Oleh: Ari J. Palawi
Direktur Inkubator Seni Berbasis Riset, Universitas Syiah Kuala
Beberapa Catatan dari Skate Park Stage tentang Relasi, Kerja Kolektif, dan Pendidikan Seni
Tidak banyak orang tahu bahwa sebuah kegiatan seni kadang bisa hampir terganggu hanya karena satu pintu tidak dibuka.
Bukan karena panggung runtuh.
Bukan karena hujan besar.
Bukan karena tidak ada orang yang mau bekerja.Melainkan karena akses terhadap sesuatu yang sebenarnya sudah dipahami bersama tiba-tiba menjadi rumit pada saat yang paling tidak perlu.
Pengalaman seperti itu kembali terasa dalam persiapan Skate Park Stage beberapa waktu lalu. Tim lapangan sudah bergerak sejak awal. Orang-orang muda mulai bekerja sejak siang. Peralatan hendak disiapkan. Komunikasi sudah dilakukan. Persetujuan juga sudah diketahui bersama.
Namun energi justru habis sebelum acara dimulai.
Yang paling melelahkan bukan keadaan daruratnya, melainkan kenyataan bahwa situasi semacam ini terasa tidak lagi benar-benar baru. Ada pola yang diam-diam berulang. Ada hambatan kecil yang terus muncul di titik yang hampir sama. Dan setiap kali itu terjadi, orang-orang di lapangan dipaksa menguras tenaga tambahan hanya untuk memastikan ruang kreatif tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Menariknya, suasana tidak pernah benar-benar pecah menjadi pertengkaran besar.
Masih ada candaan di grup percakapan.
Masih ada yang mencoba menenangkan keadaan.
Masih ada yang menawarkan solusi cepat.
Masih ada yang membantu kendaraan operasional di hari libur.
Masih ada yang menjaga semangat tim muda agar tidak ikut runtuh oleh suasana.
Acara akhirnya tetap berjalan.
Namun ada jenis kelelahan tertentu yang tidak selesai hanya karena kegiatan berhasil dilaksanakan.
Kelelahan itu muncul ketika kerja kolektif terlalu sering dipertemukan dengan hambatan yang sebenarnya tidak perlu ada. Sedikit demi sedikit, orang mulai bekerja sambil menahan sesuatu yang sulit dijelaskan. Bukan marah sepenuhnya. Bukan pula kecewa sepenuhnya. Hanya rasa letih yang pelan-pelan mengganggu kepercayaan terhadap ruang yang sedang dibangun bersama.
Di titik seperti inilah “menggunting dalam lipatan” bekerja paling efektif.
Ia tidak hadir sebagai konflik besar yang mudah dikenali. Ia justru muncul dalam bentuk paling tenang: memperlambat akses, membuat orang menunggu, membiarkan energi habis di persoalan yang seharusnya sederhana, lalu tetap berdiri seolah semua baik-baik saja.
Yang dipotong bukan acara secara langsung. Yang terkikis ialah energi kolektif di dalamnya.
Hal seperti ini sering dianggap kecil di lingkungan akademik dan kesenian. Banyak orang mengira persoalannya hanya soal prosedur, komunikasi, atau perbedaan cara kerja biasa. Padahal suasana sebuah ekosistem kreatif dibentuk justru oleh pengalaman-pengalaman kecil sehari-hari: apakah orang merasa dimudahkan atau dipersulit, dipercaya atau dicurigai, diterima atau sekadar ditoleransi.
Skate Park Stage tumbuh bukan dari kemewahan fasilitas. Ruang ini bertahan karena ada orang-orang yang rela bekerja lebih jauh dari peran formalnya. Ada yang mengurus publikasi. Ada yang meminjam kendaraan. Ada yang mengangkat alat. Ada yang mendokumentasikan kegiatan. Ada yang menjaga ritme komunitas tetap hidup ketika keadaan sedang tidak mudah.
Lomba Himne/Aubade dan Mars Skate Park Stage yang sedang dipersiapkan bahkan menunjukkan bahwa ruang ini mulai bergerak lebih jauh: bukan hanya menjadi panggung mingguan, tetapi perlahan menjelma ruang belajar bersama, ruang eksperimen, ruang sosial, dan ruang tumbuh bagi generasi muda yang ingin berkesenian tanpa terlalu banyak sekat.
Karena itu, hambatan-hambatan kecil yang terus berulang sesungguhnya bukan sedang melelahkan satu atau dua orang saja. Ia perlahan mengganggu proses belajar bersama di dalamnya.
Anak-anak muda yang terlibat di ruang seperti ini sedang belajar lebih dari sekadar tampil di atas panggung. Mereka sedang belajar tentang solidaritas, tentang cara menjaga ruang bersama, tentang bagaimana orang dewasa memperlakukan kerja kolektif, dan tentang bagaimana kekuasaan kecil bisa digunakan untuk membantu atau justru menguras tenaga orang lain.
Yang paling mengkhawatirkan dari keadaan seperti ini bukan suara keras atau konflik terbuka. Ruang kreatif justru lebih sering melemah karena hal-hal yang samar, berlangsung pelan-pelan, lalu terlalu lama dianggap wajar.
Sebab sebuah komunitas seni tidak runtuh hanya karena kekurangan fasilitas. Banyak ruang kreatif tetap hidup dalam keterbatasan. Yang jauh lebih berbahaya ialah ketika orang-orang yang sungguh bekerja menjaga ruang bersama mulai lelah menghadapi hambatan dari dalam ruang itu sendiri.
Acara selesai. Musik dimainkan. Orang-orang pulang sambil membawa dokumentasi di telepon genggam mereka masing-masing.
Namun ada jenis lelah tertentu yang tidak ikut pulang malam itu.
Ia tinggal di dalam ruang yang terlalu lama meminta orang-orang baik untuk terus bersabar menghadapi hal-hal yang sebenarnya tidak perlu terjadi.[]




















