Oleh: Ari J. Palawi
Praktisi/Akademisi Seni Universitas Syiah Kuala
Skate Park Stage volume keempat menjadi penutup yang paling melegakan dalam rangkaian Living Lab Inkubator Seni Universitas Syiah Kuala bulan April ini. Bukan karena semuanya berjalan sempurna, tetapi karena pada titik ini semakin jelas bahwa yang sedang dibangun bukan sekadar acara Jumat sore, melainkan ruang kerja bersama yang perlahan membentuk ekosistem seni kampus.
Jumat, 24 April sore di Skate Park Gelanggang Darussalam dimulai seperti hari biasa. Beberapa anak SD dan remaja sekolah bermain di sekitar area skate park, duduk santai di bawah rindangnya pohon hasan dan trembesi, dengan angin siang yang teduh. Tidak ada tanda bahwa beberapa jam kemudian ruang itu akan berubah menjadi panggung terbuka.
Sekitar pukul 14.30, selepas shalat Jumat, mobil logistik datang. Sound system, keyboard, alat musik, kursi audiens, dan perlengkapan sederhana lainnya diturunkan perlahan. Koordinator Lapangan besertantimnya langsung bergerak: membersihkan lantai dari debu dan daun kering, menarik kabel, menata speaker, dan menyusun ruang tampil. Tidak ada kemewahan teknis, hanya kerja tangan, kerja lapangan, dan kesediaan untuk hadir.
Di tengah persiapan itu, dua anak kecil yang sedang bermain memperhatikan dari kejauhan. Saya bertanya, “Menurut kalian nanti ada acara apa di sini?”
Mereka menjawab cepat, “Karaoke, Bang.”
Jawaban itu terasa jujur. Mereka melihat keyboard, speaker, dan kursi, lalu membaca ruang dari pengalaman paling dekat dalam hidup mereka. Kami lalu mengajak mereka mendekat. Mereka bertanya langsung kepada mahasiswa yang sedang bekerja, dan dijelaskan bahwa nanti akan ada musik, puisi, tarian, dan beberapa penampilan lain.
Kebetulan ada seorang pemain bass perempuan yang sedang bersiap tampil. Anak-anak itu dikenalkan pada bass—apa bedanya dengan gitar biasa, bagaimana bunyinya bekerja, dan kenapa ia penting dalam musik. Saya meminta mereka kembali selepas Ashar, membawa teman-temannya, dan melihat apa yang akan terjadi sore itu. Momen kecil itu sederhana, tetapi penting: ruang publik mulai bekerja sebagai ruang belajar.
Tema minggu ini adalah “Bunyi Sederhana.” Tetapi kesederhanaan itu bukan berarti dangkal. Bunyi tidak hanya hadir dari alat musik, tetapi juga dari tubuh, percakapan, dialog spontan, pembacaan puisi, bahkan dari koreksi langsung saat pertunjukan berlangsung. Ketika pemain cajon kehilangan tempo, respons cepat dari pemain lain menjadi bagian dari komposisi. Ketika volume sound system terlalu kecil, teguran dari kejauhan ikut menjadi ritme sosial dalam pertunjukan.
Di situlah Skate Park Stage bekerja. Ia bukan ruang pertunjukan jadi, tetapi ruang eksperimen. Tidak semua harus rapi. Tidak semua harus selesai. Yang lebih penting adalah keberanian untuk mencoba, hadir, dan saling menyempurnakan.
Acara dijalankan mandiri oleh tim muda Inkubator Seni. Mereka menjadi produser lapangan, kru teknis, dokumentasi, publikasi, hingga penampil utama.
Bahkan ketika kamera utama mengalami kendala, divisi dokumentasi tetap bekerja ekstra karena seluruh proses ini harus tercatat sebagai arsip dan bahan pembacaan ulang.
Yang paling menyenangkan minggu ini adalah kehadiran teman-teman dari Fakultas Pertanian yang ikut tampil untuk pertama kalinya. Persiapan mereka sederhana, bahkan mungkin penuh ragu. Tetapi keberanian untuk mengambil ruang jauh lebih penting daripada repertoar yang sempurna. Di sini, partisipasi adalah capaian artistik itu sendiri.
Minggu ini juga menghadirkan banyak tanda baik. Dukungan personal mulai berdatangan. Jejaring dengan sanggar, komunitas, dan pelaku seni semakin terbuka. Bahkan Prof. Mirza Tabrani, Rektor USK menitipkan semangat dan salam pribadi untuk kebutuhan minum ringan tim produksi yang bekerja di lapangan. Gestur kecil, tetapi terasa besar. Bukan soal nominalnya, melainkan tanda bahwa kerja ini mulai dilihat sebagai sesuatu yang layak dijaga bersama.
Melalui jejaring yang sama, dukungan perangkat sound system yang lebih layak juga mulai hadir. Ini penting, karena ruang terbuka tetap membutuhkan kualitas teknis yang mendukung. Seni tidak hanya hidup dari gagasan, tetapi juga dari kesiapan ruang yang memungkinkan praktik itu berlangsung dengan baik.
Di sisi lain, arah akademik juga mulai bergerak lebih jelas. Website resmi Inkubator Seni disiapkan, dokumentasi digital mulai dirapikan, seminar dan sarasehan akademik dirancang, hingga langkah menuju pembukaan Magister Seni dan program studi seni terpadu mulai dipetakan. Horizon yang lebih besar bahkan sudah dibicarakan: Fakultas Seni dan Humaniora.
Artinya, skate park ini bukan panggung pinggiran. Ia adalah laboratorium utama. Dari ruang terbuka yang tampak sederhana ini, sedang diuji kemungkinan institusi, kurikulum, dan masa depan pendidikan seni di kampus.
Karena itu, volume keempat ini terasa melegakan. Bukan karena semua sudah selesai, tetapi karena fondasinya mulai terlihat nyata. Ada kerja lapangan, ada kepercayaan, ada jejaring, dan ada arah yang semakin jelas.
Minggu berikutnya, Skate Park Stage akan masuk ke tema kelima: “Puisi Lisan.” Jika minggu ini kami belajar mendengar bunyi, maka berikutnya kami akan belajar memberi bunyi itu bentuk melalui kata—relasi antara suara, teks, pembacaan, dan keberanian menyampaikan gagasan.
Dari bunyi menuju kata. Dari mendengar menuju mengucapkan.
Sebuah ekosistem seni tidak lahir dari gedung besar atau anggaran megah. Ia sering dimulai dari hal yang lebih sederhana: beberapa mahasiswa yang datang lebih awal, menata kursi, mengangkat speaker, lalu bertahan cukup lama untuk percaya bahwa kerja kecil itu sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar.[]



















