Oleh: Ari J. Palawi
Aneuk Prada, Praktisi, Akademisi, dan Warga Kota Banda Aceh
Beberapa bulan terakhir saya lebih banyak diam.
Bukan karena tidak melihat apa yang sedang terjadi.
Justru karena terlalu banyak yang saya lihat.
Pergantian kepemimpinan di kampus adalah sesuatu yang biasa. Datang dan pergi. Berganti dan bergeser. Sejak lama kita sudah terbiasa dengan itu.
Tetapi ada satu hal yang terus mengganggu pikiran saya.
Setiap kali sebuah rezim baru lahir, mengapa harapan tentang perubahan yang lebih baik justru sering berakhir pada lingkaran yang semakin sempit?
Pertanyaan itu terus muncul ketika saya berjalan di Darussalam.
Saya melihat mahasiswa yang bekerja keras menyelesaikan studinya.
Saya melihat dosen-dosen muda yang berusaha membangun kapasitas akademiknya dengan segala keterbatasan.
Saya melihat komunitas-komunitas kecil yang terus bergerak tanpa dukungan berarti.
Saya juga melihat begitu banyak orang yang sesungguhnya layak diberi kesempatan, tetapi perlahan belajar bahwa kualitas saja tidak selalu cukup.
Barangkali inilah pelajaran paling berbahaya yang sedang diwariskan oleh banyak institusi pendidikan tinggi hari ini.
Bukan pelajaran yang diajarkan di ruang kuliah.
Melainkan pelajaran yang dipelajari dari cara kekuasaan bekerja.
Orang belajar dari apa yang mereka lihat.
Mereka melihat siapa yang naik.
Mereka melihat siapa yang dipercaya.
Mereka melihat siapa yang diberi ruang.
Mereka melihat siapa yang selalu berada di sekitar pusat keputusan.
Lalu mereka menyimpulkan sendiri bagaimana dunia bekerja.
Dari sini, saya mulai khawatir.
Karena kampus seharusnya menjadi tempat terakhir yang mempertahankan keyakinan bahwa kualitas masih memiliki arti.
Bahwa kerja keras masih layak dihargai.
Bahwa pengabdian masih memiliki nilai.
Bahwa keberanian berpikir tidak perlu meminta izin kepada siapa pun.
Namun apa yang harus dipikirkan seorang dosen muda ketika ia melihat bahwa prestasi akademik belum tentu membuka jalan yang sama dengan kedekatan?
Apa yang harus dipikirkan seorang mahasiswa ketika ia menyaksikan bahwa akses sering kali lebih menentukan daripada kapasitas?
Apa yang harus dipikirkan masyarakat ketika institusi yang selama ini dipercaya untuk menjaga akal sehat justru memperlihatkan gejala yang sama dengan hampir semua arena kekuasaan lainnya?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak nyaman.
Tetapi justru karena itulah tulisan ini perlu dihadirkan.
Sebab saya tidak sedang berbicara tentang satu rektor.
Tidak sedang berbicara tentang satu kelompok.
Tidak sedang berbicara tentang satu periode kepemimpinan.
Saya sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar.
Tentang hilangnya kepercayaan bahwa kualitas masih memiliki peluang yang adil untuk diakui.
Bagi saya, inilah krisis yang sebenarnya.
Ketika masyarakat mulai percaya bahwa kemampuan tidak cukup.
Ketika generasi muda mulai percaya bahwa prestasi bukan penentu.
Ketika institusi pendidikan tidak lagi mampu menunjukkan bahwa merit lebih penting daripada kedekatan.
Maka yang rusak bukan hanya kampus.
Yang rusak adalah cara kita membayangkan masa depan.
Dan tidak ada kerusakan yang lebih berbahaya daripada itu.
Karena gedung dapat dibangun kembali.
Sistem dapat diperbaiki.
Anggaran dapat ditambah.
Tetapi ketika kepercayaan terhadap nilai-nilai dasar pendidikan mulai hilang, proses pemulihannya bisa memakan waktu jauh lebih lama daripada satu atau dua periode kepemimpinan.
Sebagai seseorang yang tumbuh dalam semangat Darussalam, saya masih percaya bahwa tempat ini menyimpan terlalu banyak harapan untuk dibiarkan berjalan tanpa koreksi.
Justru karena saya peduli, saya memilih untuk bertanya.
Dan pertanyaan itu sederhana.
Apakah kita masih sungguh-sungguh mencari orang-orang terbaik?
Ataukah kita perlahan sedang membiasakan diri hidup dalam sistem yang membuat kualitas harus menunggu giliran setelah kedekatan selesai bekerja?




















