• Tentang Kami
Wednesday, May 13, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan

Anna Rizatil by Anna Rizatil
April 25, 2026
in Opini
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan

Lukman, M.Pd. Kepala SMA Negeri 1 Peureulak Aceh Timur. Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Lukman, M.Pd
Kepala SMA Negeri 1 Peureulak Aceh Timur

Di tengah harapan besar rakyat terhadap kemajuan pendidikan, Majelis Pendidikan Aceh (MPA) justru menghadapi kritik yang semakin nyata: ia tampak jauh dari denyut nadi masyarakat yang seharusnya diwakilinya. Fenomena hari ini menunjukkan bahwa keterwakilan praktisi pendidikan mereka yang sehari-hari bergelut dengan realitas di lapangan masih sangat minim. Akibatnya, MPA terkesan lebih sebagai forum elitis ketimbang ruang hidup bagi aspirasi rakyat Aceh.

Dominasi kalangan akademisi dalam tubuh MPA memang menghadirkan kekuatan analitis dan konseptual. Namun, tanpa keseimbangan dengan praktisi, lahirlah kebijakan yang seringkali terasa “rapi di atas kertas” tetapi gagap saat diimplementasikan. Guru di pelosok, pengelola dayah, relawan literasi, hingga pegiat pendidikan komunitas mereka yang memahami denyut persoalan riil justru belum mendapat ruang yang proporsional dalam struktur majelis.

BACA JUGA

Doa dan Kebersamaan dalam Kepemimpinan Baru USK 2026-2031

Minim Komunikasi Antarprofesi, Keselamatan Pasien Bisa Terancam

Akibatnya, MPA kerap dipersepsikan sebagai lembaga yang tidak efektif dalam menyalurkan aspirasi masyarakat. Suara-suara dari daerah, terutama yang berada di luar pusat kekuasaan, sering kali tidak terakomodasi secara utuh. Padahal, Aceh bukanlah entitas yang homogen. Ia kaya akan keragaman sosial, budaya, dan kondisi geografis yang menuntut pendekatan pendidikan yang berbeda-beda. Ketika keragaman ini tidak terwakili dalam struktur MPA, maka kebijakan yang lahir pun cenderung seragam dan kurang kontekstual.

Lebih jauh, persoalan ini bukan sekadar tentang siapa yang duduk di dalam majelis, tetapi tentang arah dan keberpihakan lembaga itu sendiri. Apakah MPA hadir sebagai perpanjangan suara rakyat, atau sekadar memenuhi fungsi administratif dalam kerangka regulasi? Ketika masyarakat tidak merasakan dampak nyata dari rekomendasi yang dihasilkan, maka kepercayaan publik perlahan terkikis.

Baca Juga:  USK Gelar Seminar Strategis Persiapkan Mahasiswa Hadapi Dunia Kerja 2026

Karena itu, sudah saatnya dilakukan pembenahan mendasar. Perekrutan anggota MPA harus dibuka secara lebih inklusif dan transparan, dengan memberi ruang besar kepada para praktisi dari seluruh kabupaten/kota di Aceh. Representasi tidak boleh berhenti pada simbol wilayah, tetapi harus mencerminkan pengalaman dan kompetensi nyata dalam dunia pendidikan. Mereka yang pernah menghadapi keterbatasan fasilitas, berinovasi di tengah kekurangan, dan memahami karakter lokal masyarakat, justru adalah aset paling berharga dalam merumuskan kebijakan yang solutif.

MPA juga perlu mengubah cara kerjanya—dari sekadar menghasilkan rekomendasi menjadi lembaga yang aktif menyerap, mengolah, dan mengawal aspirasi rakyat. Dialog rutin dengan komunitas pendidikan di daerah, forum dengar pendapat yang terbuka, serta mekanisme umpan balik yang jelas akan menghidupkan kembali fungsi representatif MPA.

Jika tidak ada perubahan, MPA berisiko semakin terpinggirkan dalam percaturan pembangunan pendidikan di Aceh. Ia akan tetap ada secara struktural, tetapi kehilangan makna secara fungsional. Sebaliknya, jika berani bertransformasi dengan menghadirkan keterwakilan yang lebih adil dan berpihak pada realitas, MPA dapat menjadi kekuatan strategis yang benar-benar menjembatani harapan rakyat dengan kebijakan pendidikan yang berkeadilan. Pada akhirnya, pendidikan Aceh tidak membutuhkan lembaga yang sekadar ada, tetapi lembaga yang hidup yang mendengar, memahami, dan bertindak. Dan itu hanya mungkin jika suara para praktisi diberi tempat yang layak di dalamnya.[]

Tags: acehMajelis Pendidikan AcehMakin Tahu IndonesiaMPAopiniPendidikan Aceh
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Doa dan Kebersamaan dalam Kepemimpinan Baru USK 2026-2031
Opini

Doa dan Kebersamaan dalam Kepemimpinan Baru USK 2026-2031

by SAGOE TV
May 10, 2026
Minim Komunikasi Antarprofesi, Keselamatan Pasien Bisa Terancam
Opini

Minim Komunikasi Antarprofesi, Keselamatan Pasien Bisa Terancam

by SAGOE TV
May 7, 2026
Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?
Opini

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

by Anna Rizatil
April 29, 2026
Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh
Opini

Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh?

by SAGOE TV
April 26, 2026
Mahasiswa Baru dan Tupoksi yang Terlupakan
Opini

Mahasiswa Baru dan Tupoksi yang Terlupakan

by Anna Rizatil
April 20, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Doa dan Kebersamaan dalam Kepemimpinan Baru USK 2026-2031

Doa dan Kebersamaan dalam Kepemimpinan Baru USK 2026-2031

May 10, 2026
Inkubasi Seni sebagai Praktik Publik: Membangun Ekosistem Hidup Seni, Pengetahuan, dan Ruang Kampus

Inkubasi Seni sebagai Praktik Publik: Membangun Ekosistem Hidup Seni, Pengetahuan, dan Ruang Kampus

May 6, 2026
3.811 Peserta UTBK SNBT 2025 Lolos di USK, Jalur Mandiri Masih Dibuka

Jalur Mandiri USK 2026 Dibuka hingga 11 Juni, Ini Kesempatan Terakhir Masuk PTN

May 5, 2026
Mualem Gelar Silaturahmi dengan Ulama

Mualem Gelar Silaturahmi dengan Ulama

May 9, 2026
Pewarta Foto Aceh Chaideer Mahyuddin Raih APFI 2026 lewat Foto Cerita “The Last Hope”

Pewarta Foto Aceh Chaideer Mahyuddin Raih APFI 2026 lewat Foto Cerita “The Last Hope”

May 9, 2026
Minim Komunikasi Antarprofesi, Keselamatan Pasien Bisa Terancam

Minim Komunikasi Antarprofesi, Keselamatan Pasien Bisa Terancam

May 7, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

May 27, 2025
Dari Banda Aceh, Pendidikan Seni Dibaca Ulang sebagai Infrastruktur Kemanusiaan

Dari Banda Aceh, Pendidikan Seni Dibaca Ulang sebagai Infrastruktur Kemanusiaan

May 3, 2026
Hubbika House Creative Gelar Kelulusan Kidspreneurclub 3 dan Launching Produk Siswa

Hubbika House Creative Gelar Kelulusan Kidspreneurclub 3 dan Launching Produk Siswa

May 11, 2026

EDITOR'S PICK

Lima Kabupaten dengan Ketahanan Pangan Terbaik di Aceh 

Lima Kabupaten dengan Ketahanan Pangan Terbaik di Aceh 

February 6, 2025
Siem Reap Kota Para Turis dan Pengetahuan

Siem Reap Kota Para Turis dan Pengetahuan

November 28, 2022
Pj Bupati Aceh Besar Sambut Kedatangan Pj Gubernur Aceh

Pj Bupati Aceh Besar Sambut Kedatangan Pj Gubernur Aceh

February 8, 2026
Penyesatan Sejarah Perang Aceh Dalam Buku ACEH Karya Anton Stolwijk Wartawan Belanda | BAGIAN 1

Penyesatan Sejarah Perang Aceh Dalam Buku ACEH Karya Anton Stolwijk Wartawan Belanda | BAGIAN 1

March 21, 2022
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.