Oleh: Putri Saleh
ASN Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh bidang Perlindungan Khusus Anak.
Ada seorang anak yang mungkin hari ini sedang tersenyum, tetapi menyimpan ketakutan yang tidak pernah ia ceritakan. Ada anak yang tetap pergi ke sekolah, meski di rumah ia menyaksikan pertengkaran. Ada anak yang terlihat bermain bersama teman-temannya, tetapi diam-diam menjadi korban perundungan. Ada anak yang menggenggam erat telepon genggamnya, tanpa kita tahu bahwa di balik layar, ia sedang berhadapan dengan ancaman, kekerasan, atau sesuatu yang belum mampu ia pahami.
Ada pula seorang anak yang hari ini sedang kehilangan masa kanak-kanaknya. Terlalu cepat dipaksa mengerti persoalan orang dewasa. Terlalu cepat diminta menerima keadaan. Terlalu cepat meninggalkan mimpi-mimpi kecilnya. Mereka adalah anak-anak kita. Anak-anak Aceh.
Sudahkah kita benar-benar hadir untuk anak-anak? Sudahkah kita mendengarkan ketika mereka berbicara? Sudahkah kita memperhatikan ketika mereka tiba-tiba menjadi pendiam? Sudahkah kita bertanya mengapa mereka takut pulang ke rumah? Sudahkah kita menyadari ketika seorang anak perlahan kehilangan semangat belajar, kehilangan kepercayaan diri, atau memilih menyimpan kesedihannya seorang diri? Sebab, tidak semua luka pada anak terlihat.
Ada luka yang tidak berdarah, tetapi membekas sangat dalam. Ada tangisan yang tidak terdengar karena seorang anak belajar untuk menyembunyikannya. Ada ketakutan yang tidak pernah diucapkan karena mereka takut tidak dipercaya. Dan ada anak-anak yang hanya berharap satu hal sederhana. Apa itu ? adakah orang dewasa yang mau mendengarkan mereka tanpa menghakimi ?
Ketika satu anak menjadi korban kekerasan, sesungguhnya bukan hanya satu kehidupan yang terluka. Ada masa depan yang ikut terluka. Ketika seorang anak putus sekolah, ada cita-cita yang mungkin terpaksa ditunda. Ketika seorang anak dipaksa menikah sebelum waktunya, ada masa kanak-kanak yang direnggut terlalu cepat. Ketika seorang anak tumbuh tanpa rasa aman, ada bagian dari masa depannya yang mungkin ikut hilang.Karena itu, perlindungan anak bukan sekadar tugas pemerintah. Bukan hanya tugas orang tua. Bukan pula hanya urusan sekolah atau lembaga perlindungan anak.
Perlindungan anak adalah tanggung jawab kita semua.
Sebab anak bukan hanya milik keluarganya. Anak adalah milik masa depan Aceh. Namun, di tengah berbagai tantangan itu, kita juga harus percaya bahwa selalu ada harapan. Harapan tumbuh dari anak-anak Aceh yang berani bermimpi. Dari mereka yang terus belajar meski memiliki keterbatasan. Dari anak-anak yang berani bersuara dan menyampaikan pendapat. Dari mereka yang menjaga lingkungan, berkarya, berprestasi, membantu sesama, dan percaya bahwa masa depan masih bisa menjadi lebih baik.
Kita melihat senyum mereka dalam berbagai kegiatan. Kita melihat mata mereka berbinar ketika belajar sesuatu yang baru. Kita melihat keberanian mereka ketika diberi kesempatan untuk berbicara. Di sanalah kita kembali diingatkan bahwa anak-anak tidak membutuhkan dunia yang sempurna. Mereka membutuhkan orang dewasa yang mau berusaha menciptakan dunia yang lebih baik untuk mereka.
Mereka membutuhkan rumah yang menjadi tempat paling aman untuk pulang. Mereka membutuhkan sekolah yang tidak membuat mereka takut. Mereka membutuhkan lingkungan yang tidak membiarkan kekerasan terjadi di depan mata. Mereka membutuhkan pemerintah yang hadir ketika mereka membutuhkan perlindungan.Dan yang paling penting, mereka membutuhkan orang dewasa yang mau mendengarkan suara mereka.
Jangan meminta anak menjadi kuat sebelum kita memastikan mereka merasa aman. Jangan meminta mereka memahami dunia sebelum kita mengajarkan bahwa dunia juga bisa menjadi tempat yang penuh kasih.Dan jangan pernah membuat seorang anak merasa bahwa ketika ia menghadapi masalah, ia harus menghadapinya seorang diri.
Pada Hari Anak ini, mari kita ubah cara kita memandang anak.
Anak-anak yang seharusnya tumbuh dengan tawa, bukan ketakutan. Dengan kasih sayang, bukan kekerasan. Dengan kesempatan untuk belajar dan bermain, bukan dengan beban kehidupan yang terlalu berat untuk usia mereka. Hari Anak Nasional bukan sekadar tentang panggung, perlombaan, hadiah, atau foto-foto kebahagiaan. Hari Anak Nasional adalah momentum untuk bertanya kepada hati kita masing-masing.
Mari kita bangun Aceh sebagai rumah besar yang aman bagi setiap anak. Tempat di mana tidak ada anak yang takut untuk bermimpi. Tidak ada anak yang merasa sendirian. Tidak ada anak yang kehilangan masa kecilnya karena kekerasan, eksploitasi, atau keadaan yang seharusnya dapat kita cegah bersama. Jangan biarkan masa depan anak berjalan sendirian.
Mari bergandengan tangan, keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintah, dunia usaha, media, komunitas, dan seluruh elemen masyarakat, untuk memastikan setiap anak di Aceh tahu bahwa mereka berharga, mereka didengar, dan mereka tidak pernah sendirian. Selamat Hari Anak Nasional 2026. []




















