• Tentang Kami
Wednesday, May 13, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

Anna Rizatil by Anna Rizatil
April 29, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

Muna Madrah. Sosiolog dan Dosen Fakultas Agama Islam, Universitas Islam Sultan Agung. Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Muna Madrah
Sosiolog dan Dosen Fakultas Agama Islam, Universitas Islam Sultan Agung

Ada satu pertanyaan yang belakangan mengusik: ketika negara mulai berbicara tentang penutupan program studi yang “tidak relevan dengan industri”, apakah kita sedang membicarakan efisiensi , atau sedang mendefinisikan ulang makna pendidikan itu sendiri?

Wacana ini, di satu sisi, tampak masuk akal. Dunia kerja berubah cepat, industri menuntut keterampilan spesifik, dan perguruan tinggi diharapkan tidak sekadar menjadi menara gading yang terputus dari kenyataan. Dalam logika ini, pendidikan tinggi diposisikan sebagai penyedia human capital, mesin pencetak tenaga kerja terampil demi menggerakkan ekonomi. Namun justru di titik inilah kegelisahan itu muncul: apakah pendidikan memang tidak lebih dari itu?

BACA JUGA

Doa dan Kebersamaan dalam Kepemimpinan Baru USK 2026-2031

Minim Komunikasi Antarprofesi, Keselamatan Pasien Bisa Terancam

Sejarah memberi pelajaran yang perlu kita ingat. Sejak Revolusi Industri, institusi pendidikan tidak pernah benar-benar netral. Ia tumbuh seiring perubahan struktur ekonomi. Sekolah modern lahir bukan semata untuk membentuk manusia yang utuh, melainkan untuk mencetak manusia yang disiplin, patuh pada waktu, dan mampu bekerja dalam sistem produksi yang terstandar. Ruang kelas, dalam banyak hal, adalah cermin logika pabrik.

Dalam tradisi pemikiran kritis, pendidikan justru dipahami sebagai ruang pembebasan. Paulo Freire mengingatkan bahwa pendidikan bisa menjadi alat domestikasi, ketika ia sekadar melatih manusia untuk menyesuaikan diri dengan sistem yang ada. Namun demikian pendidikan juga bisa menjadi praksis pembebasan, ketika ia membuka ruang untuk mempertanyakan sistem itu sendiri. Di sini, pendidikan bukan soal keterampilan semata, tetapi soal kesadaran.

Konteks Indonesia memperumit ketegangan ini. Berbeda dengan negara-negara yang telah lebih dulu membangun pendidikan sebagai ruang pembentukan kesadaran kritis, Indonesia masih bergulat dengan problem dasar: ketimpangan akses, mutu yang belum merata, dan tradisi belajar yang lebih mengandalkan kepatuhan daripada refleksi. Dalam banyak ruang kelas, pengetahuan masih mengalir satu arah , bukan sebagai dialog, melainkan sebagai instruksi.

Baca Juga:  Aktualisasi Sosial Syariat Islam: Abstraksi Konseptual Ajaran Sosiologi Islam

Di titik inilah kita berhadapan dengan sebuah paradoks. Di satu sisi, kita belum berhasil menjadikan pendidikan sebagai ruang pembentukan kesadaran. Di sisi lain, kita sudah didorong untuk menyesuaikan diri dengan logika industri global yang menuntut efisiensi, kecepatan, dan relevansi ekonomi. Pendidikan kita seperti dipaksa melompat dari sistem yang belum matang secara reflektif, langsung menuju sistem yang serba instrumentalis.

Ketika program studi dinilai semata-mata dari relevansinya terhadap industri, ukuran nilai ilmu menjadi semakin sempit. Filsafat, sosiologi, studi agama Adalah contoh ilmu-ilmu yang tidak langsung menghasilkan keuntungan ekonomi. Perlahan ilmu-ilmu yang demikian akan dianggap kurang penting, bahkan tidak perlu. Padahal justru dari ruang-ruang inilah lahir kemampuan berpikir kritis, membaca kekuasaan, dan menjaga arah moral sebuah masyarakat.

Perlu juga kita jujur: tidak semua kritik terhadap kebijakan ini berarti menolak perubahan. Ada program studi yang memang perlu berbenah, kurikulumnya usang, tidak adaptif, dan gagal menjawab kebutuhan zaman. Tetapi solusinya tidak sesederhana menutupnya. Sebab persoalan yang lebih mendasar bukan pada “relevansi” semata, melainkan pada cara kita mendefinisikan relevansi itu sendiri. Apakah relevansi hanya diukur dari seberapa cepat lulusan terserap pasar kerja? Atau relevansi juga mencakup kemampuan membentuk manusia yang mampu berpikir, merasakan, dan bertanggung jawab terhadap masyarakatnya?

Jika pendidikan sepenuhnya tunduk pada logika pasar, kita berisiko kehilangan fungsi reflektifnya, bahkan sebelum fungsi itu sempat tumbuh. Kampus akan berubah menjadi pabrik: efisien, produktif, tetapi miskin makna. Ia akan menghasilkan pekerja, tetapi belum tentu menghasilkan warga negara yang sadar.

Di tengah arus global yang semakin pragmatis, kehati-hatian justru sangat diperlukan. Kita tidak sekadar mengejar ketertinggalan dari negara lain, tetapi memastikan bahwa arah yang kita tuju tidak mengorbankan pondasi yang belum selesai kita bangun. Jika semua ilmu harus relevan dengan industri, siapa yang akan mengkritik industri itu sendiri? Jika semua pendidikan diarahkan untuk memasuki sistem, siapa yang akan mempertanyakan ke mana sistem itu melaju?

Baca Juga:  Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh?

Mungkin di sinilah kita perlu sejenak berhenti. Bukan untuk menolak perubahan, tetapi untuk memastikan bahwa dalam upaya menjadi “relevan”, pendidikan tidak kehilangan jiwanya. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang menyiapkan manusia untuk bekerja. Ia adalah tentang menyiapkan manusia untuk menjadi manusia.[]

Tags: Makin Tahu IndonesiaopinipendidikanPeradabanProgam Studi Tidak Relevan
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Doa dan Kebersamaan dalam Kepemimpinan Baru USK 2026-2031
Opini

Doa dan Kebersamaan dalam Kepemimpinan Baru USK 2026-2031

by SAGOE TV
May 10, 2026
Minim Komunikasi Antarprofesi, Keselamatan Pasien Bisa Terancam
Opini

Minim Komunikasi Antarprofesi, Keselamatan Pasien Bisa Terancam

by SAGOE TV
May 7, 2026
Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh
Opini

Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh?

by SAGOE TV
April 26, 2026
Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan
Opini

Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan

by Anna Rizatil
April 25, 2026
Mahasiswa Baru dan Tupoksi yang Terlupakan
Opini

Mahasiswa Baru dan Tupoksi yang Terlupakan

by Anna Rizatil
April 20, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Doa dan Kebersamaan dalam Kepemimpinan Baru USK 2026-2031

Doa dan Kebersamaan dalam Kepemimpinan Baru USK 2026-2031

May 10, 2026
Inkubasi Seni sebagai Praktik Publik: Membangun Ekosistem Hidup Seni, Pengetahuan, dan Ruang Kampus

Inkubasi Seni sebagai Praktik Publik: Membangun Ekosistem Hidup Seni, Pengetahuan, dan Ruang Kampus

May 6, 2026
3.811 Peserta UTBK SNBT 2025 Lolos di USK, Jalur Mandiri Masih Dibuka

Jalur Mandiri USK 2026 Dibuka hingga 11 Juni, Ini Kesempatan Terakhir Masuk PTN

May 5, 2026
Mualem Gelar Silaturahmi dengan Ulama

Mualem Gelar Silaturahmi dengan Ulama

May 9, 2026
Pewarta Foto Aceh Chaideer Mahyuddin Raih APFI 2026 lewat Foto Cerita “The Last Hope”

Pewarta Foto Aceh Chaideer Mahyuddin Raih APFI 2026 lewat Foto Cerita “The Last Hope”

May 9, 2026
Minim Komunikasi Antarprofesi, Keselamatan Pasien Bisa Terancam

Minim Komunikasi Antarprofesi, Keselamatan Pasien Bisa Terancam

May 7, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

May 27, 2025
Dari Banda Aceh, Pendidikan Seni Dibaca Ulang sebagai Infrastruktur Kemanusiaan

Dari Banda Aceh, Pendidikan Seni Dibaca Ulang sebagai Infrastruktur Kemanusiaan

May 3, 2026
Hubbika House Creative Gelar Kelulusan Kidspreneurclub 3 dan Launching Produk Siswa

Hubbika House Creative Gelar Kelulusan Kidspreneurclub 3 dan Launching Produk Siswa

May 11, 2026

EDITOR'S PICK

USK Santuni Mahasiswa Korban Bencana Rp25 Juta, Bebaskan UKT hingga Lulus

USK Santuni Mahasiswa Korban Bencana Rp25 Juta, Bebaskan UKT hingga Lulus

February 8, 2026
Didanai SBSN, Gedung Ruang Kuliah Terpadu UIN Ar-Raniry Segera Dioperasikan

Didanai SBSN, Gedung Ruang Kuliah Terpadu UIN Ar-Raniry Segera Dioperasikan

October 27, 2024
Aceh Perpanjang Status Tanggap Darurat Bencana untuk Ketiga Kalinya

Belum Tuntas, Mualem Kembali Perpanjang Status Tanggap Darurat Bencana Aceh

January 23, 2026
Dr Sulaiman Tripa

Malam Puasa 7, Tarawihlah dengan Bahagia

March 6, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.