• Tentang Kami
Friday, June 19, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Wajah Kolonial Dalam Tanggap Bencana Aceh

SAGOE TV by SAGOE TV
December 3, 2025
in BENCANA SUMATERA 2025, Opini
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Wajah Kolonial Dalam Tanggap Bencana Aceh

Salah satu halaman rumah warga di Desa Lueng Keubeu, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireun, yang tertahan lumpur hampir 1 meter, Selasa (2/12/2025). Foto: Faudiatul Halim

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dr. Sehat Ihsan Shadiqin.
Dosen Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Duduk di bawah pohon trembesi, di belakang sebuah warung kopi tradisional di pinggir kota sambil menyeruput kupi sikhan tadi pagi membuat hati saya ngilu. Niat ngopi untuk mendapatkan energy booster memulai tugas-tugas hari senin, sama sekali tidak kesampaian.

BACA JUGA

Di Balik Ijazah dan Angka Pengangguran: Mengapa Sistem Pendidikan Perlu Diperbaiki Dasarnya

Banda Aceh: Dari Kota Syariah Menuju Halal Smart City

Bukan salah kopinya yang entah kenapa pagi ini memang airnya terasa kurang panas, tapi beberapa cerita dalam buku yang sedang saya tuntaskan: Aceh: Kisah Datang dan Terusirnya Belanda dan Jejak yang Ditinggalkan, yang dengan apik ditulis oleh wartawan Belanda, Anton Stolwijk. Di sana ia menyajikan beragam prilaku zalim dan kejam pemerintah Kolonial kepada rakyat Aceh satu setengah abad yang lalu.

Beberapa teman kemudian datang ikut ngopi dan duduk mengitari meja alumunium tebal mengkilap itu. Setelah masing-masing mereka memesan kopi, kami mulai terlibat pembicaraan. Tidak ada topik lain dalam beberapa hari ini selain masalah banjir yang terjadi di Aceh. Dan masing-masing mereka punya cerita yang mengharukan.

Ini banjir yang tidak biasa, kata kawan yang rumah orang tuanya di Aceh Utara terendam air. Sudah sejak saya lahir, dan mungkin sejak ibu saya lahir, kampung kami ngak pernah banjir. Tapi kali ini sepinggang. Tiga kilang padi di kampung semuanya terendam air.

Kilangmu? Tanya saya
Bukan, punya orang, jawabnya.

Celakanya, baru minggu lalu warga mulai memanen padinya dan masih belum selesai. Tidak ada yang selamat. Sawah saya yang harusnya bisa dipanen selasa kemarin juga habis disapu air, katanya.

Aku baru tahu setelah 25 tahun pertemanan kami kalau kawan ini punya sawah di kampung sehingga ia tidak perlu beli beras meskipun ia tinggal di Banda Aceh yang tidak ada sawahnya.

Memang luar biasa kali ini, timpa teman lain, yang telah menghabiskan satu dekade terakhir untuk mencoba beragam obat agar rambutnya tidak terus rontok. Rumah saya sejak dibangun tahun 1990, baru kali ini masuk air. Padahal bapak saya sangat perhitungan saat membangun rumah itu dulu. Tidak hanya memilih tempat yang tepat, tapi juga membuat pondasi yang tinggi.

Tapi banjir kali ini semuanya menjadi tidak berarti. Rumah kami masuk air sedada. Bukan air biasa, tapi air yang membawa tanah. Ketika air itu surut, tanahnya tinggal. Lihat ini, setengah rumah kami sudah tenggelam dalam tanah, katanya sambil menunjukkan foto dari hp-nya.

Memang, tidak perlu akal sehat untuk menilai kalau banjir yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara dan Barat minggu lalu adalah sebuah bencana besar. Jalan-jalan putus, jembatan putus, longsor di mana-mana, banjir bandang, rumah tenggelam dan hanyut, bangunan penuh lumpur, listrik padam total, signal hp mati, transportasi macet, BBM langka, orang-orang mengungsi, pakaian tidak ada, makanan dibawa air, ratusan orang meninggal dunia, kelaparan, cedera, dan beragam penderitaan lainnya.

Jikapun ada yang mengatakan ini adalah bencana yang hanya besar di media sosial, sementara di lapangan tidak separah itu, itu karena ia tidak berakal.

Sejak Rabu lalu, hampir seluruh daerah di Aceh, Sumatera Utara dan Barat didera hujan. Keesokan harinya, di beberapa daerah kabupaten kota di Aceh air mulai naik. Air menyebabkan jalan putus, jembatan roboh, mobil dan banguan terseret jauh.

Di Kabupaten Aceh Tengah terjadi banjir bandang di beberapa desa yang menyebabkan akses ke ibukota Takengon tidak dapat dilakukan. Hal serupa juga terjadi di Gayo Lues dan Aceh Tenggara. Di beberapa kabupaten di pesisir air menggenangi hampir semua wilayah dalam 2-5 meter yang menyebabkan pemerintahan lumpuh dan kehidupan seperti terhenti.

Di Kota Langsa dan Kuala Simpang, air tergenang berhari-hari menutup hampir semua daratan dan jalan. Dalam dua-tiga hari nyaris tidak dapat melakukan pergerakan di kota itu.

Air itu tidak datang sendiri, mereka membawa oleh-oleh: kayu dan lumpur.

Seorang pejabat pemerintah di Jakarta, yang sangat cerdas dan makmur hidupnya, dari balik meja kantornya yang nyaman ber-AC mengatakan kalau pohon-pohon yang dibawa banjir bukan dari penebangan liar, namun tumbang karena hujan lalu terseret ke bawah tergerus banjir. Tidak ada pembalakang kayu yang menyebabkan banjir, katanya lagi.

Ia, seperti kebanyakan pejabat di daerah lain, merasa apa yang terjadi di Aceh dan daerah lain merupakan sebuah bencana alam biasa yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan kebijakan korup yang dilakukannya. Geblok!

Kenyataannya, banyak kayu yang dibawa air terpotong rapi, berukuran standar, dan kemudian menjadi palu godam yang menghancurkan bangunan, menyeret rumah, dan menutup akses air di sungai. Air kemudian meluap dan mengenangi seluruh kawasan.

Di hulu, di gunung dan hutan, pohon-pohon telah dibabat. Kayu-kayu telah ditebang dan diganti dengan tumbuhan lain yang berdaun, memiliki batang, akar dan buah. Orang-orang menyebutnya Pohon Sawit. Berbeda dengan pohon lain yang menyerap dan menyimpan air dalam tanah, sawit menyimpan air cukup untuk kebutuhannya sendiri.

Karena harganya yang mahal dan stabil sepanjang tahun, pemerintah menggalakkan tanaman ini. Hutan dibabat lalu digantikan dengan Sawit. Orang-orang berebut jabatan dan kuasa agar mereka mendapatkan izin memperkosa tanah nenek moyangnya untuk sawit. Saat penguasaha serakah bertemu pejabat korup maka nyaris tidak ada izin yang ditolak. Apalagi pengusahanya adalah pejabat itu sendiri.

Politisi muda dan timsesnya, juga ingin mendapatkan sesuatu. Karena modal untuk sawit tidak cocok di kantong, mereka kebagian Galian C. Tanah batu di hulu sungai dikeruk tanpa henti. Air yang jernih jadi kuning kecoklatan. Jadinya, kita sulit menemukan air sungai yang sejuk dari pegunungan, karena semuanya telah dikotori oleh anjing kurap itu.

Tapi atas semua penderitaan yang diakibatkannya, pemerintah tetap tidak mau ambil pusing.

Ini tidak layak disebut dengan bancana nasional, kata seorang pejabat yang sangat visioner dari kantornya yang megah di Jakarta. Kita punya standar untuk meningkatkan sebuah bencana menjadi bencana nasional, ada syarat dan ketentuannya, katanya lagi. Apa yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara dan Barat, tidak memenuhi syarat itu. Ia demikian visioner hingga lupa kalau kantornya bermula dari tsunami Aceh 2004.

Apa syaratnya?
Bencana harus terjadi di Jawa! kata teman yang mantan aktivis 98 (dan masih terus bicara sebagai aktivis). Mereka memang tidak suka Aceh! Katanya lagi, kali ini lebih serius. Orang-orang yang ada di Pemerintah pusat sekarang ini adalah orang yang pernah bermasalah dengan Aceh.

Mereka memang benci Aceh. Bukan hanya sekarang, sejak dahulu. Banjir kali ini adalah cara terbaik untuk meluapkan segala kemarahan itu kepada Aceh. Kira-kira mereka hendak berkata: Bah irasa. Cok nyan!

Tentu saja apa yang dikatakan teman itu tidak benar dan tidak perlu kita percayai. Namun perhatian pemerintah yang sangat lambat, aksi yang sangat retorik, tindakan yang tidak terencana dan terstruktur menunjukkan betapa masalah nasional di Aceh hanyalah pengerukan sumber daya alam, izin tambang, izin sawit, perambahan hutan, dan mengambil pajak dari rakyat.

Kalau bencana, urus sendiri!

Aku menghirup tegukan terakhir kopi hitamku, terasa hambar. Angin bertiup menimbulkan gemercik daun trembesi yang rindang. Dari sela-sela daun nampak matahari mulai meninggi. Saatnya berangkat ke kantor.

Di sepanjang perjalanan aku berusaha untuk tidak percaya dengan apa yang kami perbincangkan di meja warung kopi, namun terasa agak berat. Di lapangan menunjukkan betapa abainya negara dalam mengatasi masalah yang diderita rakyat. Mereka hanya peduli pada keuntungannya saja.

Tiba-tiba aku teringat baris-baris kalimat dalam buku yang sedang kubaca, tentang sikap Pemerintah Kolonial Belanda lebih 100 tahun yang lalu kepada masyarakat Aceh.

Ternyata mereka sama saja, batinku.

Tags: Aceh: Kisah Datang dan Terusirnya Belanda dan Jejak yang DitinggalkanAnton StolwijkBencana AcehBencana Sumatera 2025Kolonial
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Di Balik Ijazah dan Angka Pengangguran: Mengapa Sistem Pendidikan Perlu Diperbaiki Dasarnya
Opini

Di Balik Ijazah dan Angka Pengangguran: Mengapa Sistem Pendidikan Perlu Diperbaiki Dasarnya

by SAGOE TV
June 18, 2026
Banda Aceh Dari Kota Syariah Menuju Halal Smart City
Opini

Banda Aceh: Dari Kota Syariah Menuju Halal Smart City

by SAGOE TV
June 17, 2026
Dulu Melawan, Kini Membuktikan: Blok Andaman dan Ujian Generasi Pasca-Helsinki
Opini

Dulu Melawan, Kini Membuktikan: Blok Andaman dan Ujian Generasi Pasca-Helsinki

by SAGOE TV
June 16, 2026
Menata Ekosistem Pengetahuan Seni di Aceh
Opini

Setelah Dilestarikan, Lalu Apa?

by SAGOE TV
June 16, 2026
Musriadi: Hardikda 2025 Momentum Tingkatkan Mutu Pendidikan dan Karakter Siswa Aceh
Opini

Dek Gam Sang Petarung, PAN Aceh Menuju Tiga Besar 2029

by SAGOE TV
June 15, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh: Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

June 7, 2026
Banda Aceh Dari Kota Syariah Menuju Halal Smart City

Banda Aceh: Dari Kota Syariah Menuju Halal Smart City

June 17, 2026
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (1)

June 3, 2026
Banda Aceh Kota Kolaborasi Menyatukan Nilai Syariah, Inovasi, dan Keberlanjutan untuk Masa Depan

Banda Aceh Kota Kolaborasi: Menyatukan Nilai Syariah, Inovasi, dan Keberlanjutan untuk Masa Depan

June 13, 2026
Dari Meja yang Sama

Ketika Darussalam Kehilangan Keberanian Mencari yang Terbaik

June 13, 2026
Dulu Melawan, Kini Membuktikan: Blok Andaman dan Ujian Generasi Pasca-Helsinki

Dulu Melawan, Kini Membuktikan: Blok Andaman dan Ujian Generasi Pasca-Helsinki

June 16, 2026
Di Balik Ijazah dan Angka Pengangguran: Mengapa Sistem Pendidikan Perlu Diperbaiki Dasarnya

Di Balik Ijazah dan Angka Pengangguran: Mengapa Sistem Pendidikan Perlu Diperbaiki Dasarnya

June 18, 2026
UIA Pastikan Kuliah Korban Banjir Tetap Berjalan, 42 Mahasiswa Dapat Keringanan SPP

UIA Pastikan Kuliah Korban Banjir Tetap Berjalan, 42 Mahasiswa Dapat Keringanan SPP

June 18, 2026
Ketika Warga Kota Kembali Duduk Bersama SPS Revival dan Ikhtiar Membangun Ruang Perjumpaan di Banda Aceh

Ketika Warga Kota Kembali Duduk Bersama: SPS Revival dan Ikhtiar Membangun Ruang Perjumpaan di Banda Aceh

June 19, 2026

EDITOR'S PICK

MUNA Ajak Rakyat Aceh Gelar Shalat Ghaib untuk Abu Razak

MUNA Ajak Rakyat Aceh Gelar Shalat Ghaib untuk Abu Razak

March 26, 2025
Beasiswa Kuliah di Universitas Al-Azhar Mesir Dibuka, Cek Infonya

Beasiswa Kuliah di Universitas Al-Azhar Mesir Dibuka, Cek Infonya

May 1, 2025
Lebih dari 50 Persen Gampong di Aceh Terdampak Banjir dan Longsor, 1,4 Juta Warga Terimbas

Bupati Aceh Selatan Umrah saat Daerah Dilanda Bencana, Ini Respons Pemerintah Aceh

December 5, 2025
Wakil Dubes Selandia Baru Kunjungi Sabang, Lirik Peluang Free Trade Zone (FTZ)

Wakil Dubes Selandia Baru Kunjungi Sabang, Lirik Peluang Free Trade Zone (FTZ)

September 26, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.