• Tentang Kami
Thursday, July 30, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Bunyi Sederhana, Kerja yang Tidak Sederhana

Anna Rizatil by Anna Rizatil
April 25, 2026
in SENI
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Bunyi Sederhana, Kerja yang Tidak Sederhana

Ari J. Palawi, Praktisi/Akademiai Seni, Universitas Syiah Kuala. Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi
Praktisi/Akademisi Seni Universitas Syiah Kuala

Skate Park Stage volume keempat menjadi penutup yang paling melegakan dalam rangkaian Living Lab Inkubator Seni Universitas Syiah Kuala bulan April ini. Bukan karena semuanya berjalan sempurna, tetapi karena pada titik ini semakin jelas bahwa yang sedang dibangun bukan sekadar acara Jumat sore, melainkan ruang kerja bersama yang perlahan membentuk ekosistem seni kampus.

Jumat, 24 April sore di Skate Park Gelanggang Darussalam dimulai seperti hari biasa. Beberapa anak SD dan remaja sekolah bermain di sekitar area skate park, duduk santai di bawah rindangnya pohon hasan dan trembesi, dengan angin siang yang teduh. Tidak ada tanda bahwa beberapa jam kemudian ruang itu akan berubah menjadi panggung terbuka.

BACA JUGA

Setelah Panggung Dibongkar

Kardo National Qualifier: Dari Arena Kompetisi Menuju Ruang Baru Kreativitas Anak Muda Aceh

Sekitar pukul 14.30, selepas shalat Jumat, mobil logistik datang. Sound system, keyboard, alat musik, kursi audiens, dan perlengkapan sederhana lainnya diturunkan perlahan. Koordinator Lapangan besertantimnya langsung bergerak: membersihkan lantai dari debu dan daun kering, menarik kabel, menata speaker, dan menyusun ruang tampil. Tidak ada kemewahan teknis, hanya kerja tangan, kerja lapangan, dan kesediaan untuk hadir.

Di tengah persiapan itu, dua anak kecil yang sedang bermain memperhatikan dari kejauhan. Saya bertanya, “Menurut kalian nanti ada acara apa di sini?”

Mereka menjawab cepat, “Karaoke, Bang.”

Jawaban itu terasa jujur. Mereka melihat keyboard, speaker, dan kursi, lalu membaca ruang dari pengalaman paling dekat dalam hidup mereka. Kami lalu mengajak mereka mendekat. Mereka bertanya langsung kepada mahasiswa yang sedang bekerja, dan dijelaskan bahwa nanti akan ada musik, puisi, tarian, dan beberapa penampilan lain.

Kebetulan ada seorang pemain bass perempuan yang sedang bersiap tampil. Anak-anak itu dikenalkan pada bass—apa bedanya dengan gitar biasa, bagaimana bunyinya bekerja, dan kenapa ia penting dalam musik. Saya meminta mereka kembali selepas Ashar, membawa teman-temannya, dan melihat apa yang akan terjadi sore itu. Momen kecil itu sederhana, tetapi penting: ruang publik mulai bekerja sebagai ruang belajar.

Tema minggu ini adalah “Bunyi Sederhana.” Tetapi kesederhanaan itu bukan berarti dangkal. Bunyi tidak hanya hadir dari alat musik, tetapi juga dari tubuh, percakapan, dialog spontan, pembacaan puisi, bahkan dari koreksi langsung saat pertunjukan berlangsung. Ketika pemain cajon kehilangan tempo, respons cepat dari pemain lain menjadi bagian dari komposisi. Ketika volume sound system terlalu kecil, teguran dari kejauhan ikut menjadi ritme sosial dalam pertunjukan.

Di situlah Skate Park Stage bekerja. Ia bukan ruang pertunjukan jadi, tetapi ruang eksperimen. Tidak semua harus rapi. Tidak semua harus selesai. Yang lebih penting adalah keberanian untuk mencoba, hadir, dan saling menyempurnakan.

Acara dijalankan mandiri oleh tim muda Inkubator Seni. Mereka menjadi produser lapangan, kru teknis, dokumentasi, publikasi, hingga penampil utama.
Bahkan ketika kamera utama mengalami kendala, divisi dokumentasi tetap bekerja ekstra karena seluruh proses ini harus tercatat sebagai arsip dan bahan pembacaan ulang.

Yang paling menyenangkan minggu ini adalah kehadiran teman-teman dari Fakultas Pertanian yang ikut tampil untuk pertama kalinya. Persiapan mereka sederhana, bahkan mungkin penuh ragu. Tetapi keberanian untuk mengambil ruang jauh lebih penting daripada repertoar yang sempurna. Di sini, partisipasi adalah capaian artistik itu sendiri.

Minggu ini juga menghadirkan banyak tanda baik. Dukungan personal mulai berdatangan. Jejaring dengan sanggar, komunitas, dan pelaku seni semakin terbuka. Bahkan Prof. Mirza Tabrani, Rektor USK menitipkan semangat dan salam pribadi untuk kebutuhan minum ringan tim produksi yang bekerja di lapangan. Gestur kecil, tetapi terasa besar. Bukan soal nominalnya, melainkan tanda bahwa kerja ini mulai dilihat sebagai sesuatu yang layak dijaga bersama.

Melalui jejaring yang sama, dukungan perangkat sound system yang lebih layak juga mulai hadir. Ini penting, karena ruang terbuka tetap membutuhkan kualitas teknis yang mendukung. Seni tidak hanya hidup dari gagasan, tetapi juga dari kesiapan ruang yang memungkinkan praktik itu berlangsung dengan baik.

Di sisi lain, arah akademik juga mulai bergerak lebih jelas. Website resmi Inkubator Seni disiapkan, dokumentasi digital mulai dirapikan, seminar dan sarasehan akademik dirancang, hingga langkah menuju pembukaan Magister Seni dan program studi seni terpadu mulai dipetakan. Horizon yang lebih besar bahkan sudah dibicarakan: Fakultas Seni dan Humaniora.

Artinya, skate park ini bukan panggung pinggiran. Ia adalah laboratorium utama. Dari ruang terbuka yang tampak sederhana ini, sedang diuji kemungkinan institusi, kurikulum, dan masa depan pendidikan seni di kampus.

Karena itu, volume keempat ini terasa melegakan. Bukan karena semua sudah selesai, tetapi karena fondasinya mulai terlihat nyata. Ada kerja lapangan, ada kepercayaan, ada jejaring, dan ada arah yang semakin jelas.

Minggu berikutnya, Skate Park Stage akan masuk ke tema kelima: “Puisi Lisan.” Jika minggu ini kami belajar mendengar bunyi, maka berikutnya kami akan belajar memberi bunyi itu bentuk melalui kata—relasi antara suara, teks, pembacaan, dan keberanian menyampaikan gagasan.

Dari bunyi menuju kata. Dari mendengar menuju mengucapkan.

Sebuah ekosistem seni tidak lahir dari gedung besar atau anggaran megah. Ia sering dimulai dari hal yang lebih sederhana: beberapa mahasiswa yang datang lebih awal, menata kursi, mengangkat speaker, lalu bertahan cukup lama untuk percaya bahwa kerja kecil itu sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar.[]

Tags: Makin Tahu IndonesiaSeniSkate Park StageUniversitas Syiah KualaUSK
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Setelah Panggung Dibongkar
SENI

Setelah Panggung Dibongkar

by SAGOE TV
July 28, 2026
Kardo National Qualifier Dari Arena Kompetisi Menuju Ruang Baru Kreativitas Anak Muda Aceh
SENI

Kardo National Qualifier: Dari Arena Kompetisi Menuju Ruang Baru Kreativitas Anak Muda Aceh

by SAGOE TV
July 21, 2026
Ruang Perjumpaan #001 SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem
SENI

Ruang Perjumpaan #001: SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

by SAGOE TV
July 15, 2026
Doa dan Kebersamaan dalam Kepemimpinan Baru USK 2026-2031
SENI

Ketika Sebuah Peradaban Kehilangan Cara Mewariskan Dirinya

by SAGOE TV
July 8, 2026
Pemulihan atau Proyek? Catatan Kritis atas Program Pemulihan Kebudayaan Pascabencana di Sumatera
SENI

Ekosistem adalah Karya Seni Terbesar Kita

by SAGOE TV
July 2, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Putri Saleh ASN Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh Bidang perlindungan Khusus Anak.

Jangan Biarkan Masa Depan Anak Berjalan Sendiri

July 30, 2026
LGBT dan Cermin Penegakan Syariat di Aceh

LGBT dan Cermin Penegakan Syariat di Aceh

July 29, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Setelah Panggung Dibongkar

Setelah Panggung Dibongkar

July 28, 2026
Ajakan Terbuka Menulis untuk Rubrik Seni SagoeTV.com

Ajakan Terbuka Menulis untuk Rubrik Seni SagoeTV.com

July 6, 2025
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (1)

June 3, 2026
Calvin Ho

Pariwisata Tanpa Kedaulatan: Skandal Struktural dari Bali dan Pelajaran bagi Aceh

July 30, 2026
BPMA dan TNI AD Perkuat Pengamanan Blok A Medco di Aceh Timur

BPMA dan TNI AD Perkuat Pengamanan Blok A Medco di Aceh Timur

July 23, 2026
UIA dan IKDAR Malaysia Resmi Jalin Kerja Sama, Gelar International Guest Lecture

UIA dan IKDAR Malaysia Resmi Jalin Kerja Sama, Gelar International Guest Lecture

July 28, 2026

EDITOR'S PICK

Api PON XII Bakal Lintasi 23 Kabupaten/Kota se Aceh

Api PON XII Bakal Lintasi 23 Kabupaten/Kota se Aceh

August 27, 2024
Founder Qasir.id Berbagi Wawasan Pemanfaatan AI bagi Para Startup di IndigoSpace Aceh

Founder Qasir.id Berbagi Wawasan Pemanfaatan AI bagi Para Startup di IndigoSpace Aceh

February 24, 2025
Film Bid’ah Picu Kesadaran Publik Terhadap Kekerasan Seksual di Lembaga Keagamaan

Film Bid’ah Picu Kesadaran Publik Terhadap Kekerasan Seksual di Lembaga Keagamaan

April 17, 2025
Pj Bupati Aceh Besar Serahkan Bantuan Kursi Roda untuk Nek Hamidah di Lamtamot

Pj Bupati Aceh Besar Serahkan Bantuan Kursi Roda untuk Nek Hamidah di Lamtamot

January 17, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.