• Tentang Kami
Monday, March 16, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Ketika Istana Negara Tenggelam

SAGOE TV by SAGOE TV
December 15, 2025
in Analisis
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Ketika Istana Negara Tenggelam

Dominggus Elcid Li. Foto: dokumen pribadi

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dominggus Elcid Li
Direktur Eksekutif IRGSC (Institute of Resource Governance and Social Change)

Bencana akibat Siklon Senyar yang meliputi wilayah Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat merupakan bencana yang membutuhkan koordinasi, kecepatan tanggap darurat, dan ketelitian operasi level tertinggi dalam skala yang sangat luas.

BACA JUGA

Soekarno, Hasan Tiro, Ayatullah Khamenei, dan Islam Perlawanan

Apa Pentingnya Cara Pandang Bencana?

Dalam estimasi awal CELIOS, tingkat kerugian dari hitungan kerusakan saja sudah melebihi Tsunami Aceh 2004. Secara nominal (dalam rupiah hari ini), banjir dan longsor Sumatra 2025 diperkirakan menimbulkan kerugian dan kerusakan ekonomi yang jauh lebih besar (≈ Rp 68,6 triliun – belum termasuk data kehilangan ekonomi akan terus di-update untuk kabupaten-kabupaten yang belum sepenuhnya bisa diakses) dibanding tsunami Aceh–Nias 2004 (Rp 41,4 triliun – untuk kerusakan dan kehilangan).

Sayangnya dengan tantangan yang demikian luas Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, dan Kepala BNPB, Suharyono, gagal mengemban tugas awal di fase tanggap bencana. Kegagalan Presiden dan Kepala BNPB dalam menilai skala bencana membuat korban jatuh semakin bertambah, dan hingga kini keduanya tidak mampu menjadi jembatan antara ‘tuntutan lapangan dari para korban’ dan ‘otoritas kekuasaan negara’. Kegagalan ini lebih buruk dari saat Presiden George Bush menangani korban Siklon Katrina di tiga negara bagian di AS pada Bulan Agustus 2005, terutama dalam hal identifikasi korban dan penanganan kedaruratan.

Negara (State) dalam pengertian liberal adalah rantai kelembagaan yang sambung menyambung dan saling berpilin untuk menjawab persoalan warga negara. Siklon Senyar berdampak pada 51 kabupaten di Indonesia, atau 12% total Kabupaten se-Indonesia. Jika otoritas tertinggi paham dengan data dan skala kebencanaan dengan sendirinya ini merupakan ‘bencana nasional’. Namun hingga hari ke-sepuluh terhitung dari puncak Siklon Senyar, status bencana nasional tidak muncul. Lebih buruk lagi Kepala BNPB malah mengecilkan skala bencana di awal komentar, dan hingga kini Presiden Prabowo Subianto juga tidak dalam posisi confident dalam memaparkan ‘ketimpangan dasar’ dalam respons bencana.

Baca Juga:  Pengalaman Meliput Perang dan Damai Aceh; Laku Lancung Pemilik Senjata, Kamu Jurnalis Apa?

Contoh yang paling ekstrim akibat dari keterlambatan sistem respons kebencanaan adalah kematian akibat kelaparan dari 4 pengungsi Sungai Liput, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang. Dengan jumlah pengungsian yang teramat besar, dalam skala 1 juta orang, Presiden Prabowo sebagai pimpinan eksekutif tertinggi negara seharusnya menguasai data, sehingga mampu menentukan road map tanggap bencana Senyar di fase awal bencana.

Seandainya data lapangan dikuasai, maka dalam konteks Siklon Senyar dengan medan yang teramat sulit, seharusnya di tahap awal operasi udara dalam skala besar sangat diperlukan, dan Indonesia membutuhkan dukungan air lifting dari berbagai negara tetangga untuk menjangkau korban dan mendistribusikan bantuan darurat. Presiden dan para pembantunya bisa membandingkan jumlah helikopter yang beroperasi dalam tanggap Siklon Katrina di AS dan jumlah helikopter yang beroperasi dalam Siklon Senyar. Kegagalan mengidentifikasi kebutuhan korban, dan ketidakmampuan pemimpin untuk menerjemahkan dalam skenario operasi kebencanaan membuat hingga hari ini Presiden Prabowo dan Kepala BNPB juga tidak mengetahui apa yang keliru dalam fase awal ini.

Salah satu kelemahan yang terlihat dalam respons bencana Siklon Senyar adalah personifikasi yang berlebihan dalam institusi kepresidenan dan lembaga BNPB, yang melupakan kultur kelembagaan dan kerja kolektif berbagai institusi. Dalam kajian tubuh politik (political body), tubuh pemegang kekuasaan terbagi atas dua, antara ‘dia sebagai orang atau individu’ yang memimpin dan ‘dia sebagai perwakilan’ seluruh tubuh politik. Kesulitannya adalah dalam kecenderungan ‘budaya dinasti politik’ watak republik sedang kembali ke era ke-pangeranan, atau era kerajaan. Proses pengangkatan para pejabat tidak lagi mengikuti tuntutan rasionalitas republik, tetapi kembali pada langgam kerajaan yang menekankan pada figur pangeran atau darah biru, dibandingkan urusan keselamatan ‘semua warga negara’ sebagai prinsip tertinggi. Kesalahan ini merupakan kesalahan kolektif, dan merupakan fondasi dari berbagai rentetan bencana sosial yang juga sedang terjadi di Indonesia.

Baca Juga:  TP PKK Aceh Gandeng RSUDZA dan Baitul Mal Salurkan Kaki Palsu

Kritik publik yang muncul lewat frasa ‘negara adalah saya’ yang muncul akhir-akhir ini, menunjukkan ketidakseimbangan yang kian menguat antara dua elemen di atas, dan ini kian merapuhkan kapasitas kelembagaan negara, terutama kapasitas lembaga BNPB. Lebih buruk lagi ‘tangisan publik’, dibaca presiden dan jajaran menterinya hanya dibaca sebagai kritik personal, dan tidak dilihat dalam perspektif tubuh politik republik.

Macetnya sistem meritokrasi dalam BNPB misalnya, dipicu sejak Presiden Jokowi mengeluarkan Perpres No.1 tahun 2019. Bangunan sistem dan lembaga kebencanaan yang dibangun susah payah pasca Tsunami Aceh (2004), terlihat menjadi sangat rapuh dan Indonesia secara kelembagaan seolah harus mulai dari nol. Sebab investasi mendasar yang seharusnya diletakan dalam sistem dan lembaga, dipindahkan semata pada kekuatan personal. Kondisi terburuk terjadi ketika orang orang yang diangkat tidak diambil berdasarkan hasil seleksi meritokrasi operasi kebencanaan.

Upaya mitigasi terhadap BNPB seharusnya dilakukan sejak awal, misalnya dengan menekankan siapa pun pejabat politik yang muncul pasca badai Pemilu baik di pusat maupun daerah agar tidak mengganggu kaderisasi lembaga dan sistem kebencanaan. Namun, jika personifikasi berbagai lembaga negara semakin menjauhkan para pejabat dari kultur egalitarian republic, maka tidak heran jika sekarang kesenjangan yang muncul amat menganga, dan tidak mungkin diperbaiki lewat sistem rekrutmen politik saat ini. Bahkan lebih buruk lagi berbagai organisasi keagamaan pun juga terimbas dari sistem buruk ini.

Negara adalah kita
Saat ini, selain desa-desa yang sedang tenggelam kita juga sedang mengalami tenggelamnya istana negara sebagai sentral komunikasi kekuasaan republik. Dari jauh terlihat bahwa dengan sistem komunikasi yang amat tertutup membuat Presiden tampak dari luar sebagai figur yang tidak peka terhadap bencana Sumatra.

Baca Juga:  CPMH UGM dan GEN-A Salurkan Dignity Kit untuk Penyintas Bencana di Aceh

Kosongnya elemen kepemimpinan dan otoritas dalam tanggap bencana, memunculkan figur atau model generasi baru seperti Ferry Irwandi yang beroperasi dalam skema relawan atau ‘negara adalah kita’. Ferry menempatkan diri bahwa ia adalah sama dengan para korban dan tidak berjarak. Sebaliknya, komentar kepala BNPB di fase awal menunjukan minimnya rasa empati dan tidak adanya ‘rasa kedaruratan yang sama’ dalam tubuh republik. Respons terlambat dari kepala negara, yang tidak peka terhadap kematian warga akibat kelaparan juga memperlihatkan negara sebagai perisai juga sedang pupus.

Di masa depan, dengan data modeling dan simulasi terperinci untuk antisipasi dampak siklon di daratan di seluruh pulau di Indonesia seharusnya kita bisa lebih siap ketik alaram peringatan dini siklon tropis muncul lagi. Untuk itu anggaran untuk BNPB untuk keempat deputi tidak mungkin nol rupiah Pak Presiden, sebab itu adalah tindakan kriminal!

Satu kematian dari seorang warga negara Republik Indonesia adalah duka kita semua. Ini bukan soal warga negara atau seorang presiden yang lebih pintar, namun ini soal keselamatan warga republik yang terabaikan. Kita tidak boleh membiarkan republik tenggelam dalam personifikasi berlebihan di seluruh lembaga-lembaga negara.

Duka di Sumatra adalah duka kita semua. Sebab dasar dari Republik Indonesia adalah perjuangan bersama untuk kehidupan yang lebih baik, sebagai lawan dari kematian dan perbudakan akibat penjajahan. Jika saat ini rakyat bergerak dalam nalar ‘korban bantu korban’, para pejabat tidak boleh membiarkan bencana berdiri di atas bencana yang lain. Prinsip-prinsip dasar republik harus dikuasai oleh siapa pun agar agar istana negara tidak tenggelam pada saat dibutuhkan rakyat. []

Tags: #pedulibencanabencanaBencana Sumatera 2025Dominggus Elcid LiIstanaMakin Tahu IndonesiaNegarasagoetv.com
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Hasan Tiro: Islam sebagai Identitas Perlawanan Bangsa
Analisis

Soekarno, Hasan Tiro, Ayatullah Khamenei, dan Islam Perlawanan

by SAGOE TV
March 8, 2026
Apa Pentingnya Cara Pandang Bencana?
Analisis

Apa Pentingnya Cara Pandang Bencana?

by Anna Rizatil
February 2, 2026
Nada Terakhir Negara di Ruang Ilmu: Membaca 35 Persen Suara Menteri di Universitas Syiah Kuala
Analisis

Nada Terakhir Negara di Ruang Ilmu: Membaca 35 Persen Suara Menteri di Universitas Syiah Kuala

by Anna Rizatil
January 2, 2026
Ramadhan Bulan Istimewa: Saatnya Tingkatkan Taqwa dan Produktivitas
Analisis

Sabar Bukan Diam: Refleksi Etika dan Kebijakan dalam Penanggulangan Bencana Aceh

by Anna Rizatil
January 2, 2026
Ketika Kepemimpinan Diuji oleh Krisis dan Keterbukaan
Analisis

Ketika Kepemimpinan Diuji oleh Krisis dan Keterbukaan

by Anna Rizatil
December 30, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

5.789 PPPK Pemerintah Aceh Terima SK, Mualem Ingatkan Jangan Nongkrong di Warkop saat Jam Kerja

THR ASN Aceh Rp 205,7 Miliar Mulai Cair, 41.410 PNS dan PPPK Terima Jelang Idul Fitri

March 14, 2026
Momentum Baru bagi Universitas Syiah Kuala: Menata Kembali Tempat Seni dalam Ekosistem Akademik

Momentum Baru bagi Universitas Syiah Kuala: Menata Kembali Tempat Seni dalam Ekosistem Akademik

March 14, 2026
Menata Ekosistem Pengetahuan Seni di Aceh

Menata Ekosistem Pengetahuan Seni di Aceh: Dari Momentum ke Kerja Nyata

March 14, 2026
Hasan Tiro: Islam sebagai Identitas Perlawanan Bangsa

Soekarno, Hasan Tiro, Ayatullah Khamenei, dan Islam Perlawanan

March 8, 2026
Prof Mirza Tabrani Resmi Dilantik Jadi Rektor Universitas Syiah Kuala

Prof Mirza Tabrani Resmi Dilantik Jadi Rektor Universitas Syiah Kuala

March 9, 2026
Karantina Ramadhan, Pretest Sebelum Mondok

Karantina Ramadhan, Pretest Sebelum Mondok

March 9, 2026
Kabar Baik! Pemerintah Aceh Gelar Operasi Pasar Murah di 5 Daerah, Ini Lokasi Lengkapnya

Kabar Baik! Pemerintah Aceh Gelar Operasi Pasar Murah di 5 Daerah, Ini Lokasi Lengkapnya

March 11, 2026
UIN Ar-Raniry Masuk Enam Besar PTKIN dengan Peminat Terbanyak

UIN Ar-Raniry Masuk Enam Besar PTKIN dengan Peminat Terbanyak

March 10, 2026
Olahraga Padel Makin Populer di Aceh, Komunitas Gelar Turnamen 'Ramadhan Silaturahmi'

Olahraga Padel Makin Populer di Aceh, Komunitas Gelar Turnamen ‘Ramadhan Silaturahmi’

March 14, 2026

EDITOR'S PICK

Persiraja Menang atas PSMS Medan, Ini Kata Pelatih Akhyar Ilyas

Persiraja Menang atas PSMS Medan, Ini Kata Pelatih Akhyar Ilyas

March 14, 2025
Anies Baswedan Sowan ke DPD PDI Perjuangan

Anies Baswedan Sowan ke DPD PDI Perjuangan

August 24, 2024
Seminar Internasional FUF UIN Ar-Raniry Bahas Ekoteologi sebagai Respons Krisis Lingkungan Aceh

Seminar Internasional FUF UIN Ar-Raniry Bahas Ekoteologi sebagai Respons Krisis Lingkungan Aceh

February 6, 2026
Syariat Islam di Aceh Jadi Daya Tarik Dunia Internasional

Syariat Islam di Aceh Jadi Daya Tarik Dunia Internasional

February 2, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.