• Tentang Kami
Thursday, July 30, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Meuseukat & Pho: Bukti Perempuan Aceh Tak Pernah Absen dari Sejarah Seni Islam

SAGOE TV by SAGOE TV
September 26, 2025
in SENI
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Aceh Dua Dekade Damai: Seremoni Berlimpah, Substansi Terlupa

Ari J. Palawi. (Foto: dokumentasi pribadi)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi

Di sebuah sore (Sabtu, 6 September 2025) di Lhoksukon saya duduk bersama syeh Faizan, utoh Rapa’i Pasee. Obrolan kami sederhana, tidak melulu tentang seni, melainkan tentang kehidupan sehari-hari. Lalu saya melakukan video call dengan kanda Rafly ‘Kande’, mengetahui syeh Faizan juga sahabat baik beliau. Dari balik layar, kanda Rafly berbagi pengalaman panggungnya. Ada kegelisahan yang ia rasakan: seolah-olah ruang bagi perempuan dalam kesenian Aceh kian menyempit, seakan panggung untuk mereka tidak lagi terfasilitasi sebagaimana mestinya.

Kegelisahan ini mengantar kami kepada percakapan yang lebih dalam: mengapa kesenian masyarakat Aceh yang dulu tumbuh subur di dayah, zawiah, rangkang, dan meunasah, kini makin jarang terdengar? Mengapa banyak ruang itu justru digantikan oleh bentuk seni dari latar budaya Arab? Pertanyaan kritis pun muncul: apakah kesenian Aceh itu tidak islami? Syeh Faizan menanggapi dengan tenang, dari sudut pandang ketertiban dan kekhusyukan. Memang, dentuman Rapa’iPasee yang keras dan menggelegar terasa sulit dipadukan dengan rutinitas harian di dayah, tetapi tetap punya tempat terhormat dalam pertunjukan khusus.

Kalau kita jujur, perempuan Aceh tidak pernah absen dalam sejarah seni. Meuseukat adalah salah satu buktinya. Tarian duduk ini dimainkan berkelompok oleh perempuan, dengan syair yang melantunkan do’a, pujian Nabi, atau kisah rakyat. Dalam pesta pernikahan, pelepasan jamaah haji, hingga perayaan hari besar, Meuseukat menjadi ruang ekspresi religius sekaligus sosial. Bentuk awalnya, Ratéb Duek, berakar dari praktik zikir tarekat Sammān’iyah yang kemudian diperkaya dengan gerak dan nyanyian (Raseuki, 1993). Dari situ lahir pula Ratéb Meuseukat, yang lebih kental dengan syair-syair religius, menunjukkan betapa erat kaitannya seni perempuan dengan dakwah Islam (Kartomi, 2011).

BACA JUGA

Setelah Panggung Dibongkar

Kardo National Qualifier: Dari Arena Kompetisi Menuju Ruang Baru Kreativitas Anak Muda Aceh

Di Aceh Barat dan Selatan ada Pho, tarian berdiri yang dimainkan perempuan. Kadang ia tampil dalam suasana suka, kadang pula dalam suasana duka. Dari Pho lahir malelang, ratapan perempuan dalam konteks kematian, sebuah tradisi ekspresi duka yang sarat nilai spiritual sekaligus sosial (Bowen, 1991). Sementara itu di dataran tinggi Gayo, tumbuh Bines, dimainkan oleh perempuan dengan syair khas Gayo, menjadi bukti bahwa setiap wilayah Aceh memiliki ragam estetika perempuan yang berakar pada tradisi Islam. Bahkan Seudati yang selama ini dikenal maskulin pun memiliki bentuk Seudati Inong, meski jarang mendapat sorotan sebesar Seudati Agam (Raseuki, 1993).

Semua ini memperlihatkan bahwa seni perempuan bukan penyimpangan. Ia adalah bagian integral dari tradisi Aceh. Dan lebih jauh lagi, ia menunjukkan kemampuan Islam di Aceh untuk berakulturasi. Sejarah panjang Nusantara membuktikan bahwa seni sudah ada sejak prasejarah—nyanyian, musik bambu, dan tari ritual dalam konteks animisme. Masa Hindu-Buddha memberi warna baru. Lalu Islam datang sejak abad ke-13, tidak menghapus tradisi, melainkan memeluk dan mengislamkannya. Dari praktik zikir lahirlah Ratéb Duek. Dari syair-syair dakwah lahirlah meuseukat. Rapai digunakan sebagai pengiring zikir dan hikayat (Kartomi, 2012).

Sastra pun ikut meneguhkan ini. Hikayat Prang Sabi adalah contoh paling terkenal, karya besar Teungku Chik Haji Muhammad Pante Kulu: puisi religius yang membakar semangat jihad melawan kolonialisme Belanda (Ricklefs, 2001). Syair, hikayat, dan panton menjadi bagian dari keseharian, menunjukkan bagaimana seni dan Islam menyatu dalam politik, budaya, dan spiritualitas Aceh. Nyak Ina Raseuki menegaskan bahwa Seudati atau Meuseukat bukan ritual ibadah, melainkan ekspresi iman yang tumbuh bersama adat, sebagai bagian dari cara orang Aceh merayakan keislamannya dengan estetika (Raseuki, 1993).

Namun, kita tidak bisa menutup mata. Jalur pendidikan tradisional yang dulu menjadi tempat suburnya seni—dayah, zawiah, rangkang, meunasah—kini banyak kehilangan fungsi kulturalnya. Di sekolah formal, kurikulum sering lebih menekankan musik Eropa daripada Rapa’i atau Meuseukat. Padahal pendidikan adalah jalur paling efektif untuk regenerasi. Tanpa itu, tradisi hanya akan hidup sesekali dalam festival, tanpa basis yang kuat di masyarakat. Margaret Kartomi mengingatkan: tradisi tidak hilang, ia berevolusi. Tetapi tanpa regenerasi yang terfasilitasi, evolusi itu bisa berakhir sebagai kepunahan (Kartomi, 2011).

Karena itu, ada dua prinsip yang patut kita pegang. Pertama, jangan terburu-buru menilai bahwa perempuan tidak boleh berkesenian. Kehati-hatian boleh ada, tetapi sifatnya pada tata cara dan konteks, bukan larangan mutlak. Kedua, jangan pernah berhenti mengajarkan tradisi seni masyarakat Aceh di jalur pendidikan formal, informal, maupun non-formal. Di sekolah rakyat, di sekolah umum, di kursus seni, di rumah-rumah sanggar, tradisi harus terus diajarkan, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Itulah jalan paling konkret untuk memastikan seni tidak berhenti pada generasi kita.

Tradisi Berkesenian Masyarakat di Aceh harus kita pandang sebagai sebuah orkestra besar yang penuh warna. Ada dentuman Rapa’i Pasee yang mengguncang dada, liar sekaligus sakral, menuntut ruang panggungnya sendiri. Ia mungkin tidak dapat menyatu dengan ketenangan keseharian dayah, tetapi tetap layak dimuliakan dalam pentas besar. Namun, jangan sampai perhatian kita hanya berhenti pada rapa’i semata. Ada Meuseukat dengan syair yang lembut, Phoyang tegak penuh ekspresi, Malelang yang menyuarakan duka, Bines yang memantulkan keindahan dataran tinggi, dan Seudati Inong yang tak kalah berwibawa. Semua tradisi perempuan itu sama-sama besar, sama-sama Islami, sama-sama bermakna. Bersama rapa’i dan Seudati, mereka membentuk wajah Aceh yang utuh—keras dan lembut, tegas dan indah, religius dan artistik. Menjaga mereka berarti menjaga jati diri, merawat Islam yang ramah, dan memelihara kebanggaan kita sendiri. []

Tentang Penulis:

Ari Palawi, S.Sn., M.A., Ph.D. Lahir, bernyanyi dan belajar hingga SMA di Banda Aceh. Lalu menekuni gitar klasik, musikologi dan etnomusikologi, serta kajian budaya Asia di ISI Yogyakarta, University of Hawai’i at Manoa, dan Monash University. Saat ini mengajar di Universitas Sumatera Utara dan Universitas Syiah Kuala.

Tags: acehAri J. PalawiKebudayaanMeuseukatMeuseukat & PhoPerempuan AcehPhoRapaisejarahSeni
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Setelah Panggung Dibongkar
SENI

Setelah Panggung Dibongkar

by SAGOE TV
July 28, 2026
Kardo National Qualifier Dari Arena Kompetisi Menuju Ruang Baru Kreativitas Anak Muda Aceh
SENI

Kardo National Qualifier: Dari Arena Kompetisi Menuju Ruang Baru Kreativitas Anak Muda Aceh

by SAGOE TV
July 21, 2026
Ruang Perjumpaan #001 SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem
SENI

Ruang Perjumpaan #001: SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

by SAGOE TV
July 15, 2026
Doa dan Kebersamaan dalam Kepemimpinan Baru USK 2026-2031
SENI

Ketika Sebuah Peradaban Kehilangan Cara Mewariskan Dirinya

by SAGOE TV
July 8, 2026
Pemulihan atau Proyek? Catatan Kritis atas Program Pemulihan Kebudayaan Pascabencana di Sumatera
SENI

Ekosistem adalah Karya Seni Terbesar Kita

by SAGOE TV
July 2, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Putri Saleh ASN Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh Bidang perlindungan Khusus Anak.

Jangan Biarkan Masa Depan Anak Berjalan Sendiri

July 30, 2026
LGBT dan Cermin Penegakan Syariat di Aceh

LGBT dan Cermin Penegakan Syariat di Aceh

July 29, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Setelah Panggung Dibongkar

Setelah Panggung Dibongkar

July 28, 2026
Ajakan Terbuka Menulis untuk Rubrik Seni SagoeTV.com

Ajakan Terbuka Menulis untuk Rubrik Seni SagoeTV.com

July 6, 2025
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (1)

June 3, 2026
Calvin Ho

Pariwisata Tanpa Kedaulatan: Skandal Struktural dari Bali dan Pelajaran bagi Aceh

July 30, 2026
BPMA dan TNI AD Perkuat Pengamanan Blok A Medco di Aceh Timur

BPMA dan TNI AD Perkuat Pengamanan Blok A Medco di Aceh Timur

July 23, 2026
UIA dan IKDAR Malaysia Resmi Jalin Kerja Sama, Gelar International Guest Lecture

UIA dan IKDAR Malaysia Resmi Jalin Kerja Sama, Gelar International Guest Lecture

July 28, 2026

EDITOR'S PICK

RIAB Fair XI Berakhir, Madrasah Aliyah Dayah Insan Qurani Kembali Raih Juara Umum

RIAB Fair XI Berakhir, Madrasah Aliyah Dayah Insan Qurani Kembali Raih Juara Umum

September 28, 2024
Plh Sekda Aceh Kalungkan Medali untuk Juara Panjat Tebing PON XXI Aceh-Sumut

Plh Sekda Aceh Kalungkan Medali untuk Juara Panjat Tebing PON XXI Aceh-Sumut

September 12, 2024
Pemantauan Hilal Awal Ramadhan Aceh

Kemenag Aceh Siapkan Enam Lokasi Pengamatan Hilal Awal Ramadhan 1446 H

February 14, 2025
Illiza Gencarkan Razia Penegakan Syariat Islam di Banda Aceh

Illiza Gencarkan Razia Penegakan Syariat Islam di Banda Aceh

April 16, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.