Oleh: Ari J. Palawi
Praktisi dan Akademisi Seni, Universitas Syiah Kuala
Kabar mengenai pelantikan jajaran pimpinan baru Universitas Syiah Kuala (USK) periode 2026-2031 mulai beredar pelan di lingkungan kampus. Belum resmi memang. Tetapi seperti lazimnya ekosistem akademik kita, informasi semacam itu sering lebih dahulu bergerak melalui insting sosial ketimbang surat edaran. Ada yang mulai rajin memeriksa telepon genggam, ada yang mendadak sulit ditemui karena “sedang banyak agenda”, ada pula yang diam-diam berharap namanya tidak benar-benar masuk daftar—sebab tidak semua amanah kampus datang dengan tunjangan tidur yang memadai.
Begitulah universitas. Tempat ilmu pengetahuan bertemu kegelisahan manusia dalam bentuknya yang paling elegan.
Bagi saya, momentum ini jauh lebih penting daripada sekadar pergantian nomenklatur jabatan. Ia seperti jeda pendek yang mengajak kita membaca ulang arah batin Universitas Syiah Kuala setelah melewati fase penting transformasi menuju PTN-BH. Dalam beberapa tahun terakhir, saya menulis cukup banyak tentang dinamika itu—di Sagoe TV, Kumparan, Indonesiana, Kompasiana, dan berbagai ruang baca lainnya. Sebagian orang mungkin membaca tulisan-tulisan tersebut sebagai komentar atas pemilihan rektor. Namun sesungguhnya, yang saya bicarakan sejak awal bukan semata soal figur, melainkan soal ekosistem.
Tentang bagaimana sebuah universitas besar menjaga jiwanya.
Sebab kampus tidak hanya dibangun oleh struktur organisasi, gedung megah, hibah riset, akreditasi internasional, atau tabel kinerja yang terus bertambah setiap tahun. Universitas dibangun oleh kualitas hubungan antarmanusia di dalamnya—oleh cara dosen saling menghormati, cara generasi muda diberi ruang tumbuh, cara perbedaan dikelola tanpa rasa terancam, dan cara pengetahuan diperlakukan bukan sekadar instrumen administratif, melainkan bagian dari martabat peradaban.
Kita sebenarnya tidak kekurangan orang pintar. USK dipenuhi individu-individu dengan kapasitas akademik yang baik, pengalaman panjang, jejaring luas, bahkan reputasi internasional yang terus berkembang. Namun seperti banyak kampus lain di Indonesia, kita terkadang terlalu letih oleh budaya kerja yang memboroskan energi batin. Terlalu banyak sekat kecil. Terlalu banyak ego administratif. Terlalu banyak orang baik yang akhirnya memilih bekerja sunyi karena terlalu sering kecewa pada cara sistem memperlakukan inisiatif.
Di titik itulah kepemimpinan baru menjadi penting.
Bukan karena ia akan menghadirkan mukjizat kelembagaan dalam semalam, melainkan karena setiap transisi selalu membuka peluang memperbaiki atmosfer. Universitas yang sehat bukan kampus yang bebas masalah, melainkan kampus yang mampu menjaga kualitas percakapannya ketika menghadapi masalah.
Saya kira tantangan terbesar pimpinan baru USK nantinya bukan pertama-tama soal pembangunan fisik, internasionalisasi, atau ekspansi kerja sama industri—meski semua itu penting. Tantangan paling sulit justru membangun kembali rasa percaya di dalam ekosistem kampus. Menghubungkan manusia-manusia yang selama ini terlalu lama bekerja dalam ruangnya masing-masing. Mengurangi kultur saling menunggu perintah. Membuka ruang agar inisiatif tumbuh tanpa selalu dicurigai sebagai manuver personal.
Sebab kreativitas akademik tidak pernah lahir dari suasana takut.
Ia tumbuh dari ruang yang memungkinkan orang merasa dihargai bahkan sebelum berhasil. Dari lingkungan yang memberi kesempatan kepada dosen muda untuk mencoba. Dari pimpinan yang tidak alergi pada gagasan baru. Dari keberanian mendengar kritik tanpa buru-buru merasa dirongrong.
Universitas masa depan memerlukan kepemimpinan yang sanggup mengelola kompleksitas tanpa kehilangan kepekaan manusiawinya.
Apalagi USK sedang bergerak dalam lanskap baru PTN-BH, sebuah fase yang menuntut universitas semakin adaptif, profesional, kompetitif, dan mandiri secara ekonomi. Konsekuensinya tidak kecil. Kampus berpotensi semakin sibuk mengejar indikator, reputasi global, dan skema pembiayaan alternatif. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun universitas tetap harus berhati-hati agar tidak perlahan berubah menjadi institusi yang sangat efisien secara administratif, tetapi kelelahan secara kultural.
Kampus tidak boleh kehilangan kemampuan untuk menjadi rumah.
Rumah bagi ilmu pengetahuan. Rumah bagi kreativitas. Rumah bagi kegagalan yang sehat. Rumah bagi percobaan-percobaan intelektual yang belum tentu langsung menghasilkan angka. Dan yang tak kalah penting: rumah bagi generasi muda yang sedang belajar menjadi manusia dewasa.
Dalam beberapa waktu terakhir, saya justru melihat tanda-tanda baik mulai tumbuh di USK. Komunitas kreatif mulai hidup kembali. Diskusi lintas disiplin semakin terbuka. Mahasiswa semakin berani membangun inisiatifnya sendiri. Ruang seni, kebudayaan, riset sosial, hingga percakapan mengenai kesehatan mental dan masa depan kota mulai menemukan denyutnya lagi di lingkungan kampus. Energi semacam ini tidak boleh diperlakukan sebagai aktivitas pinggiran. Ia bagian dari kesehatan intelektual universitas.
Karena universitas besar tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang tampil di podium.
Ia juga dijaga oleh mereka yang bekerja diam-diam: dosen yang tetap mengajar serius meski kelas sore hanya diisi separuh mahasiswa; tenaga kependidikan yang menjaga sistem tetap berjalan meski jarang disebut; mahasiswa yang menghidupkan komunitas kecil tanpa anggaran besar; hingga orang-orang yang terus merawat kebudayaan kampus meski sering dianggap “tidak terlalu prioritas”.
Mereka semua adalah infrastruktur batin universitas.
Karena itu, menjelang pelantikan pimpinan baru ini, saya kira yang paling kita perlukan bukan sekadar optimisme seremonial, melainkan kedewasaan kolektif. Kesediaan untuk berhenti terlalu sibuk saling mengukur posisi. Kemampuan membedakan kritik dengan permusuhan. Dan keberanian menerima bahwa membangun universitas memang pekerjaan lintas generasi yang hasilnya tidak selalu bisa dinikmati seketika.
Sisanya, mungkin memang doa.
Semoga Allah memudahkan langkah seluruh pimpinan baru USK yang akan dilantik. Semoga diberikan kejernihan berpikir, keluasan hati, kesehatan, dan ketabahan menghadapi kompleksitas kampus yang kadang lebih rumit daripada teori organisasi modern. Semoga tetap mampu mendengar suara-suara kecil yang sering hilang dalam kebisingan laporan formal dan rapat panjang.
Dan semoga pula seluruh sivitas akademika USK tidak terlalu cepat lelah mencintai kampusnya sendiri.
Yang pasti, masa depan universitas tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar anggarannya, tetapi oleh seberapa kuat manusia-manusia di dalamnya masih percaya bahwa mereka sedang membangun sesuatu yang bernilai—bersama-sama.




















