Oleh: Azril Ihksan
Anggota SPS Revival, komunitas/lembaga/institusi budaya, seni, pendidikan, teknologi multimedia di Aceh
Melihat Shakespeare dan Mendengar Teuku Umar
Shakespeare menulis “The Tragedy of Hamlet” Berceritakan di Elsinore, di bawah bayang-bayang kastil dingin yang dipenuhi pengkhianatan gelap, lahirlah pangeran Denmark, Hamlet. Sementara di Meulaboh, di tanah Aceh yang riuh oleh deburan ombak Samudra Hindia, lahirlah seorang kesatria nyata taktis bernama Teuku Umar.
Awal Mulanya, Hamlet & Umar
Hamlet memulai lakonnya dengan mendiami panggung kerajaan yang berdarah. Di sana ia bermandikan kepedihan atas kematian ayahnya dan pengkhianatan pamannya. Asal mula kuatnya keraguan makna dalam jiwanya berasal dari ikatan batin dengan tiga unsur:
“Istana Elsinore, hantu ayahnya, dan duka cita yang pendih nan mendalam.”
Teuku Umar memulai juangnya dengan mendiami Tanoh Atjeh. Ia meniti perjuangan fisik, memadukan keberanian dan kecerdikan politik bersama srikandinya, Cut Nyak Dhien. Dari sana, Umar mendapat wawasan dan rasa mendalam akan taktik dan makna perjuangan sejati.
Elsinore & Istana Kolonial
Elsinore kala itu tenggelam di bawah tirani moral. Hamlet melihat sendiri getaran-getaran keraguan gila yang merasukinya, mempengaruhi setiap jengkal langkah pikirannya tentang keadilan. Teuku Umar, Kala itu berada dibagian Istana Kolonial penjajah. Aktor Pria, Teuku Umar itu bermain dengan epik melalui drama muslihat yang tak tanggung-tanggung
Makna Halus Perjuangan
Hamlet menuangkan kalimat sihir perjuangan dengan kata-kata dengan monolog dramanya pada Babak 3, Adegan 1. Pertemuannya dengan Ophelia yang sering disebut sebagai “The Nunnery Scene” yang membelah kesadaran juang manusia, dalam adegan itu dia berkata:
“To be, or not to be, that is the question.”
Sederhananya:
“Jadi atau tidak, apakah aku (Hamlet) memilih maju (hidup) atau mundur (mati).”
Hamlet setelah kata-kata itu memilih kata To be.
Teuku Umar menerjang medan laga dengan aura magis gerilya. Ia dengan adegan aktornya tidak setengah-setengah menyelesaikan dramanya, demi menguras senjata Belanda sebelum kembali membalikan musuh. Menjelang pertempuran terakhirnya, ia berujar lantang tentang makna perjuangan dan ketetapan tindakan:
“Beungoh singoh geutanyoe jep kopi di meulaboh, atawa ulon jee syahid.”
Sederhananya:
“Jika aku menang, aku minum kopi. Sebaliknya jika tidak, aku wafat dengan baik.”
Umar memilih berjuang dengan sifat gapai & meniadakan banyak pilihan bodoh.
Antara Hikmah dari Keduanya
Hamlet menghikmahkan perlawanan lewat pergulatan jiwa di dalam ruang batinnya untuk memilih tidak mati dalam konflik gila di istana dan terus maju. Teuku Umar menghikmahkan perlawanan lewat karya pemikiran taktis di tengah ancaman ribuah pasukan asing. Antara keduanya, mereka mendefinisikan Juang sebagai keteguhan jiwa menghadapi perjuangan dengan tidak setengah-setengah dan tidak lumpuh pertimbangan untuk membuang keraguan demi sebuah kehormatan sejati.[]
Baca Juga: Makna Cinta, di Antara Cut Nyak Dhien & Kahlil Gibran



















