• Tentang Kami
Saturday, August 29, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Skate Park Stage Volume 1-8: Tentang Kampus, Seni, dan Ruang Bertemu

SAGOE TV by SAGOE TV
May 25, 2026
in SENI
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Skate Park Stage Volume 1-8 Tentang Kampus, Seni, dan Ruang Bertemu

Skate Park Stage. Foto: Arsip Pribadi

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi
Praktisi dan Akademisi Seni Universitas Syiah Kuala

Skate Park Stage Volume 8 yang berlangsung pada Jumat, 22 Mei 2026 menjadi penutup sementara rangkaian Living Lab Inkubator Seni USK sebelum kembali dilanjutkan sekitar Juli atau Agustus mendatang. Tema yang diangkat, “Kolaborasi Spontan Lintas Ekspresi”, diterjemahkan melalui penampilan campuran antarindividu dan kelompok dengan pendekatan yang terbuka dan improvisatif.

Musik, pembacaan puisi, bunyi-bunyian eksperimental, percakapan spontan, hingga interaksi antarpenampil berlangsung tanpa pola pertunjukan yang terlalu kaku. Sejak awal, Skate Park Stage (SPS) memang tidak dirancang sebagai panggung pertunjukan formal semata. Yang dibangun adalah ruang pertemuan.

BACA JUGA

MEUGOE: Ketika Sebuah Skatepark Menjadi Sekolah Kehidupan

Makna Rindu, Antara Majnun dan Hamzah Fansuri

Dalam delapan volume yang telah berjalan sejak Februari 2026, perubahan paling terasa justru terlihat dari komposisi orang-orang yang hadir. Pada awalnya SPS lebih banyak diikuti mahasiswa seni dan pihak yang berkaitan langsung dengan kebutuhan akademik perkuliahan. Namun perlahan mulai hadir mahasiswa teknik, pertanian, ekonomi, komunitas luar kampus, alumni, dosen, hingga masyarakat umum yang datang tanpa agenda formal tertentu.

Perubahan ini penting dicatat karena ruang pertemuan informal di kampus semakin sedikit. Aktivitas sivitas akademika hari ini lebih banyak bergerak di sekitar kelas, administrasi, rapat, target akademik, dan organisasi yang memiliki struktur cukup ketat. SPS menghadirkan situasi berbeda: orang datang, duduk, mendengar, berbincang, lalu pulang tanpa tekanan formal.

Di titik itu, fungsi seni mulai terlihat bukan hanya sebagai pertunjukan, tetapi juga sebagai ruang sosial.

Volume 8 juga memperlihatkan satu hal yang cukup penting: masih adanya jarak pemahaman antara sebagian lingkungan akademik dengan praktik kesenian komunitas.

Salah satu momen yang cukup terasa muncul ketika Muhrain Jambo Budaya membacakan puisi Sprindik Jin. Isi puisinya berbicara tentang rakyat, kekuasaan, mahasiswa, ketakutan sosial, agama, dan situasi publik yang berkembang di Aceh hari ini.

Bagi komunitas seni, ekspresi seperti itu merupakan hal biasa. Kritik sosial, satire, dan pembacaan realitas memang sejak lama menjadi bagian dari puisi, musik, teater, maupun seni rupa.

Namun bagi sebagian sivitas akademika, pendekatan seperti itu belum tentu langsung dipahami sebagai bagian dari praktik kebudayaan. Ada yang menikmati, ada yang diam, ada pula yang terlihat masih menjaga jarak.

Situasi tersebut sebenarnya memperlihatkan persoalan yang lebih besar: kesenjangan apresiasi seni dan budaya masih cukup nyata, baik di lingkungan kampus maupun masyarakat secara umum.

Banyak orang masih melihat seni hanya dari hasil akhirnya, bukan dari proses pengetahuan, pengalaman sosial, kerja kreatif, maupun nilai kebudayaan yang melekat di dalamnya. Akibatnya, ruang apresiasi sering kali tidak tumbuh secara memadai.

Padahal apresiasi bukan sekadar “menyukai” karya seni. Apresiasi membutuhkan proses melihat, mendengar, membaca, mengalami, dan memahami.

Karena itu, salah satu tantangan penting pengembangan ekosistem seni di kampus hari ini bukan hanya soal produksi karya, tetapi juga pembangunan budaya apresiasi.

Dalam konteks tersebut, SPS mulai memainkan fungsi yang lebih luas: mempertemukan praktik seni komunitas dengan lingkungan akademik dalam ruang yang lebih terbuka.

Tidak selalu langsung saling memahami. Tidak selalu berjalan mulus. Tetapi proses pertemuannya mulai terjadi.

Pelaksanaan SPS Volume 8 juga berlangsung dalam situasi kampus yang sedang kurang kondusif. Malam sebelumnya sempat terjadi ketegangan antarmahasiswa dan kerusakan fasilitas di lingkungan USK. Situasi tersebut cukup mempengaruhi atmosfer kampus secara umum.

Namun kegiatan tetap berlangsung.

Mahasiswa tetap datang. Penyaji tetap tampil. Komunitas tetap hadir.

Kondisi seperti ini memperlihatkan bahwa ruang seni di kampus bukan hanya soal pertunjukan. Ia juga berfungsi sebagai ruang sosial tempat orang tetap bisa bertemu di tengah situasi yang sedang tidak nyaman.

Dalam banyak praktik pendidikan tinggi modern, ruang publik kampus semakin penting untuk dijaga. Kampus bukan hanya tempat belajar di kelas, tetapi juga tempat membangun kemampuan berdialog, mendengar orang lain, dan memahami perbedaan pendekatan maupun ekspresi.

SPS mulai menjalankan fungsi itu secara perlahan.

Volume 5 dan 6 sebelumnya memang terasa lebih ramai dan padat secara energi audiens. Sementara Volume 8 terasa lebih tenang dan reflektif. Situasi tersebut memberi gambaran bahwa SPS sedang memasuki fase evaluasi alami: melihat siapa yang benar-benar bertahan, siapa yang mulai terlibat lebih serius, dan bagaimana arah kegiatan ini ke depan.

Jeda sementara setelah Volume 8 juga penting dalam konteks itu. Bukan untuk menghentikan proses, tetapi memberi waktu membaca perkembangan yang sudah terjadi selama beberapa bulan terakhir.

Dalam periode yang sama, Inkubator Seni USK juga berkembang melampaui kegiatan pertunjukan mingguan. Sejumlah aktivitas lain mulai berjalan, seperti FGD seni dan universitas, artistic collaboration, kelas artistik dan teknologi produksi seni, diskusi industri ekonomi kreatif, dokumentasi budaya, hingga pengembangan jejaring lintas komunitas dan disiplin ilmu.

Perkembangan tersebut mulai memperlihatkan bahwa seni di lingkungan kampus dapat memiliki fungsi yang jauh lebih luas.

Bukan hanya sebagai hiburan atau pelengkap seremoni.

Tetapi juga sebagai:

  • ruang pengembangan talenta;
  • ruang produksi pengetahuan;
  • ruang dokumentasi budaya;
  • ruang interaksi sosial;
  • ruang pengembangan jejaring;
  • hingga ruang tumbuhnya ekonomi kreatif berbasis pengetahuan.

Dalam beberapa diskusi internal terakhir, pembicaraan mengenai penguatan kelembagaan juga mulai berlangsung lebih serius. Arah yang mulai didalami bukan lagi sekadar mempertahankan program seni kampus, tetapi bagaimana membangun sistem yang mampu menjaga keberlanjutan ekosistem kreatif universitas secara lebih terukur.

Pembicaraan tersebut mulai menyentuh kebutuhan pengelolaan data budaya, dokumentasi kreatif, penguatan hak kekayaan intelektual, pengembangan jejaring industri kreatif, hilirisasi karya, hingga penguatan ruang kolaborasi lintas disiplin.

Yang juga penting ditegaskan, pengembangan tersebut tidak dimaksudkan untuk menghapus atau menurunkan program-program Inkubator Seni yang telah berjalan selama ini.

Sebaliknya, seluruh program lama tetap dipertahankan sebagai fondasi utama, lalu diperluas melalui pendekatan kelembagaan yang lebih sistematis dan berkelanjutan.

Karena itu, pertanyaan “apakah seni bisa dibisniskan?” mulai dibaca dengan cara yang lebih proporsional.

Seni bukan untuk “dijual” dalam pengertian sempit. Yang berkembang justru pemahaman bahwa karya seni perlu memiliki ekosistem pendukung agar dapat bertahan, berkembang, terdokumentasi, dan memberi manfaat lebih luas.

Dalam konteks universitas, pendekatan itu menjadi relevan ketika dikaitkan dengan pengembangan industri ekonomi kreatif, inovasi budaya, intellectual property, media kreatif, produksi konten, diplomasi budaya, dan penguatan jejaring strategis kampus.

Karena itu pula, penguatan kelembagaan yang sedang dibicarakan di lingkungan USK mulai diarahkan agar tidak tumpang tindih dengan fungsi akademik, administrasi, maupun kemahasiswaan yang telah berada di bawah koordinasi bidang lain.

Fokusnya justru diarahkan pada pembangunan ekosistem kreatif universitas yang bersifat kolaboratif, lintas disiplin, dan mendukung pengembangan institusi secara keseluruhan.

Dengan kata lain, yang sedang dibangun bukan sekadar panggung seni.

Tetapi ruang agar kreativitas, pengetahuan budaya, jejaring sosial, dan potensi ekonomi kreatif kampus dapat tumbuh bersama secara lebih berkelanjutan.

Delapan volume SPS yang telah berjalan menjadi salah satu tanda kecil bahwa kebutuhan terhadap ruang semacam itu memang nyata.[]

Tags: AcehInkubator Seni USKkampusMakin Tahu IndonesiaopiniRuang PublikSeniSkate Park StageUSK
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

MEUGOE Ketika Sebuah Skatepark Menjadi Sekolah Kehidupan
SENI

MEUGOE: Ketika Sebuah Skatepark Menjadi Sekolah Kehidupan

by SAGOE TV
August 27, 2026
M. Azril Ihksan
SENI

Makna Rindu, Antara Majnun dan Hamzah Fansuri

by SAGOE TV
August 26, 2026
SPS Revival: Setelah Lima Belas Volume, Apa yang Harus Berubah?
SENI

SPS Revival: Setelah Lima Belas Volume, Apa yang Harus Berubah?

by SAGOE TV
August 24, 2026
Ranup Lam Puan Tradisi yang Terus Bertumbuh
SENI

Ranup Lam Puan: Tradisi yang Terus Bertumbuh

by SAGOE TV
August 21, 2026
Makna Juang, Antara Hamlet dan Teuku Umar_Azril Ihksan
SENI

Makna Juang, Antara Hamlet dan Teuku Umar

by SAGOE TV
August 19, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

August 28, 2026
Tabina Tour Travel Kembali Memberangkatkan Dua Kloter Jamaah Umrah

Tabina Tour Travel Kembali Memberangkatkan Dua Kloter Jamaah Umrah

August 27, 2026
Piasan Budaya Barat Selatan Aceh 2026 Berakhir, Pesan untuk Generasi Muda: Kenali Sejarah

Piasan Budaya Barat Selatan Aceh 2026 Berakhir, Pesan untuk Generasi Muda: Kenali Sejarah

August 25, 2026
SPS Revival: Setelah Lima Belas Volume, Apa yang Harus Berubah?

SPS Revival: Setelah Lima Belas Volume, Apa yang Harus Berubah?

August 24, 2026
Remaja Aceh di Persimpangan NKRI, Merdeka, dan Ruang Kosong Tokoh Idola_Irwandi

Remaja Aceh di Persimpangan: NKRI, “Merdeka”, dan Ruang Kosong Tokoh Idola

August 21, 2026
Dek Din Syamsuddin

Menyoroti Site Plan PSN yang Mengabaikan Aspel Sosial Masyarakat di Kawasan Kopelma Darussalam Banda Aceh

August 23, 2026
MEUGOE Ketika Sebuah Skatepark Menjadi Sekolah Kehidupan

MEUGOE: Ketika Sebuah Skatepark Menjadi Sekolah Kehidupan

August 27, 2026
21 Tahun Damai Aceh, Unhan RI dan BRA Bahas Strategi Memperkuat Perdamaian

21 Tahun Damai Aceh, Unhan RI dan BRA Bahas Strategi Memperkuat Perdamaian

August 27, 2026
M. Azril Ihksan

Makna Rindu, Antara Majnun dan Hamzah Fansuri

August 26, 2026

EDITOR'S PICK

Aceh Terbuka untuk Bantuan NGO Internasional Pascabencana

Aceh Perpanjang Status Tanggap Darurat Bencana Banjir dan Longsor hingga 8 Januari 2026

December 25, 2025
Gol Tunggal Andik Vermansah Bawa Persiraja Menang atas Sriwijaya FC

Modal Persiraja Sebelum Hadapi Laga Tandang Melawan PSKC Cimahi dan Persikota Tangerang

September 28, 2024
USK Gelar Capacity Building, RSP Disiapkan Jadi Rumah Sakit Ramah Masyarakat

USK Gelar Capacity Building, RSP Disiapkan Jadi Rumah Sakit Ramah Masyarakat

June 10, 2026
Orkestra Republik Indonesia di Jalan Raya: Touring 3563 KM Bali-Banda Aceh (Bagian 1)

Orkestra Republik Indonesia di Jalan Raya: Touring 3563 KM Bali-Banda Aceh (Bagian 4)

March 20, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.