membentuk karakter Banda Aceh sebagai kota yang terbuka terhadap kemitraan, inovasi, dan gotong royong. Oleh karena itu, visi “Kota Kolaborasi” sesungguhnya bukan konsep baru, melainkan kelanjutan dari identitas yang telah terbukti dalam sejarah.
Smart City Berbasis Syariah: Masa Depan Banda Aceh
Dalam era transformasi digital, Banda Aceh memiliki peluang besar untuk menjadi model Smart City Syariah di Indonesia bahkan Asia Tenggara. Smart City Syariah bukan sekadar penggunaan teknologi, tetapi integrasi antara inovasi digital dengan nilai-nilai maqashid Syariah. Pada aspek Smart Governance, pelayanan publik dapat diperkuat melalui digitalisasi birokrasi, sistem pelayanan terpadu berbasis aplikasi, transparansi anggaran, dan pengawasan publik yang mendorong pemerintahan bebas korupsi serta lebih akuntabel. Pada aspek Smart Economy, Banda Aceh dapat menjadi pusat ekonomi halal berbasis digital melalui penguatan UMKM, marketplace produk halal, digitalisasi zakat, infak, sedekah dan wakaf (ZISWAF), serta pengembangan startup syariah yang berbasis teknologi.
Pada aspek Smart Environment, pembangunan kota dapat diarahkan pada konsep hijau dan berkelanjutan melalui pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular, energi terbarukan, konservasi air, serta pembangunan ruang publik yang sehat dan nyaman. Sementara itu, aspek Smart Living dan Smart People dapat diwujudkan melalui peningkatan kualitas pendidikan, integrasi pendidikan agama dan teknologi, pembangunan fasilitas publik yang ramah keluarga, serta penguatan literasi digital masyarakat.
Menjadikan Banda Aceh Kota Ramah Anak dan Ramah Keluarga
Salah satu implementasi nyata maqashid syariah adalah perlindungan terhadap generasi masa depan. Karena itu, visi Kota Kolaborasi perlu diterjemahkan ke dalam agenda pembangunan yang menjadikan Banda Aceh sebagai kota paling ramah anak di Indonesia. Adapun program yang dapat dikembangkan antara lain:
- Pembangunan taman bermain islami dan ruang terbuka hijau ramah keluarga di setiap kecamatan.
- Jalur pejalan kaki dan jalur sepeda yang aman bagi anak-anak.
- Sekolah berbasis teknologi dan karakter Qurani.
- Pusat kreativitas anak dan remaja berbasis seni, budaya, sains, dan teknologi.
- Sistem perlindungan anak terintegrasi berbasis digital.
- Kota bebas perundungan, narkoba, dan kekerasan terhadap perempuan serta anak.
Kota yang baik bukan diukur dari tingginya gedung yang dibangun, tetapi dari seberapa nyaman anak-anak tumbuh dan berkembang di dalamnya.
Membangun Destinasi Wisata Islami
Sebagai Serambi Mekkah, Banda Aceh memiliki peluang besar menjadi pusat wisata halal dan wisata islami dunia. Potensi ini tidak hanya terletak pada Masjid Raya Baiturrahman sebagai ikon utama, tetapi juga pada kekayaan sejarah, budaya, kuliner halal, wisata tsunami, wisata bahari, serta kehidupan masyarakat yang religius.
Untuk memperkuat posisi tersebut, beberapa program strategis yang dapat dikembangkan adalah:
- Banda Aceh Islamic Heritage Trail sebagai jalur wisata sejarah Islam.
- Smart Tourism berbasis aplikasi digital multibahasa.
- Festival Internasional Peradaban Islam.
- Pengembangan waterfront city dan marina syariah.
- Sertifikasi halal menyeluruh bagi hotel, restoran, dan UMKM.
- Pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya Aceh.
- Wisata edukasi tsunami dan ketangguhan bencana yang terintegrasi dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keislaman.
Pariwisata islami yang dikembangkan bukan hanya menghadirkan kunjungan wisatawan, tetapi juga membangun citra Banda Aceh sebagai kota yang aman, nyaman, berbudaya, dan berkelas dunia.
Kolaborasi Sebagai Jalan Menuju Kemaslahatan
Pada akhirnya, visi Banda Aceh sebagai Kota Kolaborasi memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar slogan pembangunan. Ia merupakan strategi untuk menyatukan seluruh potensi kota dalam mewujudkan kemaslahatan masyarakat. Kolaborasi memungkinkan pemerintah bekerja lebih efektif, dunia usaha berinvestasi dengan nyaman, akademisi menghadirkan inovasi, ulama menjaga arah moral pembangunan, dan masyarakat menjadi bagian aktif dari perubahan.
Jika konsep ini dijalankan secara konsisten, Banda Aceh berpotensi menjadi model kota masa depan yang unik, kota yang modern tanpa kehilangan identitas, kota yang maju tanpa meninggalkan nilai-nilai agama, serta kota yang kompetitif sekaligus berorientasi pada kesejahteraan dan keberlanjutan. Banda Aceh tidak sedang membangun sekadar kota yang cerdas. Banda Aceh sedang membangun peradaban. Peradaban yang bertumpu pada nilai syariah, diperkuat oleh teknologi, digerakkan oleh kolaborasi, dan diarahkan untuk kemaslahatan seluruh masyarakat. Inilah makna sesungguhnya dari Banda Aceh sebagai Kota Kolaborasi.




















