• Tentang Kami
Friday, June 19, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

Anna Rizatil by Anna Rizatil
April 29, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

Muna Madrah. Sosiolog dan Dosen Fakultas Agama Islam, Universitas Islam Sultan Agung. Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Muna Madrah
Sosiolog dan Dosen Fakultas Agama Islam, Universitas Islam Sultan Agung

Ada satu pertanyaan yang belakangan mengusik: ketika negara mulai berbicara tentang penutupan program studi yang “tidak relevan dengan industri”, apakah kita sedang membicarakan efisiensi , atau sedang mendefinisikan ulang makna pendidikan itu sendiri?

Wacana ini, di satu sisi, tampak masuk akal. Dunia kerja berubah cepat, industri menuntut keterampilan spesifik, dan perguruan tinggi diharapkan tidak sekadar menjadi menara gading yang terputus dari kenyataan. Dalam logika ini, pendidikan tinggi diposisikan sebagai penyedia human capital, mesin pencetak tenaga kerja terampil demi menggerakkan ekonomi. Namun justru di titik inilah kegelisahan itu muncul: apakah pendidikan memang tidak lebih dari itu?

BACA JUGA

Di Balik Ijazah dan Angka Pengangguran: Mengapa Sistem Pendidikan Perlu Diperbaiki Dasarnya

Banda Aceh: Dari Kota Syariah Menuju Halal Smart City

Sejarah memberi pelajaran yang perlu kita ingat. Sejak Revolusi Industri, institusi pendidikan tidak pernah benar-benar netral. Ia tumbuh seiring perubahan struktur ekonomi. Sekolah modern lahir bukan semata untuk membentuk manusia yang utuh, melainkan untuk mencetak manusia yang disiplin, patuh pada waktu, dan mampu bekerja dalam sistem produksi yang terstandar. Ruang kelas, dalam banyak hal, adalah cermin logika pabrik.

Dalam tradisi pemikiran kritis, pendidikan justru dipahami sebagai ruang pembebasan. Paulo Freire mengingatkan bahwa pendidikan bisa menjadi alat domestikasi, ketika ia sekadar melatih manusia untuk menyesuaikan diri dengan sistem yang ada. Namun demikian pendidikan juga bisa menjadi praksis pembebasan, ketika ia membuka ruang untuk mempertanyakan sistem itu sendiri. Di sini, pendidikan bukan soal keterampilan semata, tetapi soal kesadaran.

Konteks Indonesia memperumit ketegangan ini. Berbeda dengan negara-negara yang telah lebih dulu membangun pendidikan sebagai ruang pembentukan kesadaran kritis, Indonesia masih bergulat dengan problem dasar: ketimpangan akses, mutu yang belum merata, dan tradisi belajar yang lebih mengandalkan kepatuhan daripada refleksi. Dalam banyak ruang kelas, pengetahuan masih mengalir satu arah , bukan sebagai dialog, melainkan sebagai instruksi.

Di titik inilah kita berhadapan dengan sebuah paradoks. Di satu sisi, kita belum berhasil menjadikan pendidikan sebagai ruang pembentukan kesadaran. Di sisi lain, kita sudah didorong untuk menyesuaikan diri dengan logika industri global yang menuntut efisiensi, kecepatan, dan relevansi ekonomi. Pendidikan kita seperti dipaksa melompat dari sistem yang belum matang secara reflektif, langsung menuju sistem yang serba instrumentalis.

Ketika program studi dinilai semata-mata dari relevansinya terhadap industri, ukuran nilai ilmu menjadi semakin sempit. Filsafat, sosiologi, studi agama Adalah contoh ilmu-ilmu yang tidak langsung menghasilkan keuntungan ekonomi. Perlahan ilmu-ilmu yang demikian akan dianggap kurang penting, bahkan tidak perlu. Padahal justru dari ruang-ruang inilah lahir kemampuan berpikir kritis, membaca kekuasaan, dan menjaga arah moral sebuah masyarakat.

Perlu juga kita jujur: tidak semua kritik terhadap kebijakan ini berarti menolak perubahan. Ada program studi yang memang perlu berbenah, kurikulumnya usang, tidak adaptif, dan gagal menjawab kebutuhan zaman. Tetapi solusinya tidak sesederhana menutupnya. Sebab persoalan yang lebih mendasar bukan pada “relevansi” semata, melainkan pada cara kita mendefinisikan relevansi itu sendiri. Apakah relevansi hanya diukur dari seberapa cepat lulusan terserap pasar kerja? Atau relevansi juga mencakup kemampuan membentuk manusia yang mampu berpikir, merasakan, dan bertanggung jawab terhadap masyarakatnya?

Jika pendidikan sepenuhnya tunduk pada logika pasar, kita berisiko kehilangan fungsi reflektifnya, bahkan sebelum fungsi itu sempat tumbuh. Kampus akan berubah menjadi pabrik: efisien, produktif, tetapi miskin makna. Ia akan menghasilkan pekerja, tetapi belum tentu menghasilkan warga negara yang sadar.

Di tengah arus global yang semakin pragmatis, kehati-hatian justru sangat diperlukan. Kita tidak sekadar mengejar ketertinggalan dari negara lain, tetapi memastikan bahwa arah yang kita tuju tidak mengorbankan pondasi yang belum selesai kita bangun. Jika semua ilmu harus relevan dengan industri, siapa yang akan mengkritik industri itu sendiri? Jika semua pendidikan diarahkan untuk memasuki sistem, siapa yang akan mempertanyakan ke mana sistem itu melaju?

Mungkin di sinilah kita perlu sejenak berhenti. Bukan untuk menolak perubahan, tetapi untuk memastikan bahwa dalam upaya menjadi “relevan”, pendidikan tidak kehilangan jiwanya. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang menyiapkan manusia untuk bekerja. Ia adalah tentang menyiapkan manusia untuk menjadi manusia.[]

Tags: Makin Tahu IndonesiaopinipendidikanPeradabanProgam Studi Tidak Relevan
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Di Balik Ijazah dan Angka Pengangguran: Mengapa Sistem Pendidikan Perlu Diperbaiki Dasarnya
Opini

Di Balik Ijazah dan Angka Pengangguran: Mengapa Sistem Pendidikan Perlu Diperbaiki Dasarnya

by SAGOE TV
June 18, 2026
Banda Aceh Dari Kota Syariah Menuju Halal Smart City
Opini

Banda Aceh: Dari Kota Syariah Menuju Halal Smart City

by SAGOE TV
June 17, 2026
Dulu Melawan, Kini Membuktikan: Blok Andaman dan Ujian Generasi Pasca-Helsinki
Opini

Dulu Melawan, Kini Membuktikan: Blok Andaman dan Ujian Generasi Pasca-Helsinki

by SAGOE TV
June 16, 2026
Menata Ekosistem Pengetahuan Seni di Aceh
Opini

Setelah Dilestarikan, Lalu Apa?

by SAGOE TV
June 16, 2026
Musriadi: Hardikda 2025 Momentum Tingkatkan Mutu Pendidikan dan Karakter Siswa Aceh
Opini

Dek Gam Sang Petarung, PAN Aceh Menuju Tiga Besar 2029

by SAGOE TV
June 15, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh: Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

June 7, 2026
Banda Aceh Dari Kota Syariah Menuju Halal Smart City

Banda Aceh: Dari Kota Syariah Menuju Halal Smart City

June 17, 2026
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (1)

June 3, 2026
Banda Aceh Kota Kolaborasi Menyatukan Nilai Syariah, Inovasi, dan Keberlanjutan untuk Masa Depan

Banda Aceh Kota Kolaborasi: Menyatukan Nilai Syariah, Inovasi, dan Keberlanjutan untuk Masa Depan

June 13, 2026
Dari Meja yang Sama

Ketika Darussalam Kehilangan Keberanian Mencari yang Terbaik

June 13, 2026
Dulu Melawan, Kini Membuktikan: Blok Andaman dan Ujian Generasi Pasca-Helsinki

Dulu Melawan, Kini Membuktikan: Blok Andaman dan Ujian Generasi Pasca-Helsinki

June 16, 2026
Di Balik Ijazah dan Angka Pengangguran: Mengapa Sistem Pendidikan Perlu Diperbaiki Dasarnya

Di Balik Ijazah dan Angka Pengangguran: Mengapa Sistem Pendidikan Perlu Diperbaiki Dasarnya

June 18, 2026
UIA Pastikan Kuliah Korban Banjir Tetap Berjalan, 42 Mahasiswa Dapat Keringanan SPP

UIA Pastikan Kuliah Korban Banjir Tetap Berjalan, 42 Mahasiswa Dapat Keringanan SPP

June 18, 2026
Ketika Warga Kota Kembali Duduk Bersama SPS Revival dan Ikhtiar Membangun Ruang Perjumpaan di Banda Aceh

Ketika Warga Kota Kembali Duduk Bersama: SPS Revival dan Ikhtiar Membangun Ruang Perjumpaan di Banda Aceh

June 19, 2026

EDITOR'S PICK

Rumah Tangga Sakinah Butuh Niat yang Lurus dan Ilmu yang Benar

Rumah Tangga Sakinah Butuh Niat yang Lurus dan Ilmu yang Benar

April 19, 2025
sulaiman tripa

Kecamatan Ala Aceh

March 24, 2025
Gubernur Muzakir Manaf: Penghapusan Barcode Demi Kenyamanan Bersama

Gubernur Muzakir Manaf: Penghapusan Barcode Demi Kenyamanan Bersama

March 15, 2025
Sertifikat dan Uang Saku Menanti, Peserta MagangHub Batch III Diminta Segera Lengkapi Tahapan Akhir

Sertifikat dan Uang Saku Menanti, Peserta MagangHub Batch III Diminta Segera Lengkapi Tahapan Akhir

June 17, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.