Oleh: Ari J. Palawi
ADA satu hal yang belakangan sering muncul ketika melihat Banda Aceh.
Kota ini tidak pernah benar-benar sepi.
Hampir setiap minggu selalu ada sesuatu yang bergerak. Diskusi berlangsung di sudut-sudut yang berbeda. Musik dimainkan di ruang yang berbeda. Workshop berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Komunitas lahir, bertumbuh, lalu melahirkan inisiatif baru. Anak-anak muda mengorganisasi kegiatan dengan sumber daya yang terbatas tetapi dengan energi yang nyaris tidak habis-habis.
Dalam banyak hal, ini pertanda baik.
Sebuah kota yang masih melahirkan perjumpaan adalah kota yang masih memiliki denyut kehidupan.
Masih ada orang yang bersedia meluangkan waktu untuk mengajar.
Masih ada yang bersedia belajar.
Masih ada yang mendokumentasikan.
Masih ada yang mengorganisasi.
Masih ada yang membuka ruang agar orang lain dapat bertemu.
Tidak semua kota memiliki kemewahan seperti itu.
Namun ada satu pertanyaan yang terus mengendap.
Mengapa begitu banyak hal baik lahir di kota ini, tetapi hanya sedikit yang tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri?
Pola yang sama terus muncul.
Sebuah kegiatan berlangsung dengan baik.
Orang-orang datang.
Percakapan terjadi.
Ide bermunculan.
Kolaborasi mulai dibayangkan.
Nomor telepon bertukar tangan.
Foto dan video direkam.
Semua orang pulang dengan keyakinan bahwa sesuatu yang penting baru saja terjadi.
Lalu waktu berjalan.
Dokumentasi tersimpan di laptop seseorang.
Kontak-kontak baru perlahan tenggelam dalam daftar panjang percakapan.
Catatan yang pernah dianggap penting tidak pernah lagi dibuka.
Jejaring yang sempat terbentuk kehilangan momentum.
Beberapa bulan kemudian, siklus yang hampir sama kembali dimulai.
Mencari orang yang sama.
Mencari ruang yang sama.
Mengulang percakapan yang sama.
Menjelaskan kembali hal-hal yang pernah dijelaskan sebelumnya.
Seolah-olah kota ini memiliki kebiasaan untuk terus memulai dari awal.
Bukan karena kekurangan orang yang bekerja.
Bukan karena kekurangan gagasan.
Energi selalu tersedia.
Yang sering tidak bertahan adalah jembatan yang menghubungkan satu pengalaman dengan pengalaman berikutnya.
Selama ini kehidupan budaya sering diukur dari jumlah peristiwa yang berhasil diselenggarakan.
Semakin banyak acara, semakin hidup sebuah kota dianggap.
Ukuran semacam itu terasa terlalu sederhana.
Yang lebih penting justru apa yang tertinggal setelah sebuah kegiatan selesai.
Apakah pengetahuan baru berhasil dicatat?
Apakah hubungan baru berhasil dirawat?
Apakah pengalaman yang lahir dapat digunakan kembali oleh orang lain?
Ataukah semuanya menghilang bersama pembongkaran panggung dan berakhir sebagai arsip yang tidak pernah dibuka lagi?
Perbedaan antara kota yang ramai dan kota yang berkembang sering berada di wilayah yang nyaris tidak terlihat itu.
Kota yang berkembang memiliki kemampuan untuk mengingat.
Ia menyimpan pengalaman.
Menghubungkan pengetahuan.
Merawat hubungan.
Dan meneruskan hasil kerja satu generasi kepada generasi berikutnya.
Ketika mendengar kata infrastruktur, perhatian kita biasanya tertuju pada bangunan, jalan, atau fasilitas fisik.
Dalam kehidupan budaya, bentuknya jauh lebih beragam.
Sebuah sistem dokumentasi yang baik adalah infrastruktur.
Arsip yang terawat adalah infrastruktur.
Peralatan bersama yang dapat diakses banyak orang adalah infrastruktur.
Platform yang menyimpan pengetahuan adalah infrastruktur.
Ruang yang membuat orang merasa nyaman untuk datang kembali juga merupakan infrastruktur.
Banyak di antaranya tidak terlihat megah.
Tidak memiliki seremoni peresmian.
Tidak menghasilkan foto-foto yang mudah dipublikasikan.
Namun justru elemen-elemen seperti itulah yang menentukan apakah sebuah ekosistem dapat tumbuh atau hanya menghasilkan rangkaian peristiwa yang terputus-putus.
Kreativitas dapat lahir dari spontanitas.
Sementara, keberlanjutan membutuhkan sesuatu yang lebih dari itu.
Belakangan perhatian saya sering tertuju pada ruang-ruang yang tetap hidup tanpa perlu dipaksa hidup.
Ruang yang ramai bukan karena jadwal kegiatan.
Melainkan karena kehadiran manusia.
Salah satunya adalah Skate Park Lamprit.
Yang menarik dari tempat itu bukan bentuk fisiknya.
Bukan pula fasilitasnya.
Daya tarik utamanya terletak pada kebiasaan yang tumbuh di dalamnya.
Setiap sore orang datang dengan alasan yang berbeda-beda.
Ada yang bermain skateboard.
Ada yang berlatih.
Ada yang memotret.
Ada yang membuat video.
Ada yang berdiskusi.
Ada yang sekadar duduk menunggu senja.
Ada yang datang karena ingin bertemu teman.
Ada pula yang datang karena tidak ingin sendirian.
Tidak ada protokol khusus.
Tidak ada susunan acara.
Tidak ada panggung utama.
Namun kehidupan terus berlangsung.
Di situlah nilai sebuah ruang publik sering kali ditemukan.
Ia mempertemukan manusia.
Banyak hal penting tumbuh dari pertemuan yang sederhana.
Bukan dari ruang yang paling megah.
Bukan dari program yang paling besar.
Melainkan dari ruang yang cukup hidup untuk membuat orang kembali datang.
Lalu datang lagi.
Dan datang lagi.
Hingga hubungan yang semula sebatas perkenalan berubah menjadi kepercayaan.
Hampir semua kerja kolektif bertumpu pada fondasi itu.
Kolaborasi tumbuh dari kepercayaan.
Pengetahuan tumbuh dari percakapan.
Komunitas tumbuh dari kebiasaan untuk terus hadir.
Bahkan peluang ekonomi sering lahir dari hubungan-hubungan yang pada mulanya tidak pernah direncanakan.
Pertanyaan yang layak diajukan bukan bagaimana menghadirkan lebih banyak acara.
Pertanyaan yang lebih mendesak adalah bagaimana memastikan setiap pertemuan meninggalkan sesuatu yang dapat digunakan kembali.
Sebuah dokumentasi.
Sebuah arsip.
Sebuah pengetahuan.
Sebuah jejaring.
Atau sekadar alasan yang cukup kuat untuk kembali bertemu minggu depan.
Kota yang hidup bukan kota yang paling sering menghasilkan peristiwa.
Kota yang hidup adalah kota yang mampu belajar dari peristiwa-peristiwa yang pernah dialaminya.
Banda Aceh telah menunjukkan kemampuannya untuk bangkit, beradaptasi, dan membangun kembali dirinya berkali-kali.
Energi itu tidak pernah benar-benar hilang.
Ia berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dari satu komunitas ke komunitas lain.
Dari satu ruang ke ruang yang lain.
Pekerjaan yang masih menunggu adalah menghubungkan semuanya.
Menyimpan pengalaman yang telah diperoleh.
Merawat pengetahuan yang telah lahir.
Menjaga hubungan yang telah terbentuk.
Lalu meneruskannya kepada mereka yang akan datang setelah kita.
Sebab kota tidak dibangun hanya oleh bangunan.
Kota dibangun oleh ingatan.
Oleh percakapan.
Oleh kebiasaan untuk saling belajar.
Oleh ruang-ruang yang membuat orang ingin kembali datang.
Dan oleh kesediaan untuk memastikan bahwa setiap generasi tidak perlu mengulang perjalanan yang sama dari garis awal.[]



















