• Tentang Kami
Friday, September 11, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan

Anna Rizatil by Anna Rizatil
April 25, 2026
in Opini
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan

Lukman, M.Pd. Kepala SMA Negeri 1 Peureulak Aceh Timur. Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Lukman, M.Pd
Kepala SMA Negeri 1 Peureulak Aceh Timur

Di tengah harapan besar rakyat terhadap kemajuan pendidikan, Majelis Pendidikan Aceh (MPA) justru menghadapi kritik yang semakin nyata: ia tampak jauh dari denyut nadi masyarakat yang seharusnya diwakilinya. Fenomena hari ini menunjukkan bahwa keterwakilan praktisi pendidikan mereka yang sehari-hari bergelut dengan realitas di lapangan masih sangat minim. Akibatnya, MPA terkesan lebih sebagai forum elitis ketimbang ruang hidup bagi aspirasi rakyat Aceh.

Dominasi kalangan akademisi dalam tubuh MPA memang menghadirkan kekuatan analitis dan konseptual. Namun, tanpa keseimbangan dengan praktisi, lahirlah kebijakan yang seringkali terasa “rapi di atas kertas” tetapi gagap saat diimplementasikan. Guru di pelosok, pengelola dayah, relawan literasi, hingga pegiat pendidikan komunitas mereka yang memahami denyut persoalan riil justru belum mendapat ruang yang proporsional dalam struktur majelis.

BACA JUGA

Hari Literasi, AI, dan Cara Berpikir

Lulusan Seni 2026-2030: Menghubungkan Pendidikan, Profesi, dan Kebudayaan Aceh

Akibatnya, MPA kerap dipersepsikan sebagai lembaga yang tidak efektif dalam menyalurkan aspirasi masyarakat. Suara-suara dari daerah, terutama yang berada di luar pusat kekuasaan, sering kali tidak terakomodasi secara utuh. Padahal, Aceh bukanlah entitas yang homogen. Ia kaya akan keragaman sosial, budaya, dan kondisi geografis yang menuntut pendekatan pendidikan yang berbeda-beda. Ketika keragaman ini tidak terwakili dalam struktur MPA, maka kebijakan yang lahir pun cenderung seragam dan kurang kontekstual.

Lebih jauh, persoalan ini bukan sekadar tentang siapa yang duduk di dalam majelis, tetapi tentang arah dan keberpihakan lembaga itu sendiri. Apakah MPA hadir sebagai perpanjangan suara rakyat, atau sekadar memenuhi fungsi administratif dalam kerangka regulasi? Ketika masyarakat tidak merasakan dampak nyata dari rekomendasi yang dihasilkan, maka kepercayaan publik perlahan terkikis.

Karena itu, sudah saatnya dilakukan pembenahan mendasar. Perekrutan anggota MPA harus dibuka secara lebih inklusif dan transparan, dengan memberi ruang besar kepada para praktisi dari seluruh kabupaten/kota di Aceh. Representasi tidak boleh berhenti pada simbol wilayah, tetapi harus mencerminkan pengalaman dan kompetensi nyata dalam dunia pendidikan. Mereka yang pernah menghadapi keterbatasan fasilitas, berinovasi di tengah kekurangan, dan memahami karakter lokal masyarakat, justru adalah aset paling berharga dalam merumuskan kebijakan yang solutif.

MPA juga perlu mengubah cara kerjanya—dari sekadar menghasilkan rekomendasi menjadi lembaga yang aktif menyerap, mengolah, dan mengawal aspirasi rakyat. Dialog rutin dengan komunitas pendidikan di daerah, forum dengar pendapat yang terbuka, serta mekanisme umpan balik yang jelas akan menghidupkan kembali fungsi representatif MPA.

Jika tidak ada perubahan, MPA berisiko semakin terpinggirkan dalam percaturan pembangunan pendidikan di Aceh. Ia akan tetap ada secara struktural, tetapi kehilangan makna secara fungsional. Sebaliknya, jika berani bertransformasi dengan menghadirkan keterwakilan yang lebih adil dan berpihak pada realitas, MPA dapat menjadi kekuatan strategis yang benar-benar menjembatani harapan rakyat dengan kebijakan pendidikan yang berkeadilan. Pada akhirnya, pendidikan Aceh tidak membutuhkan lembaga yang sekadar ada, tetapi lembaga yang hidup yang mendengar, memahami, dan bertindak. Dan itu hanya mungkin jika suara para praktisi diberi tempat yang layak di dalamnya.[]

Tags: AcehMajelis Pendidikan AcehMakin Tahu IndonesiaMPAopiniPendidikan Aceh
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Hari Literasi, AI, dan Cara Berpikir
Opini

Hari Literasi, AI, dan Cara Berpikir

by SAGOE TV
September 9, 2026
Lulusan Seni 2026-2030 Menghubungkan Pendidikan, Profesi, dan Kebudayaan Aceh
Opini

Lulusan Seni 2026-2030: Menghubungkan Pendidikan, Profesi, dan Kebudayaan Aceh

by SAGOE TV
September 7, 2026
Risnawati Ridwan
Opini

Desil di Atas Kertas, Akses Pendidikan dan Kesehatan menjadi Taruhan

by SAGOE TV
September 6, 2026
Sekolah Gratis, Bersekolah Tidak: Refleksi Hardikda 2026
Opini

Sekolah Gratis, Bersekolah Tidak: Refleksi Hardikda 2026

by SAGOE TV
September 2, 2026
Setelah Dislokasi Epistemik Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK
Opini

Setelah Dislokasi Epistemik: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK?

by SAGOE TV
August 31, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

67 Pejabat UIN Ar-Raniry Dilantik, Reza Idria Jadi Wakil Rektor dan Hendra Kurniawan Plt Dekan Kedokteran

67 Pejabat UIN Ar-Raniry Dilantik, Reza Idria Jadi Wakil Rektor dan Hendra Kurniawan Plt Dekan Kedokteran

September 11, 2026
Pengurus ICMI Orda Aceh Besar Periode 2026-2031 Resmi Dilantik

Pengurus ICMI Orda Aceh Besar Periode 2026-2031 Resmi Dilantik

September 7, 2026
Dari Harvard ke UIN Ar-Raniry, Reza Idria Kini Jadi Wakil Rektor

Dari Harvard ke UIN Ar-Raniry, Reza Idria Kini Jadi Wakil Rektor

September 11, 2026
Kenapa Tol Padang Tiji-Seulimeum Ditutup Sementara Ini Alasan dan Jadwal Dibuka Kembali

Kenapa Tol Padang Tiji-Seulimeum Ditutup Sementara? Ini Alasan dan Jadwal Dibuka Kembali

September 10, 2026
FISIP USK Perkuat Jejaring dengan Alumni Chapter Jakarta

FISIP USK Perkuat Jejaring dengan Alumni Chapter Jakarta

September 7, 2026
UTU Gandeng USK Percepat Pembukaan Fakultas Kedokteran

UTU Gandeng USK Percepat Pembukaan Fakultas Kedokteran

September 4, 2026
Risnawati Ridwan

Desil di Atas Kertas, Akses Pendidikan dan Kesehatan menjadi Taruhan

September 6, 2026
Dua Kampus Besar Aceh Kembali Perkuat Kerja Sama untuk Majukan Pendidikan

Dua Kampus Besar Aceh Kembali Perkuat Kerja Sama untuk Majukan Pendidikan

September 11, 2026
Refleksi Vol. 18 Kru Semangat dan Perjalanan Para Artis Muda

Refleksi Vol. 18 Kru Semangat dan Perjalanan Para Artis Muda

September 7, 2026

EDITOR'S PICK

Wapres Gibran Tinjau Jembatan Lumut dan Kendawi di Aceh, Didampingi Wagub Fadhlullah

Wapres Gibran Tinjau Jembatan Lumut dan Kendawi di Aceh, Didampingi Wagub Fadhlullah

August 6, 2026
Update Bencana Sumatera 914 Meninggal, Aceh Jadi Daerah dengan Korban Terbanyak

Update Bencana Sumatera: 914 Meninggal, Aceh Jadi Daerah dengan Korban Terbanyak

December 7, 2025
Wagub Minta Ketum PPP Bantu Perjuangkan Perpanjangan Dana Otsus Aceh

Wagub Minta Ketum PPP Bantu Perjuangkan Perpanjangan Dana Otsus Aceh

March 10, 2025
Bank Aceh Catat Kinerja Positif di 2024, Raih Opini WTP

Bank Aceh Catat Kinerja Positif di 2024, Raih Opini WTP

January 24, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.